
"Pembohong."
Tepat setelah gadis itu mengatakan satu kata itu, sayapnya langsung mengepak kencang dan membawanya keluar dari jendela. Dia terbang dengan kecepatan tinggi, tidak memberikan waktu pada Raven untuk bertindak.
Sementara Raven yang ditinggalkannya masih dipenuhi tanda tanya. Situasi membingungkan yang terjadi pada mereka secara serentak tidak dapat langsung mereka pahami, terutama untuk Aqua. Baru beberapa saat yang lalu dia mengira kekasihnya dalam bahaya atau justru telah meninggal, beberapa saat kemudian ternyata kekasihnya telah bergabung dan beberapa saat kemudian lagi kekasihnya kabur keluar jendela setelah menyebutnya pembohong.
Bagaimana dia bisa langsung merespon begitu saja?
"........"
Ditengah keheningan dan kebingungan itu, Elvina selaku sahabat Mika mengatakan sesuatu.
"Aqua, kalau gak salah saat bertemu Yue sebelumnya... Mika dan Yue hanya sekedar bertukar ingatan, bukan?"
Aqua mengangguk pelan.
"Kalau sampai bergabung... ingatan mereka pasti sudah jadi satu. Ingatan sebagai Michael, Arc-Angel yang terus mengulang waktu, ingatan sebagai Rubylia, vampir yang disiksa keluarganya dan ingatan sebagai Yueve, iblis yang menolak menjadi raja iblis."
"Tidak heran kalau dia butuh waktu untuk menata perasaannya," kata Elvina.
"Tapi yang ingin kukatakan bukanlah itu. Melihat dia menyebutmu 'pembohong', apa kau pernah berbohong sesuatu yang besar pada salah satu dari mereka?" tanya Elvina curiga.
Aqua berpikir sejenak, dia mengingat-ingat semua yang terjadi sejak pertama kali dia bertemu dengan ketiga pecahan Airella hingga sekarang. Namun Aqua tidak menemukan kebohongan besar apapun. "Seingatku... tidak..."
"....?"
"Terus kenapa dia bisa menyebutmu pembohong!" kesal Eli.
"Aku tidak tau... aku benar-benar tidak tau... sebenarnya kebohongan macam apa yang kukatakan padanya...?" bingung Aqua.
Elvira tersentak, menyadari sesuatu. "Tunggu sebentar. Baik Mika, Yue ataupun Ruby, tidak ada yang pernah menyebut Aqua pembohong. Mika dan Yue sudah bucin padanya, sedangkan Ruby masih waspada. Tapi tetap saja, tak ada dari mereka yang membenci atau sekedar tidak menyukai Aqua."
"Apa yang ingin kakak katakan sebenarnya?" tanya Aqua.
Elvira menatap mata Aqua lekat-lekat hingga membuat Aqua agak gugup. "Aqua... ada kemungkinan yang menyebutmu 'pembohong' itu bukanlah Yue, Mika atau Ruby."
"Kalau bukan mereka, terus siapa!!?" kini giliran Eli yang bertanya.
Elvina menyadari maksud kakaknya, "Ingatan lainnya? Apa yang kakak maksud... yang menyebut Aqua 'pembohong' itu Airella atau salah satu ingatan kehidupan sebelumnya?"
"!?"
Setelah mendengar tebakan Elvina yang dijawab anggukan Elvira, Raven langsung menyadari bahwa kemungkinan seperti itu tidaklah nol.
"Dia mengingatnya? Bukan hanya ingatan kehidupan saat ini? Lalu ingatan siapa yang ada pada dirinya sekarang...?" gumam Aqua.
"...!"
"Jangan bilang... Tiara...?"
"......"
"......"
Aqua berjalan pelan mendekati anting Envy dan mengambilnya. Dia menggenggam anting itu erat-erat sembari menatapnya dengan ekspresi penuh makna. Setelah tersenyum dan menghela napas kecil, Aqua berbalik menatap Raven.
"Aku akan mengejarnya," ucap Aqua dengan senyum hangat.
"Kak Vira dan Kak Vina, tolong bantu aku menyembunyikan fakta ada malaikat keluar dari jendela asrama tadi, mungkin ada yang melihatnya."
"Tentu."
"Lix, urus sisanya, ya!!" seru Aqua yang sudah jongkok di lis jendela.
"Oi!! Dasar seenaknya sendiri!!!!" kesal Lix.
Beberapa detik kemudian, di tutup dengan cengiran kekanakan yang jarang Aqua keluarkan, anak itu melompat dari jendela dan terbang mengejar gadis yang merupakan gabungan Mika dan Ruby itu hanya dengan mengandalkan firasatnya.
"Kalau itu benar-benar Tiara. Sepertinya aku tau kemana dia pergi."
