
Seorang anak laki-laki berlari dengan membawa mahkota bunga di tangannya. Wajahnya berseri-seri menghampiri wanita cantik berambut pirang dan gadis kecil yang mirip dengannya. Siapa mereka? Kenapa… hatiku sakit melihatnya?
Anak itu memakaikan mahkota bunga itu ke wanita cantik di depannya. Mereka bertiga tertawa bersama dikelilingi hamparan bunga yang terlihat indah.
Pemandangan indah itu seolah terbakar bagai lukisan di dekat perapian. Berganti dengan pemandangan lain. Anak laki-laki yang sama terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Dia bergandengan tangan dengan gadis yang mirip dengannya. Mereka saling memandang dengan rona di wajahnya. Bahkan akupun bisa tau kalau mereka saling mencintai.
"A!"
Wanita tadi memandang dua anak itu dari kejauhan. Tatapannya sulit untuk diartikan, apa dia marah? Sedih? Atau kecewa? Rasanya semua itu menyatu. Kenapa dia menatap dua anak itu seperti itu? Bukankah mereka terlihat bahagia?
"Ua!!!!"
Lagi-lagi pemandangan berganti. Kali ini sang wanita terlihat marah besar entah kenapa. Dia marah pada dua anak tadi. Anak-anak itu dia jatuhkan ke suatu tempat yang berbeda dengan tempat tadi. Wanita cantik itu menangis, dia menangis dan terus menangis. Sebenarnya kenapa? Kenapa kamu menangis? Bagaimana caraku menenangkanmu?
"Qua!!!!!!!"
Berkali-kali pemandangan terus berganti. Seolah-olah ingin menunjukkan ku sesuatu. Katakan!! Tolong katakan!!! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku dengan menunjukkan semua ini?!
"Aquaaa!!!!!!!!!!!!"
Kalau tak ada, kumohon hentikan!!! Setiap cuplikan yang kau tunjukkan menyayat diriku sedikit demi sedikit!!
Sebenarnya kenapa?!!!
Kenapa kamu melakukan ini padaku?!
Kenapa kamu terus-menerus memisahkan kami, ibunda?!!!!!!!!
Ibunda? Kenapa aku menyebut kata itu? Sebenarnya apa yang terjadi?
Pemandangan itu perlahan menjauh dariku, bukan! Lebih tepatnya aku menjauh darinya.
Tunggu! Jangan sekarang! Aku masih belum mengetahui alasannya.
Aaaarrrrrhhhhhhhgggggg!!!!!
Perlahan, Aqua membuka matanya. Dengan mata yang agak basah itu, hal pertama yang dilihatnya adalah Yue yang menangis di sampingnya sambil menyebut-nyebut namanya. Disisi lain, Lix juga menatap Aqua khawatir.
"Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi sangat sedih?"
"Yu...e, Li...x."
Wajah terkejut dan gembira seketika menggantikan tangisan itu.
"Aquaa!!!!!"
Yue memeluk Aqua dan menangis bahagia. Lix menyilangkan tangannya dan menghela napas lega.
"Bodoh! Kaupikir berapa lama kau tidur!?"
"Kalian…"
Aqua tersenyum lega, dia bersyukur kedua temannya tidak terluka.
"Syu...kurlah, kalian… baik-baik… saja."
Yue mengangkat wajahnya. Wajah penuh air mata dan ingus itu terlihat marah.
"Aqua bodoh!!!! Apa kau tau betapa khawatirnya kami saat melihat petir menyambar langit kala itu??! Apalagi begitu kamu diangkat naik ke kapal dalam keadaan pingsan dan tersetrum."
Kemarahan Yue sedikit mengejutkan Aqua. Dia ingin mengelus kepala Yue, tapi tangannya belum bisa bergerak.
"Maafkan aku."
"Uhhh… hiks, hiks… huaaaa!!!! Syukurlah kamu masih hidup. Beneran… syukurlah!!!"
Yue kembali menangis lagi dengan keras. Saking kerasnya sampai suara terdengar hingga luar kamar.
Lix mengambilkan Aqua air di gelas dan menyerahkannya.
"!"
"Oh iya, aku baru sadar. Ini dimana? Siapa orang yang menolong kita?" balas Aqua.
"Akan lebih cepat kalau bertemu dengannya langsung."
Lix berjalan ke arah pintu yang terlilit kayu dengan indah. Pintu yang terbuat dari kayu cerah dan terlilit kayu gelap dengan dedaunan membuat Aqua menyadari kalau ruangan itu terbuat dari kayu sihir.
