
Aqua melirik Citrine yang tengah merapal dengan konsentrasi tinggi.
"Aku harus memberi kak Rin waktu. Begitu dia selesai merapal, pertarungan ini akan berakhir."
Aqua punya rencana, anak itu tau tentang sihir istimewa Saintess. Sebuah sihir cahaya tingkat Legend khusus Saintess yang terlepas dari level penggunaannya. Tentu ada syarat pengaktifan sihir ini, selain membutuhkan mana yang luar biasa besar, Saintess harus berhadapan dengan pengguna sihir kegelapan.
"Didalam game, kak Rin adalah kandidat Saintess dengan bakat sihir cahaya yang luar biasa besar. Itulah kenapa aku ingin menjadikannya anggota Raven ke-7! Priest Raven!!"
"Karena kakak keturunan Saintess, menggunakan sihir khusus Saintess sepertinya bisa dilakukan. Awalnya aku hanya menebak, tapi dia memang bisa. Luar biasa!!"
Sebelum pertarungan dimulai, Aqua sudah melakukan transfer mana ke Citrine untuk jaga-jaga jika keadaan terburuk terjadi. Dan benar saja, mereka memang harus menggunakan itu.
"Aku bersyukur Lich itu karakternya terlalu sombong. Dia tidak akan mempedulikan Kak Rin karena aku sudah menekan auranya sampai ke titik terendah!"
Anak itu mengeluarkan daggernya dan menyeringai pahit.
"Sekarang aku harus bagaimana?"
⟨ Rasakan 9 gerbang kematian ku ini dengan tubuhmu sendiri!! ⟩
[ First Gate! Sea of Hell ]
Area disekitar Aqua berpijak mendadak mulai bergerak seperti ombak. Dengan cepat lantai itu meleleh, menjadikan pijakan Aqua jadi Lava.
"!"
Untuk makhluk yang tidak bisa terbang. Area seperti itu sangat berbahaya.
[ Upland ]
Aqua membuat tanah yang belum menjadi Lava menjulang tinggi dan menaikinya. Anak itu juga memberikan penguatan dan daya tahan pada tanah agar tidak meleleh. Meski begitu hawa panas yang dikeluarkan cukup untuk memanggang Aqua hidup-hidup.
[ Ice Surface ]
Aqua meletakkan tangannya di tanah itu. Seketika tanah tempat Aqua berpijak membeku.
"Dengan begini aku sudah mengatasi pijakan!"
⟨ Apa kau kira aku akan diam saja melihat itu?! ⟩
[ Second Gate! Hell Guard Snake ]
Lava yang tadinya tenang, menjadi menggelombang. Sesuatu yang ada di dalam lava bergerak mendekat Aqua.
Ular berkepala tiga dengan tinggi lebih dari 10 meter menyemburkan api dari dalam lava. Aqua dengan sigap membuat pelindung dari tanah dan es.
[ Glacier Wall ]
Tak ada api yang menembus dinding glacier itu. Semua api langsung padam begitu menyentuhnya. Namun ular raksasa itu menghancurkan dinding es Aqua dengan kekuatan fisiknya saja hingga hancur berkeping-keping.
"Sial!! Makhluk besar ini merepotkan!!!"
Aqua menoleh ke arah Lich yang diam memperhatikan.
"Kenapa dia tidak menyerang lagi atau mengaktifkan gerbang ketiga?!"
"..... Jangan-jangan..."
[ Magic Missile ]
Untuk membuktikan tebakannya, Aqua menyerang Lich dengan sihir dasar. Ular berkepala tiga itu langsung menghadang di jalur tembakan sehingga Lich tak tergores.
"Sudah kuduga! Jadi begitu!!"
Aqua berdecak kesal, sekarang anak itu kehilangan pijakan yang sudah susah-susah di buatnya.
[ Teak Vines ]
Sebuah tanaman merambat keluar dari tangan Aqua dan menggantung di langit-langit. Berkat itu, Aqua tidak terjatuh ke lautan magma. Namun bergelantungan seperti itu sangat tidak nyaman dalam pertarungan.
"Lich sialan itu... sepertinya kesulitan mengaktifkan 9 gerbang seperti aku yang tidak bisa membuka ke-7 tombak es. Ditambah, makhluk itu tak bisa menggunakan sihir lain saat mengaktifkan gerbang neraka. Ini kesempatan bagus!!"
