The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 179 [ Raven dan Benua Melayang ]



⟨⟨ Keadaan darurat! Segera berkumpul di titik C! Sekali lagi, keadaan darurat! Segera berkumpul di titik C!! ⟩⟩


"!!?"


Tak lama setelah Aqua pergi, Raven sempat mengobrol sejenak dan membicarakan tentang kerumitan hubungan Ketua mereka itu. Namun beberapa saat kemudian, gempa menghentikan pembicaraan mereka. Dan sekarang ketua mereka itu mengumpulkan mereka begitu tiba-tiba.


Lix mengacak-acak rambutnya dengan wajah kesal, "Apalagi sekarang, sialan!? Baru juga reuni sama pacar sendiri barusan."


"Firasatku gak enak... Apa mungkin ini ada hubungannya sama gempa barusan?" tanya Eli pada rekan-rekannya.


"Mungkin saja. Aqua pasti tau sesuatu. Ayo pergi!"


Seruan Elvina disetujui anggota lainnya. Semuanya bersiap dengan pakaian Raven dan senjata mereka, berjaga-jaga kalau pertarungan akan terjadi. Tak lupa, Elvira juga membawa milik Envy.


"Ayo."


"Baik!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Titik C


Ada 3 titik utama yang menjadi titik koordinat penting Raven. Titik A adalah markas pusat. Titik B adalah ruang klub Akademi. Dan titik C adalah... Guild Informasi.


Aqua hampir tidak pernah memakai titik C sebagai tempat pertemuan. Itulah kenapa Raven langsung menyadari bahwa apapun yang akan mereka bicarakan akan menjadi sesuatu yang super rahasia, berbahaya dan membutuhkan banyak informasi.


TAP TAP TAP TAP


"!!!"


"Nyonya Pride! Nyonya Lust!"


Para penjaga rahasia guild informasi dengan sigap menyambut kedua Guild master Guild Informasi begitu mereka memasuki wilayah. Tak sedikit dari mereka yang tersentak kaget kala itu meski ekspresi mereka tetap datar (mereka dilatih untuk itu). Bagaimana tidak? Yang kini mendatangi Guild bukan hanya Guild Master mereka, namun anggota Raven yang lainnya juga mengikuti di belakang.


Bahkan untuk ukuran Guild Informasi, identitas Raven memiliki tingkat kerahasiaan tertinggi. Hanya para petinggi guild saja yang mengetahui identitas mereka yang sebenarnya. Untuk anggota, jangankan mengetahui identitas, mereka bahkan hampir tidak pernah melihat Raven sebelumnya. Satu-satunya cara mereka yang belum pernah melihat Raven dapat langsung mengetahui orang-orang tersebut adalah Raven hanya dari topeng dan anting Raven itu, karena itu tidak bisa dipalsukan.


Pride dan Lust tidak begitu mempedulikan anggota guild yang menyambut mereka dan hanya berjalan biasa melewatinya. Greed yang terlihat seperti anak-anak yang membawa kapak besar dimata mereka itu mengintil dibelakang agak gugup. Sloth juga terlihat tidak begitu peduli, namun diam-diam matanya memperhatikan sekeliling dengan tajam, itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kehidupan sebelumnya. Sedangkan Wrath... Dia justru melambai-lambaikan tangannya seperti artis yang sedang melewati karpet merah. Tentu saja hal ini membuat histeris anggota wanita.


Setelah melewati berbagai prosedur rumit, Raven akhirnya tiba di bagian terdalam Guild Informasi, kantor utama Guild Master. Didepan pintu, seorang gadis berambut merah maron dan topeng Guild Informasi menyambut mereka penuh rasa hormat.


Karena kini tak ada lagi orang disekitar mereka selain gadis itu dan Raven, Raven membuka topeng mereka.


"Apa Aqua sudah ada didalam?" tanya Elvira pada gadis yang tak lain tak bukan adalah bawahan langsungnya itu.


"Benar, Master. Yang Mulia dan seorang wanita telah menunggu Master didalam," jawabnya sopan.


"Wanita? Ruby Mika itu ya..."


"Seperti apa ekspresinya saat masuk waktu itu?" tanya Eli tegang.


"Itu... Sepertinya Yang Mulia... Marah... Besar..." jawab Clelia agak takut.


"Marah? Aqua? Sudah jelas ada yang tidak benar disini," batin Elvina.


"Aku mengerti. Clelia, kau tidak perlu menunggu disini lagi. Kembalilah ke ruanganmu dan lanjutkan kembali pekerjaanmu," ucap Elvira.


Begitu Clelia meninggalkan mereka, Raven memasuki ruangan. Ruangan dengan tingkat keamanan tertinggi yang bahkan melebihi ruang harta istana kekaisaran itu hanya akan terbuka jika Raven dan Clelia yang memasukinya.


Tepat seperti yang dikatakan Clelia, seorang half-elf muda berambut perak berdiri bersandarkan meja kerja guild master. Disampingnya, duduk seorang gadis cantik berambut biru langit dan mata merah yang lentik.


Raven sempat terpesona dengan keindahan dua makhluk itu yang seperti keluar dari lukisan. Hanya sebentar saja, sebelum rasionalitas mereka kembali.