.
.
.
.
.
.
.
"......"
Raven lagi-lagi ditinggal begitu saja. Baik oleh gadis itu, maupun oleh ketua mereka. Lix yang diserahkan hal-hal merepotkan oleh Aqua mendengus kesal. Dia menyilangkan tangannya dibelakang kepala dan pergi keluar kamar.
"Aku mau tidur aja, lah!" ucapnya.
Pietro yang merupakan teman sekamar Lix gelagapan, dia bingung antara tetap disana atau mengikuti Lix.
Tanpa berbalik atau sekedar menengok, Lix menjawabnya.
"Suka-suka dia ajalah. Yang aku turuti itu Gluttony dari Raven. Bukan bocah bucin, Aqua. Sudi amat ngurusin kehidupan percintaannya, ribet."
"Pfftt... hahahaha benar juga. Anak ini benar-benar menambah masalah kita saja," tawa Elvina.
"Yah, kalau cuma menutupi ada malaikat yang keluar, kami bisa melakukannya. Tapi kalau sampai mengurusi pertengkaran kekasih itu... kurasa tidak perlu, ya kan kak?"
Elvira hanya tersenyum saja sembari menutup jendela kamar yang terbuka. "Biarkan saja mereka. Yang perlu kita lakukan hanya menyambut mereka saat mereka pulang nanti."
"Hari ini sudah menjadi hari yang berat untuk kita semua. Kebetulan besok libur, sebaiknya kalian semua istirahat saja dengan baik dan menikmati liburan kalian. Tentang mereka berdua, berikan mereka waktu dulu. Setelah itu barulah giliran kita," sambungnya.
Eli setuju dengan kata-kata Elvira, gadis (?) itu menepuk pelan kasur yang ditempati Mika sebelumnya, "Benar... meski hari ini sangat mengejutkan dan menguras tenagaku... itu semua tidak masalah..."
"Aku... bersyukur Mika baik-baik saja. Itulah yang terpenting."
Elvira, Elvina, Lix dan Pietro, masing-masing dari mereka juga bersyukur dari lubuk hati terdalam mereka. Karena rekan tersayang mereka, Mika yang tiba-tiba koma begitu sampai di Kekaisaran Levana ini, sekarang sudah dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun tak sepenuhnya menjadi Mika. Namun Mika tetaplah Mika. Mika juga adalah Yue dan Ruby. Dari awal mereka adalah orang yang sama. Mendapatkan ingatan dari diri mereka yang lain, takkan mengubah seperti apa gadis itu. Dia tidak akan menjadi orang lain, dia hanya akan semakin kembali menjadi dirinya sendiri.
"A-Anu... maaf kalau... kata-kataku mengganggu..." kata Pietro yang dari tadi diam saja.
"?"
"Kalau... Nona Ruby dan Mika... bergabung begitu... Bagaimana... dengan identitasnya di Akademi?"
"Ah...!"
Kata-kata Pietro langsung menyadarkan mereka semua akan fakta yang sempat terlupakan.
"AQUAA!!!!!!!!!!!!!!"
.
.
.
.
.
"Hatchii..." bersin Aqua di tengah terbangnya.
"Terbang tengah malam gini agak dingin juga."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara Itu, Jauh Di Ujung Benua Manusia
Seorang gadis jelita bersayap putih bersih tengah terbang beberapa senti di atas permukaan air laut. Hanya dengan merendah sedikit saja, kaki gadis itu dapat menyentuh air laut yang bercahaya memantulkan cahaya bulan.
Tujuan gadis itu tidak lain tidak bukan adalah pesisir pantai yang jauh dari jangkauan manusia karena letaknya yang dikelilingi bebatuan curam. Gadis itu mendarat di pasir pantai yang sangat halus, putih dan bersih layaknya sayap di punggungnya. Begitu kaki gadis itu menapak pasir, sayapnya menutup dan hilang kembali entah kemana.
Gadis itu duduk di atas pasir sembari memeluk lututnya. Dia menatap lautan yang membentang luas didepannya. Matanya terlihat sendu dan penuh beban pikiran. Untuk beberapa saat, dia diam saja seperti itu. Tidak mengatakan apapun, tidak memikirkan apapun. Hanya diam, melihat indahnya lautan.
"......."
"......."
"......."
"......."
Setelah beberapa menit seperti itu, dia akhirnya melihat telapak tangan kanannya dengan tatapan yang aneh.
"......."
"......."
"Aku... sebenarnya siapa...?" gumamnya.
Didalam kepalanya, terputar kembali ingatan yang cukup membebani dirinya. Ingatan seorang gadis berambut pirang yang ditinggal berdua dengan wanita berambut biru muda yang tertidur di ranjangnya.