The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 47 [ Serangan Undead ]



Pintu dengan tinggi 10 meter itu terbuka sedikit demi sedikit. Desain kuno dan menyeramkan ditambah ukuran pintu tersebut menambah suasana mencekam yang ada di dungeon. Hampir tak ada pencahayaan, hanya cahaya kecil dari sihir Aqua dan Citrine yang menjadi penerangan.


Kelima anak itu memasuki lantai ke 25 dungeon. Berbeda dari sebelumnya, tekanan yang diberikan ruangan raksasa itu sangat menyesakkan.


"Apa-apaan ini?! Baru masuk saja sudah begini."


Tepat setelah semua anak itu masuk ke ruangan lantai 25, pintu besar tertutup dengan sendirinya. Sangat rapat dan tidak bisa dibuka tak peduli cara apapun yang dipakai.


"Sial! Pintunya tidak bisa dibuka!!" geram Lix.


"Sepertinya kita hanya bisa mengalahkan bos lantai dulu, baru kita bisa keluar," ucap Citrine.


"Ini merepotkan," keluh Turquoise sambil mengacungkan pedangnya.


Kelima anak itu dalam posisi mereka masing-masing. Turquoise & Aqua didepan, Yue & Citrine di tengah, dan Lix di belakang. Mereka maju perlahan-lahan, bersiap untuk monster apapun yang datang menyerang.


Tanah bergetar dan suara gemerusuk mulai terdengar mendekat. Kelimanya sudah dalam posisi menyerang. Ribuan mayat hidup berlarian mendekati Aqua dan yang lain.


"Sialan!! Undead datang!!! Semuanya bersiap!!" jerit Turquoise.


"Monster tipe Undead, huh. Ini benar-benar merepotkan," keluh Citrine.


"Yue benci Undead!!!! Mereka menjijikkan!"


Formasi B-2 dilakukan, formasi ini adalah formasi menyerang musuh lemah namun jumlah banyak. Kelimanya berusaha menghabisi Undead sebanyak yang mereka bisa. Aqua dan Lix terus-menerus menyabit mereka dengan daggernya dengan kecepatan tinggi. Turquoise juga mengayunkan pedang dengan cepat untuk menghabisi Undead.


Dengan sihir yang berlawanan, Citrine dan Yue sangat membantu pertempuran. Citrine menggunakan sihir cahaya Purification untuk memurnikan mereka. Sedangkan Yue memilih menggunakan sihir kegelapan Predator untuk menciptakan beberapa makhluk bayangan yang akan memakan Undead itu.


Undead bukanlah monster yang kuat, nyatanya mereka tak lebih dari monster rank F dengan level 20-an. Namun jumlah mereka sangat menjadi masalah. Meski kelimanya sudah banyak membunuh mereka, undead itu tak ada habisnya. Mereka terus berdatangan dari bagian dalam lantai.


Aqua, "Berapa lama lagi kita harus begini!!!"


Lix, "Mereka tak ada habisnya!!"


Citrine, "Sial!!!!! Kapan ini selesai!!!"


Yue, "Mana Yue semakin menurun. Yue capek!!"


Turquoise, "Bertahanlah semuanya!! Harusnya ini tidak lama lagi!!"


Citrine, "Tidak lama itu kapan, kak?!! Kita sudah berjam-jam menghadapi mereka!!'"


Seperti kata Citrine, yang diuji sekarang ini sebenarnya adalah stamina dan waktu. Apakah Undead yang akan habis duluan atau stamina dan mana mereka yang habis duluan?


Meski sudah menghabiskan ± 3 jam untuk membasmi mereka, jumlah undead-undead itu tak habis-habis. Anak-anak itu bergantian beristirahat dan menyerang agar mereka bisa bertarung lebih lama.


4 jam berlalu


5 jam berlalu


6 jam berlalu


7 jam berlalu


8 jam berlalu


9 jam berlalu


"Hoshh... hosh..... hoshhhh....."


Tepat setelah 9 jam sejak mereka memasuki lantai 25, undead-undead itu berhenti berdatangan.


Kondisi anak-anak itu terlihat berantakan. Mereka sangat kelelahan dalam pertarungan jangka panjang itu. Mereka mungkin kuat, namun stamina dan mana itu bukannya tak terbatas.


"Hah.... akhirnya... habis... juga.... "


Citrine kehabisan napas dan mana miliknya.


"Benar... rasanya kakiku mau patah..." balas Lix yang terbaring kelelahan.


"Kalian sudah bertahan semuanya," ucap Turquoise.


"Aqua? Mau kemana?" tanya Yue penasaran saat melihat Aqua berjalan mendekati pintu.


"Sepertinya lantai 25 ini lebih merepotkan dari yang kita kira. Undead-undead tadi hanyalah pembuka saja. Kita harus mengalahkan bossnya kalau mau keluar."


"Bos para Undead? Apa itu undead tingkat tinggi atau semacamnya?" tanya Lix.


