The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 164 [ Terburu-buru Kembali... ]



Karena tidak ada lagi yang harus dibahas, seluruh anggota Raven keluar dari ruangan itu satu per satu. Saat tiba giliran Gluttony, tiba-tiba ada tangan yang menarik jubahnya pelan. Pemuda itu segera menoleh ke belakang, mendapati Pridelah yang menarik jubahnya.


Gluttony, "?"


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Gluttony bingung, dia sempat memikirkan apakah Pride punya hal rahasia yang perlu dibicarakan dengannya. Namun yang akan Pride katakan berbeda dari pikirannya.


"Guild Informasi menjadi semakin dan semakin sibuk berkat Envy dan dirimu. Kalau kamu tidak mau aku dan Lust mati karena kerja berlebihan, tolong berikan bantuan untuk kami," senyum Pride lemah lembut.


Perasaan Gluttony langsung tidak enak melihat senyuman mematikan itu. ".... Aku mengerti. Orang seperti apa yang kau inginkan?"


Pride berpikir sejenak. Ada banyak orang kompeten di dunia ini. Tapi orang kompeten yang dapat dipercaya oleh Guild master Guild Informasi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada.


"Perluhkah kukirim anggota Raven lain untuk membantu?" tanya Gluttony.


"Kamu sudah menyiapkan peran untuk kami semua, kan? Aku tau akan sulit bagi mereka membantu kami karena kau pasti akan menugaskan mereka hal yang sama merepotkannya," sindir Pride menusuk hati nurani Gluttony.


"Bagini saja. Kembalikan Clelia pada kami setelah Envy kembali."


Gluttony agak ragu, sejujurnya Clelia adalah salah satu dari sedikit orang paling kompeten yang dikenal Raven. Memang dari awal Pride dan Lust lah yang merawatnya, jadi dia tidak punya hak untuk menolak. Hanya saja rasanya sayang sekali bagi Gluttony.


"Apa boleh buat. Tapi aku tidak bisa memutuskannya. Clelia bukanlah barang, dia dapat menentukan kemana dia ingin pergi. Apakah dia ingin tetap menjadi asistenku, maid-nya Envy atau kembali ke Guild Informasi, itu semua terserah padanya," jawab Gluttony menyerah.


Pride dan Lust tersenyum lega mendengarnya, "Baguslah kalau begitu. Kami setuju dengan itu. Tapi... nanti kalau Clelia tidak ingin kembali, kau harus meminjamkan Hell pada kami sebagai gantinya," ucap Lust sebelum meninggalkan ruangan.


Gluttony hanya mendesah kecil, "Baiklah Nyonya..."


Pride mengikuti Lust keluar dari ruangan, di susul Gluttony sebagai anggota yang terakhir keluar. Begitu mereka turun dari lantai dua, mereka melihat anggota Raven lainnya telah melepas jubah dan topeng mereka. Mereka menjadi lebih santai dari sebelumnya. Wrath dan Sloth duduk di sofa sembari meregangkan kaki mereka sedangkan Greed duduk didepan kipas angin yang menyala.


"Kalian ini santai sekali, ya..." kata Gluttony lelah.


"Ayolah kawan, mode Raven nya kan udah selesai. Jadi kami kembali ke mode bestie dongs~" jawab Sloth yang kini tiduran di sofa panjang setelah menggusur Wrath turun.


Wrath mendengus kesal karena dijatuhkan begitu saja, "Tadi kami lari-larian ngurus surat izinnya. Setidaknya biarkan kami istirahat sebentar, Tuan Aqua."


Pride dan Lust terkikik geli. Mereka ikutan melepaskan jubah dan topeng mereka dan menaruhnya dengan rapi.


"Gak masalah, kan? Toh Raven hanya bisa begini saat kita berkumpul bersama tanpa dilihat siapapun."


Gluttony tak bisa menang melawan dua kakak beradik kembar itu. Pada akhirnya dia juga melepaskan jubah dan topengnya seperti yang lainnya. Untuk anting, anting mereka dapat menjadi mode tak terlihat sehingga tidak perlu untuk di copot pasang. Ketujuh anggota Raven selalu memakai anting mereka, hanya dalam keadaan tertentu saja mereka melepasnya.


