The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 159 [ Golden Light River ]



Sementara Itu Di Suatu Tempat


"Hatchii..."


Seorang putri cantik dengan rambut perak bersinar yang di kuncir ekor kuda itu tengah menutup mulutnya ketika suara bersin terdengar.


"Apa ada yang mengumpatku barusan?" batinnya.


Orang-orang yang melihat gadis itu dari jauh menganga terheran-heran. Bagaimana tidak? Pasalnya, seorang gadis langsing dan kecil yang terlihat sangat terawat, lemah dan tidak bisa memegang pedang itu saat ini sedang berdiri di atas tumpukan Minotauros yang telah mati dengan cara yang cukup kejam.



Minotauros adalah monster berbentuk manusia yang berkepala banteng. Makhluk ini termasuk ke dalam kategori monster rank A dengan level 150-200 an. Untuk mengalahkan satu Minotauros saja dibutuhkan satu pasukan ksatria kerajaan atau satu party tentara bayaran rank A. Namun bukan hanya satu atau dua, gadis di depan mereka ini telah membantai lebih dari 20 Minotauros dan menumpuknya hingga menggunung.


Gadis itu berdiri disana dengan pedang di tangan kirinya menancap di tubuh Minotauros yang dia injak. Menyadari dirinya dipenuhi darah menjijikkan Minotauros, gadis itu mengangkat tangan kanannya setengah tinggi. Bersamaan dengan itu, air tergerak mengelilingi tubuhnya dengan cara yang indah. Darah dan kotoran lain yang menempel padanya, seketika menghilang. Pakaian dan tubuhnya kembali bersih seolah tak pernah kotor sebelumnya.


Gadis berambut perak bersinar dengan pakaian sederhana berupa kemeja putih polos lengan panjang yang digulung dan celana denim coklat tan earth tone itu loncat dari puncak tumpukan mayat Minotauros.


Begitu mendarat, dia memasukkan kembali long swordnya ke sarung pedang di pinggangnya. Kecantikannya pada saat itu membuat orang-orang sempat melupakan fakta bahwa dia dan gadis yang membantai para Minotauros hanya dengan pedang tanpa sihir dengan sangat kejam adalah orang yang sama.


Sang putri melirik orang-orang di hadapannya. Mereka adalah karavan pedagang dan party tentara bayaran yang dia selamatkan. Kembali ke beberapa saat yang lalu, ketika dalam perjalanan pulang menuju Akademi, Citrine terhenti karena melihat karavan pedagang yang dilindungi party tentara bayaran tengah terdesak oleh kawanan Minotauros.


Citirine tidak punya pilihan lain selain berhenti dan menyelamatkan mereka. Dari langit saat ia terbang, ia melempar longsword nya langsung ke kepala pemimpin Minotauros hingga monster itu mati seketika. Tentu saja tindakan Citrine sama saja menarik agro monster sehingga mereka berbalik menyerangnya. Yang menyebalkan dari itu, karena Citrine tidak menghabisi mereka sekaligus menggunakan sihir, salah satu Minotauros sempat membunyikan sangkakala demi meminta bantuan. Itulah kenapa bisa ada lebih dari 20 Minotauros yang dia bunuh meski dirinya tidak berada di hutan atau di wilayah monster itu.


"Te-Terima kasih telah menyelamatkan kami. Bagaimana cara kami membalasnya?" ucap pria paruh baya yang sepertinya pemimpin karavan itu.


Sang putri menggeleng, "Tidak perlu membalasnya. Aku hanya melakukan yang seharusnya."


Dibelakang pria itu, muncul seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang sedikit lebih muda darinya. Mereka berdua memiliki rambut hijau rumput yang cukup langka.


Anak perempuan, "Kakak keren banget!!!"


Anak perempuan, "Terimakasih sudah menyelamatkan kami kak!!"


Anak laki-laki, "Gimana caranya bisa jadi sekuat kakak!!!!"


Anak perempuan, "Hei! Bilang terimakasih dulu!!"


Anak laki-laki, "A-Aku tau kok!!"


Anak laki-laki, "Terimakasih banyak sudah menyelamatkan kami!!"


"Sa-sama-sama..."


