
"Hmm… kenapa tidak ada orang?"
Aqua menoleh kesana sini, namun tak ada penampakan satu orangpun disana.
Dia keluar dari rumah pohon Alesta. Pandangan bingungnya langsung berubah jadi tertekan.
"Ahaha…" tawanya canggung.
"?"
Elvira dan Elvina mengikuti Aqua keluar rumah. Mereka dikejutkan dengan pemandangan yang terlihat. Dua anak kecil sedang dikejar-kejar oleh makhluk hitam bulat besar diawasi seorang Dark Elf yang enak-enakan tiduran sambil minum dan membaca.
"Waaaaaaahhhhhh!!!!!! Awasss dibelakang!!" jerit anak lelaki panik.
"Yue tau, Yue tau!!!!! Apa-apaan makhluk ini?!! Bagaimana cara menghentikannya??" balas anak perempuan tak kalah panik.
"Kalau aku tau, kita gak bakal dikejar bodoh!!!!"
"Bukannya yang bagus dari Lix cuma otaknya saja?! Kalau gini aja gak tau, terus apa gunanya kamu?!!!"
"Kamu sama aja!!!!!!!!"
Aqua menepuk jidatnya.
"Mereka ini… masih sempat-sempatnya bertengkar."
Aqua berjalan mendekati Alesta yang tampak sedang bersantai.
"Hmm?"
Alesta merasa ada yang mendekatinya dan menoleh.
"Ohh… kamu sudah kembali? Cepat juga. Mana barangnya?"
"Langsung minta aja…"
Aqua mengambil botol kecil berisi Embun kehidupan dari inventory. Dia menyerahkannya ke Alesta. Alesta mengeceknya, itu benar-benar Embun Kehidupan.
"Bagus… jadi? Mana kembaliannya?"
"Tidak ada. Harganya pas."
Alesta membelalakkan mata.
"Pas katamu?!!!! Harusnya tidak semahal itu kan??!"
".... Karena merepotkan jadi sekali tawar langsung kuhabiskan," jawab Aqua jujur.
"......"
Alesta tak bisa berkata-kata. Dia benar-benar ingin memarahi Aqua sekarang. Tapi memang dia sendiri yang memberikan 100.000 koin, jadi dia tidak bisa marah.
"Hanya karena bersama Ashlan 3 tahun saja, dia jadi mirip sekali dengan jala*g itu," kesal Alesta.
"Ha~ahh… sudahlah. Omong-omong, siapa dua orang yang kau bawa pulang?"
Aqua diam dan berpikir sejenak.
"Teman baruku."
Alesta menatap Aqua lelah. Dia bangun dan mencubit dua pipi Aqua.
"Apa kau pikir rumahku cukup untuk kalian berlima, hah?!!" marahnya.
"Andwa twidak pwerlwu khwawatir," jawab Aqua sebisanya.
Setelah cubitan itu dilepas, Aqua melanjutkan perkataannya sambil memegang pipinya yang memerah.
"Yang Mulia Putri sudah menyediakan satu rumah kecil untuk kami tempati. Disana cukup untuk 5 orang."
"Harusnya kamu bilang dari kemarin! Jadi dua bocah itu tidak perlu tinggal bersamaku."
"Oh iya, Tuan Alesta. Apa yang anda lakukan dengan Lix dan Yue? Dan benda apa yang mengejar mereka?"
"Dua bocah nakal itu? Mereka kulatih dasar sihir seperti maumu. Benda itu adalah hasil penelitianku. Sebut saja makhluk itu shadow, aku menciptakannya dari sihir kegelapan. Benda itu masih jauh dari sempurna," jawab Alesta malas.
"Jadi begitu."
Alesta bangun dan menjentikkan jarinya. Bersamaan dengan itu, shadow yang mengejar Yue dan Lix menghilang. Dua anak itu terkejut. Saat mereka melihat apa yang terjadi, mereka melihat sosok yang sangat mereka rindukan.
"Aquaaaa!!!!!!!!!" jerit mereka bersamaan.
Mereka berlari menghampiri Aqua dan langsung memeluknya.
