
Remaja laki-laki dengan rambut merah itu langsung menghampiri Aqua dan merangkul pundak temannya itu.
"Kau berubah cukup banyak, kawan!"
Tangan Aqua mencoba melepaskan rangkulan Lix.
"Lepaskan bodoh!"
Wajahnya terlihat kesal dengan tingkahnya, tapi Mika tau kalau Aqua sebenarnya juga senang.
Mika berdiri dan menyiapkan sofa.
"Fufufufu... ini adalah pertama kalinya kita bertemu, kan? Silahkan duduk!" ucapnya ramah.
"Terimakasih..."
Tidak ada kesungkanan, Vira dan Vina langsung duduk di sofa dan meneguk teh yang diseduh Mika. Meski ini pertama kalinya mereka bertemu, entah kenapa rasanya seperti mereka sudah kenal lama. Ini juga karena ingatan Yue ada di kepala Mika pula.
"......"
Kedua saudara kembar itu menikmati teh yang Mika seduh dengan damai. Perasaan seperti ini tidak buruk juga. Tapi...
CHIIIII
"Tidak nyaman di tatap seperti ini..." batin Vira dan Vina setelah merasakan tatapan tajam dari Eli yang terus memperhatikan mereka.
Mika menghela napas, dia menepuk kepala Eli dengan buku novel yang tadi dibacanya.
"Hayo, tidak sopan menatap mereka seperti itu."
"Aduh... maaf, maaf..." ucap Eli sambil memegangi kepalanya.
"Habisnya... aku belum pernah melihat wanita secantik itu sebelumnya, ah... tentu kalau kamu dikecualikan."
Kata-kata jujur yang keluar dari mulutnya dibalas dengan tawa kecil fenrir kembar itu.
"Mulutmu manis sekali, terimakasih!" balas Vira ramah.
Wajah Eli memerah, entah kenapa rasanya dadanya berdebar barusan.
"???"
"Pesona wanita dewasa memang menakutkan..." pikir Pietro.
"Sudahlah... semuanya, ayo duduk!" seru Aqua memecah kecanggungan.
Mengikuti seruan Aqua, seluruh anggota Raven itu duduk di sofa yang saling berhadapan. Ada satu sofa panjang untuk 3 orang, 4 sofa kecil satu orang dan meja besar didepan semua sofa. Aqua duduk disebelah Mika di sofa bagian timur. Neelima duduk disebelah Pietro di sofa bagian barat. Vira, Vina dan Lix duduk di sofa panjang di bagian selatan.
Aqua membuka pembicaraan pertama dengan seluruh anggota ini.
"Baiklah, mungkin ini terlalu cepat. Tapi karena kita akan bersama dalam waktu lama, lebih baik kita saling kenal lebih cepat."
"Seperti yang kalian semua tau, aku berencana membentuk sebuah kelompok dengan 7 anggota yang bertujuan saling membantu dan bekerja sama. Saat ini... ketujuh anggotanya sudah terkumpul semua, di meja ini."
"Tunggu sebentar!!!" jerit Pietro tiba-tiba.
"?"
"Ada apa?"
"Anu... tujuh itu... jangan bilang... aku juga?!" kaget Pietro.
Aqua baru menyadari sesuatu yang dia lupakan.
"Ah... benar juga. Aku belum memberitahumu, ya?"
"Belum!!! Aku tau kalau kamu mau membentuk kelompok dengan teman-temanmu. Tapi aku juga termasuk?!" ucapnya agak panik.
"Iya. Dari awal aku menerimamu, aku sudah berencana memasukkanmu. Apa kamu tidak mau?" balas Aqua dengan wajah sedih.
Pietro langsung diserang perasaan bersalah.
"Bukan!! Bukannya tidak mau... tapi..."
".... Apa tidak apa-apa? Apa tidak apa-apa orang sepertiku bergabung dengan kelompok luar biasa seperti ini...?" gumam Pietro tak percaya diri.
Seluruh anggota Raven selain Pietro langsung tertawa mendengar pertanyaan yang dikeluarkan Pietro. Habisnya mereka semua sudah tau kalau dari awal Aqua memang sudah menargetkan Pietro. Dan tidak mungkin pemimpin mereka itu akan merekrut orang tidak berguna ke Raven.
Pietro, "???"
"Ah, aduh... perutku sakit..." kata Lix sambil memegangi perutnya.
"Jangan khawatir kawan kecil. Ketua kami ini tidak sebodoh itu untuk asal mengambil anggota. Temannya anak itu memang banyak (?) tapi tidak semua bisa masuk ke Raven. Kalau kamu ditawarkan masuk, itu karena kamu pasti spesial," hibur Lix.
