
Ketiga anak itu segera menuju gerbang masuk Kota Samusa. Penjagaan di kota itu jauh lebih ketat daripada di kota lain. Tentu saja, mereka tak bisa membiarkan kriminal melewati perbatasan Benua. Antrian disana juga cukup panjang. Aqua, Lix dan Yue terpaksa menunggu hingga 2 jam hanya untuk mengantri.
Penjaga di Kota ini bukan penjaga biasa. Mereka adalah ksatria yang ditunjuk langsung oleh Kaisar.
"Aqua… dia terlihat menyeramkan," cicit Yue. Dia mulai bersembunyi di belakang Aqua dan Lix.
"Kali ini aku tak akan mengejekmu cengeng. Yue benar, bahkan akupun tau mereka ada di tingkat yang berbeda," timpal Lix.
"Tenang saja. Tidak akan ada masalah."
Meski Aqua terlihat sangat yakin, Lix masih tak bisa tenang begitu saja.
"Untuk bisa masuk ke kota ini saja identitasmu tak boleh diragukan. Bagaimana caranya mengatasi itu?"
Giliran mereka telah tiba. Penjaga menatap Aqua, Lix dan Yue curiga.
"Kenapa tak ada yang menemani anak dibawah umur seperti kalian?"
"Saya sudah memiliki identitas resmi. Guru saya percaya, hanya dengan itu saja saya sudah bisa melakukan perjalanan sendiri."
Aqua menjawab tanpa keraguan dan tetap tenang. Lix sedikit terkejut dengan sikap Aqua yang selalu tenang dalam situasi apapun. Yue juga sudah agak mendingan dibanding sebelumnya.
"Oh, kamu punya tanda pengenal. Tunjukkan!" seru penjaga itu.
Aqua sebenarnya tak mau mengeluarkan tanda pengenal nya. Tapi jika ingin memasuki kota, hanya dengan membayar uang tak akan cukup. Dia mengeluarkan kartu dari tas kecilnya dan menunjukkan itu pada penjaga tadi.
Mata sang penjaga terbelalak, mendadak dia bersikap sopan.
"Maafkan saya sudah menahan anda terlalu lama, tuan. Anda seharusnya bisa langsung menerobos antrian jika menunjukkannya. Silahkan lewat sini."
"?!"
Lix dan Yue bingung dengan perubahan mendadak penjaga itu. Aqua santai saja seolah tak terjadi apapun. Mereka berhasil memasuki gerbang dengan cepat. Begitu masuk, penjaga itu mengembalikan kartu Aqua.
"Tolong jangan sebarkan ini. Ini bisa menarik perhatian yang tidak dibutuhkan," kata Aqua.
"Saya mengerti tuan, silahkan nikmati perjalanan anda."
Yue dan Lix mengikuti Aqua meninggalkan gerbang dengan bertanya-tanya. Mereka tak mengerti apa yang baru saja terjadi.
"Lix… Kenapa Aqua diperlakukan spesial?" Tanya Yue sambil menarik jubah Lix pelan.
"Kau pikir aku tau."
Lix juga masih menerka-nerka. Dia mencoba mencari jawaban dalam kepalanya.
"Apa Aqua itu bangsawan? Tidak, kalau bangsawan pasti menunjukkan lambang keluarga bukannya kartu. Kalau kartu… apa dia tentara bayaran atau penyihir? Itu masuk akal mengingat betapa menakjubkannya dia membasmi monster."
Aqua kesulitan menahan tawa melihat tingkah 2 anak itu. Yue yang kelihatan kebingungan dan Lix yang sibuk berpikir.
"Ahahaha… berhenti berekspresi begitu. Kalau kalian tanya pasti kujawab loh," tawa Aqua tiba-tiba.
"!"
"Kalau begitu… sebenarnya apa yang kamu tunjukkan?" tanya Lix.
"Ah, itu? Kartu penyihir. Harusnya kalian bisa menebakkan, lagipula aku selalu mengajar Yue sihir. Sudah jelas aku penyihir," jawab Aqua santai.
"Sudah kuduga."
"Aku juga berpikir itu bisa saja kartu tentara bayaran. Karena skill daggermu terlalu hebat untuk orang biasa," balas Lix tak mau kalah.
"Aku belum mendaftar. Untuk menjadi tentara bayaran kita harus berusia 15 tahun dulu, kan. Selain itu…"
"Selain itu?" tanya Lix dan Yue bersama.
"Saat aku mendaftar nanti, aku ingin kita mendaftar bersama sebagai party."
"Aqua…"
Yue memeluk Aqua senang. Lix mengelus rambut Aqua sedikit kasar. Mereka tertawa bersama. Sungguh… andai saja kedamaian seperti ini bertahan selamanya.
"Sudah hentikan! Ayo beli tiket kapal!"
"Oke, Aqua!" jawab Yue bersemangat.
