The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 155 [ Akhir Pertemuan ]



"Di-Di keluarkan!?" kaget Lix.


Anak itu langsung menatap Elvira seakan meminta penjelasan.


"Tentu saja tidak benar-benar akan kukeluarkan kok. Nyatanya, hampir tak ada dari mereka yang dapat memuaskanku seperti yang kuminta. Tapi tidak ada yang keluar, kan?" jawab Elvira cukup santai.


"..... Kuakui itu agak berlebihan. Tapi yang kita bahas disini itu Kak Vira. Kau pasti punya alasan, kan?" kata Aqua setelah berpikir sejenak.


Elvira mengangguk, "Sebenarnya aku tidak berniat melakukan itu sebelumnya. Hanya saja, sejak aku mengawasi mereka begitu keluar dari Aula, tingkah anak-anak itu perlu diperbaiki. Mereka memiliki kepercayaan diri yang terlalu berlebihan hingga bisa dibilang kesombongan. Kebanyakan dari mereka bahkan menganggap divisi lain lebih rendah dari mereka."


"Jadi sebagai seorang pendidik, aku berpikir untuk memperbaiki sifat itu dan menghancurkan harga diri mereka."


Meski tak sepenuhnya setuju dengan caranya Elvira, Aqua memahami alasannya. Memang divisi attack magic sudah terlalu memandang tinggi diri mereka dan merendahkan divisi lain. Selama ini Elvira dan Elvina secara rutin memberikan Aqua laporan terkait akademi dengan detail. Jadi tak heran Aqua mengetahui kalau hanya sebatas itu.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Aqua.


Elvira tersenyum puas, "Berhasil kok. Yang dapat memuaskanku hanya yang dapat menggunakan sihir tingkat Epic atau tingkat tinggi skala luas. Karenanya, yang bisa melalui ujian itu sangat sedikit. Tentu saja anak-anak sombong itu langsung mengetahui bahwa mereka tak berbeda dari yang lainnya, bahwa mereka bukanlah orang spesial terpilih."


Mendengar itu membuat Aqua merasa ikut puas, "Baguslah."


"Kalau Putra Mahkota memang sudah hancur kesombongannya sebagai jenius itu sejak kedatangan Pangeran Aquamarine. Tapi anak bangsawan Kekaisaran Levana yang tak menghadiri pesta itu, anggota party pahlawan dari dunia lain dan bangsawan lainnya yang menganggap mereka lebih baik dari rakyat biasa masih memiliki kesombongan itu. Tadinya, ya..." kedip Elvina.


Aqua tersenyum tipis, tak lama dia melirik Eli, Pietro dan Ruby hingga membuat mereka merinding.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Aqua lagi dengan seringainya.


Elvira berpikir sejenak sebelum menjawabnya.


"Yah... cukup menghibur mungkin."


"Jawaban macam apa itu, Kak Vira!?!" jerit Eli setengah menangis.


"Kamu kejam! Sudah tau aku belum bangkit."


Eli bertingkah seperti Heroine manga jadul yang terzolimi oleh Villainess. Raven lain dan Ruby yang melihat itu hanya memasang wajah datar, tak terlalu peduli. Hanya Pietro yang merasa bersalah atau simpati padanya.


"..... Apa yang mereka lakukan?" tanya Aqua.


"Nona Arsilla membuat sebuah clon darah seukuran dirinya sendiri yang dapat mematuhi perintah apapun yang diberikannya tanpa dia mengatakannya. Itu sihir tingkat tinggi, namun karena aku belum pernah melihat yang semacam itu, aku meluluskannya," jawab Elvira.


"Pietro menggunakan sihir tanah yang digabungkan dengan skill-nya, Weapon Manipulation. Dengan kombinasi itu, Pietro mampu menciptakan ulang seluruh senjata yang ada dikelas itu. Meski dia tak menciptakan senjata yang lebih tinggi dari tingkat Epic dan semua yang dibuatnya saat itu hanya bersifat sementara. Itu sudah cukup."


Pietro malu-malu mendengarnya. Wajah hingga telinganya memerah. Tentu yang lain menganggap itu imut. Elvina bahkan menggodanya dengan mencolek-colek pipi pria kecil itu.


"Dia mendengarkanku dengan baik," senyum Aqua.


Sebenarnya Pietro bisa saja menunjukkan lebih dari itu. Kalau sekedar penggandaan sementara, dia bisa menggandakan bahkan hingga tingkat Mythic. Dan jika itu permanen, dia bisa menggandakan hingga tingkat Legend meski butuh waktu agak lama. Menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya agar bisa digunakan di situasi genting, hal itulah yang Aqua ajarkan pada Pietro.


"Terakhir Eli... anak itu... ha~ahh..." desah Elvira.


"Apa!? Apa!!? Kenapa reaksi kakak pas giliranku beda sendiri gitu!?" ucap Eli tak terima.


Elvira menatap makhluk genderless itu lelah, "Seperti yang kalian tau. Sihir Eli bukanlah sihir yang mencolok. Dia bisa menembak tepat sasaran dari jarak yang sangat jauh. Lagipula dia itu sniper kita. Tapi kalau dia melakukan itu, hanya kita yang memahami kehebatannya. Yang lain hanya akan melihatnya menembak biasa saking jauhnya peluru Eli. Apalagi ukuran peluru anginnya sangat kecil. Dia tau pasti yang seperti itu tidak akan membuat orang yang tak paham terkesan dan tak ada gunanya juga menunjukkan dirinya sebagai sniper."