"Ya sudahlah. Lakukan sesuka kalian."


Setelah memasukkan jubah dan topengnya ke inventory, Aqua ikut duduk disebelah Lix yang kini lesehan di atas permadani. Elvira dan Elvina memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan teh dan camilan. Untuk sementara waktu, mereka hanya mengobrol hal-hal kecil dan tidak penting selayaknya teman dan keluarga pada umumnya. Hingga...


"Nee, Aqua..." panggil Eli.


"Hm? Kenapa?"


"Anu... Mikakan ilmuwan kita. Kak Vira dan Kak Vina ngurus Guild Informasi. Lix ngurusin bangsawan. Dan Greed kemungkinan ngurus guild perdagangan sama jadi blacksmith kita. Kamu sebagai ketua juga sibuk ini itu... Apa... Apa gak ada yang bisa kulakukan?"


Kata-kata yang keluar dari mulut Eli langsung membuat semua orang membeku di tempat. Pasalnya tak ada dari mereka yang menyangka Eli yang pemalas itu akan berinisiatif membantu. Butuh beberapa detik sampai keheningan itu membuat wajah biru kelabu Eli langsung berubah merah padam.


"Ke-Kenapa!!? Emangnya yang aku katakan tadi aneh!!?" marahnya entah pada siapa.


"Aneh... aneh banget malah," jawab Lix cepat.


"💢💢💢💢"


Eli yang geram langsung memelintir kulit lengan Lix hingga pemuda itu berteriak kesakitan. Kulitnya yang dipelintir Eli sampai memerah hampir keunguan. Beruntung Elvira dan Elvina segera memisahkan mereka saat itu juga.


Senyuman tipis Aqua keluarkan saat melihat teman-temannya itu, "Tenanglah. Aku punya peran untuk semuanya. Tentu untukmu juga ada."


"Seperti katamu tadi. Mika adalah ilmuwan Raven. Kak Vira dan Vina adalah informan Raven. Lix adalah konektor bangsawan Raven. Pietro adalah blacksmith Raven. Apa kau sadar, ada satu peran yang kosong di Raven saat ini."


"?"


Bukan hanya Eli, yang lain ikut memikirkan peran apa yang dimaksud Aqua. Tak butuh waktu lama hingga mereka menyadari peran apa itu. Dan Lix menjadi yang pertama menyadarinya.


"Konektor bangsawan adalah aku. Kalau kamu menyebutnya konektor bangsawan. Apa maksudnya ada konektor rakyat?"


Tebakan Lix langsung dijawab senyuman Aqua. Anehnya, padahal Aqua sedang tersenyum. Namun bukannya senang, mereka semua justru merinding.


"Apa yang dia rencanakan kali ini!!?"


Eli-lah yang paling merinding kalau membayangkan apalagi yang akan direncanakan anak itu. Mengingat tak ada rencana Aqua yang "gak gila" sebelumnya.


"AHHH!!! GAK PAPA!!!! NANTI AJA GAK PAPA!!!!!!!!"


Eli dan Lix langsung panik. Mereka segera menghampiri Aqua dan menutup mulutnya sebelum dia mengatakan sesuatu. Pietro juga sama paniknya, entah kenapa dia merasa kalau dia juga akan terlibat dalam rencana baru ini. Sedangkan Elvira dan Elvina hanya tersenyum lelah sembari mengisi kembali teh mereka.


Aqua, "💢💢"


"Lepaskan aku! Padahal reaksi kalian tidak perlu selebay ini," kesalnya.


Raven lainnya, "Gimana gak gitu coba? Setiap rencana yang kau lakukan selalu menjadi hal yang sangat luar biasa merepotkan dan mengubah sejarah Demetria."


Aqua melepaskan paksa tangan Lix dan Eli yang menahannya tadi, "Lupakan, lagipula memang rencana yang satu ini mau ku realisasikan beberapa tahun lagi."


"Setidaknya setelah Eli menjadi perempuan sepenuhnya," batin Aqua sembari melirik tubuh Eli dari ujung kepala hingga kaki.


