
Ruby terlihat sedang mengepel rumah dengan pakaian lusuh. Padahal pelayan di rumahnya saja memakai baju yang lebih bagus dari dirinya.
BYUUUUURRRRRRRR
Ember air kotor bekas pel terjatuh setelah di tendang dengan keras oleh seorang gadis yang lebih muda darinya. Gadis itu tertawa seolah itu bukan kesalahannya dan justru mengolok-olok Ruby.
"Hei! Kalau bersih-bersih itu yang benar dong!! Gak liat air kotor ini tumpah?!" jeritnya dengan nada mengejek.
Ruby diam, dia tak bergeming. Gadis itu langsung mengambil lap untuk membersihkan genangan air kotor didepannya. Sebenarnya itu akan cepat selesai jika Ruby menggunakan sihir, tapi si nenek sihir dan anaknya melarang Ruby menggunakan sihir apapun di kediaman Arsilla dengan perintah dari sumpah sihir.
Situasi Ruby tidak bisa dibandingkan dengan para MC dalam novel yang bereinkarnasi ke tubuh bangsawan atau masuk ke dunia game dimana mereka bisa langsung bertindak agar tidak di bully tokoh antagonis. Perintah mutlak keluarga kekaisaran tidak bisa dilawan keluarga Arsilla. Di generasi-generasi sebelumnya, tak ada anggota keluarga kekaisaran yang berani menyuruh keluarga Arsilla sesuatu yang bukan hal darurat.
"Oy! Air kotormu mengenai gaunku! Minta maaf!!" paksa nona itu.
"...... Maafkan saya, nona."
"Hmmphh!"
Nona itu merasa dirinya sangat hebat karena bisa menyuruh-nyuruh monster melakukan apapun yang dia inginkan. Bukan sekali dua kali gadis itu membully Ruby. Namun Ruby hanya diam saja.
Bukan berarti Ruby ketakutan dan tidak berani melawan. Dia hanya berpikir kalau tingkah ibunya dan adiknya itu tidak berbahaya sama sekali. Perumpamaannya seperti tikus yang berkali-kali menggigit gajah. Gajah tidak akan merasa sakit, gajah juga tidak tertarik membunuh tikus itu dan hanya diam membiarkan saja.
"Melawan dia sekarang tidak ada gunanya. Sebelum waktunya tiba, lebih baik aku tetap tenang saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya. Tak ada perubahan dalam hidup Ruby. Kehidupannya berjalan seperti biasa. Lama kelamaan dirinya terbiasa dengan permainan kecil yang dilakukan ibu tiri dan adiknya. Siksaan ibunya sekarang sudah seperti makanan sehari-hari.
Saat dia dikurung di tempat gelap, dia memilih tidur saja. Toh, gadis itu vampir yang terbiasa di kegelapan.
Saat di pukuli atau di cambuk, lukanya akan langsung pulih begitu saja.
Tidak diberi makanan beberapa haripun, tidak masalah. Selama asupan darahnya terpenuhi, dia tidak terlalu membutuhkan makanan manusia.
Menyiksa boneka tak berperasaan itu membosankan. Mereka hanya diam saja, tidak menggubris apapun yang dilakukan pada mereka. Ibu dan adiknya jadi bosan seiring berjalannya waktu.
"Ibu! Ini membosankan! Apa tidak ada sesuatu yang menyenangkan?!" rengek adik tiri Ruby, Nedura Arsilla.
"Kami ini cepat bosan, ya."
Machioness Arsilla terlihat sedang duduk di meja kerja sambil membaca dokumen saat putri tunggalnya merengek masuk.
Di antara tumpukan dokumen itu, ada juga banyak surat undangan pesta yang ditunjukkan pada Keluarga Arsilla. Machioness mengambil beberapa dari mereka dan menyerahkannya pada Nona Nedura.
"Ambil ini. Kalau bosan di rumah, pergi hadiri pesta saja. Karena kamu masih belum dewasa, nanti aku akan menemanimu," kata Machioness lembut.
"Makasih ibu!!!! Coba kita lihat..."
Nedura memilah surat-surat didepannya. Mencari surat dari keluarga terkemuka yang membantu dirinya di pergaulan kelas atas. Sebuah surat dari Keluarga Count Demifa menarik perhatiannya.
"Ibu! Bagaimana dengan ini?"
Nedura menyerahkan surat itu pada Machioness.
"..... Pesta perayaan pertunangan tuan muda pertama Keluarga Demifa, ya... Kalau tidak salah anak itu sekarang berumur 17 tahun," gumam Machioness.
"Baiklah. Kita akan hadir ke sana. Kebetulan tuan muda keduanya seumuran denganmu, dia juga jenius sihir yang cukup tampan. Tidak buruk sebagai kandidat tunanganmu," jawab Machioness yakin.
"Benar, kan! Aku juga cukup menyukai Tuan Muda Hyveno!" seru Nedura semangat.
"Pestanya masih 1 bulan lagi. Cepat pergi membeli gaun baru untuk kesana. Ibu akan menjawab kalau kita akan hadir."
Machioness mengelus lembut rambut Nedura. Gadis itu tersenyum senang, lalu mencium pipi ibunya dan pergi keluar dengan semangat.
