The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 112 [ Wajah Lain Michael ]



Aqua lelah dengan respon Raven lainnya. Dengan cepat dia hilangkan lagi layar status miliknya.


"Sekarang yang terakhir."


Meski yang lainnya tidak rela Aqua menghilangkan statusnya secepat itu, tapi mereka diam saja. Karena yang selanjutnya tidak kalah menarik.


Semuanya menegang. Aqua memang sudah memperingatkan bahwa status Mika tidak terlalu bisa dilihat matanya, tapi mereka tetap penasaran.


Tanpa basa basi, layar status baru terpampang jelas dihadapan mereka.



"........"


Tak ada respon.


Ini mirip sekaligus berbeda dengan saat Aqua memperlihatkan statusnya. Mereka sama-sama terkejut namun bukan dalam artian yang sama.


Dengan wajah shock, Elvina menjadi yang pertama memberi respon.


"Level 889? Kenapa bisa?"


"Itu memang level yang tinggi, tapi..."


"Bukankah para malaikat adalah makhluk di luar batasan? Terutama Arc-Angel. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Elvira cemas.


"Setelah dilihat-lihat lagi... kemana cincin halo Arc-Angel nya?" tanya Lix juga.


Semua mata langsung tertuju pada Mika. Gadis itu tidak bergeming. Dia hanya meminum tehnya dengan santai sambil mengeluarkan senyum tipis.


"Mari akhiri sampai sini..."


Mika bangun dari sofa dan berjalan ke hadapan Raven lain.


"Penjelasan dari Aqua dan masa lalu kita masing-masing akan menjadi cerita yang panjang."


"Tidak perlu terburu-buru... kita akan tinggal bersama selama 1 bulan kedepan, dalam waktu itu... kita pasti akan saling mengetahui dan mengenal satu sama lain lebih dalam," senyum gadis itu.


"Sekarang beristirahatlah dan menata kamar kalian masing-masing. Eli dan Pietro akan memandu kalian keliling markas. Kita akan memulai cerita panjang ini setelah makan malam," kata Mika sebelum pergi meninggalkan Raven menuju luar markas.


"Ah, istirahatlah. Aku akan menyusul Mika!" seru Aqua.


"Oke!"


Kelima anggota Raven ditinggalkan Aqua di ruang tamu. Perasaan bersalah dan kecanggungan menyerang mereka. Rasanya mereka seperti menyentuh sesuatu yang tabu dan sensitif bagi gadis itu.


"......."


"......."


"....... Itu pasti bukan masa lalu yang bagus..." lirih Eli.


"Ya. Arc-Angel Michael tidak mungkin mengalami hal yang baik," balas Elvina.


"..... Aku tidak tau harus berkata apa," ucap Lix kesal pada dirinya sendiri.


Melihat ekspresi yang lainnya, membuat Elvira menghela napas. Dia memeluk adiknya dan Eli dengan kedua tangan. Sambil tersenyum hangat, wanita itu menenangkan yang lainnya.


"Meski kita disatukan oleh orang yang sama, tidak mudah membuka hati pada orang yang baru pertama kali ditemui. Seperti yang dia katakan, kita punya banyak waktu. Tidak perlu terburu-buru..."


Yang lain mengangguk, menyetujui Elvira. Seperti yang Mika sarankan, ketiganya menuju kamar mereka dan menata kamar mereka sendiri sesuka mereka. Setelah selesai nanti, Eli dan Pietro akan memandu mereka melihat-lihat markas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu, di luar markas


Mika menyandarkan tubuhnya ke pohon di bukit kecil (markas) mereka. Tatapannya mulai sendu dan terlihat penuh perasaan negatif. Dirinya diingatkan kembali akan perasaan yang sudah lama terpendam oleh kenangan indah baru-baru ini.


"Luciel..." gumam Mika.


Ingatan kejadian kala itu kembali menyeruak keluar dari kepala Mika.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Luciel bukan malaikat yang seperti itu..."


PUK


"!"


Dilihatnya Aqua memegangi kaleng cola dingin yang baru saja dia tempelkan ke pipi Mika.


"???"


"Kenapa murung begitu? Ini, minum!" seru Aqua sambil menyodorkan kaleng cola.


Sebenarnya selain manga, manhua dan Manhwa, Aqua dan Mika juga menciptakan beberapa barang modern yang masih bisa diciptakan dengan teknologi mereka saat ini. Cola adalah minuman yang paling Aqua suka dikehidupan sebelumnya, jadi saat Mika berhasil menciptakan itu, Aqua sangat senang.


Ditatapnya Aqua dengan mata agak kesal. Mika mengambil cola itu dan meminumnya.


"Jangan lakukan itu lagi!" marahnya.


Wajah merajuk Mika-pun terlihat imut di mata Aqua. Dia mengulurkan tangannya untuk menarik kepala Mika ke dadanya.