Ditatap dua pasang mata berbinar-binar itu membuat sang putri sedikit kebingungan. Namun belum lama setelah itu, anggota party tentara bayaran yang disewa oleh karavan tadi ikut mendekatinya.


"Anda benar-benar telah menyelamatkan hidup kami! Terimakasih banyak!!" ucap seorang Archer wanita.


"Kami pasti akan membalas kebaikan Anda, terimakasih banyak!" ucap tanker pria.


"Makasih cantik, kalau bukan karenamu, kami pasti sudah mati. Gimana caraku membalas ya? Hmm... bagaimana kalau menikmati malam yang indah dengan kakak cantik ini?" goda seorang penyihir wanita.


Citrine, "???"


BLEETAKK


"Kowe wedok anjirr!! Sadar diri kek!!!" Sang Archer wanita memukul kepala penyihir wanita dengan panahnya hingga terdengar suara yang agak menyakitkan.


"Sakit... Cici jahat..." keluhnya sembari memegangi kepalanya yang agak benjol.


"Berapa kali kubilang, berhenti memanggilku Cici!!! Namaku itu Cavalin!!!"


"Eh... nama panggilan kan imut..."


"Diamlah, mesum!!!"


"Ekhm!!"


Sang pria swordman berdeham. Karenanya, kedua wanita yang ribut tadi diam seketika meski masih sedikit ribut melalui kode tangan.


"Maafkan saya atas tindakan mereka. Mewakili anggota party saya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak. Saya sadar bahwa tak banyak yang dapat kami lakukan untuk anda yang sekuat ini, namun kalau anda membutuhkan sesuatu. Tolong katakan saja pada kami, kami akan membantu anda sebisa mungkin kedepannya."


Sang Putri tersenyum, senyuman anggun yang membuatnya nampak elegan meski pakaiannya sederhana, "Apa kalian semua baik-baik saja?"


Karena terpesona dengan kecantikannya, tidak ada yang dapat langsung menjawab pertanyaan gadis itu. Semuanya butuh waktu hingga benar-benar sadar dari pesona yang seperti sihir itu.


"Kami baik-baik saja, semua berkat Anda."


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang," ucap sang putri begitu memastikan semua orang di sana baik-baik saja.


"Tunggu!!!"


"?"


"Yang Mulia, setidaknya tolong biarkan kami memperkenalkan diri. Dengan begitu, jika suatu saat Yang Mulia membutuhkan pertolongan kami, kami dapat langsung membantu Anda!!" kata sang pemimpin karavan dengan lantangnya.


"Yang Mulia... kamu tau siapa aku?" tanya Citrine dengan senyum misterius.


"Saya tidak sebodoh itu untuk tidak mengenali rambut perak Anda. Anda pasti Keluarga Kerajaan Vittacelar. Dan hanya ada 2 wanita di Keluarga Kerajaan Vittacelar saat ini, Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putri. Jika saya mengeliminasi kemungkinan anda adalah Ratu karena mustahil Ratu meninggalkan kerajaan di masa sibuk seperti ini, maka anda pasti adalah Yang Mulia Putri. Apa saya salah?" jawabnya percaya diri.


Citrine tersenyum kembali sembari melirik pria itu dan anak-anaknya, "Benar. Baiklah, karena kecerdasanmu itu, aku akan membiarkanmu memperkenalkan dirimu."


"Suatu kehormatan bagi saya Yang Mulia!!"


Pria itu melakukan salam ala ras Elf yang jarang diketahui manusia. Anak-anaknya ikut-ikutan meski gerakannya banyak yang salah. Sementara anggota party tentara bayaran memberi salam sopan khas mereka sendiri.


"Nama saya Adam. Dan mereka berdua adalah anak saya. Anak pertama Leon dan anak kedua Ellen. Meski status saya tak seberapa dibandingkan anda, namun saya memiliki pengaruh yang cukup besar."


"Oh ya? Dan pengaruh macam apa itu?" Citrine menanyakan itu dengan senyum aneh. Sebenarnya dia sudah tau siapa mereka sebelumnya, bahkan tak berlebihan kalau dibilang alasan Citrine menyelamatkan mereka adalah karena dia tau status orang yang dia selamatkan.