"Yue merindukanmu!! Apa kamu tau betapa tersiksanya Yue saat Aqua pergi?" rengek Yue di pelukan Aqua.
"Orang itu benar-benar menjadikan kami subjek percobaan. Memang sih pelatihannya berguna, tapi menghadapi neraka itu 1 hari saja sudah menyebalkan," keluh Lix.
"Sudah, sudah… kalian sudah berjuang,' hibur Aqua.
"Hehe…" tawa Yue.
Dalam pelukan Aqua, Yue melihat dua perempuan yang tersenyum senang ke arahnya.
"Aqua! Mereka siapa?" tanya Yue.
"Ah, mereka ini…"
"Perkenalannya nanti saja!! Sekarang masuk kalian semua. Karena Aqua sudah berhasil kembali tepat waktu, banyak yang harus kujelaskan!" seru Alesta memotong penjelasan Aqua.
Aqua dan yang lain berjalan mengikuti Alesta ke dalam rumahnya. Aqua, Lix dan Yue duduk di sofa depan Alesta. Elvira dan Elvina berdiri di belakang Aqua.
"Aku tak tau harus senang atau kesal karena kamu sudah kembali. Tapi janji adalah janji, aku akan mengajarimu seperti yang kujanjikan," kata Alesta di awal.
"Pertama, apa ada yang ingin kau tanyakan?"
".... Tuan Alesta. Apa anda sudah mengetahui tentang elemen yang dimiliki Lix?" tanya Aqua memastikan.
"Kau pikir aku siapa? Sudah!"
Alesta menatap Lix agak tajam.
"Penyihir elemen khusus ya… dimana kamu menemukan anak ini?"
"Itu tidak penting. Saya hanya ingin memastikan apa anda juga mengajar Lix."
"Jadi dari awal kau sudah tau dia penyihir elemen khusus! Ditambah lagi elemen racun. Anak ini kalau dibiarkan berkembang bisa berbahaya," sindir Alesta.
"Anda tidak perlu khawatir, Lix tidak akan membahayakan orang yang tidak bersalah. Benar kan?"
"Selama dia tidak menyakitiku atau orangku, tidak akan!" jawab Lix yakin.
"Kalau begitu bagus. Baiklah, karena mulai sekarang kalian akan menjadi muridku, selama itu jangan panggil aku tuan. Itu menjengkelkan. Panggil saja guru!"
Perkataan Alesta sedikit membuat Aqua, Lix dan Yue terkejut. Mereka tidak menyangka Alesta mau di panggil guru, mengingat Alesta sangat tidak mau menerima murid sebelumnya.
"Baik, guru!"
"Yosh. Sekarang katakan, apa dua orang dibelakangmu juga mau jadi murid?"
"Tidak, mereka sudah cukup kuat dan terampil. Guru tidak perlu melakukannya," jawab Aqua yakin.
"Mereka bahkan lebih kuat dari guru. Yah... aku tidak bisa bilang begitu sih."
"Jadi kenapa kau bawa mereka kemari?"
"Guru, kekuatan mereka tersegel. Apa anda bisa membebaskan mereka dari segel?" tanya Aqua agak takut.
"Aqua…"
Elvira dan Elvina terkejut karena Aqua langsung menanyakannya. Bukan hanya menyelamatkan hidup mereka, Aqua bahkan membelikan tombak mahal dan berusaha membebaskan mereka. Rasa setia mereka terus meningkat.
"Segel ya… segel itu masuk elemen cahaya dan kegelapan. Beri aku waktu! Aku pasti bisa melakukannya, hanya saja itu tidak gratis," balas Alesta dengan seringai licik.
"Saya tidak memintanya begitu saja. Guru bisa meminta apapun sebagai gantinya," jawab Aqua cepat.
"Bagus, tentang pembayarannya bisa di bahas nanti. Sekarang lanjut ke topik selanjutnya. Aku sudah janji kalau kamu kembali aku juga akan menceritakan tentang kebenaran iblis dan legenda terbentuknya dunia. Apa kalian masih mau dengar?"
"Masih, guru!" jawab mereka serempak.
"Kalau begitu dengarkan baik-baik!"
...***...