"Itu bagus kalau sekadar Undead tingkat tinggi. Tapi... perasaanku tidak enak, rasanya bosnya lebih berbahaya dari Undead tingkat tinggi."


"Lebih berbahaya? Ini cuma lantai 25. Harusnya bosnya tidak terlalu jauh berbeda dari boss lantai 24," sela Turquoise.


"Kakak benar, harusnya yang lebih kuat dari Undead tingkat tinggi ada di lantai yang lebih bawah," sambung Citrine.


Aqua mengerutkan keningnya.


"Apa benar? Kalau gitu apa maksud firasat buruk ini."


Mau tidak mau, mereka terus maju dan menghadapi boss lantai. Sepanjang perjalanan di lantai itu, mereka hanya bertemu Undead. Yang berbeda hanyalah, semakin dekat mereka dengan area boss, semakin kuat undead yang mereka hadapi.


Undead yang berada paling dekat dengan area boss adalah dark knight.


"Oi oi oi!! Yang bener saja!!!! Dark knight menjaga area boss?!!"


Mereka tidak punya waktu untuk terkejut lebih lama, dark knight langsung menyerang mereka segera setelah mereka berada dalam jangkauan pandangannya. Dark knight mengayunkan pedang besarnya.


"Menghindar!!!!"


Turquoise dan Lix langsung melompat ke samping. Citrine mundur dengan cepat. Aqua menarik Yue mundur juga. Jangkauan serangan pedang itu sangat lebar, mereka nyaris tak bisa menghindarinya.


Aqua berdecak kesal.


"Kenapa monster rank AA menjaga tempat boss?! Bukannya itu artinya bossnya lebih kuat lagi?!!"


Serangan demi serangan terayun dengan mudahnya. Dampak dari satu ayunan itu sangat luar biasa. Turquoise sempat terkena ayunan pedang makhluk itu, HP-nya dengan cepat menurun. Berkat adanya Citrine, nyawanya tidak terancam.


"Semuanya!! Dengar komandoku baik-baik! Meski berbahaya dan mematikan, serangan dark knight tidak sulit di prediksi! Selama kita mengetahui pola serangannya, kita bisa mengalahkannya!!!" seru Aqua.


Seketika semua orang segera mematuhi Aqua, menggantikan Turquoise yang sedang dirawat. Dengan arahan anak itu, semua serangan dark knight berhasil dihindari. Mereka juga berhasil mendaratkan serangan mereka tanpa terluka.


"Ki-kita mengalahkannya!!!!" seru mereka senang.


Biasanya saat melawan monster rank AA lebih, mereka habis-habisan menggunakan semua kemampuan mereka. Namun kali ini, karena menghemat mana dan tenaga, mereka tak mengeluarkan semuanya. Meski begitu mereka berhasil menang tanpa terluka. Lis merangkul Aqua senang, Yue dan Citrine memeluk anak itu sambil menggosok kepalanya.


"Kamu hebat!! Pengamatanmu luar biasa!" puji Citrine.


"Tidak sampai begitu kok, kak."


"Hahaha, jangan merendah begitu. Berkatmu kita bisa mengalahkannya dengan cepat."


Karena dihujani pujian rekan setimnya, wajah Aqua agak memerah karena malu. Dia juga beberapa kali mengelaknya, namun itu tak menghentikan pujian-pujian itu.


"Sudah, sudah. Bisa-bisa wajahnya meledak karena malu," kata Turquoise memisahkan Citrine.


"Buuu.... kakak ini kenapa sih, iri ya?" ejek Citrine.


Turquoise tersenyum, dia mencubit pipi Citrine lebar-lebar.


"Hentikan candaanmu itu! Puji saja anak itu sepuasnya nanti, setelah kita mengalahkan siapapun yang ada di depan!"


Kata-kata Turquoise menyadarkan mereka. Musuh mereka belum selesai. Masih ada boss yang tersisa. Setelah mereka mengalahkan bossnya, mereka akan merayakan itu sepuasnya nanti.


Tepat di belakang mayat dark knight, sebuah pintu raksasa yang sama seperti sebelumnya terpampang. Sebelum masuk, mereka sudah menyiapkan diri mereka bahwa mereka tidak akan bisa keluar sebelum boss dikalahkan.


Mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk siapapun lawan mereka selanjutnya. Namun tak ada dari mereka yang menyangka... kalau lawan mereka selanjutnya adalah dia.


Di dalam ruang singgasana yang terlihat mewah dan besar, duduklah seseorang di singgasana raja yang terbuat dari tulang manusia dan ras lainnya.


Dibalut jubah hitam panjang yang menakutkan, seorang penyihir memegang tongkatnya. Dengan nada penuh kearoganan, makhluk itu berkata.


⟨ Apa yang kalian lakukan di wilayahku?! ⟩


Hanya dengan satu kalimat itu, semua yang ada disana bergidik ketakutan. Semua, tak terkecuali Aqua.


"Kenapa?! Kenapa Lich bisa ada di lantai 25?!!!"