The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 165 [ Pembohong ]



"Mika..."


"Mika...!"


"Mika!!!!!!"


"Apa yang terjadi!!??"


Pikiran Aqua kacau balau. Semuanya dipenuhi hal-hal negatif. Dia belum pernah sepanik ini sebelumnya.


"Seharusnya aku tidak meninggalkan Mika sendirian!!"


Kenangan-kenangan bersama Mika mulai dari awal pertemuan mereka didasar dungeon, waktu mereka hidup bersama, berkeliling mencari anggota Raven lainnya, pembalasan dendam ke kakak bajingannya, hingga sesaat sebelum Mika mengalami koma, semuanya mengalir kembali di kepala Aqua. Tak terhitung berapa kali senyuman Mika menyelamatkannya. Dan kini dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan Mika.


Bukan hanya Aqua, Raven lainnya merasakan hal yang sama. Terutama para perempuan yang merupakan sahabat Mika. Eli yang mengenali Mika sebagai Tiara dan menganggapnya seperti adik sendiri. Serta Elvira dan Elvina yang telah lama mengenal Mika, jauh lebih lama dari yang lainnya. Rasa putus asa yang mereka rasakan tak jauh berbeda dengan Aqua.


Begitu mereka tiba di kamar Aqua dan Eli yang merupakan tujuan teleportasi itu, semuanya segera berlari keluar kamar dsn menuju kamar sebelah.


Aqua yang berada paling depan sempat mematung didepan pintu. Dirinya takut, takut kalau apa yang ada dibalik pintu itu adalah mayat dingin kekasihnya. Di lain sisi juga marah. Marah pada apapun yang sudah membuat kekasihnya seperti itu. Aqua sangat tau bahwa array pelindung & penyembuh dan barrier yang melindungi Mika sangat kuat, bahkan ada Clelia juga yang ikut membantu. Kalau sudah sampai seperti itu, Mika masih bisa terluka, artinya itu adalah perbuatan seseorang.


"Akan kubunuh! Siapapun yang membuatmu jadi seperti ini akan kubunuh!!"


Bersamaan dengan dipegangnya gagang pintu itu, Aqua mulai memancarkan aura membunuh yang hebat. Matanya bersinar dan sisik putih mulai terlihat di kulitnya.


TAPP


Bahu Aqua dipegang pelan oleh Elvira. "Tenanglah, jangan mengeluarkan aura membunuh. Ini tengah malam, yang lain masih tidur. Jangan membuat masalah."


"Lagipula belum tentu Mika terluka. Karena yang kita bicarakan ini Mika. Dia pasti baik-baik saja."


Aura membunuh Aqua mulai memudar, dia menjadi sedikit lebih tenang karena kata-kata Elvira. Namun itu sama sekali tidak mengurangi kepanikannya. Aqua menarik napas agak panjang, dia mulai mendinginkan kepalanya, berusaha untuk tetap tenang.


"Kalian, bersiaplah. Kita tidak tau apa yang ada dibalik pintu ini. Bisa saja itu adalah musuh," seru Aqua dijawab anggukan teman-temannya.


Raven mempersiapkan diri mereka untuk pertempuran. Elvira dan Elvina memegang erat tombak mereka. Eli dan Pietro mengeluarkan senapan dan palu raksasa dari item boxnya. Lix bersiap dengan dagger beracunnya. Mereka semua juga menyiapkan skill terbaik mereka agar dapat digunakan dengan cepat.


Elvira melirik Aqua yang terlihat mulai tenang, "Anak ini... dia bisa meledak kapan saja. Kalau yang ada didalam memang musuh, aku tidak bisa menjamin Akademi akan baik-baik saja. Karena dia pasti akan mengamuk."


"Hanya bisa berdoa, semoga saja ada keajaiban."


Menyadari Raven telah siap sepenuhnya, Aqua memutar gagang pintu dengan penuh kewaspadaan.


.


.


.


.


KRIEEETTTT


.


.


.


.


"MIKA!!!!!!!"


Raven segera memasang kuda-kuda mereka begitu pintu terbuka. Bersiap akan pertempuran apapun yang mungkin terjadi. Namun hal pertama yang mereka lihat setelah masuk ke kamar itu adalah...


"!!!!!!"


Jendela yang terbuka lebar membuat similir angin memasuki kamar bersamaan dengan cahaya bulan yang menyinari sebagian kecil kamar. Terlihat seorang gadis remaja telanjang yang hanya berbalutkan selendang putih polos yang menyelimuti tubuhnya dari kepala hingga kaki berdiri diam menatap bulan, memunggungi Aqua dan yang lainnya. Anting Envy yang seharusnya dikenakan Mika dan menjadi sumber kedatangan mereka, tergelak tak jauh darinya.


