
Banyak orang bilang, waktu akan berlalu dengan cepat saat kamu bahagia dan berlalu dengan lambat saat kamu menderita.
Dalam kasus ini, tak diketahui yang mana itu. Hari-hari yang damai dan menyenangkan telah berakhir. Telah lebih dari 1 Minggu berlalu sejak pesta debutante Ruby. Waktu memang kejam karena meski hati belum rapi di tata, raga tetap harus melanjutkan rencana.
Ruby telah membaur cukup baik dengan Raven. Masing-masing anggota sangat ramah padanya sampai dia merasa sungkan. Namun itu telah berlalu, entah kenapa dia merasa bisa akrab dengan mudah. Meski dirinya tau, tidak ada yang membuka hati padanya. Mereka semua masih menyimpan misteri dan rahasia. Tapi dia mengabaikan itu karena dirinya juga memiliki rahasia yang tak ingin diketahui siapapun.
Tepat hari ini, Raven telah selesai akan kesibukan mereka mempersiapkan diri karena hari ini adalah hari bersejarah untuk mereka.
Ya, hari ini adalah hari pertama seluruh anggota Raven memasuki akademi.
Sebenarnya Ruby ingin segera mencari kakaknya, namun meski kontraknya dengan keluarga kekaisaran telah lepas, dirinya tetaplah seorang bangsawan yang memiliki berkah elemen. Jadi wajib hukumnya bagi Ruby untuk memasuki akademi bila mampu.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Aqua terketuk beberapa kali.
"Oi!! Jangan bilang kau lupa hari ini hari apa!!" jerit Eli kesal.
Wajar jika dia merasa kesal, karena sudah lebih dari 15 menit sejak dia mengetuk pintu tanpa adanya jawaban. Disebelah Eli, berdiri Lix dan Pietro yang hanya tersenyum sambil mencoba menenangkan Eli. Elvira dan Elvina telah pergi ke akademi lebih dulu untuk mempersiapkan bahan ajaran.
"Sabar El, mungkin Aqua punya kesibukan kan?" cengir Lix membayangkan Aqua kesulitan memakai pakaian perempuan. Dia dan Raven lain sudah tau apa yang direncanakan Aqua sejak Aqua mengajak mereka tinggal bersama di mansionnya.
"💢"
Eli tak tahan lagi, "Masalahnya!! Mau! Berapa! Lama! Lagi!! Kita dibuat menunggu!!"
"BUKA PINTUNYA BODOHH!!!!!!!!!!!!!!!"
BRAAAAAAKKKKKK
Kesabaran Eli sudah mencapai batasnya. Dia langsung mendobrak paksa pintu kamar Aqua hingga terbuka. Terkadang yang lainnya berpikir, mungkin saja nama "Wrath" milik Lix dan "Sloth" milik Eli terbalik.
"!!???"
Tidak ada yang mengatakan sepatah kata apapun begitu pintu terbuka. Semuanya terdiam melihat hal didepan mereka.
(Sauce: Twitter @fufefefe)
Aqua, "........"
Terlihat Aqua yang baru saja selesai mandi dan tengah memakai pakaiannya. Ekspresi anak itu setelah melihat Eli mendobrak paksa berubah kesal.
"Apa-apaan kau ini!?" cibir Aqua.
"Pintu ada untuk diketuk," lanjutnya.
Lix hanya diam melihat apa yang akan terjadi sambil memasang wajah keseruan. Wajah Pietro memerah, sepertinya dia tidak terbiasa melihat tubuh orang lain. Sejenak Eli sempat kebingungan ingin berkata apa, namun tak lama kemudian...
"....... Kami sudah menunggumu lebih dari 15 menit!! Cepatlah!! Dan pakai pakaianmu!!!!"
BRAAAAKKKK
Pintu tertutup dengan keras. Namun terbuka lagi setelah beberapa detik.
"Ah dan... terimakasih fanservice nya!" ejek Eli mengintip sedikit lalu pergi lagi.
Begitu Eli pergi, Lix melambai dan mengikuti Eli keluar. Pietro juga membungkuk beberapa kali sebelum keluar dengan wajah malu. Meninggalkan Aqua sendirian penuh tanda tanya.
"Apa... itu barusan?" bingung Aqua.
"Ha~ahh... sudahlah lupakan saja... Ini... harinya ya."
Aqua telah selesai mengeringkan rambutnya. Anak itu melempar handuk kepalanya begitu saja ke kasur dan berjalan menuju lemari pakaian.
"Hari itu... hari saat pertama kali kami tiba ke menara sihir. Mika pingsan begitu sampai disana," renung Aqua saat menggenggam seragamnya.
"Aku dan master sudah melakukan apapun yang kubisa untuk menyelamatkannya. Tapi yang bisa kami lakukan hanya menunda saja. Menunda keadaannya menjadi semakin parah. Yang bisa menolong kami saat itu adalah Kak Vira dan Vina."
"Mereka menjelaskan padaku ini adalah efek samping dari terpecahnya jiwa Airella menjadi tiga. Jadi satu-satunya obat hanyalah menyatukan kembali mereka secepatnya."
"Aku tau ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan. Tapi mereka tidak akan melakukannya tanpa alasan. Jadi untuk saat ini akan kubiarkan... Sekarang aku sudah bertemh Ruby... meski begitu... saat melihat gadis itu di pesta... rasanya aku tidak boleh memaksanya lagi untuk apapun."
Aqua terdiam sejenak. Dia meletakkan seragamnya di kasur dan mengambil sebuah kotak cincin di atas meja sebelah kasurnya.
