The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 85 [ Neelima, Sang Kynlaus ]



Neelima POV


Semuanya, kenalkan. Namaku Neelima, sungguh nama yang aneh, kan? Mungkin itu adalah nama yang normal bagi orang dunia ini, tapi aku punya ingatan kehidupanku sebelumnya.


Dikehidupan ku sebelumnya, aku adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan dan dilatih organisasi pemerintahan. Tapi aku yang begitu juga punya keluarga. Keluargaku adalah anggota Squad A-0. Squat A-0 dipimpin oleh "Null", kapten kami. Anggotanya ada 5 orang selain kapten. Aku ( Eins ), Zwein, Drei, Vier, dan Fünf. Kami adalah unit khusus yang melakukan misi berbahaya demi keselamatan dunia.


Didalam tim, hanya Zwein saja yang punya keluarga kandung. Meski usianya masih 19 tahun, dia membawa beban yang cukup berat. Bagiku anak itu dan adiknya sudah seperti adikku sendiri. Aku sering ikut pulang ke rumah Zwein dan bertemu adik dan ibunya. Tentu tidak ada maksud lain, hanya saja... kehangatan keluarga mereka benar-benar kuinginkan.


Pada misi terakhir kami, musuh berhasil menerobos dan menghabisi Squad A-0 kecuali kapten Null yang sedang hamil.


Saat itu, kupikir akhirnya aku terbebas dari kehidupan menyesakkan namun menyenangkan ini. Tapi begitu aku membuka mata, seorang wanita yang sangat cantik berdiri dihadapanku. Wanita itu mengaku bahwa dirinya adalah Dewi pelindung Bumi, Hestia.


Tentu aku terkejut karena yang namanya Dewa Dewi benar-benar ada. Dewi Hestia bilang kalau dia akan mereinkarnasikanku dalam ingatan utuh dan mengabulkan 3 keinginanku selama aku mengikuti satu misi darinya.


"Misi? Misi apa itu?" tanyaku kala itu.


⟨⟨ Tak perlu khawatir, ini bukanlah sebuah misi yang buruk. Hal yang kuminta darimu hanyalah, agar kamu menjaga dan melindungi anak kembar saudariku, Athena. Nama kedua anak itu adalah Aidan dan Airella ⟩⟩


"Menjaga dan melindungi anak kembar Dewi?"


"Kelihatannya merepotkan..."


⟨⟨ Aku tidak akan memaksamu. Ingatan utuh dan 3 permohonan itu adalah imbalan dariku ⟩⟩


"....... Baiklah, karena ini permintaan sang Dewi, saya akan melakukannya."


⟨⟨ Terima kasih, manusia. Katakanlah permohonanmu sebelum aku mengirimmu pergi ⟩⟩


"Ah, kalau begitu saya tidak akan sungkan. Hmm... karena saya mati dalam kesakitan, saya tidak ingin begitu lagi ( tidak ingin sakit )."


⟨⟨ Aku mengerti. Aku akan membuatmu tidak mengalami itu lagi ( tidak akan mati ) ⟩⟩


"Kedua, saya tidak ingin kehilangan kemampuan saya sebagai sniper. Tolong buat saya tetap memiliki itu."


⟨⟨ Baiklah... aku akan mengubah kemampuanmu dulu menjadi sebuah skill yang bisa selalu kau gunakan ⟩⟩


"Terakhir... aku... ingin meminta maaf pada seseorang...."


⟨⟨ Pada siapa? ⟩⟩


"....... Adik perempuan Zwein. Aku sudah berjanji padanya kalau aku akan melindungi kakaknya. Tapi karena kecerobohanku yang membiarkan musuh berhasil menerobos barikade, Zwein... dan semuanya... jadi meninggal."


Aku menunduk dan mengepalkan tangan kuat-kuat. Kejadian itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Rasanya aku tidak punya muka untuk bertemu dengan Zwein dan adiknya, tapi aku tetap ingin minta maaf dan menebusnya.


⟨⟨ ......... ⟩⟩


⟨⟨ Kamu bisa meminta maaf sebanyak yang kau mau di dunia yang akan kau tuju. Karena pertemuanmu dengan mereka adalah takdir ⟩⟩


"Tung- Apa?!"


Belum sempat aku mengangkat kepalaku untuk bertanya maksud Dewi Hestia, tubuhku tiba-tiba bercahaya. Cahaya itu mulai memecah menjadi bagian kecil dan kesadaranku menghilang.