"Benar, Aqua pasti melihat sesuatu yang spesial darimu. Jangan rendah diri! Percaya dan yakinlah kalau kamu memang spesial," timpal Vina.
"Kalau kamu memang tidak bisa mempercayai dirimu, maka percayalah padanya dan kami," sambung Vira.
"Tegakkan badanmu kawan, aku sudah melihatnya sendiri kalau kamu itu jenius!" seru Eli ceria.
"Tuh... kamu bisa mendengarnya sendiri, kan?" senyum Mika.
"Semuanya..."
Pietro tersentuh. Tak pernah dia sangka kalau orang yang belum pernah ditemuinya bisa sehangat dan sebaik ini padanya padahal warga desa yang selalu dilihatnya justru mencaci maki dirinya.
"Apa masih perlu ditanyakan?" tanya Aqua dengan seringainya.
"Tidak. Aku akan bergabung!" tekad Pietro.
"Bagus, maka jangan setengah-setengah. Bekerja keraslah demi Raven."
"Baik!!!"
Aqua membenarkan posisi duduknya, tangannya saling menggenggam. Wajahnya terlihat santai dan serius bersamaan.
"Karena masalah Pietro sudah selesai. Aku akan melanjutkannya. Beberapa dari kita sudah saling kenal. Tapi beberapa juga belum. Untuk sementara, kita akan menetap di sini selama 1 bulan agar ikatan kita bisa lebih terjalin. Apa ada yang keberatan?"
"Tidak!!!" jawab mereka serempak.
"Aku sudah membuat kamar untuk masing-masing anggota di lantai 2. Gunakan saja sesuka kalian, karena mulai sekarang tempat ini adalah markas Raven. Aku dan Mika sudah mengutak-atik pondok ini selama di dungeon."
Aqua menganggukkan kepalanya, disaat yang sama Mika juga mengangguk dengan senyum manisnya. Mika berdiri dan berjalan ke salah satu tiang penyangga pondok. Tak disangka, ternyata ada sebuah tombol tersembunyi disana.
Begitu gadis itu menekan tombol itu, pondok yang mereka tempati mendadak bergetar. Tidak ada dari mereka yang panik karena dari awal sudah menduga. Beberapa bagian dari pondok seolah bergerak dengan sendirinya.
Sebenarnya tidak ada begitu banyak perubahan didalam. Hanya menjadi lebih luas saja. Namun jika dilihat dari luar akan sangat berbeda. Penampakan seperti rumah kayu sederhana itu berubah menjadi sebuah bukit kecil dari gundukan tanah dan ada beberapa pohon diatasnya.
Ini adalah markas kamuflase.
Selain perubahan bagian luar, ada beberapa ruangan yang bertambah di dalamnya. Yaitu ruang teleportasi, bengkel tempa, ruang harta, perpustakaan dan ruang rapat. Beberapa ruangan asli juga meluas. Seperti dapur, kamar mandi, toilet, ruang ganti, ruang belajar, ruang keluarga, ruang makan, atap, kebun indoor, dll.
Pondok kecil untuk dua orang itu berubah menjadi markas rahasia 7 orang.
Lix, "Apa ini? Keren!!!"
Vina, "Iya, aku setuju!"
Vira, "Sekarang tempat ini jadi luas, ya."
Eli, "Bagaimana caranya membuat ini???"
Pietro, "Wahh..."
"Tampilan luar markas ini bisa berubah tergantung keadaan. Bagaimana? Hebat, kan?" ucap Mika agak sombong.
Semua orang mengangguk tanpa terkecuali. Apa yang dibuat Mika dan Aqua ini memang hebat dan sedikit tidak masuk akal.
Setelah perubahan selesai, Mika kembali duduk di sofanya lagi. Btw, sofa ini ada di ruang keluarga tak jauh dari pintu masuk.
"Sebagai permulaan kebersamaan kita, mari kita mulai dengan memperkenalkan diri masing-masing secara singkat."
"Akanku mulai dariku. Meski semuanya sudah mengenaliku, tapi biarkan aku memperkenalkan diri lagi. Namaku Aquamarine Valler El Vittacelar, Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar dan putra ketiga Kaisar Levana. Sebagai orang yang membentuk dan memimpin Raven, aku menggunakan nama samaran 'Gluttony'. Dalam party, peranku adalah Magic Damage Dealer."