"Dasar gadis itu..." senyum Machioness.
Wajah hangat tadi langsung mendingin begitu dia mengingat sesuatu.
"Padahal itu tempat yang bagus... sayang sekali karena ini undangan dari Faksi Kekaisaran, aku jadi harus membawa j*lang kecil itu."
"Ha~hhh... Sebas!!"
Seorang pelayan tua muncul dari balik pintu. Pelayan bernama Sebas itu langsung membungkuk menghadap Machioness.
"Sebentar lagi kami akan pergi ke pesta Keluarga Demifa. Siapkan jal*ng kecil itu hingga tidak mempermalukan keluarga!" suruh Machioness kesal.
"...... Baik, Nyonya."
Sebas adalah kepala pelayan di Keluarga Arsilla. Dia sudah mengabdi pada Keluarga Arsilla sejak masih muda. Sejujurnya Sebas dan beberapa pelayan setia lainnya sangat tidak menyukai Machioness dan Nona Kedua karena mereka menyiksa Nona mereka yang sebenarnya. Tapi seorang pelayan tidak boleh melanggar perintah. Mau tidak mau, mereka mengikuti perintah Machioness.
Tetapi sebenarnya... Sebas dan pelayan lainnya diam-diam membantu Rubylia. Terkadang mereka mengantar makanan dan obat pada Nona muda mereka. Ruby menolak semuanya, karena membantu dirinya hanya akan membuat Sebas dan yang lain dalam masalah.
Tentu Sebas dan pelayan lain lama-lama tidak tahan. Mereka hanya bersabar sampai upacara kedewasaan Nona Rubylia Arsilla. Dalam aturan bangsawan, pewaris sah akan memiliki kekuasaan setingkat dibawah penguasa resmi begitu mereka dewasa. Dengan kata lain, setelah Ruby dewasa, statusnya lebih tinggi daripada Machioness pengganti.
Ditambah lagi, Ruby akan masuk ke Akademi dengan surat rekomendasi dari Menara sihir. Dengan surat itu, bahkan keluarga Kekaisaran tidak bisa menghentikan Ruby belajar di Akademi.
.
.
.
.
.
.
TOK TOK TOK
"Nona Rubylia! Apa anda ada di dalam?" tanya Sebas sopan.
KRIEEEEEETTTT
Seorang gadis dengan pandangan mata kosong tidak bercahaya menatap Sebas dari balik pintu.
"....... Sebas? Kenapa?" ucapnya lirih.
Raut muka Sebas dipenuhi kekhawatiran dan rasa bersalah melihat Nona-nya yang seperti itu. Sebas berlutut, menyamakan tingginya dengan Ruby.
"Nona muda, anda tidak meminum obat anda lagi?" tanya Sebas khawatir.
"Itu tidak perlu. Aku vampir, penyembuhan diriku lebih kuat dari manusia."
"Tapi Nona... anda belum minum darah 3 bulan ini... Anda pasti sangat kelaparan. Mungkin darah saya tidak enak, namun bagaimana kalau Nona minum sedikit?"
"Jangan... Nanti Sebas akan dihukum."
"Nona..."
Nada penuh kekhawatiran tulus yang keluar dari mulut Sebas tentu mengenai hati Ruby. Sebas sangat khawatir pada Nona-nya yang terlalu kecil untuk anak seusianya. Meski sudah hampir 14 tahun, gadis itu terlihat seperti anak 9 tahun. Dia tidak diberi makanan manusia oleh ibunya. Dan parahnya, vampir yang butuh darah setiap 2 bulan untuk bertahan hidup, tidak diberi darah lebih dari 3 bulan. Alasannya sungguh konyol, Machioness berkata kalau tidak ada yang sudi menjual darah pada monster. Padahal banyak orang yang sudah menjadi langganan Keluarga Arsilla karena dibayar mahal.
Machioness juga melarang siapapun untuk memberi Ruby darah karena takutnya Ruby menjadi monster haus darah.
"Monster haus darah apanya?!! Normalnya vampir akan langsung menyerang orang kalau kelaparan karena insting bertahan hidupnya. Tapi Nona... dia menahan semuanya. Nona bahkan sama sekali tidak terlihat lapar saat melihat manusia meski nyatanya Nona pasti sangat kelaparan."
"Ha~hhh kenapa keluarga kekaisaran begitu kejam pada anak kecil?"
Ruby memegang tangan Sebas pelan-pelan. Tangan yang terasa dingin namun juga hangat langsung mengalihkan perhatian Sebas.
"Tidak apa-apa... aku tidak apa, Sebas. Jangan khawatir. Tolong katakan saja langsung apa yang harus Sebas katakan!" ucap Ruby ramah.
Senyuman kecil terlukis di wajahnya. Sebas mengigit bibirnya diam-diam, dia benar-benar tak habis pikir dengan orang tidak berperasaan yang membuat anak sekecil Ruby sampai mampu tersenyum menyakitkan begitu.
"Nyonya mengatakan pada saya........"
.
.
.
.
.
.
Ilustrasi Tokoh Machioness Arsilla
(Sauce: Twitter @magchomp8)