⟨⟨ Selamat memulai hidup yang baru, manusia dengan jiwa yang indah. Aku menitipkan keponakan-keponakan kecilku padamu. Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan ⟩⟩


Itulah yang terjadi kala itu. Begitu aku membuka mata setelahnya, aku menjadi bayi kecil dari pasangan ras cantik yang sedikit berbeda dari manusia. Mereka adalah orang tua yang hangat dan baik. Kukira akhirnya aku memiliki keluarga yang sesungguhnya.


Tapi...


Takdir begitu kejam padaku.


Kynlaus yang belum membangkitkan kekuatannya sangat lemah. Itulah kenapa mereka tidak pernah keluar pulau sebelum terbangkit. Saat itu ayahku dan ibuku terpaksa keluar pulau karena aku mengalami pendarahan hebat setelah kecelakaan.


Di pulau itu tidak ada yang namanya dokter. Itu karena Kynlaus tidak butuh dokter. Luka mereka bisa langsung sembuh dan penyakit tinggal dibiarkan akan menghilang dengan sendirinya. Tapi kasusku sedikit berbeda. Mana dalam tubuhku meledak sehingga membuat pendarahan yang tak kunjung berhenti.


Khawatir dengan keselamatanku, ayah dan ibu pergi keluar pulau untuk mencari dokter. Mereka takut bahwa keabadianku bisa hilang karena pendarahan itu tak berhenti-berhenti meski sudah beberapa hari. Kynlaus lain berusaha menghentikan mereka. Tapi ayah dan ibu menolak dan tetep bersikeras pergi. Bagi Kynlaus yang sulit memiliki anak, anak jauh lebih berharga dari keabadian mereka.


Ayah dan ibu pergi ke Benua Sihir. Mereka sangat mencolok sehingga orang-orang jahat mengincar kami. Singkat cerita, kereta kuda yang kami tumpangi dicegat bandit dan mengalami kecelakaan. Ibu dan aku jatuh ke jurang didekat sana, sedangkan ayah sibuk menghalau para bandit.


Tentu kami tidak akan mati. Tapi justru mengalami hal yang lebih buruk dari kematian. Ibu di khianati oleh orang yang menolongnya di dasar jurang. Sialan itu menjual ibu dan aku ke pedagang budak dengan harga mahal. Dan ayah... tidak diketahui keberadaannya.


Inilah kenapa aku bisa berakhir disini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Tuan, ini budak anda sekarang!" ucap wanita bunny girl sambil mendorong kurungan ke arah tuan muda serba hitam.


"Aku sudah membayarnya, sekarang tinggalkan kami!" seru tuan muda itu dingin.


Kulihat tuan muda itu memperhatikanku dari atas ke bawah. Disampingnya ada seorang nona muda berambut kelabu serba hitam juga. Mereka ini kekasih atau saudara?


Aku tidak kenal mereka. Dan tidak mungkin aku tunduk pada orang yang bahkan tidak kukenal.


"Neelima sang Kynlaus, ya."


Tuan muda itu mengarahkan tangannya padaku. Secara refleks aku menutup mata, biasanya saat seseorang seperti ini, mereka akan melakukan kekerasan.


Tapi persiapanku sia-sia. Tuan Muda itu mengangkat daguku agar bisa melihat wajahku lebih dekat. Tanpa kusadari, aku sudah memasang ekspresi seperti kucing liar.


"Jadi? Apa dia mirip temanmu?" tanya nona muda.


Teman? Apa mereka membeliku dengan harga setinggi itu karena aku mirip teman mereka? Alasan yang tidak masuk akal.


Hahh?!! Tante girang?! Siapa yang sialan ini bicarakan?!


"Tapi kamu yakin tidak salah, kan?"


"Kau tau aku tidak mungkin salah. Jangan khawatir, bagiamana dengan budak anak-anak yang kamu beli?"


"Hmm... tadi aku sudah membeli sebuah gedung untuk menampung mereka. Itu cuma sementara, nanti aku akan membuat panti asuhan besar untuk mereka. Dan setelah mereka lulus dari panti, mereka harus bekerja untuk kelompok. Masalah pekerjaan itu apa, bisa menjadi pilihan mereka sendiri. Yang pasti anak yang berbakat harus mengisi posisi yang sesuai," jelas nona muda dengan santainya.


"Panti hanyalah kedok. Tempat itu sesungguhnya adalah perlindungan dan pelatihan bagi anak-anak berbakat. Kita bisa mendapatkan bawahan yang bagus dan setia sebelum orang lain. Gimana?"


"Itu rencana yang bagus. Baiklah, kusersahkan saja padamu."


"Tentu!"


Apa yang dari tadi mereka bicarakan? Setidaknya aku tau budak yang mereka beli tidak akan menderita seperti budak orang lain. Siapa sebenarnya mereka ini?


