
Beberapa Hari Kemudian
AQUA POV
Semua hal yang terjadi setelah itu terasa sangat cepat. Bibi Amethyst segera menunjukkan keputusannya tentang kesalahan Turquoise pada rakyat Elf. Mengabaikan fakta bahwa Turquoise adalah anaknya, dia tetap mengizinkan hukuman yang sudah diberikan Aqua dan justru mendukungnya.
Harapan terakhir Turquoise, yaitu ibunya sendiri sudah sirna. Kehidupan kedua anaknya juga telah hilang dari dunia. Tak ada lagi yang tersisa baginya di dunia ini.
Karena alasan itu, mental bajingan itu benar-benar hancur. Dia bunuh diri tak lama setelah kedua anaknya mati.
Menyedihkan.
Hanya itu yang bisa kukatakan.
"Aqua!! Sudah selesai gantinya?!" jerit Mika dari balik pintu kamar.
"Sebentar..." jawabku yang sedang mengganti baju.
Ah... benar juga. Hal lain yang terjadi akhir-akhir ini...
Master dan Mika jadi sangat akrab, terutama dalam menjahiliku. Sejak aku membuat keputusan untuk masuk akademi sebagai perempuan, mereka berdua bersemangat dalam penelitian menciptakan item yang mampu mengubah gender seseorang. Bukan hanya dari penampilan luar yang bisa ketahuan kapan saja, melainkan perubahan gender sampai ke hormonnya.
Aku senang kalau mereka berdua bisa akrab, tapi aku tidak senang kalau inilah alasannya.
Saat melihatku, bibi sampai memandang dengan ekspresi kasihan. Meski begitu bibi tetap menyukai hal ini. Apa semua perempuan memang seperti ini?
Hal paling penting yang terjadi adalah fakta bahwa item pengubah gender itu benar-benar berhasil diciptakan oleh mereka berdua. Kemarin dengan penampilan acak-acakan dan kantung tidur tebal, Master dan Mika memberikanku sebuah cincin safir yang mampu mengubah genderku selama mana-ku masih ada.
Dan saat ini...
Dengan penuh keterpaksaan...
Aku sedang memakai cincin itu.
Sekarang saja aku sedang ganti pakaian perempuan karena dipaksa Mika dan Master. Kenapa harus? Bukannya cukup genderku saja yang berubah?
Untung saja bibi menyembunyikan satu pakaian tomboy yang tidak terlalu berenda dan feminim dibandingkan pakaian yang di pilih Mika dan Master.
Kutarik kakiku mendekati pintu. Telingaku terasa agak panas. Gugup dan ragu rasanya untuk membuka pintu ini. Karena Master, bibi dan Mika pasti sedang menunggu perubahanku dari balik pintu ini.
Aku membenci fakta bahwa aku agak takut kalau mereka mengejekku.
Rasanya ini tidak senonoh... untuk seorang laki-laki menjadi seperti ini.
"Aku tau kamu sudah berdiri di depan pintu! Keluarlah!!!" seru Mika ceria.
Mudah mengatakannya. Perempuan tidak akan merasa malu saat menyamar menjadi laki-laki. Karena sedari dulu perempuan bisa memakai fashion laki-laki. Dan nyatanya cocok-cocok saja. Tapi bagaimana dengan laki-laki tulen?
Berat.
Rasanya tubuhku berat.
Baik secara fisiologis maupun perumpamaan.
Ha~ahh.....
Kalau sudah begini apa boleh buat ya...
Maju saja!!!
CKLEKKKKK
Pintu kayu ini sudah kubuka. Terlihat Mika, Master dan bibi memasang ekspresi tidak sabar.
Mika membuka matanya, nada kesal keluar dari bibirnya.
"Kamu lama bang-"
".........."
".........."
".........."
"Gi-Gimana?"
(Sauce: Twitter @magcomp8)
Baik Mika, Master maupun Bibi tidak ada yang komentar sedikitpun.
"?"
Ini membuatku tidak nyaman. Akan lebih baik kalau mereka mengejekku daripada membeku di tempat seperti itu.
Aku tidak bisa membaca ekspresi mereka. Mereka benar-benar memasang poker face.
"....tik."
Huh? Rasanya aku mendengar Mika menggumamkan sesuatu.
Gadis itu memalingkan wajahnya. Sepertinya dia tidak ingin aku melihatnya. Apa sejelek itu...?
"Kamu... benar-benar cantik..." ucapnya pelan namun masih bisa kudengar.
"Hmm?"
Apa aku salah dengar?? Mika memujiku dengan ekspresi malu-malu begitu.
Tidak... aku senang dia memujiku... tapi dia tidak pernah begitu saat melihat wajahku yang laki-laki. Ini sedikit menyedihkan.
"AQUA!!"
"????"
"Berhenti saja menjadi laki-laki!!"
Master mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Mana mungkin aku berhenti menjadi laki-laki hanya karena wujud perempuanku sedikit cantik.
"Tidak, terimakasih!"
"Cih... sayang sekali," decak Master kesal.
Master... kamu ada-ada saja. Aku masih sayang adik kecilku dibawah sana. Meski aku suka gunung besar, bukan berarti aku ingin memilikinya.
