
Kekaisaran Levana, Istana
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu terdengar di tengah kesunyian malam. Seorang pria tua dengan pakaian dan jubah mewah memasuki ruangan setelah pemilik ruangan memberi izin masuk.
"Baginda, Count Demifa datang menghadap matahari kekaisaran."
"Masuklah!"
Setelah sang pemilik memberi izin, pria berjubah yang menyebut dirinya Count Demifa itu memasuki ruangan dengan sopan. Seorang pria yang nampak masih 30-an duduk di meja kerja dengan setumpuk berkas diatasnya.
"Ada urusan apa kepala penyihir istana datang larut malam tanpa pemberitahuan," sindir pria itu tanpa melepas berkasnya.
"Ada pesan penting dari Benua Suci, tepatnya di Kekaisaran Anessa. Sebuah wahyu telah turun."
"!"
"Wahyu katamu?!" kaget pria itu.
"Benar Baginda! Sebelum saya menjelaskan, saya akan membuat sihir kedap suara terlebih dulu. Apakah diizinkan?"
"Lakukan!"
Count Demifa menunduk sopan, lalu mengeluarkan tongkat yang tergantung dibelakangnya. Setelah merapal sesaat, seluruh ruang kerja Kaisar terselimuti sihir yang membuat suara tak akan keluar dari luar.
"Kalau begitu, saya akan memulainya."
"Seperti yang Baginda ketahui, saat ini sedang terjadi perang di Benua Iblis antara para malaikat dan ras-ras kuat dengan pasukan Dewa Kejahatan. Wahyu yang turun menjelaskan kalau dampak dari kalahnya Dewa Kejahatan akan menimbulkan bencana."
"Bencana?"
"Kebangkitan Raja Iblis!"
"?!!"
"Ini buruk! Kalau Dewa Kejahatan, para malaikat akan turun tangan langsung. Tapi kalau Raja Iblis... ras malaikat tidak akan ikut campur karena tingkatannya terlalu rendah."
Kaisar memegangi kepalanya pusing.
"Anda tidak perlu khawatir, Baginda. Didalam Wahyu, dijelaskan kalau ada penyelesaiannya."
"Katakan dari tadi!!"
"Mohon maafkan saya. Dalam salah satu Wahyu, telah dijabarkan bahwa selain kebangkitan Raja iblis. Akan bangkit orang yang akan mampu melawan Raja Iblis. Ini adalah kebangkitan sang pahlawan, Baginda."
"Pahlawan?!"
Kaisar terkejut mendengarnya, bukan tanpa alasan. Biasanya Raja iblis akan bangkit lagi setelah 500 tahun sejak dikalahkan. Namun kebangkitan pahlawan tak selalu terjadi bersamaan dengan bangkitnya Raja iblis. Kasus party pahlawan sebelumnya itu bisa dibilang beruntung.
"Apa ada penjelasan siapa atau dimana pahlawan selanjutnya akan bangkit?"
"Sayangnya tidak, Baginda. Tidak ada penjelasan khusus terkait siapa dan dimana pahlawan akan bangkit. Namun..."
"Jangan memutus penjelasan seperti itu!!" marah Kaisar.
"Ini sedikit sulit dipahami, Baginda. Berdasarkan Wahyu yang datang, pahlawan adalah anak perempuan dengan rambut merah maron," kata Count Demifa agak ragu.
BRAAAKKK
"Anak perempuan katamu?!!" bentak Kaisar kesal.
"Membebankan tanggung jawab sebesar itu pada anak-anak... sebenarnya apa yang dipikirkan Sang Dewi???"
"Ini memusingkan... Orang-orang Benua Suci ini, mereka cukup cepat kalau soal itu. Saintess ya... pemilihan Saintess selanjutnya masih 1 tahun lagi, kan?"
"Benar, Baginda. Dan sepertinya mereka ingin memajukan jadwalnya."
Kaisar terdiam dan terus memikirkan hal rumit di kepalanya. Setelah cukup lama, Kaisar menghela napas lelah.
"Baiklah! Berikan perintah pencarian anak perempuan dengan rambut merah maron ke seluruh Kekaisaran! Temukan dia lebih dulu dari Benua Suci kalau dia ada disini!"
"Baik, Baginda Kaisar!"
...***...
