The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 167 [ Penggabungan Pertama (1) ]



Beberapa Waktu Yang Lalu


Waktu Yang Sama Dengan Dimulainya Rapat Anggota Raven


Asrama Perempuan Akademi Mackenzie


Kamar 312


"......"


"......"


"......"


"......"


"......"


"......"


"......"


"......"


TIK TOK TIK TOK


Sunyi. Hanya terdengar suara jam yang terus berdetik. Ruby tidak mengatakan apapun. Tidak juga melakukan apapun. Hanya duduk diam di sofa itu sambil menatap lurus ke salah satu dari dua kasur yang bersebrangan. Terbaring seorang wanita malaikat yang sangat rupawan di kasur depan Ruby itu.


Berbeda dari terakhir kali Ruby melihatnya, disekitar wanita itu kini dipenuhi array dan barrier cahaya yang sangat kuat. Clelia adalah orang yang memasang semua itu. Guna menjaga wanita malaikat itu dari luar maupun dalam. Berkat Clelia, kini Ruby tidak melihat HP wanita itu naik turun seperti sebelumnya dan stabil di angka maximal.


"......"


"......"


"......"


"......"


"......"


Setelah kurang lebih 15 menit dia diam saja menatap wanita itu, kini Ruby bangkit dari kursinya dan berjalan pelan mendekatinya. Ditatapnya wajah cantik sang malaikat sangat dalam.


"Tidak peduli bagaimanapun aku melihatnya... wajahnya... sangat mirip dengan Tiara," gumam Ruby.


Ruby mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh wajah sang malaikat.


Dingin.


Lagi-lagi hanya rasa dingin yang menerpa kulitnya. Meskipun masih hidup dan bernapas, tubuh wanita malaikat itu sangatlah dingin. Rasanya hati Ruby bergejolak melihatnya. Perasaan tidak nyaman yang terus menggerayanginya membuat Ruby semakin tidak tahan.


"Apa yang sebenarnya harus aku lakukan untuk menyelamatkanmu?" tanya Ruby pada Mika yang tengah tertidur.


"Asal kau tau, aku tidak punya skill penyembuhan apapun."


"........"


Keheningan menjadi jawaban pertanyaan Ruby. Gadis itu sudah tau dari awal kalau tidak mungkin ada yang menjawabnya. Namun tetap saja rasanya menyesakkan.


"Kalau kita memang tubuh dan jiwa yang terpisah, wajar kalau hanya aku yang bisa menyelamatkanmu. Tapi tetap saja kita kembali ke nol, bagaimana caraku menyelamatkanmu?" tanya Ruby lagi.


"........"


Lagi-lagi tidak ada jawaban, tentu saja.


"......."


"......."


Ruby mengacak-acak rambutnya karena kebingungan. Ekspresinya terlihat sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Setelah menghela napas berat, Ruby duduk lesehan bersandarkan kasur Mika.


"........"


"......."


"Sudah kuduga aku tidak suka berada disini."


"Wajahnya yang mirip Tiara, hanya membuatku teringat kenangan buruk saja," keluhnya.


"........"


"........"


"........"


Gadis itu lagi-lagi diam tanpa mengatakan apapun. Dia benar-benar tidak tau harus melakukan apa atau setidaknya mencoba melakukan apa. Seperti yang dia bilang tadi, Ruby tidak punya skill penyembuhan apapun. Lagipula Mika juga sudah dikelilingi array dan barrier penyembuh. Jadi meski Ruby punya sekalipun, sepertinya itu tak ada gunanya.


"Aku ingin lari... lari dari semua ini... ke tempat yang jauh... tempat dimana aku bisa sendiri..." senyum Ruby penuh luka.


"........"


"........"


"........"


"........"


"....There goes my heart beating 🎶"


Dengan suara kecil, Ruby mulai menyenandungkan sebuah lagu yang sering didengarnya di kehidupan sebelumnya.