Eli merasa merinding kembali dilihat seperti itu, "Ke-Kenapa? Jangan-jangan rencanamu kali ini melibatkan tubuhku?"


"Kurang lebih."


Eli, "!?"


"Jangan bilang aku harus masuk rumah bordil atau semacamnya!!??"


BLEETAKKK


Aqua memukul kepala Eli yang sepertinya sekrup nya hilang satu.


"Katakan itu sekali lagi dan kau benar-benar akan kulempar ke rumah bordil."


"Ma-Maafkan aku..." sesal Eli diikuti tawa yang lainnya.


"Yahh, kita gak bisa salahin Eli sepenuhnya. Lagian itu juga karena kata-kata Aqua agak ambigu," komentar Lix.


"Loh, justru itu tidak mungkin mau dipikir bagaimanapun. Maksudku... kalau mau melempar seseorang ke rumah bordir, Aqua pasti akan melempar kami lebih dulu," ucap Elvina sembari menarik sedikit pakaian depannya agar belahan dadanya terlihat.


Lix dan Petro langsung memerah. Bahkan Pietro sampai hampir pingsan karena mimisan. Berbeda dengan reaksi Aqua yang terlihat lelah dengan kelakuan anggotanya ini.


"Kak Vira, tolong urus adikmu baik-baik."


Elvira mengangguk dengan senyuman sebelum membungkus paksa adiknya dengan gorden ruang keluarga.


"Tenang saja. Akan ku pastikan kejadian ini tidak terulang lagi."


"Tung- Kakak!! Lepaskan aku!!!!" rengek Elvina.


"Apa salahku!? Akukan mengatakan yang sebenar-"


BZZZZTTTTT


"!!!!!!!!!!"


Perhatian seluruh anggota Raven seketika teralihkan. Ekspresi mereka yang penuh canda dan tawa langsung menjadi sangat tegang. Keenamnya mematung di tempat. Wajah shock tak hanya terlihat di satu atau dua orang. Tubuh mereka gemetaran dan keringat dingin mengalir.


"Tadi itu..." kata Elvina menjadi yang pertama bereaksi.


Eli menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dirasakannya. "Bohong kan...?"


Lix melirik Aqua tajam, "Aqua!"


Aqua butuh beberapa detik sebelum akhirnya bereaksi cepat dengan mengeluarkan kertas teleportasi dari inventory-nya. Jumlah yang cukup untuk seluruh anggota.


"KITA PERGI SEKARANG JUGA!!!!"


"BAIK!!!!!"


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ke-enam anggota Raven yang berada di sana langsung merobek kertas teleportasi mereka dan bersiap pergi ke tempat yang menjadi sumber perhatian mereka. Rasa panik, cemas, gundah, bingung, sedih, khawatir, takut dan perasaan-perasaan negatif lainnya bercampur aduk dalam diri mereka.


Semua itu karena apa yang baru saja mereka rasakan melalui anting mereka. Anting Raven dapat mengetahui lokasi dan keadaan satu sama lain selama pihak satunya mengizinkan. Kalau mereka masih hidup dan sehat, maka sinyal mereka akan terasa sangat kuat oleh yang lainnya. Begitu pula sebaliknya, kalau mereka terluka atau nyawa mereka dalam bahaya maka sinyal akan kacau dan kedap kedip sebagai tanda SOS.


Sedangkan kalau ada anggota yang tewas, maka sinyal yang dirasakan anggota lainnya akan benar-benar terputus. Berbeda dengan kalau dari awal mereka tidak mengizinkan keberadaan atau keadaan mereka di lacak, karena yang seperti itu akan mengubah reaksi sinyal menjadi penolakan, bukan terputus paksa.


Selama ini mereka semua selalu mengaktifkan fitur itu sehingga mereka dapat langsung mengetahui keadaan satu sama lain. Dan saat ini... salah satu sinyal yang dapat mereka rasakan mendadak terputus paksa, tanpa mengalami gejala kekacauan sinyal sebelumnya. Melihat keenam anggota Raven sedang berkumpul bersama. Maka satu-satunya kemungkinan pemilik sinyal yang terputus paksa itu adalah...


"MIKAAA!!!!!!!!!!!!!!"