
"Disana!!!!"
Sebuah jeritan perempuan terdengar. Dua perempuan serigala tadi mendekati Aqua dengan panik. Perempuan yang lebih tua membaringkan Aqua yang tampak sangat kesakitan di pangkuannya.
"Apa yang terjadi padamu? Aku merasakan aliran mana luar biasa tadi, jadi kami pergi kesini. Tapi saat kami sampai, kamu sudah begini," panik perempuan itu.
"Kakak! Sepertinya mana anak ini habis karena serangan tadi. Dia menggunakan teknik Mana Coercion untuk mengisinya lagi," ucap perempuan di sebelahnya.
"Mana Coercion katamu?!! Itukan teknik terlarang yang berbahaya. Apa yang anak ini pikirkan sebenarnya!?"
"Kakak! Aku bisa sedikit meringankan rasa sakitnya. Serahkan padaku!"
"Vina… baiklah, kumohon tolong anak ini!"
"Tentu saja! Lagipula dia ini penyelamat kita!!"
Perempuan serigala berambut merah muda itu mengeluarkan sinar biru dari tangannya. Berbeda dari cahaya sihir penyembuhan, yang digunakan perempuan itu bukanlah sihir itu. Dia membantu menenangkan aliran mana Aqua dan memandunya agar tidak merusak tubuh Aqua.
Berkat perempuan itu, raut wajah Aqua membaik. Tubuhnya tidak sesakit sebelumnya, meski masih agak sakit. Aqua sudah bisa bernapas dengan normal. Dia berusaha bangun, namun tubuhnya nyaris tak bisa bergerak.
"Diam dulu! Kamu masih belum bisa bergerak, kan?" kata perempuan berambut ungu muda.
"Hahh… haaah… Arachnea sudah mulai pulih. Aku harus… pergi ke suatu tempat," ucap Aqua kelelahan.
"......"
"Aku mengerti, aku akan membawamu ke tempat yang kau mau. Katakan dimana itu?" balas perempuan itu yakin.
Aqua mengangguk, sekarang bukan saatnya egois dan mementingkan harga dirinya. Dia mengeluarkan peta dari inventory dan menunjukkan lokasinya ke kedua perempuan serigala itu.
Sang kakak menggendong Aqua di punggungnya dan bergerak dengan cepat kesana sebelum Arachnea menyerangnya. Sang adik mengikuti dari belakang sambil melindungi mereka dari serangan racun dan jaring Arachnea.
Berkat mereka berdua, Aqua sampai di tempat yang dia inginkan. Sebuah rawa gelap yang terlihat menjijikkan. Air dalam rawa itu bukanlah air bersih ataupun air comberan kotor. Melainkan air berwarna hitam pekat.
"Apa benar disini tempatnya? Apa yang mau kau lakukan disini?" tanya sang kakak memastikan.
"Ini sudah benar. Menurut kakak air apa ini?" kata Aqua menebakkan dia.
"Aku sudah hidup cukup lama. Tapi air seperti ini tidak pernah kulihat sebelumnya. Apa ini bahkan bisa disebut air?" bingung sang kakak.
Aqua tersenyum licik.
"Ini bukanlah sembarang air. Benda ini adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat."
"?"
Sang kakak tidak mengerti apa yang dimaksud Aqua.
"Kakak!! Aku sudah membawa Arachnea kemari!" jerit sang adik.
"Bagus! Terima kasih! Kakak-kakak sekalian, tolong pegang tanganku!" seru Aqua senang.
Tanpa ragu, mereka berdua memegang tangan Aqua masing-masing satu.
[ Fly ]
Tubuh mereka sedikit melayang dari tanah. Mereka melaju ke kolam hitam itu tanpa menyentuhnya. Setelah mereka cukup masuk ke kolam, Arachnea sudah sampai di depan kolam. Arachnea marah, dia mengeluarkan jaring untuk menyeret ketiga orang itu ke pinggiran kolam. Namun jaring itu tidak menyampai mereka.
Dengan terpaksa, Arachnea masuk ke dalam kolam licin itu dan berenang mendekati mereka.
"Hei! Arachnea itu lemah terhadap api, air tak terlalu mempengaruhinya!" seru sang adik dengan nada tak yakin.
"Aku tau!"
Sang adik agak meragukan Aqua. Dia tak bisa menebak apa yang Aqua inginkan. Aqua hanya tersenyum senang karena rencananya sudah memasuki tahap akhir.