"Saya adalah Guild master dari Guild Perdagangan. Saya dapat membantu anda dengan apapun yang berhubungan dengan perdagangan," ucapnya ringan hati.


Citrine menyeringai, "Bingo."


"Aku tidak percaya. Kenapa juga seorang guild master hanya memimpin karavan kecil dan ditemani 1 party tentara bayaran saja. Normalnya lebih dari itu, kan?" balas sang putri berpura-pura.


Sang guild master sempat ragu menjawabnya, tapi dia menggusur pemikiran itu mengingat orang yang berdiri di hadapannya adalah penyelamatnya sekaligus orang yang mungkin bisa menjadi mitra dagangnya nanti.


"Saya tak hanya sekedar 'membawa 1 party tentara bayaran' saja. Karena yang saya sewa adalah salah satu party rank A terkuat di guild tentara bayaran," jawab sang guild master bangga.


Citrine terlihat tidak percaya, tapi melihat ekspresi orang-orang disekitarnya terlihat sama PD-nya, sepertinya memang benar. "Yah, mari anggap saja mereka gagal melindungi karavan karena dikeroyok banyak Minotauros."


"Kalau kau menyewa party terkuat dan pergi dalam karavan kecil, aku asumsikan barang yang kamu bawa sangat berharga dan kamu ingin mengirimnya diam-diam, setidak mencolok mungkin. Benar?" tanya Citrine.


Sang guild master menelan ludahnya, ".... Seperti yang bisa diharapkan. Anda menebaknya dengan benar."


"Benda apa itu?"


Citrine menanyakannya lagi tanpa basa basi sembari mengarahkan matanya ke kereta kuda yang mereka naiki.


"Itu... adalah sebuah permata Yang Mulia."


"Permata?"


"Saya dapat mengatakannya, namun Yang Mulia tidak boleh mengatakannya pada siapapun. Karena ini menyangkut nyawa saya dan guild perdagangan."


"Hufth... oke oke. Katakan saja."


Citrine merasakan sesuatu yang tidak benar, "Permata macam apa itu. Saat terbang tadi, aku merasakan sihir cahaya yang sangat, sangat kuat dari kereta itu. Apa itu dari permata itu? Entah kenapa firasatku tidak enak."


"Saya mengerti. Jika hanya untuk dilihat saja. Tolong tunggu sebentar."


Sang Guild master tau bahwa elf tidak akan mengingkari perkataannya. Meski dia tidak tau kalau Elf yang tercemar bisa mengingkari perkataannya. Setidaknya Citrine bukan bagian dari elf rusak semacam itu. Setelah merasa bahwa Citrine bisa dipercaya, sang guild master mendatangi kereta kuda dan kembali dengan peti harta kecil yang sangat mewah. Dibukanya peti itu hanya sekedar untuk menunjukkannya pada Citrine.


Terlihat sebuah kalung emas mewah yang didesain rumit dan ditengah-tengahnya terdapat sebuah permata Citrine Quartz.



Citrine, ""!!??"


"Nama kalung ini adalah 'Golden Light River' yang diciptakan langsung dengan mana cahaya oleh Pahlawan dan Saintess sebelumnya. Sejak kematian sang pahlawan, kalung ini telah disimpan dengan baik oleh Keluarga Kekaisaran Levana yang merupakan keturunannya. Namun pemegang terakhir kalung ini menjualnya dengan harga tinggi melalui Guild kami. Saat ini kami sedang dalam perjalanan untuk menyerahkan secara langsung kalung ini pada pemilik selanjutnya."


"Seharusnya saya tidak boleh memperlihatkan ini pada siapapun. Namun saya rasa anda berhak melihatnya. Karena nenek andalah pencipta kalung ini."


"Apa... apa-apaan ini!? Apa yang sebenarnya terjadi disini?" shock Sang Putri.


"?"


"Yang Mulia??"


"Kenapa... KENAPA KALUNG YANG SEHARUSNYA MENJADI MILIK KAKAK JUSTRU DIPERJUAL BELIKAN SEPERTI ITU!!!?" marah Putri Citrine, tidak... marah Pangeran Aquamarine kala itu.


Badai semakin mendekat. Setelah para tokoh penting telah berkumpul, dunia mulai memasuki era baru. Saatnya telah tiba, kemunculan karakter dari sisi lain.