The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 154 [ Berkumpul di Ekstra ]



Di suatu tempat, jauh di atas salah satu menara yang menjulang tinggi di Akademi Mackenzie, terdapat sebuah ruangan yang terisolasi dari luar. Untuk memasuki lantai tertinggi menara itu, dibutuhkan sensor identitas yang mirip seperti sensor pintu kelas demi bisa menembus barrier yang menutupinya.


Dengan mudahnya sang putri Elf menembus barrier itu. Diujung barrier, sebuah lorong panjang dengan satu pintu terlihat. Tak serumit sebelumnya, sang putri Elf hanya perlu mengetuk pintu itu beberapa kali dengan suatu pola. Dengan begitu, pintu akan otomatis terbuka.


Putri Elf membuka pintunya hati-hati, berharap sesuatu tak keluar dari sana. Tapi...


"AQUAAAA!!!!!!!!!!!!!!!"


BRUUUUKKKKK


"Kenapa kau menghindar!?" ucap Eli kesal.


Kekhawatirannya terjadi. Begitu Aqua membuka pintunya, Lix dan Eli langsung melompat ke arahnya untuk memberikan sebuah pelukan. Sayang sekali untuk mereka, Aqua segera menghindarinya sehingga Eli dan Lix ambruk di sebelah Aqua.


"Tidak mungkin aku tidak menghindar!"


"Jahat!!! Lix!! Lihat dia!!!"


"Hahahaha, Aqua memang dari dulu kayak gini," tawa Lix sembari mengelus kepalanya.


"Kukuku... aku menang taruhan ya! Sudah kubilang, Aqua pasti menghindar kalau lihat sifatnya," kikik Elvina disebelah kakaknya.


"Sial!!! Gara-gara kamu menghindar, aku jadi kehilangan 20 poin!!! Kembalikan poinku!!!!!" rengek Eli pada Aqua.


"Hah!? Salah sendiri taruhan gak penting gitu."


"Ha~ahh... kalian ini benar-benar santai, ya?" keluh Elvira.


Semua yang ada di ruangan itu adalah para anggota Raven ditambah Ruby. Lix dan Eli kembali berdiri didepan pintu sembari membersihkan pakaian mereka. Elvira dan Elvina duduk bersebelahan di sofa merah panjang. Pietro dan Ruby duduk di sofa kecil disebelah sofa panjang, diam memperhatikan.


Ruangan ini adalah sebuah ruangan yang telah dipersiapkan dari awal. Sejak Lix menjadi ketua OSIS, dia telah menciptakan sebuah ekstrakurikuler dengan nama "Band Musik Modern" yang telah disetujui 2 pengajar, Elvira dan Elvina. Ekstra ini memang diciptakan sebagai tempat perkumpulan baru mereka, sehingga tidak mencurigakan kalau mereka saling kenal. Pembimbing dari ekstra ini adalah Elvira dan ketua ekstra adalah Neelima, karena tidak mungkin Lix sebagai ketua OSIS juga menjabat sebagai ketua ekstra.


Aqua adalah orang yang merencanakan semua ini. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau ekstra nya akan menjadi Band Musik Modern. Saat itu, dia benar-benar menyerahkan semuanya pada Lix.


"Yah, tak ada gunanya menyesal sekarang," batin Aqua.


Aqua melepaskan cincin safir dari jari tengahnya.


SWWIIIINGGGG


Tepat setelah itu, tak hanya penampilannya, bahkan pakaian Aqua ikut berubah berkat upgrade cincin yang dilakukan masternya. Rambut panjang Aqua kembali memendek, tubuh kecil langsingnya meninggi dan menjadi berotot, dada bulat besarnya menjadi bidang kembali dan terakhir, adik kecil Aqua kembali lagi. Tentu saja pakaian Aqua juga berubah menjadi seragam laki-laki Akademi Mackenzie.


Para anggota Raven terpana melihat perubahan itu meski itu bukan pertama kali mereka melihatnya. Beberapa bahkan sempat mengejek Aqua yang berubah didepan mereka. Sedangkan untuk Ruby, walau sudah diberitahu sebelumnya bahwa Aqua memasuki Akademi sebagai Citrine demi menggantikan kakaknya, Ruby tidak bisa berhenti terkejut. Malahan dirinya belum sepenuhnya menyerap informasi itu. Jauh didalam dirinya, Ruby sedikit tidak terima karakter kesukaannya cross dresser, meski disisi lain melihatnya seperti itu menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Semuanya sudah melakukan pendaftaran ekstra, kan?" tanya Aqua memastikan.


Eli, "Sudah kok, akukan ketuanya tahun ini."


Lix, "Aku tak perlu ditanya lagi, kan?"


Pietro, "A-Aku juga... sudah mendaftar... dan menyerahkannya ke... OSIS."


Ruby mendapati dirinya ditatap oleh semua orang, sekarang gilirannya.


"Kenapa aku harus terlibat dengan semua ini? Ha~ahh... sudahlah, lagipula aku sudah berjanji akan membantu Aqua."


"Aku juga sudah."


"Bagus."