Sang tuan muda membuka kurungan itu. Dia menarikku keluar dari dalam.


"Apa yang ingin kulakukan?!!" kecamku.


Sang tuan muda diam. Dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Itu adalah kontrak perbudakan!!!


Tepat dihadapanku, tuan muda membakar kertas itu sampai menjadi abu. Oi! Kalau kau lakukan itu, kontrak akan terjalin! Padahal kukira dia orang baik, ternyata bajingan seperti yang lainnya.


Lupakan...! Memangnya siapa yang ingin melepas budak seharga 200.000 koin emas.


"Mika, sihir tentang ini keahlianmu, kan? Tolong ya."


"Okok... ini mudah~"


Sang nona muda maju ke depanku. Apa yang mau dia lakukan?


Tangan putih nona itu mendarat di atas kepalaku. Karena tubuhku tidak bisa bergerak, aku hanya bisa menanti apa yang akan dia lakukan. Apa dia akan menyerangku? Tidak, dia tidak akan membeliku mahal-mahal kalau mau membunuhku. Mungkin manipulasi pikiran?! Itu menyeramkan!!!


[ Seal Release ]


Cahaya biru hangat mengelilingi seluruh tubuhku. Rasanya benar-benar nyaman. Seolah beban yang ada di pundakku seketika menghilang. Sihir apa ini?


"Woaaahh!!!"


Nona itu mendekatkan wajahnya didepan wajahku.


"Ke-Kenapa?"


Dia tersenyum, meski memakai topeng, aku tau kalau wajahnya sangat cantik. Dan itu sedikit membuatku gugup.


"Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?"


"Ti-Tidak ada..."


"Baguslah! Aqua, aku sudah melepas segelnya!!!" seru nona itu ceria.


Segel? Melepas? Tunggu!! Jangan bilang?!


"Terimakasih, Mika. Aku akan mentraktirmu nanti."


Tuan muda mengelus lembut kepala nona itu.


"Harus di restoran mewah, oke! Melepas segel tidak mudah," canda nona itu.


"Hahahaha, siap nona muda."


"To-Tolong tunggu sebentar!! Apa maksud kalian melepas segel?!"


Aku berusaha tidak berharap. Tapi sebagian besar diriku tidak bisa begitu.


"......."


Tuan muda dan nona muda saling pandang.


"Kamu tidak bodoh. Harusnya tau itu. Coba lihat pipimu!"


Tuan muda itu mengeluarkan cermin entah darimana dan memberikannya padaku.


Tidak ada.


Lambang perbudakan di pipiku tidak ada lagi!


Setiap budak selalu memiliki lambang itu di wajah mereka yang mana itu akan menjadi aib seumur hidup mereka. Tapi sekarang itu sudah menghilang tanpa bekas.


Tenagaku rasanya hilang, tubuhku terduduk di lantai. Air mata ini mengalir begitu saja tanpa kusadari.


Aku sudah bukan lagi seorang budak.


Aku...


Aku...


Sudah terlepas dari takdir mengerikan itu...


"Mulai sekarang kamu bebas. Aku tidak berharap kamu mau mengikuti kami. Lakukan saja apapun yang kau inginkan. Tapi jika kamu tidak punya tempat lain untuk dituju, ikutlah bersama kami," tawar sang tuan muda.


"Terimakasih..."


"Terimakasih..."


"Benar-benar... terimakasih banyak..."


Hanya rasa terimakasih yang bisa kuucapkan pada mereka. Aku tau hanya kata-kata terimakasih saja tidak cukup untuk membalas mereka. Tapi sekarang, aku hanya ingin berterimakasih pada kedua penyelamatku.


Sejak aku masih bayi, aku selalu menjadi seorang budak. Sudah lama aku putus asa dan menyerah dengan masa depanku. Kedua orang ini memberiku harapan baru. Mereka membuatku bisa percaya bahwa sekali lagi aku bisa meraih masa depan yang kuinginkan.


"Ayolah, jangan menangis! Bangunlah, oke!" seru nona muda itu tenang.


Perempuan didepanku ini mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku bangun. Tidak sopan menolak ukuran tangan dari penyelamatku.


Seorang nona muda yang mengulurkan tangannya yang hangat dan tuan muda yang tersenyum ramah itu adalah penyelamat sekaligus tuan baruku sekarang. Pada detik ini aku berjanji pada langit.


"Aku ikut! Tolong... bawa aku bersama kalian! Aku akan mengikuti kalian kemanapun kalian pergi dan menyerahkan seluruh kesetiaanku!"


Aku, Neelima sang Kynlaus akan mengabdikan hidupku pada mereka.