Ular mendekati Aqua dan menyerangnya. Beberapa kali Aqua menghindar dan bergelantungan di satu sulur ke sulur lain sembari menangkis sisik keras ular dengan daggernya. Dentingan demi dentingan terdengar memenuhi ruangan. Suara yang terdengar nyaring namun memekikkan telinga itu tak henti-hentinya.
Anak itu juga mengeluarkan banyak sihir dari tingkat menengah dan tinggi untuk mengalahkan ular raksasa itu hingga akhirnya dua dari tiga kepala itu terpisah dari tubuhnya.
Darah hijau menjijikan terciprat kemana-mana, membasahi tubuh Aqua. Anak itu menyekanya dengan lengan bajunya.
"Hahh... hahh... haaahh... akhirnya mati juga."
⟨ Bisa bertahan melawan gerbang keduaku. Kamu hebat juga nak! Tapi jangan salah paham yang kami hadapi hanya 2 dari 9 gerbangku ⟩
"Berisik! Aku juga tau itu. Kak Rin harusnya bisa mengaktifkan sihirnya sebelum gerbang ke 5 terbuka. Aku cuma harus bertahan!!"
[ Third Gate: God of Fire's Dance ]
Magma yang mengalir di bawah Aqua meletup-letup seperti air mendidih. Firasat Aqua jadi tidak enak. Dan benar saja, jika sebelumnya yang menyerang Aqua adalah ular dari magma, kali ini magma itu sendiri yang seakan mencoba memakan Aqua.
"Bahaya!!!"
Aqua terus-menerus menciptakan sulur untuk menghindari serangan magma. Namun berada di medan magma itu sendiri sudah merepotkan, sekarang magmanya malah mengejarnya. Ini mimpi buruk...
⟨ Kahahahaha!!!! Kahahahaha!!!! Bagaimana?! Kamu pasti tidak bisa mengalahkan yang satu ini!! ⟩
Aqua mengernyit dan berdecak kesal.
"Memang benar, setidaknya yang ular masih bisa dikalahkan. Tapi ini?!!"
⟨ Sepertinya kamu kesulitan, bocah. Biar aku menambah kesulitannya untukmu!! ⟩
"Bukannya harusnya kamu meringankannya?" canda Aqua. Perlu diingat bahwa selama percakapan ini terjadi, Aqua selalu berusaha menghindar dan bergelantungan.
[ Fourth Gate! Magma Cannon ]
Kali ini magma di ujung kolam membentuk sebuah meriam. Meriam itu menembakan magma sebesar setengah meter berjumlah banyak. Menghindar dari kejaran magma di gerbang ke tiga saja, Aqua sudah kesulitan. Sekarang dia juga harus menghindari serangan magma.
"Bukankah kamu itu Lich Necromancy?!! Kenapa malah main api?!!!" jerit Aqua kesal.
⟨ Hahahaha!!! Karena kamu akan mati, biar kuberi sedikit kehormatan untuk mengetahui informasi tentangku. Sebelum jadi Lich, aku adalah seorang pyromancer! ⟩
"Pyromancer?! Pantas saja selain sihir kegelapan, sihir apinya luar biasa."
Aqua menelan ludah, dia sudah ada diujung tanduk sekarang. Anak itu melirik Citrine yang sebentar lagi selesai merapal. Aqua tersenyum, sekarang dia sudah bisa membalas.
"Seorang pyromancer adalah musuh bebuyutan snowmancer. Kalau begitu, biarkan aku membuat ruangan panas ini sedikit lebih dingin!"
⟨ ?! ⟩
Aqua berhenti menghindar. Anak itu melemparkan dirinya sendiri ke atas langit-langit. Kaki Aqua sudah menapak di langit-langit. Dengan sihir es, kakinya tertanam dan membuatnya tidak jatuh.
Anak itu memasukkan daggernya ke dalam inventory dan mengeluarkan tongkat sihir dari sana. Penyihir memang tak membutuhkan tongkat sihir untuk menggunakan sihir, namun keberadaan tongkat sihir dapat mempercepat terbentuknya sihir dan menguatkannya. Aqua mendapatkan tongkat sihir sebagai hadiah pengangkatan dirinya sebagai Pangeran.
Sembari berlarian di langit-langit untuk menghindari tembakan, Aqua terus mengayunkan tongkatnya dan membentuk sebuah lingkaran sihir raksasa yang berdiameter 20-30m di atas dan dibawah magma.
"Aku bersyukur seluruh serangan gerbang adalah sihir api. Dengan begitu, aku bisa membereskan mereka sekaligus!!"