Aqua segera mengalihkan matanya ke arah ranjang Mika, tapi tak ada siapapun disana. Didalam kamar itu, hanya ada mereka dan gadis itu. Anehnya, meskipun sudah mendengar jeritan Aqua yang memanggil Mika tadi, gadis itu tetap tak bergeming atau menoleh sedikitpun. Hanya diam memandang rembulan yang berbentuk bulat sempurna.



"Apa-apaan statusnya ini!?" batin Aqua.


"Siapa kau!? Apa yang kau lakukan pada gadis yang tertidur di kasur ini!!?" geram Aqua.


Gadis itu tidak menjawab. Tetap diam mematung disana.


"Siapa dia!? Musuh!!? Tidak, ada yang aneh. Rasanya gak benar menyebutnya musuh. Lalu siapa!? Tingginya berbeda dengan Mika, lebih pendek. Ruby!? Bukan juga, Ruby terlalu kecil dibandingkan dia. Dengan sihir Clelia, seharusnya tidak ada yang bisa masuk ke kamar ini. Lalu siapa dia sebenarnya!!?"


Bukan hanya Aqua, yang lainnya juga tidak ada yang mengenali gadis itu. Elvira dan Elvina yang juga dapat membedakan orang dengan bau sekalipun, tidak bisa mengenali bau gadis itu. Padahal mereka dapat mengingat bau seseorang yang pernah ditemui setidaknya sekali, tapi gadis itu tidak mereka kenali sama sekali. Artinya mereka belum pernah bertemu dengannya. Dalam ratusan tahun hidup mereka? Mereka tidak pernah menemuinya sama sekali? Itulah yang membuat mereka tambah waspada.


"Sinyal terakhir dari Mika jelas ada di ruangan ini. Sinyalnya bahkan gak berantakan sebelumnya, tiba-tiba hilang begitu saja. Sekarang Mika juga gak ada disini, jelas semua ini ada hubungannya dengan gadis itu!!" seru Eli menganalisa keadaan.


"Ya, aku juga tau itu," jawab Aqua.


"......."


"......."


Pietro yang gugup menarik pelan baju Lix, "Ke-Kenapa semuanya diam?"


Lix hanya tersenyum takut sembari memegangi kepala pria kecil itu, "Semuanya waspada. Cewek yang ada disana itu kuat. Aura yang dia pancarkan terasa berbahaya sekaligus tidak berbahaya."


"Maksudnya?"


Raven mengamati gadis itu untuk beberapa menit, gerakan sekecil apapun akan mereka waspadai. Namun gadis itu benar-benar tidak bergerak dari sana sama sekali. Selain karena gadis itu memancarkan aura berbahaya, ada alasan lain kenapa Raven tidak menyerang duluan. Itu karena perasaan aneh pada gadis itu. Perasaan aneh yang mengatakan mereka tidak boleh menyerangnya.


Perasaan itu membuat Aqua semakin curiga. "... Mika...? Apa kau... Mika?"


Meski sempat terkejut dengan kata-kata Aqua, Raven tidak menyangkalnya. Tidak peduli dengan rasa asing yang mereka rasakan, mereka juga sedikit merasa nostalgia. Seperti saat melihat teman lama yang sangat berubah setelah tahun demi tahun berlalu. Walau terasa asing, kalian pasti akan tetap mengenali mereka sebagai teman kalian dulu.


Gadis itu sedikit bereaksi dengan pertanyaan Aqua. Gerakan kecilnya membuat Raven kembali mengencangkan kuda-kuda mereka. Tapi yang dia lakukan sama sekali tak mereka sangka. Gadis itu hanya menjatuhkan sedikit selendang putih yang menutupi kepalanya hingga rambut dan punggungnya yang putih bersih itu sedikit terlihat.


"!!!!"


Mereka tidak menyadarinya sebelumnya. Karena selendang itu hanya menyisakan celah kecil saat menyelimuti tubuh gadis itu. Namun kini semuanya terlihat lebih jelas, terutama karena dia berdiri tepat didepan jendela.


"Rambut... biru langit...?" gumam mereka terkejut.


Meski tidak selangka rambut perak Aqua, rambut biru langit juga adalah rambut yang sangat langka. Sangat sedikit orang di Demetria yang memiliki warna rambut seperti itu. Terutama rambut biru langit bergelombang yang cukup panjang itu. Setidaknya, hanya ada 1 orang yang dikenal Raven memiliki rambut seperti itu.


"Mika!!???"


"Kau Mika, kan!!?" tanya Eli.


"......"


Aqua mengerutkan keningnya.


"Tidak, dia bukan Mika," sangkal Aqua.


"?"