"Dasar munafik! Aku ingin mereka segera bersatu dan tidak ingin memaksanya!? Aku tau aku munafik. Sekarang... yang bisa kulakukan hanyalah berharap Ruby sendiri yang menyerahkan dirinya."
"Batas Mika bisa bertahan hanya 1 bulan. Jika sampai saat itu Ruby tidak melakukan apapun. Bahkan jika kalian akan membenciku setelah bersatu nanti, aku akan tetap melakukan segala cara untuk menyatukan kalian meski dengan paksaan," tekad Aqua.
Aqua mengeluarkan cincin biru Aquamarine dari kotak itu. Cincinnya cukup sederhana, hanya cincin perak polos dengan permata kecil di atasnya. Meski begitu, cincin itu pasti akan terjual jutaan koin emas kalau dijual.
Suatu keajaiban terjadi. Tepat setelah Aqua memakai cincin itu, rambut anak itu memanjang, kepala dan fisiknya mengecil, otot yang telah dibangun cukup lama menyusut, dada bidangnya berubah menjadi kenyal dan bulat. Namun perubahan yang paling signifikan adalah... Aqua kecil menghilang berganti dengan "sesuatu" yang lain.
"Meski sudah melihatnya beberapa kali, aku tidak bisa terbiasa dengan ini," ucap Aqua saat menatap pantulan dirinya di cermin.
Tak butuh waktu lama sampai seragam akademi sihir, Mackenzie telah dikenakan olehnya. Tentu saja itu adalah seragam perempuan.
"......."
Perasaan Aqua cukup campur aduk. Rasanya aneh melihat dirinya sendiri seperti itu.
Aqua menghela napas agak berat, "Aku sendiri yang memilih jalan ini."
Beberapa menit dia habiskan untuk menata rambutnya agar menutupi mata kirinya. Dengan ini Aqua telah selesai bersiap. Dia langsung menuruni tangga dan menuju tempat kedua temannya menunggu didepan pintu.
"Pfftt... Aku cuma pernah mendengar kamu akan jadi cewek saat ke akademi, tapi melihatnya langsung sungguh menggelikan," tawa Lix sembari memegangi perutnya.
"Berisik!" kesal Aqua.
"A-Aqua cantik kok!" puji Pietro jujur.
"Be-benar... kamu cantik... cantik kok..." Eli juga terlihat sangat berusaha agar tidak tertawa.
Melihat Eli dan Lix yang gemetaran menahan tawa, membuat mood Aqua semakin hancur.
"💢"
"Lupakan itu! Dimana Ruby?" tanya Aqua berjalan melewati mereka.
Hell membuka pintu saat keempat anak itu keluar dari mansion dan berjalan bersama menuju kereta kuda. Dia benar-benar mendalami perannya sebagai pelayan.
"Ruby sudah berangkat duluan. Bangsawan di Kekaisaran ini harus absen dulu kayaknya di Istana sebelum dikirim ke Akademi," jawab Lix seadanya.
"Apa-apaan itu? Merepotkan~" keluh Eli.
"Yah, aku juga setuju sih."
"Kalau begitu apa boleh buat," balas Aqua.
Aqua, Lix, Eli dan Pietro menaiki kereta kuda bersama. Tepat setelah pintu kereta kuda tertutup, lingkaran sihir raksasa muncul dibawah kereta kuda.
"Hell, aku titip mansion padamu. Kabari aku kalau ada orang penting datang!" seru Aqua.
"Baik, Master!"
"Terimakasih."
SWIIIIIINGGGG
Satu kereta kuda menghilang tanpa aba-aba. Hell diam disana beberapa saat sebelum berbalik mengeluarkan pasukan bayangan dengan pakaian pelayan.
"Master sudah pergi! Keamanan dan kebersihan mansion ada di tangan kita!"
"Lakukan yang terbaik untuk memenuhi ekspektasi, Master!" perintah Hell pada bawahannya.
"Baik!!!"
Sementara itu, kereta kuda Aqua berteleportasi ke jembatan raksasa yang menghubungkan pulau utama Benua Manusia dan pulau khusus Akademi Mackenzie. Mulai dari sana, kereta kuda berjalan seperti kereta kuda biasa. Namun tidak bisa dibilang biasa juga.
Sepanjang perjalanan, puluhan bahkan ratusan mata menatap kereta kuda itu kagum, iri dan terkejut.
"Satu-satunya kereta kuda dengan lambang Kerajaan Vittacelar. Kita benar-benar menarik perhatian, ya..." ucap Eli bersandar di jendela.
Aqua yang sedang membaca buku panduan akademi melirik ke luar jendela. "Apa boleh buat. Identitasku yang sekarang mengharuskanku menjadi mencolok."
Buku itu ditutup agak keras, "Dengar! Mulai dari sekarang, jangan panggil aku Aqua di tempat umum!"
"Kami tau itu! Sudah berapa kali kamu mengingatkan tentang itu!" capek Eli.
"Ya... bukannya itu karena kamu selalu lupa setiap Aqua selesai bilang begitu?" sindir Lix.
"Tidak juga! Itu karena saat itu belum saatnya!!"
"Baik, baik."
"Jangan khawatir Aqua! Kami akan memanggilmu dengan benar mulai saat ini!" kata Pietro dengan wajah imutnya.
Eli merasakan sambaran di hatinya, gadis (?) itu segera mengelus-elus kepala Pietro, "Benar, benar! Jangan khawatir!! Serahkan saja pada kami!!"
Aqua yang melihat Eli mengatakan itu sambil mengelus Pietro merasa tak yakin.
"Apa benar bakal baik-baik saja?"