Arachnea sudah berada di tengah kolam. Dia terus melemparkan racun dan benangnya. Tanpa menunggu lama, Aqua dan dua perempuan itu terbang ke atas dengan cepat.
"Inilah saatnya!!!!" seru Aqua senang.
[ Flame ]
Sihir yang keluar hanyalah sekedar sihir tingkat menengah biasa.
"Apa yang anak ini inginkan dengan sihir api tingkat menengah?" bingung sang kakak.
"Sihir tingkat menengah tidak akan terlalu berdampak padanya," panik sang adik.
Tidak seperti bayangan kakak beradik itu. Api kecil yang dikeluarkan Aqua mendadak jadi lebih besar dan membara daripada sihir tingkat Epic sekalipun. Mereka berdua terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?!!" kaget mereka berdua.
"Kenapa apinya mendadak membesar dan meledak begitu?!!!"
Aqua tersenyum bangga.
"Apa kubilang! Hebat kan?!" sombongnya.
Kakak beradik itu mengangguk menyetujui Aqua. Mereka melihat ke bawah, Arachnea terjebak di rawa dan terperangkap kobaran api tanpa bisa berbuat apa-apa. HP nya terus menurun dengan cepat hingga benar-benar habis.
Aqua berhasil mengalahkan Arachnea yang levelnya jauh melebihi dirinya.
"Ah… levelku naik banyak."
Mereka bertiga menjauhi kobaran api dan mendarat di luar hutan.
"Kenapa aku tidak terbang saja dari awal?" pikir Aqua tertekan.
Sang kakak menurunkan Aqua dari punggungnya dan mendudukkan anak itu di batu besar.
"Bisa kamu jelaskan pada kami? Kenapa apinya mendadak menjadi besar?"
"Tentu. Seperti kataku tadi, air itu bukan air biasa. Cairan itu adalah suatu campuran yang sangat kompleks yang terdiri dari senyawa-senyawa hidrokarbon, yaitu senyawa-senyawa organic dimana setiap molekulnya hanya mempunyai unsur karbon dan hydrogen saja. Karena itu cairan itu justru memperbesar api bukannya memadamkannya," terang Aqua bersemangat.
"Apa yang kau bicarakan?!!"
"Ah… aku keceplosan," geli Aqua.
"Maafkan aku, mudahnya cairan hitam itu mudah terbakar. Cairan itu disebut emas hitam oleh beberapa orang, tapi sebutan yang paling terkenal adalah minyak bumi.",
"Minyak bumi?"
"Iya, minyak bumi berasal dari pelapukan sisa-sisa makhluk hidup. Proses pembentukannya memerlukan waktu yang sangat lama sehingga sulit didapat."
Kakak beradik itu mengangguk mengerti. Aqua bersyukur karena penjelasannya masih bisa dipahami orang dunia ini. Karena ini adalah dunia pedang dan sihir, teknologi tidak terlalu maju. Sebelumnya saat dia melihat peta dan melihat tempat yang berwarna hitam di daerah batuan endapan, Aqua langsung tau kalau tempat itu adalah sumber minyak bumi.
Karena sibuk berpikir sendiri, Aqua tidak menyadari kalau kakak beradik serigala itu berlutut di hadapan Aqua.
"!!!"
"Tunggu, tunggu, tunggu! Apa yang kakak-kakak lakukan?!"
Sang kakak mengeluarkan suara mewakili mereka.
"Tuan muda. Anda sudah menyelamatkan nyawa kami. Bangsa kami adalah bangsa yang setia dan akan selalu membalas budi penyelamat kami."
"Anda telah menyelamatkan nyawa kami. Untuk itu, kami akan memberikan segala yang kami miliki. Anda bisa memerintahkan apapun yang anda mau pada kami. Sebelumnya saya minta maaf, meski begitu kami tidak bisa memberikan hati kami bahkan jika itu perintah anda."
"......"
Aqua diam, dia memikirkan ratusan hal dalam kepala kecilnya. Dia lalu tersenyum.
"Begitu. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak akan memaksa kalian melakukan apapun yang kalian tidak mau. Jadi aku akan meminta satu hal saja, apa boleh?"
"Silahkan, tuan!!" jawab mereka serempak.
"Aku membentuk sebuah kelompok kecil yang bertujuan saling membantu anggotanya. Kakak-kakak! Maukah kalian bergabung dengan Raven, kelompokku?" tawar Aqua.