Jutaan tahun yang lalu, ibu dari para dewa melahirkan seorang Dewi di dunia baru yang penuh dengan energi kehidupan. Dewi itu ialah yang disebut sebagai Dewi Kebijaksanaan, Dewi Athena.
Dewi Athena menjadi Dewi pelindung Dimitra, dunia yang saat ini kita tinggali. Dimitra pada zaman dahulu kala adalah dunia yang damai dan tenang. Karena tak banyak perbedaan kekuatan antara ras-ras ciptaan Dewi, tak ada konflik besar yang terjadi.
Di suatu masa, Dewi Athena melahirkan dua anak kembar dari gen tunggalnya. Anak kembar laki-laki dan perempuan itu dinamai Aidan dan Airella. Mereka tumbuh dan besar di tempat yang disebut surga bersama Athena dan pelayannya.
Seiring berjalannya waktu, pertengkaran antara Dewi Athena dan dua anaknya tak bisa dihindari, Dewi Athena yang marah besar mengusir anak kembarnya dari surga dan memberi hukuman berat pada mereka.
Waktu terus berlalu, biar bagaimanapun Dewi Athena adalah ibu dari Aidan dan Airella. Hati keibuannya sakit karena memberi hukuman yang sangat kejam pada anaknya. Kesedihan, rasa bersalah dan penderitaan itu begitu menyakiti sang Dewi sehingga dia tidak bisa mengerjakan tugasnya sebagai Dewi Dimitra dengan benar. Untuk menghilangkan perasaan itu, Dewi Athena memisahkan perasaan itu dan membuangnya di ujung dunia.
Namun…
Tak ada yang menyangka, perasaan negatif Dewi Athena itu membawa sebagian kekuatannya. Karena hal itu, lahirlah sesuatu dari perasaan negatif itu. Sesuatu itu disebut Dewi Kejahatan. Bukan tanpa sebab, itu karena Dewi Kejahatan mencoba menghancurkan dunia yang Dewi Athena lindungi.
Dewi Kejahatan melahirkan ras iblis dari darahnya. Tapi ras Iblis tak membawa perasaan negatif seperti dirinya dan hanya membawa kekuatannya saja. Dewi Kejahatan marah besar, amarah Dewi itulah yang menjadi miasma yang mana merupakan asal muasal monster.
Karena terjadi diskriminasi dan pembullyan parah dengan para ras iblis, banyak iblis yang dendam pada ras lainnya. Iblis yang dendam itu meminta Kekuatan untuk melindungi ras-nya pada Dewi Kejahatan. Berkat kekuatan yang diberikan, iblis itu menjadi sangat kuat jauh melebihi iblis lainnya. Tapi kesadarannya hilang dan perasaan negatif yang semula tak ada merasukinya. Karena itulah Raja Iblis jadi mirip seperti Dewi Kejahatan dan mencoba menghancurkan dunia bersama pasukannya.
Meski begitu, Dewi Athena tak bisa turun ke dunia secara langsung untuk mencegah itu. Itulah sebabnya, Dewi menciptakan ras yang memiliki kekuatannya. Ras itulah yang kini dikenal dengan Ras Malaikat. Dari banyaknya malaikat itu, 5 malaikat yang memiliki kecocokan terbesar dengannya diberi kemampuan yang lebih kuat dan dijadikan pemimpin para malaikat, Arc-Angel.
Perang antara Malaikat dan Raja Iblis terus terjadi hingga menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada dunia. Ras lain yang lebih lemah jadi menderita karenanya. Dewi merasa sedih dan dia menangis. Air mata Dewi menjawab kesedihannya. Dari air mata itu, lahirlah makhluk yang menjadi sumber energi sihir. Makhluk itulah dikenal sebagai Spirit, penjaga keseimbangan dunia serta penahan para malaikat dan iblis.
Berkat spirit, keseimbangan dunia kembali terjaga. Para Iblis terkunci di Benua Iblis dan Malaikat tertahan di Benua Melayang. Namun konflik belum sepenuhnya selesai. Sisa-sisa konflik itu harus diselesaikan sendiri oleh ras lain yang meminjam kekuatan Spirit.
Itulah bagaimana dunia saat ini terbentuk.