
RUBY POV
Semua selesai begitu cepat. Aku tidak terlalu bisa mengikuti temponya. Begitu beranjak dari kursi, Aqua langsung menawarkan tangannya untuk kuraih seperti yang kebanyakan tuan muda lakukan pada tunangannya.
Karena kami keluar lebih dulu, aku tidak tau apa yang Kaisar dan Permaisuri bicarakan pada si nenek lampir setelahnya. Kaisar telah berjanji akan melepaskan kontrak ini setelah masalah dengan Machioness selesai. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya, yang penting hasilnya.
Sepeninggal dari ruangan itu, Aqua dan Nyonya Magiya keluar begitu saja tanpa mempedulikan tatapan orang lain. Kami naik kereta kuda yang lebih mewah daripada kereta kuda keluarga Kekaisaran.
Elf bukanlah ras yang suka berfoya-foya seperti manusia, Nyonya Magiya juga begitu. Sebenarnya darimana mereka mendapat kereta kuda ini?
"Kau akan kembali ke kediamanmu, kan?" tanya Nyonya Magiya pada Aqua dari luar kereta setelah berkendara beberapa saat.
"Ya. Nanti aku akan mampir ke Menara Sihir," jawab Aqua santai.
Terkadang aku berpikir ini menakjubkan. Hampir tidak ada yang bisa berbicara santai pada Ratu Sihir.
"Tentu saja kau harus mampir!" seru Nyonya Magiya.
Hubungan guru murid ini memang selalu dekat sejak dulu.
Nyonya Magiya mengalihkan pandangannya dari Aqua dan berbalik ke arahku yang duduk diam di kereta kuda.
"Nona Rubylia. Ayahmu menitipkanmu padaku. Tapi sekarang Menara Sihir sedang sibuk-sibuknya. Maaf kalau tidak nyaman, untuk sekarang ikutlah anak ini dulu."
Ayah? Setelah dipikir-pikir... semua penyihir yang sudah cukup umur selain Keluarga Demifa belum kembali dari perang meski telah berakhir. Ternyata memang sesibuk itu. Apa yang sebenarnya menara sihir lakukan?
"Tidak... saya sama sekali tidak masalah, Nyonya Magiya. Saya sudah merasa beruntung bisa keluar dari sana," jawabku jujur.
Emm... kayaknya aku terlalu jujur. Sekarang Nyonya Magiya sedang menatapku dengan ekspresi simpati.
"Aww!! Dia gadis yang sangat baik, Aqua!! Kau harus menjaganya baik-baik!!!"
"Master tidak perlu bilang begitu. Tanpa itupun, dia pasti kujaga baik-baik."
Wahh... seperti yang diharapkan dari Target Tersembunyi... setiap kata-katanya begitu bisa diandalkan.
Nyonya Magiya tersenyum santai pada kami.
"Yasudahlah. Kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan. Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Ya. Hati-hati di jalan, Master."
"Semoga anda selamat sampai tempat tujuan, Nyonya Magiya," ucapku.
"Terimakasih kalian berdua."
Nyonya Magiya langsung pergi setelah melambaikan tangannya. Dia langsung teleport ke menara sihir. Menara Sihir ada di Benua Sihir. Kertas teleportasi benar-benar praktis.
Kereta kuda kembali berjalan. Kali ini sedikit berbeda. Sepanjang perjalanan, banyak orang begitu memperhatikan kami dengan tatapan kagum dan iri. Aku sempat penasaran kenapa Aqua tidak memakai sihir saja. Ternyata ini alasannya.
Aqua tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan. Rasanya akan canggung kalau aku membahas topik random, jadi aku juga diam saja sampai perjalanan berakhir.
Waktu terasa berjalan lama di tengah keheningan ini. Tapi gimana ya... aku benar-benar tidak tau harus membahas apa didepan Aqua. Dia adalah karakter favoritku setelah Ruby dewasa di game.
Latar utama gamenya dimulai saat mereka berusia 15 tahun dan akhir konflik pertama di usia 18 tahun. Setelah itu, ada beberapa adegan tersembunyi yang hanya bisa dibuka jika tingkat kesukaan dan level karakter di tingkat tertentu.
Aku paling suka ceritanya saat mulai masuk usia 18 tahun. Karena saat itu, semua karakter utamanya ada di tahap terindah mereka. Secara fisik mereka sudah matang. Tentu saja sekarang mereka juga indah, tapi mulai 18 tahun... tidak ada kejelekan sama sekali.
Rubylia Arsilla sebenarnya adalah karakter paling cantik di game yang muncul meski dia adalah antagonis. Semua pemain setuju dengan itu. Sementara Aquamarine adalah karakter paling tampan di game meski semua target juga tampan. Rasanya seperti ada di level yang berbeda.
Tapi itu tidak penting. Ini adalah game semi MMORPG dimana level dan talent adalah segalanya.
"Apa yang kau lamunkan dari tadi?" tanya Aqua tiba-tiba.
"...... Tidak. Itu tidak begitu penting, Yang Mulia."
"Hmm... santai saja. Aku tidak akan memaksamu melakukan apapun. Bicara saja seperti biasa padaku," ucapnya.
Aqua... sedikit berbeda. Sebelumnya dia seperti memasang topeng Pangeran Dari Negeri Dongeng. Sekarang dia lebih santai dan supel. Memang tidak sehangat dan se-wah sebelumnya. Tapi aku lebih suka yang sekarang. Karena yang tadi membuatku merinding.