"Kamu bisa limpahkan semua padaku."


"Jangan dipendam sendiri."


"......."


Ekspresi Mika terlihat dingin. Sebenarnya Raven yang lain tidak perlu terlalu khawatir gadis ini tidak membuka hatinya pada mereka. Karena bahkan Aqua sekalipun, tidak mengetahui dirinya terlalu dalam.


"Untuk kali ini... bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?" ucap Mika mendorong Aqua menjauh.


Aqua tertegun, Mika hampir tidak pernah mendorongnya dalam artian apapun. Sepertinya kali ini Mika memang butuh waktu untuk berpikir.


"Baiklah. Jangan terlalu lama, masuklah sebelum gelap."


Mika mengangguk.


Meski ragu, Aqua tetap meninggalkan Mika agar gadis itu bisa menata hatinya.


Gadis Arc-Angel ini terdiam menatap langit jingga yang mulai menghilang sinar matahari. Dia tidak biasanya sensitif ini. Alasan dirinya menjadi lebih sensitif hari ini cukup sederhana. Itu karena dia melihat Elvira dan Elvina.


Sedari tadi, gadis itu sudah menahan rasa rindu dan cemburu pada hubungan mereka yang mengingatkan dirinya akan hubungannya dengan Luciel. Dan itu memuncak karena statusnya terlihat dan masa lalunya dipertanyakan.


"Ha~ahh... Sebenarnya aku kenapa?" keluh Mika sambil menyibak poninya.


Ekspresi Mika setelah mengatakan itu berubah 180° dari Mika yang biasanya. Arc-Angel ramah dan ceria yang biasa langsung menjadi dingin tanpa ekspresi.


Mata sapphire itu kembali memunculkan simbol ☮️ yang bersinar tajam.


"Bagaimana situasinya?" tanya Michael dalam bahasa lain.


SWEENGGGG


Sekejap, muncul beberapa makhluk putih tembus pandang yang mirip dengan roh di belakang Michael. Tak ada warna lain yang menyelimuti tubuh mereka selain putih bersih tanpa noda.


°°Yang Mulia, para jenderal Dewa Kejahatan mulai bergerak. Bisa dikatakan dari awal mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk lepas dari Dewa Kejahatan dan memimpin sendiri pasukan mereka °°


Jawab salah satu dari 3 makhluk putih itu.


"Lucifer? Apa ada pergerakan wanita itu?"


°°Lucifer tidak banyak bergerak. Sulit mengetahui apa yang dia rencanakan. Sekarang wanita itu sedang ada di istananya yang tertutup rapat dari pihak luar°°


"Hmm... apa menurutmu para Arc-Angel bisa menang melawan 8 Jendral?"


°°Sayang sekali itu akan sulit dengan kekuatan anda semua yang sekarang°°


"Pasti begitu, ya."


Michael berpikir dengan ekspresi tenang dan dingin.


"Kalau sekarang 8 Jendral menyerang kami, tidak diragukan lagi. Arc-Angel pasti akan mati."


"Sebenarnya bagaimana bisa mereka meningkatkan kekuatan mereka dengan cepat begitu? Seharusnya makhluk di luar batas nyaris mustahil meningkatkan kekuatan."


"Apa kalian sudah tau sumber kekuatan 8 Jendral?"


°°Mohon maafkan kami, Yang Mulia. Kami sedang dalam penyelidikan tentang itu°°


"Baiklah, aku mengerti. Langsung sampaikan padaku kalau ada informasi lebih lanjut! Ah... Dan jangan lupa apa yang kutugaskan pada kalian. Kalian harus menemukan wanita itu apapun yang terjadi dan memintanya bekerja sama. Lokasinya seharusnya tidak berubah. Tawarkan dia apa yang telah kusiapkan sebelumnya!" seru Michael dengan aura seorang Arc-Angel terkuat.


°°Baik, Yang Mulia. Semoga cahaya senantiasa menerangi anda°°


Para makhluk putih kembali menghilang menjadi kabut, meninggalkan Michael sendirian dengan perasaan kacau.


Diremasnya kaleng cola itu hingga seluruh isinya tumpah. Wajahnya yang dingin menyiratkan emosi kesal pada apa yang baru saja terjadi.


"Ini tidak cukup...."


"Aku harus membesarkan Raven lebih cepat. Kalau Arc-Angel jatuh, dunia akan mengalami kekacauan. Disaat itu... hanya Raven yang bisa menyeimbangkan kembali segalanya."


"8 Jendral... jangan kalian kira kami akan diam saja, menari di tangan kalian! Sebelum kalian menghancurkan kami, akan kupastikan kami akan menghancurkan kalian duluan!!"


Michael melihat jauh langit senja dengan mata penuh ekspresi yang berbeda.


"Kusersahkan yang disana padamu... Yue!"


"Semuanya demi happy ending yang kami nantikan."