Begitu Lix membuka pintu, seorang wanita yang sangat cantik memasuki ruangan. Rambut silver indah yang terhiasi mahkota emas menghampiri Aqua. Hanya dalam sekali lihat Aqua langsung tau.
"Ah… orang ini… keluarga kerajaan Vittacelar."
Wanita itu mengangkat sedikit tangannya, pengawal yang menemani wanita itu keluar meninggalkan mereka. Setelah pintu tertutup kembali, kesan yang diberikan wanita itu jauh berbeda.
Dia melepas mahkotanya dan meletakkannya di atas meja. Jubah juga dia lepaskan. Lalu wanita itu duduk santai di kursi. Sangat berbeda dengan wanita penuh martabat dan wibawa yang sebelumnya.
"Jadi kamu sudah bangun. Bersyukurlah karena aku juga ada di kapal saat itu."
Wanita itu berkata dengan nada membanggakan dirinya.
Wanita itu tersenyum senang, dia menatap Aqua dari atas ke bawah.
"Hmm~ Beneran deh. Kamu memang anaknya," ucapnya.
"Anak? Apa yang dia maksud 'nya' itu ibu? Tunggu! Bagaimana dia tau?"
"Pfftt, wajahmu seperti bertanya bagaimana aku bisa tau. Pertama… lihatlah ini!"
Wanita itu menyodorkan Aqua sebuah cermin genggam. Awalnya Aqua kebingungan menerimanya, tapi begitu dia bercermin dia terkejut dengan penampilannya sendiri.
"Rambut perak?!! Memang sih mana ku habis saat itu, jadi sihir perubahan wujud juga hilang. Yue dan Lix pasti sudah tau, bagaimana ini?"
Wajah terkejut Aqua membuat Lix dan Yue sedikit geli.
"Aku kaget lo, saat kamu diangkat dari laut, warna rambutmu berubah. Kukira karena tersambar petir jadi begitu," ejek Lix dengan senyumannya.
"Yue juga! Padahal warna rambut asli Aqua cantik, kenapa disembunyikan?"
"...."
"Kamu pasti bingung, kalau begitu biar kuceritakan apa yang terjadi setelah kamu pingsan, oke?" tawar wanita itu ramah.
Aqua menundukkan kepalanya.
"Tolong jelaskan pada saya!"
"Jadi begini…"
Kembali ke Beberapa Bulan Yang Lalu
"Apa? Murid Ratu Penyihir?" kaget seorang wanita begitu membaca surat yang menempel di kaki merpati.
"Senior itu… dia memang pernah cerita kalau dia baru mengangkat murid. Tapi tetap saja, tiba-tiba memintaku menjaganya. Hanya karena kamu seniorku, jadi seenaknya sendiri. Aku itu masih Putri Elf loh."
Wanita berambut perak panjang itu sedikit kesal membacanya. Dia baru saja diminta Ashlan untuk menjaga Aqua selama 2 tahun sampai Aqua bisa masuk Akademi.
"Tapi yah… aku jadi penasaran dengan anak yang bisa menjadi murid orang kolot itu, jadi tidak sabar."
Wanita itu adalah junior Ashlan saat masih bekerja di menara sihir. Sekaligus Tuan Putri Pertama Kerajaan Vittacelar, Amethyst Callen El Vittacelar. Dia juga merupakan kakak perempuan dari Sapphire Vallen El Vittacelar, ibu Aqua.
Hari demi hari berlalu, Amethyst lama-lama bosan menunggu Aqua yang tak kunjung datang bahkan setelah 3 bulan lamanya. Saat sedang mengerjakan tugas sebagai Putri Mahkota, Amethyst mendapat sebuah surat dari guild master tentara bayaran yang merupakan bawahannya. Dia sangat senang saat membacanya, karena karakteristik anak yang disebut guild master mirip dengan murid seniornya.
Mengabaikan tugasnya, dia langsung menggunakan kertas teleportasi ke guild, tentu sebelum itu Amethyst mengganti warna rambutnya jadi pirang. Namun saat tiba disana, Aqua sudah tak ada di guild. Tapi Amethyst tak menyerah, dia mengelilingi kota mencari Aqua. Akhirnya dia berhasil menemukannya saat Aqua hampir meninggalkan gerbang.
Awalnya Amethyst ingin bergabung dengan Aqua, namun dia lebih penasaran dengan yang Aqua lakukan selama perjalanannya. Diapun mengikuti Aqua dan teman-temannya diam-diam.
"Apa kamu itu Stalker?" pikir Aqua, Lix dan Yue tertekan saat mendengarkan.