Lix mengikuti dua anak di depannya yang terlihat ingin segera pergi. Mereka berjalan mencari loket tiket. Harga satu orang untuk naik kapal ke Benua Sihir sebanyak 100 koin emas. Harga yang mahal tentunya. Di dunia ini, Laut adalah tempat berbahaya dengan banyak monster tingkat tinggi. Ditambah ada bajak laut yang suka menjarah kapal dan merampok. Kapal yang digunakan tak sembarangan, itu adalah kapal sihir yang memiliki pertahanan terbaik.
"Harganya mahal gila. Dengan uang sebanyak itu bisa menghidup 1 keluarga selama 2½ tahun," kaget Lix.
"Apa sebanyak itu?" tanya Yue polos.
"Tentu saja!!! Kaupikir berapa 100 koin emas itu!"
"Berapa roti yang bisa didapat dengan uang segitu?"
"Roti? Roti harganya cuma 1 koin tembaga. 1 koin silver setara 10 koin tembaga. 1 koin emas kecil setara 100 koin tembaga. 1 koin emas setara 1000 koin tembaga. Jadi 100 koin emas itu bisa membeli 100.000 roti!" terang Lix.
"Benar kan!!"
"Kalian ini… jangan ribut! Kita menarik perhatian orang," kata Aqua agak kesal.
Seperti kata Aqua, banyak orang memperhatikan mereka sekarang. Diantara itu juga ada yang mengejek mereka miskin dan lainnya karena meributkan uang seperti itu.
"Ah, maaf. Tapi Aqua, apa kau yakin? Sampai membiayai kami juga," tanya Lix.
"Bukankah aku yang mengajak kalian? Sudah kubilang, kalian tak perlu mengkhawatirkan uang. Aku itu kaya!" Kata Aqua dengan sombongnya.
Yue dan Lix seolah melihat kilauan koin emas dari Aqua. "Silau!!!"
Mereka menggosokkan tangannya seolah sedang berhadapan dengan dewa uang.
...***...
Anak-anak itu menaiki kapal beberapa jam setelah membeli tiket. Orang-orang di kapal itu hampir semuanya adalah penyihir. Kapal lepas landas dengan cepat. Tak butuh waktu lama sampai pantai tak terlihat lagi.
"Wahh… cantiknya!!"
Mata Yue terlihat berbinar-binar. Dia baru pertama kali melihat laut.
Aqua mengelus rambut Yue lembut dan tersenyum hangat.
"Apa kamu menyukainya?"
"Umm!!"
Aqua dan Lix juga ikut memandang laut yang terlihat bersinar memantulkan cahaya matahari terbenam. Sungguh pemandangan indah yang tak sering terlihat. Angin laut yang sejuk dan cahaya matahari terbenam menerpa wajah mereka lembut.
"Aqua, terimakasih!" kata Lix tiba-tiba.
"Hmm? Kenapa?"
"Aku tidak akan bisa melihat ini jika aku tak bertemu denganmu. Tidak… aku bahkan tak akan lepas dari para sampah itu jika kamu tak menolongku dulu."
".... Ada apa ini, kayak bukan kamu saja. Santai saja! Bukankah aku sudah sering bilang. Kita sekarang adalah rekan, bukan… sahabat. Sahabat itu pasti akan saling membantu, kan?"
"Yue juga! Yue juga rekan dan sahabat Lix!" timpal Yue.
"Kalian… terimakasih."
Wajah Lix terlihat sedikit memerah seperti rambutnya. Dia bahagia dari lubuk hati terdalamnya. Disisi lain dia juga marah pada dirinya yang sempat meragukan mereka.
Ekspresi Yue terlihat seperti mengejek Lix yang terbawa perasaan. Lix menjadi kesal karenanya.
"Oh, tadi kamu bilang aku sahabatmu. Bagaimana dengan Aqua?" ejek Lix gantian.
"Aqua!!?!"
Wajah Yue memerah begitu ditanya begitu. Dia gelagapan harus menjawab apa.
"?"
Sejujurnya Aqua juga sedikit penasaran dengan anggapan Yue padanya. Dia berharap Yue akan menganggapnya kakak seperti dia menganggap Yue adiknya sendiri.
"Aqua itu… pengantin masa depan Yue!!"
Jerit Yue mengejutkan Lix dan Aqua.
"Pe-pengantin?" kaget Lix dan Aqua.
"Hmm!!! Tidak apa-apa kan Aqua!!?"
"Ehh…"
Aqua tak tau harus menjawab apa.
"Yah… anak kecil memang akan ngomong gini ke kakak atau ayahnya sih. Yue pasti akan lupa beberapa tahun lagi seperti Tiara."
"Baiklah. Kalau 10 tahun lagi Yue belum berubah pikiran, nanti Yue bisa bilang lagi," jawab Aqua sebisanya.
"Umm!!!"
"Apa-apaan jawaban nanggung itu?" sindir Lix ke Aqua.
"Ayolah!! Kau pikir aku harus menjawab apa?" bisik Aqua.
"Haha, lakukan sesukamu saja. Tapi 10 tahun lagi aku gak ikut-ikutan ya!"
Lix berjalan memasuki kabin menjauhi Aqua yang dipeluk Yue.
"Tu-tunggu! Kami juga ikut!! Ayo Yue!"
"Oke!"