*Dungeon, Lantai 9**5*
Aqua kesulitan melawan monster biasa di lantai ini. Walau bukan boss lantai, rata-rata dari mereka sudah berlevel 500-an. Beberapa kali tubuhnya terluka parah, tangan putus, kaki hancur, bahkan sampai jantungnya terkoyak. Sungguh keajaiban dia masih bertahan hidup dengan mati-matian.
Setiap kali anak itu hampir mati, tubuhnya menjadi Dragonman. Aqua sendiri tidak terlalu menyukainya, karena kemanusiaannya akan berkurang setiap dia menggunakannya. Jika dia terlalu bergantung pada perubahan naga, lama-lama dia bisa kehilangan yang namanya belas kasih dan kebaikan hati.
"Hahh... haahh... ahhh..."
Tubuh putih dengan noda darah di sepenjurunya terlihat kelelahan. Matanya berat, ingin sekali dia tertidur sekarang.
"Menyelesaikan satu lantai saja hampir mustahil... kapan aku bisa keluar dari sini..."
Aqua mengusap kasar wajahnya. Karena sudah tak ada lagi monster di lantai 95 selain boss lantai, anak itu memilih istirahat dulu. Ada alasan kenapa dia bisa bertambah kuat dengan cepat meski hampir mati berkali-kali. Selain Dragonman, Aqua memiliki gluttony. Semua monster yang dikalahkannya tidak disimpan namun diserap habis.
Aqua bersandar di tumpukan mayat ular seukuran 2-3 meter.
"Ini sudah hari ke 48... butuh berapa lama lagi? Berapa lantai lagi?! Satu lantai saja butuh waktu selama ini..."
Wajahnya terlihat putus asa dan penuh kerinduan. Dia meremas lagi kalung yang diberikan Ashlan. Kalung itu adalah satu-satunya pengingat kemanusiaannya. Setiap rasanya dia jatuh ke jurang keputusasaan, dia akan selalu meremasnya.
"Satu monster disini sudah setara boss di lantai 25. Melawan satu membutuhkan waktu 1/2 hari. Belum ditambah jeda pemulihan."
"Hahaha... kalau begini... bisa-bisa aku baru keluar saat sudah tua."
Sinar mata Aqua yang penuh dengan cahaya dan harapan sebelumnya mulai meredup. Matanya memancarkan kata-kata hidup enggan mati segan. Ironisnya yang memotivasinya untuk tetap hidup dan keluar adalah rasa dendam dan keinginan membunuh.
Dengan wajah yang tampak kelelahan, Aqua memandang tumpukan ular itu. Dihisapnya semua ular itu dengan gluttony kecuali satu yang paling dekat.
"Aku benci daging ular."
Aqua membakar ular terakhir dan memakannya tanpa membumbuinya. Kalau anak itu disuruh mereview hidangan itu, maka dia akan dengan lantang mengatakan. Rasanya menjijikkan!!
Didalam dungeon, sulit untuk bisa makan dengan normal. Satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup hanyalah tidah pilih-pilih makanan dan makan saja apapun yang bisa dimakan. Meski begitu, banyak monster yang beracun, seperti ular ini. Yah, Aqua tak perlu khawatir itu berkat skill toleransi racunnya.
Aqua makan secepat yang dia bisa agar tidak terlalu merasakan rasa menjijikkan daging ular. Untungnya kehidupan Aqua sebelumnya adalah agen spy, anak itu jadi sudah biasa dengan bau darah. Setelah ular itu habis dan mana Aqua penuh kembali, anak itu bersiap menghadapi boss lantai tanpa membuang waktu lagi.
Dihadapan tangga yang menjulang tinggi, Aqua sama sekali tak ragu menaikinya.
"Padahal aku harus turun ke dasar, tapi malah disuruh naik tangga. Merepotkan."
Di atas sana, terlihat sebuah aula yang sangat luas dan disekelilingnya terdapat banyak patung batu berbentuk orang dan monster.
"Ah... kayaknya aku tau siapa boss lantai ini."
Sesosok wanita cantik dengan kulit pucat berjalan perlahan ke tengah Aula. Satu-satunya perbedaan wanita itu dengan manusia hanyalah rambutnya yang bukan rambut biasa. Rambut ular yang terlihat berbahaya itu berdesis melihat Aqua.
"Lihat! Benarkan! Boss di lantai ular, Medusa!"