"Jadi anak ini mengambil pilihan ekstrim."


"Pilihan ekstrim?" tanya Aqua, Lix dan Elvina penasaran.


Pietro dan Ruby mengalihkan mata mereka seakan mencoba mengatakan, aku tak mau membahas itu. Itulah kenapa Aqua, Lix dan Elvina dibuat semakin penasaran. Sedangkan orangnya sendiri justru tertawa-tawa geli mengingat kejadian itu.


"Dia memanfaatkan keabadiannya. Berkali-kali dia bunuh diri dengan berbagai cara yang cukup sadis hingga teman sekelasnya trauma. Karena adegan-adegan itu, banyak siswi yang pingsan dan kelas kuakhiri meski ada anak yang belum tampil."


Elvira terlihat tertekan saat mengatakannya. Reflek, Aqua, Lix dan Elvina menatap Eli tak percaya. Bisa-bisanya dia melakukan hal semacam itu! Itu yang mereka pikirkan. Mereka tak tau harus komentar seperti apa lagi.


"Aku tau skill 'Eternity' itu sendiri merupakan sihir tingkat Mythic yang hanya dimiliki para Kynlaus. Aku juga yakin, anak-anak lain tau kalau Kynlaus itu abadi. Tapi anak itu tetap saja... ha~ahh..." desah Elvira lagi.


Eli tersenyum menyebalkan, dia mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.


"Kukuku... jeng, jeng, jeng! Berkat ini nih!!"


"?"


"Ini kan... pil?"


"Ini obat bius loh."


Ruby dan Aqua, "!!"


"Obat bius?! Kapan kau menyiapkannya?" kaget Aqua.


"Obat bius? Apa itu?" tanya yang lain.


"Obat bius adalah obat yang digunakan untuk pembiusan atau anestesi, yang berarti ‘kehilangan sensasi’. Tujuan penggunaan obat bius adalah untuk membuat mati rasa area tubuh tertentu atau bahkan membuat tidak sadarkan diri," kata Aqua menjelaskan.


"Seharusnya obat semacam itu tak bisa di dapat di Dunia ini," batinnya.


"Darimana kau dapat itu?"


"Siapa lagi kalau bukan ilmuan jenius kita!" ucapnya sombong padahal bukan dirinya yang menciptakan.


"Mika ya..."


"Iyap!"


Kali ini senyuman menyebalkan Eli berubah agak sedih, "Saat aku bilang aku benci keabadianku karena tidak membiarkanku mati dan hidup penuh rasa sakit, Mika merenung sebentar dan langsung pergi saat itu juga. Kemudian setelah beberapa hari berlalu, dia memberiku sekantung penuh pil ini."


"Dia memberikan semuanya padaku tanpa mengharap pamrih. Padahal harga bahan-bahan untuk membuat ini saja sangat mahal, belum percobaan pembuatan dan keahliannya. Tapi dia dengan senang hati memberikannya gratis sambil berkata, 'Dengan ini kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Ditambah karena kamu abadi, tidak perlu khawatir lukamu yang tidak terasa akan membuatmu mati tiba-tiba atau kamu mati karena overdosis. Pakailah sesukamu, aku akan membuatkan mu lagi kalau yang ini sudah habis.' "


"......"


Tak ada yang berbicara lagi. Setiap kali membicarakan Mika, akhirnya pasti seperti ini. Mereka semua akan teringat kenangan-kenangan dengan gadis itu. Meski pertemuan mereka tak begitu lama, seluruh anggota Raven menyayanginya. Mereka belum pernah bertemu gadis sebaik itu sebelumnya. Gadis yang putih bersih seakan tak pernah berbuat dosa, namun tidak naif dan bisa kejam pada musuhnya. Terlepas dari kejahilannya yang sedikit menyebalkan, tindakan penuh kasih sayangnya langsung dapat menyentuh hati mereka hanya dalam waktu singkat.


TING TING TING TING


Lonceng besar di puncak tertinggi menara sihir berdenting. Menandakan waktu pembelajaran dan bebas telah berakhir. Langit senja yang bersinar jingga matahari terbenam menjadi suatu pemandangan yang indah. Cahayanya memasuki jendela ruangan mereka dengan semilir angin sejuknya.


Aqua bangkit dari kursinya perlahan dengan senyum tipis diwajahnya. Digunakan kembali cincin pengubahan wujudnya sehingga tubuhnya kembali menjadi wanita.


"Kita akhiri sampai disini pertemuan hari ini."


"Lix dan Pietro, tetap jalankan projects kita meski ditengah pembelajaran. Jangan lupa laporkan padaku setiap perkembangannya."


"Baik."


"Kak Vira dan Kak Vina tolong seperti biasa, ya."


"Tentu."


"Eli... jangan bertindak gegabah dan membuat masalah."


"Aku tau, oke!"


"Ruby... maaf memaksamu masuk dalam situasi sulit. Tapi... aku, kami benar-benar memohon padamu... tolong selamatkan dia..." pinta Aqua dengan mata sendu.


Ruby meremas lengan kirinya dengan tangan kanan, "..... Akan kuusahakan."


"Tapi tolong jangan terlalu berharap. Karena aku sendiri tidak tau bagaimana cara menolongnya."