TES...
"???!!!!!"
Aku, Master dan Mika terkejut sekali. Tak terduga, reaksi bibi Amethyst adalah sebuah air mata kesedihan.
"Bi-bibi! Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku?"
Aku tidak tau penyebab bibi menangis. Tapi aku rasa ini pasti ada hubungannya denganku. Jadi secara refleks aku berusaha menenangkannya.
Bibi Amethyst menggeleng lembut.
"Tidak... ini bukan salahmu."
Bibi meraba wajahku. Matanya memancarkan kerinduan yang sangat mendalam. Sebenarnya apa yang bibi lihat dariku?
"Bagaimana kamu bisa semirip itu dengannya? Satu-satunya hal yang membedakanmu dengannya hanyalah mata kirimu saja..." senyum bibi rindu.
Ah... aku tau...
Siapa yang bibi lihat dariku...
"Apa aku semirip itu dengan ibu?" tanyaku meraih tangannya.
Bibi hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Bahkan master sekalipun tidak akan mengacaukan suasana seperti ini.
"Apa kamu sudah memikirkan tentang identitas perempuanmu? Tidak mungkin kamu memakai nama Aquamarine Valler El Vittacelar saat mendaftar, kan?" tanya Bibi sembari mengusap air matanya.
"Saya belum memikirkannya, bibi."
"Kalau menjadi siswi terbaik, kamu pasti akan mencolok. Saat itu terjadi, identitasmu pasti akan diselidiki oleh berbagai pihak. Memakai identitas palsu sembarangan akan berbahaya."
Bibi benar. Pasti keluarga bangsawan akan banyak menyelidiki hal-hal tidak penting seperti itu.
"Saya akan menciptakan identitas palsu lewat guild informasi."
"Tidak perlu, aku tau sesuatu yang lebih baik," sela bibi.
"?"
Bibi menyentuh pipiku lembut.
"Aqua... aku tau ini permintaan tidak masuk akal yang egois. Tapi... maukah kamu mendengarnya?"
"Tentu bibi. Apapun, katakan saja."
"Maukah kamu... masuk ke akademi sebagai Citrine Caller El Vittacelar?"
"!?"
Permintaan dari bibi benar-benar tidak kusangka. Otakku penuh dengan berbagai kemungkinan alasan kenapa bibi menginginkan itu.
"Ah, itu tidak buruk! Kekaisaran sekarang sedang ramai-ramainya mencarimu. Kamu tidak akan dicurigai sama sekali kalau masuk sebagai Citrine. Apalagi wajahmu mirip dengan anak itu. Yang berbeda hanya... mata dan dada? Pfftt... sama wajahmu yang lebih cool itu," timpal Master.
Aku? Dicari? Kenapa? Aku tidak melakukan apapun yang membuat Kekaisaran mencariku.
"Ditambah lagi, kalau kedua pewaris tahta diketahui telah tiada... pasti banyak kerajaan dan kekaisaran yang mengincar Kerajaan Vittacelar. Membuat seolah-olah Citrine, sang Putri Mahkota masih hidup. Adalah keuntungan di berbagai sisi," lanjut Master.
Tidak...
Aku juga tau itu.
Untuk Kerajaan, akan bagus kalau aku membuat koneksi sebagai "Citrine" saat di akademi dan meningkatkan popularitasnya.
Untukku, aku jadi punya identitas yang jelas sehingga tidak akan di curigai. Dan... menghindari "pencarianku" yang entah karena apa itu. Ah, aku juga bisa menikmati fasilitas bangsawan dan terhindar dari diskriminasi kasta.
Lalu Mika yang sudah bergabung dengan Ruby juga tidak akan di curigai bersama gadis yang identitasnya tidak jelas. Karena status kami akan menjadi "Kakak Ipar" dan "Adik Ipar".
Tapi... kenapa bibi menyarankan itu?
Maksudku... jika dilihat dari sudut pandang bibi... bukankah ini akan terasa menyedihkan?
Kalau ada seseorang yang menyamar sebagai putrinya yang sudah tiada.
"Jangan mengkhawatirkan bibi. Aku hanya... ingin mendengar bahwa putriku masih hidup... meski hanya dari desas desus... dan aku aku tau faktanya sekalipun..." senyum Bibi.
Ahh... bibi memaksakan dirinya. Bibi tau keuntungan yang didapat dari itu jauh lebih besar dari perasaannya semata.
Menolak bibi sama artinya dengan menginjak-injak harga dirinya.
"Bibi... kalau anda yakin dengan itu... maka saya akan melakukannya."
"Saya akan masuk ke akademi sebagai Tuan Putri Citrine Caller El Vittacelar yang memang seharusnya masuk akademi tahun ini. Saya akan membuat reputasi Kak Rin sangat tinggi hingga tidak seorangpun bisa menjelek-jelekkan dirinya maupun menggunjingnya di belakang."
Sudahlah. Lagipula aku memang akan melakukannya. Maka akan kulakukan sampai tuntas dengan hasil maksimal.
"Aqua... terima kasih..." senyum bibi membuatku ikut tersenyum.