"Selanjutnya aku. Kalian mungkin akan terkejut dan bertanya-tanya apa yang kulakukan disini. Aku akan menjelaskan tentang diriku nanti. Untuk sekarang yang harus kalian tau, aku adalah Arc-Angel Michael yang dikabarkan menghilang 1½ tahun lalu. Aqua menyelamatkanku dari dasar dungeon dan membawaku bersamanya. Aku sendiri tidak masalah mengikutinya, karena itu menyenangkan. Kemampuanku... Aku bisa apa saja. Baik sihir maupun senjata, jadi aku sama dengan Aqua, Magic Damage Dealer. Ah... aku juga bisa menjadi Priest di party. Lalu sampai aku dan Yue bergabung kembali, aku akan memakai nama 'Envy' di Raven."
Lix mengangkat tangannya.
"Masalah tentang kamu dan Yue tidak akan kutanyakan sekarang. Tapi tolong jawab pertanyaan yang ini. Apa hubunganmu dengan Aqua?" tanya Lix sedikit menggoda.
Aqua menatapnya tajam, tapi Lix hanya menghindari tatapan itu dan bersiul.
"Aku tunangannya," jawab Mika cepat.
"!?"
"Tunangan?!!!" Lix, Vira dan Vina.
Wajah mereka langsung teralih ke Aqua, seakan meminta penjelasan.
"Akan kuceritakan nanti. Selanjutnya!" elak Aqua.
"Dia menghindar..."
"Yasudahlah, sekarang giliranku. Namaku Feirlyx Harley. Sebelumnya aku cuma rakyat biasa, tapi karena misi yang diberikan Aqua, aku jadi anak angkat Count Harley dan sekarang adalah siswa tahun pertama Akademi Mackenzie. Aku ini setengah Ashura, kemampuanku berfokus ke sihir racun dan penyerangan tersembunyi. Peranku dalam party adalah assassin. Nama samaranku di Raven adalah 'Wrath' sang kemarahan."
"Aku Elvira, seorang fenrir. Karena aku yang paling tua disini, jangan sungkan mengandalkanku. Aku seorang spearman, selain itu aku dan adikku adalah pengguna sihir suara, jadi kami bisa menjadi komunikator Raven. Kode name ku 'Pride'."
"Saudara kembar Elvira, Elvina! Aku juga seorang spearman seperti kakak. Dan yang bisa kulakukan juga kurang lebih seperti kakak. Kode name ku 'Lust'. Tidak banyak yang bisa kubilang... ah! Mungkin ini... aku dan kakak adalah saudara kembar juga sepasang kekasih. Jangan coba-coba mengambilnya, ya!"
"......."
"......."
"......."
Elvira, "Dasar anak ini! //////"
"A... ah... giliranku. Namaku Neelima, rasku adalah ras kuno yang dilindungi Great Dragon Leviathan, Kynlaus. Aku memang abadi, tapi aku benci merasa sakit. Peranku dalam party adalah sniper. Kalian tidak perlu khawatir garis belakang. Mungkin ini terdengar sombong, tapi aku yakin tidak ada penembak jitu yang lebih baik dariku. Lalu, namaku di Raven adalah 'Sloth'!"
"Terakhir... aku... namaku Pietro Chalcedony. Cucu Jesper Chalcedony, dwarf dari Party Pahlawan sebelumnya. Sekarang aku banyak kekurangan... tapi aku pasti akan berkembang dan membantu Raven sebanyak mungkin! Sebagai dwarf, aku bisa menempa. Jadi serahkan saja masalah senjata padaku! Anu.. lalu... namaku..."
"Greed," timpal Aqua.
"Kode name mu di Raven adalah 'Greed' sang keserakahan."
"...... Kode namaku adalah 'Greed'. Senang bertemu kalian semua!"
Semua orang tersenyum memandang satu sama lain.
"Baiklah! Dengan begini, aku nyatakan hari ini, tanggal 3 Cancer 498 Pravit... ketujuh anggota Raven telah lengkap!"
"Wayyyyyyy!!!!!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Catatan
Tanggal 3 Cancer 498 Pravit yang Aqua sebut adalah tanggal dari kalender yang diciptakan oleh para orang penting Benua Manusia, Sihir dan Suci tepat di hari setelah pahlawan mengalahkan raja iblis 500 tahun lalu. Tanggal yang dipakai masih sama dengan Bumi, namun bulan yang digunakan adalah 12 bulan yang menjaga surga, Zodiack. Sedangkan "Pravit" yang digunakan sebagai tahun diambil dari nama sang pahlawan dari party pahlawan itu.