Lix menjatuhkan dirinya di sofa panjang depan meja kantor.


"Jadi?! Ada apa? Kenapa tiba-tiba manggil gitu?"


Eli dan Pietro yang tidak tau harus berkata apa didepan Eve, memilih ikut duduk disebelah Lix dan mengamati situasi saja. Elvira dan Elvina sendiri tidak mengatakan apapun, mereka tetap berdiri disana sambil menunggu jawaban Aqua.


Namun bukannya Aqua yang menjawabnya, gadis di samping Aqua-lah yang membuka mulutnya.


".... Nostra sudah bergerak."


"!!!"


Suasana langsung menegang berat berkat satu kalimat itu. Tak ada dari anggota Raven yang tidak mengetahui siapa Nostra itu. Nostra, sebutan lain untuk Jendral Dewa Kejahatan adalah mereka yang menjadi lawan para Arc-Angel dalam perang suci beberapa tahun lalu. Perang itu belum benar-benar selesai.


Perang itu tergantung karena secara tiba-tiba Nostra menarik diri dari Medan perang, meninggalkan para Arc-Angel dan sekutu mereka. Tentu saja pada Arc-Angel tidak melewatkan kesempatan ini untuk memperkuat kembali segel Dewa Kejahatan. Tapi mau dipikir bagaimanapun, seharusnya tidak ada alasan Nostra tiba-tiba mundur ketika mereka adalah pihak yang di untungkan.


Tidak ada yang tau apa yang sebenarnya dipikirkan Nostra. Namun mereka mengetahui satu hal. Bahwa apapun itu, pasti akan membahayakan Demetria. Mereka mengetahui, bahwa saat Nostra muncul kembali, artinya sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi.


"Jangan bilang... gempa barusan ada hubungannya dengan Nostra!?" shock Elvina.


Eve mengangguk dengan ekspresi suram, "Kontak batinku dengan Arc-Angel lain hampir terputus. Kau tau apa artinya ini?"


Elvira dan Elvina langsung menangkap maksud Eve. Dan itu adalah sesuatu yang sangat teramat buruk.


"Para Arc-Angel... Sekarat?"


BRAAAGGHHHHHH


Seluruh pandangan langsung tertuju pada Lix yang mendobrak meja didepannya karena kaget. Pietro merinding ketakutan karena dia belum pernah melihat Lix semarah itu. Eli sendiri hanya diam memikirkan sesuatu.


"Arc-Angel.. Sekarat katamu!? Oi, oi... Jelaskan maksudnya, bajingan!! Kau pasti tau sesuatu, bukan!!!?" amuk Lix ke Aqua.


Kemarahan Lix adalah sesuatu yang wajar. Arc-Angel adalah pelindung Demetria. Ras yang dibuat khusus oleh sang Dewi untuk melindungi Demetria dari Dewa Kejahatan dan jenderalnya. Ras yang diberikan kekuatan yang begitu besar oleh sang Dewi begitu mereka lahir. Ras yang menjadi harapan umat manusia dan humanoid lain di Demetria. Untuk mengatakan bahwa ras pelindung Demetria dalam keadaan sekarat. Kau tau apa artinya?


Aqua membuka matanya yang sempat terpejam. "Tsunami menghantam pantai selatan."


"?"


"Ditambah Arc-Angel yang hampir terputus kontak. Telah terjadi sesuatu di Benua Melayang. Kemungkinan besar saat ini Benua Melayang jatuh ke permukaan."


DEGGG


"Ap-Apa...?" shock Raven.


"Bagaimana... Bisa...? Benua Melayang jatuh!?" lemas Elvina.


Tak hanya Elvina, Raven lain juga merasa lemas mendengarnya. Seketika mereka melihat ke arah Eve. Mereka baru menyadari bahwa gadis itulah yang paling lemas dan shock di antara mereka. Mereka tidak menyadarinya sebelumnya karena ekspresi gadis itu tidak begitu ketara. Namun tubuhnya gemetaran dan matanya yang merah itu masih agak sembab, tanda bahwa dirinya baru saja menangis.


"Mika..."


"Apa kau... Baik-baik saja?"


Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Eli karena kekhawatirannya.


"Ha... Haha..."


"MANA MUNGKIN AKU BAIK-BAIK SAJA, KAN!!??" bentak Eve.


Tangis Eve yang telah diredakan Aqua kembali pecah. Ekspresinya yang datar kini terlihat sangat terluka. Tangan kiri Eve menyibak poninya agak kasar dan tangan kanannya mencengram dadanya erat-erat.


"KELUARGAKU SEDANG SEKARAT TANPA SEPENGETAHUANKU!! RUMAHKU HANCUR DAN TENGGELAM DI LAUT!!!! DAN AKU TIDAK BISA MELAKUKAN APAPUN TENTANG ITU. MANA MUNGKIN AKU BAIK-BAIK SAJA!!!" jeritnya histeris.


Kata-kata Eve menusuk hati Eli dengan jutaan rasa bersalah. Eli langsung bangkit dan berlari ke arah Eve lalu memeluk gadis yang akan hancur itu erat-erat.


"Maaf! Maaf! Aku minta maaf!! Maaf..."