(You Are The Reason – Calum Scott)


[ Silahkan dengarkan lagu ini yang di cover Alexandra Polat demi kenyamanan lebih lanjut ]


[https://youtu.be/ezcdE4lPpq8]


Bersamaan dengan itu, pikirannya memutar kembali ingatan yang paling tak ingin diingatnya. Saat-saat paling menyakitkan dalam hidupnya. Bukan sebagai seorang Rubylia Arsilla, melainkan sebagai seorang Tiara.


"Hehe... padahal aku mau main bareng kakak setelah sekian lama kakak baru pulang. Besok setelah aku pulang sekolah, kita lanjutin ya!!!"


"Tentu. Kenapa tidak?"


"Janji?!"


"Aku janji."


Nyanyian Ruby menjadi semakin dan semakin emosional.


"Tia, apa ditinggal kakakmu begitu membuatmu kesepian?"


"Eh? Gak kok, ibu. Soalnya kan ibu ada untuk Tia!"


"...! Aduh anak ini... pintar sekali nyanjungnya..."


"Ehh, itu bukan sanjungan. Hahahaha."


"Iya, iya."


"Hmm, ya sudah. Gimana kalau sambil nunggu kakakmu, kita belajar buat cake bareng? Nanti kamu bisa kasih ke kakakmu kalau hasilnya bagus."


"Oh, boleh tuh Bu! Lagian di sekolah juga gak ada yang menarik. Aku juga gak ikut ekstra apapun, jadi luang habis sekolah."


"Tia... itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, kan?"


"Hehehe..."


Pandangan Ruby mulai kabur. Hatinya semakin terasa sakit karena ingatan-ingatan yang datang tanpa bisa di kendalikan itu.


"Bentar, Bu!"


"Iya, halo?"


".........."


".....Apa?"


"Kenapa Tia? Kok diam aja? Telepon penipuan?"


"I-Ibu... kakak... kakak...."


"?"


"Kakakmu kenapa?"


"Kakak... Kakak... HUAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!"


"TIA!? KENAPA SAYANG!!??"


Batin Ruby bergejolak. Nyanyian yang awalnya di senandungkan dengan pelan, kini semakin dan semakin penuh dengan perasaan. Nada tinggi lagu itu seakan menggambarkan bagaimana perasaan Ruby saat ini.


"Kasihan. Anak pertamanya meninggal karena jadi korban serangan ter*ris di negara X."


"Iya, padahal dia menghidupi ibu dan adiknya yang masih sekolah... mana masih muda lagi."


"Sekarang bagaimana nasib mereka berdua, ya?"


"Jangan dengarkan kata-kata orang Tiara, kamu yang kuat ya. Jadilah kekuatan untuk ibumu juga."


"Iya... Tante..."


BRUUUUKKKKK


".... I-Ibu? Ibu!! Bertahanlah!!!"


Ruby mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Rasa sesak didadanya begitu menyakitkan untuk di tahannya.


"Do-Dokter... I-Ibu... ibu akan baik-baik saja, kan?"


"......Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun penyakit yang diderita ibu anda telah memasuki stadium akhir. Dengan tekanan dan beban yang datang padanya akhir-akhir ini, saya takut beliau..."


"....Huh?"


Suara Ruby bergetar. Nada yang sempat naik itu kini kembali menurun bersamaan dengan merosotnya tubuh Ruby ke lantai. Seluruh tubuhnya gemetaran. Tangis yang selalu ditahannya pecah begitu mudah hanya karena ditinggal berdua dengan Mika di ruangan yang sepi. Padahal seharusnya Mika juga adalah orang asing baginya. Namun Ruby sama sekali tidak merasakan hal itu. Malahan rasanya seperti ditinggal sendiri saja.


"IBU!!! IBUUUU!!!!!!!"


"JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRIAN!!!!!!"


"HUAAAAAA.... IBU!!!! KAKAK!!!!!!!!!!"


Ruby berhenti bersuara. Kini hanya isakan tangis saja yang terdengar. Dirinya yang gemetaran di sebelah Mika, terlihat begitu lemah. Berbeda dengan penampakkannya yang biasa. Mata yang memang merah Ruby dari sananya, kini semakin merah dan sembab.


"Ibu... Kakak... aku... sekarang harus bagaimana...?"