Aqua menatap gadis itu dengan mata yang sulit diartikan.


"Sinyal Mika yang mendadak hilang... Kemunculan tiba-tiba sekaligus hilangnya Mika... Status yang tidak jelas... Perasaan asing namun nostalgia... Rambut biru langit..."


"Kamu... apa kamu gabungan Mika dan Ruby?" tanya Aqua memastikan.


Raven, "!!?"


Raven lainnya menatap Aqua dan gadis itu tak percaya.


"Gabungan Mika dan Ruby!!?"


Tentu mereka semua sudah tau fakta bahwa Airella berpecah 3 menjadi Yue, Mika dan Ruby karena Sang Dewi. Mereka juga sudah tau kalau satu-satunya yang dapat menyelamatkan Mika yang jiwanya telah melemah hanyalah dengan bergabung dengan Ruby. Namun meski tau itu, karena ini terjadi begitu tiba-tiba, tidak mungkin mereka tidak terkejut.


Reaksi Raven cukup berbeda-beda, ada yang terjatuh karena kaget, mematung di tempat, melemas kakinya hingga terduduk, dan ada juga yang memegangi kepalanya yang mulai pusing. Satu hal yang sama dari mereka semua, mereka semua sama-sama menanti jawaban yang akan gadis itu keluarkan. Karena selain Aqua, sejujurnya yang lain juga memikirkan kemungkinan itu.


Seakan mengiyakan pertanyaan Aqua, gadis itu berbalik menatap Aqua dan teman-temannya.


"!!!!"


Betapa shock mereka begitu melihat penampilan gadis itu dari depan. Pasalnya gadis yang memiliki rambut biru langit panjang bergelombang itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rubylia Arsilla, tunangan Aqua dengan versi yang lebih indah, bersinar dan merona, tidak pucat seperti Rubylia Arsilla yang asli.


Mata yang menatap Aqua dan yang lain dengan datar dan dingin itu memiliki warna merah darah yang mengkristal layaknya Ruby. Dalam mata yang bersinar itu, sebuah simbol (☮️) khas ras tertentu tergambarkan dengan warna emas mengkilat.


Dalam sekali lihat semua orang disana langsung tau jawaban dari pertanyaan Aqua tadi.


"Kalian... sudah bergabung...? Apa yang... bagaimana..."


Aqua tidak bisa berkata-kata. Dia bingung harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini. Yang lain juga sama bingungnya.


Setidaknya hati mereka menjadi lebih lega dan mereka mengendurkan kewaspadaan mereka. Perasaan gundah, panik dan cemas yang mereka rasakan sebelumnya, kini berubah menjadi rasa senang, bingung dan khawatir.


BUGGHHHH


GEDUBRAKKK


"!!!!!"


Namun dikala kewaspadaan itu tengah mengendur, gadis itu mengambil tindakan yang lagi-lagi mengejutkan Raven. Dia dengan kecepatan yang tidak masuk akal, bergerak meninju perut Aqua hingga pemuda itu terjungkal ke lantai dalam posisi gadis itu menindihnya.


Raven, "??????"


Rasanya tidak begitu sakit karena dia tidak memakai sihir penguatan atau tenaga penuh. Tapi tetap saja efek kaget dari ditinju tiba-tiba itu membuat Aqua agak kesal.


"Kenapa kau tiba-tiba memukulku!?"


Gadis itu diam beberapa saat di atas tubuh Aqua sembari menundukkan kepalanya. Begitu kepala yang tertunduk itu kembali terangkat, damage yang dirasakan Aqua jauh melebihi pukulan tadi.


TES TES TES


Air mata mengalir dari mata merahnya. Ekspresinya yang datar itu terlihat begitu terluka.


"!!!???"


"Aqua!!! Apa yang kau lakukan padanya!!!??" marah Eli.


Aqua ikut panik dengan situasi ini, "A-Aku tidak melakukan apapun!!! Aku juga tidak tau kenapa bisa begini!! Lagipula, yang dipukul itukan aku!"


"He-Hei... apa kau terluka di suatu tempat? Ada yang sakit?" panik Aqua pada gadis yang menangis tiba-tiba itu.


Gadis itu tidak mengatakan apapun, hanya menangis sembari menatap Aqua dengan ekspresi sangat memilukan. Tak lama, punggungnya mengeluarkan sepasang sayap besar yang sangat putih dan bersih. Sayap itu mulai mengepak, mengangkat gadis itu dari lantai.


Sesaat sebelum dia terbang keluar jendela entah kemana, gadis itu mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya. Hanya satu kata. Satu kata yang membuat Aqua dan Raven yang dia tinggalkan disana, menjadi semakin dan semakin kebingungan.


"Pembohong."