Aqua berjalan menuju salah satu single sofa yang kosong lalu duduk disana. Pietro dengan sigap menyuguhkannya secangkir teh, setelah berterimakasih dan meminumnya sedikit, Aqua melanjutkan pembicaraan.


"Omong-omong... Aku tidak pernah mendengar apapun tentang kejahilan para pengajar hari ini, loh. Kak Vira, Kak Vina," kata Aqua mengejutkan kedua guru itu.


Eli, Pietro dan Ruby tiba-tiba teringat apa yang terjadi pagi ini pada mereka.


"BENAR JUGA!! Aku gak tau divisi lain gimana, tapi Divisi Attack Magic heboh gilak!!!" seru Eli agak marah.


"Ma-Maaf... direktur akademi menyarankan itu sebulan yang lalu saat rapat penerimaan siswa baru, sebagai guru baru... tidak mungkin kami bisa menentangnya," ucap Elvira menyesal.


Mata Aqua terlihat lelah, "Ulah master ya..."


"Kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya?"


"Tentu saja karena lebih menarik diam saja dan membiarkan semuanya terjadi. Memang apa lagi?" jawab Elvina sangat santai tanpa penyesalan.


Aqua, "šŸ’¢"


"Vina!!!" bentak kakaknya.


"Eh~ ayolah, hidup itu dibawa santai aja. Jangan terlalu kaku gitu, ah."


Aqua mengeluarkan senyuman menyeramkan, "Hoo... kaku ya... oke... kalau begitu orang kaku ini akan memberikanmu sebuah ceramah singkat, hm?"


Wajah Elvina dan kakaknya memucat, "Eh?"


Eli, Pietro dan Ruby merasa sedikit puas melihat Elvira dan Elvina mendapat omelan panjang Aqua karena keisengan itu. Sejujurnya mereka juga merasa ingin ikut Aqua mengomel, tapi tidak sopan melakukan itu pada orang yang lebih tua. Tentu Aqua pengecualian.


"Ma, ma... bukankah itu juga menghasilkan hasil positif? Beberapa anak mendapatkan tambahan poin yang cukup banyak berkat itu, kan?" timpal Lix mencoba mencairkan suasana.


Bukannya menenangkan mereka, Lix justru mendapat tatapan tajam dari Aqua, Eli dan Ruby serta wajah merajuk Pietro.


"KAU TIDAK TAU APA YANG KAMI ALAMI PAGI INI!!! BENAR-BENAR PARAH, TAHU GAK!!" bentak Eli diambang kesabarannya.


"Ma-maafkan aku..."


Bukan hanya Lix, suara Eli yang melengking itu berhasil memekakkan telinga yang lain juga. Sebagai pengajar utama Divisi Attack Magic, Elvira ikut mendapat tatapan tajam itu.


"Memang divisi kalian kenapa?" tanya Aqua penasaran.


"Pada zaman dahulu kala~


Ketika kelas yang ramai hening seketika~


Munculah seekor serigala~


Yang sungguh cantik jelita~


Ia merebut hati semuanya~


Dan hancurkannya saat itu jua~


Tepat didepan mata~"


BTAKKK


"Cepat ceritakan saja!" bentak Aqua setelah memukul kepala Eli.


"Sakit tau!! Sabar dikit napa sih!!" balas Eli tak kalah keras.


Eli diam sejenak sebelum dirinya menarik napas panjang. Dirinya mengingat kembali semua yang terjadi pagi itu dan mempraktekkannya didepan Aqua. Gadis (?) itu mulai bercerita kalau kelas mereka tadinya begitu heboh akibat banyaknya tokoh penting di kelas itu mulai dari anggota party pahlawan dunia lain, putra mahkota dan bangsawan tinggi Kekaisaran Levana, tunangan Pangeran Vittacelar hingga kynlaus yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Sebagai catatan, Pietro tidak dikenali orang sebagai cucu dadi anggota party pahlawan sebelumnya, jadi dia tidak menonjol.


Kelas yang sangat ramai itu seketika hening karena seorang guru yang terlihat sangat kuat dan cantik dengan senyum yang indah. Namun keheningan kelas itu tidak berlangsung lama, karena kalimat pertama yang keluar dari mulut wanita itu begitu berbanding terbalik dengan kesan mereka padanya.


"Dengarkan aku anak-anak ibu yang imut-imut. Seperti yang kalian ketahui, tidak ada sistem kasta di tempat ini. Status sosial kalian semua sama. Menurutmu apa itu? Murid? Calon penyihir sukses? Atau anggota divisi attack magic Akademi Mackenzie? Bukan. Status kalian disini itu..."


"Adalah budak! Mengerti?"


"!!????!!"


"Aku berikan waktu satu hari sampai kelas berakhir. Bagi siapapun yang tidak bisa mengeluarkan sebuah sihir yang membuatku tertarik barang sedikitpun, akan di keluarkan dari akademi saat itu juga. Jadi, berusahalah yang terbaik untuk memuaskanku, budak-budak imutku~ fufufu..." tawa Eli ketika ia berusaha meniru Elvira semirip mungkin.