"Baiklah," jawabku singkat.
"Kamu langsung mempraktekkannya tanpa rasa enggan sedikitpun ya," sindir Aqua.
"Tadi kamu sendiri yang menyuruhku begitu. Apa mau di tarik lagi?" tanyaku datar.
Aqua hanya tersenyum, "Tidak. Begitu saja."
"Ok."
Percakapan berakhir. Itu benar-benar percakapan yang sangat singkat. Entah apa kepribadian Ruby mempengaruhi Tiara, tapi aku jadi malas berbicara panjang lebar sekarang. Yah, apapun itu tidak masalah. Sekarang aku adalah Ruby dan juga Tiara sekaligus.
Sulit mengatakannya... tapi... Ruby dan Tiara... dari awal aku tidak bisa mengatakan kami orang yang berbeda. Rasanya seperti... berkumpul lagi dengan diriku yang lain?
"Kita sudah sampai."
"?"
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah jendela.
Besar!!!!
Apa-apaan mansion besar ini!!??
Aku belum pernah melihat mansion sebesar ini sebelumnya!! Bahkan mansion keluarga Duke di Ibu kota saja tidak sebesar ini!!
Kereta kuda tadi juga sama mewahnya. Sebenarnya berapa banyak uang yang dia punya sebagai Keluarga Kerajaan Vittacelar!?
Aqua turun duluan, dia tak lupa membantuku turun dengan satu tangannya. Kuterima saja ukuran itu agar tidak ribet.
"Aku baru membeli mansion ini kurang dari seminggu yang lalu. Maaf kalau ada yang kurang. Katakan saja itu, aku akan membelikannya nanti."
Apa!? Kurang dari seminggu!!? Mansion sebesar ini!!!???
"Pfftt... kamu biasanya memasang wajah datar. Tapi kali ini ekspresimu begitu terlihat," sindir Aqua.
"......"
Aku ingin marah. Tapi dia benar.
Kereta berhenti di depan pintu masuk. Jadi kami tidak perlu berjalan terlalu jauh dari kereta. Didepan pintu, terlihat seorang pria dengan baju pelayan yang begitu tampan. Rambutnya hitam pendek dengan iris mata biru gelap.
"Selamat datang kembali, Master."
"Ya."
Aqua hanya menjawab singkat pelayan pria yang membungkuk padanya. Memangnya ada pelayan semacam itu di game? Dia sepertinya bukan Elf.
Aqua menoleh padaku," Dia adalah kepala pelayan sekaligus pengurus utamaku, Heolstor Erebus."
Heolstor Erebus? Kayaknya aku pernah dengar. Tapi dimana ya...
"Senang bertemu dengan anda, Nona Arsilla. Tidak ada orang di kediaman ini yang tidak mengetahui siapa Anda. Jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saya kapanpun itu," kata sang pelayan ramah.
Kalau aku sampai lupa, berarti bukan tokoh penting dan berpengaruh. Sudahlah.
Aku tidak menjawabnya, hanya anggukan kecil saja yang kuberikan. Dia juga tidak mempermasalahkan itu.
"Hell, yang lain dimana?" tanya Aqua sambil berjalan masuk denganku dan Sir Heolstor.
"Yang lain sedang berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya semuanya menanti kedatangan anda, Master."
Yang lain? Siapa yang lain itu? Keluarga Aqua? Kayaknya enggak. Lagian keluarga kerajaan Vittacelar tidak mungkin berkumpul di Kekaisaran, meninggalkan kerajaannya. Jadi siapa yang lain itu?
"Ha~ahh... aku harap mereka tidak bereaksi berlebihan nanti," keluhnya.
"?"
.
.
.
.
.
.
.
.
NORMAL POV
Baru beberapa menit berlalu sejak Ruby menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Jawaban datang begitu cepat dan mengejutkan seperti badai.
Tatapan berbinar-binar yang di keluarkan para wanita membuat Ruby terganggu.
"Wah!!! Jadi gadis ini tunanganmu, si Rubylia Arsilla!! Imutnya!!!!" puji salah satu wanita itu.
"??????" bingung Ruby.
Aqua tidak bisa menghentikan dua wanita fenrir itu memeluk Ruby begitu dia terlihat bersama Aqua. Mereka juga langsung mengelus-elus gadis itu seperti anak kecil. Tak jauh dari sana, Eli menatap mereka seperti ingin bergabung.
Lix dan Pietro hanya tertawa kecil di sudut ruangan. Adegan itu mengingatkan mereka dengan kali pertama Pietro bergabung dengan Raven. Usia Ruby secara fisik memang 15 tahun hari ini. Tapi tubuhnya begitu kecil dan kurus seperti anak 10 tahun.
"Jangan terlalu berlebihan, Kak Vira, Kak Vina. Ruby kan baru saja datang," ucap Aqua.
"Mana mungkin kami bisa menahan diri kalau dia seimut ini!!!!" elak Elvina sambil tetap mengusap-usap Ruby dipelukannya.
"Benar!! Sudah lama sejak aku melihat anak seimut ini!!! Setidaknya biarkan kami begini sebentar saja!!!" kali ini Elvira sependapat.
Aqua tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya seakan mengatakan pada Ruby agar dia bersabar saja.
"Apa... apa-apaan... apa ini?! Siapa mereka?!! Kenapa mereka melakukan ini padaku!!?" batin Ruby penuh tanda tanya.