"Kenapa kalian... tega meninggalkanku sendirian...?"


"....Aku takut..."


"Aku takut sendirian di dunia ini, Kak..."


"Hiks... hiks... kumohon... tolong bawa aku bersama kalian...."


Dengan bibir yang masih bergetar, Ruby melanjutkan nyanyiannya. Tak peduli meski suaranya sangat lirih sekalipun, Ruby terus bernyanyi. Hanya diiringi dentikan jarum jam dan kesunyian malam.


TIIIIIIIINNNNNN


"WOI, NAK!!! AWAS!!!!!!!!!!!!"


"Huh...?"


BRAAAAAKKKKGGGHHH


TINUU TINUU TINUU TINUU


Ingatan yang terlintas di kepalanya berakhir disaat yang sama dengan lirik terakhir lagu yang ia nyanyikan.


"Cause I need you to see🎶


That you are the reason🎶"


"......."


Mata Ruby telah sepenuhnya mengabur dan bengkak. Tubuhnya lemas. Dia sudah cukup lama tidak menangis sekeras itu sebelumnya. Bahkan dirinya sendiri penasaran, kenapa dia bisa jadi sesensitif itu sekarang.


"......."


"......."


"...Kenapa... kalian meninggalkanku sendirian...?"


"Apa gunanya... aku bereinkarnasi ke dunia ini... kalau aku tidak bisa bertemu dengan mereka..."


"Ibu... Kakak..."


"Aku takut..." ucap Ruby lirih sembari memeluk lututnya.


CRIIIIIIIIINGGGGGGGGGG


"...?"


Ruby yang tengah menunduk, memeluk lututnya tiba-tiba merasakan cahaya yang begitu menyilaukan memasuki celah-celah tangannya.


Ruby membuka pelukannya untuk melihat asal cahaya yang datang begitu tiba-tiba itu. Begitu menyadarinya, Ruby terkejut hingga matanya yang berat untuk terbuka itu, kini benar-benar terbuka lebar.


Cahaya yang dilihat Ruby berasal dari kening Mika, sang malaikat tidur. Kening Mika yang semula tak ada apa-apanya itu, mendadak memunculkan tanda sederhana berbentuk sepasang sayap berwarna keemasan. Ditengah-tengahnya, muncul kristal merah yang sangat indah. Kristal itulah yang bersinar begitu terang hingga membuat Ruby langsung berdiri untuk mengeceknya.


"Ke-Kenapa ini? Apa aku melakukan kesalahan?!" panik Ruby.


"Meski yang aku lakukan cuma bernyanyi!!??"


Ruby mundur beberapa langkah. Dia langsung tau ada yang tidak benar disini. Rasanya ingin kabur saja dari sana, namun kalau terjadi sesuatu, dia pasti yang akan disalahkan. Jadi Ruby tidak meninggalkan ruangan itu dan memilih mengawasi apa yang akan terjadi dari jarak yang aman.


Ruby ketakutan untuk beberapa saat. Bukan karena takut pada Mika. Tapi takut kalau terjadi sesuatu pada Mika karena salahnya.


Untung saja kristal yang mendadak bersinar itu mulai meredup dalam beberapa detik hingga akhirnya benar-benar berhenti bercahaya. Kristalnya juga masuk kembali ke kening Mika, meski tanda sayap kembar emasnya masih ada.


"......."


"?????"


"A-Apa sekarang sudah tidak apa-apa...??" bingung Ruby.


Ruby menghela napasnya lega, "Tadi itu apa...?"


"Bikin orang takut aj-"


DEEEGGGGGG


Jantung Ruby mendadak berdegup keras. Napasnya seketika sangat sesak dan matanya begitu kabur karena alasan yang berbeda dengan sebelumnya. Tubuhnya juga mendadak terasa lemah dan tak bertenaga. Suaranyapun tak mau keluar meski itu hanya erangan kecil. Hingga akhirnya...


BRUUUKKKK


Kesadaran Ruby benar-benar menghilang. Ruby pingsan sekitar satu atau dua meter dari kasur tempat Mika berbaring.