
Beberapa kali Aqua terpental dengan keras. Namun kata menyerah tak pernah terlintas dikepalanya. Anak itu terus berusaha melepas ikatan yang membelenggu perempuan itu. Sekarang ini bahkan tubuhnya penuh dengan lebam dan pakaiannya rusak parah.
"Sial!! Sedikit... lagi..." ucapnya tak patah semangat.
Perempuan di tiang diam saja tanpa membuka mata. Bukan berarti dia bermaksud pura-pura tidak sadar. Dia hanya tidak menemukan timing yang pas untuk membuka matanya didepan Aqua.
"Ini sudah seminggu... anak itu masih melakukannya? Padahal dia bisa keluar saja setelah mengambil harta dungeon ini."
Sudah tidak tahan dengan semua ini, perempuan itu membuka matanya saat Aqua tepar di pasir pantai. Mata safir indahnya melirik tubuh Aqua yang mulai terbentuk. Mulutnya terbuka, namun kata-kata tersangkut di tenggorokannya.
"Yoshh!!!!"
Aqua bangun dari kelelahannya dengan cepat dan langsung menghadap tiang. Dengan cepat pula, perempuan itu langsung menutup mata dan mulutnya.
"Ah... padahal aku tidak bermaksud," keluh perempuan itu. "Entah kenapa aku tidak berani menatapnya langsung."
Aqua berjalan menaiki tangga altar. Tepat didepan barriernya, anak itu terdiam. Dia memandang sang perempuan dengan wajah sulit dimengerti. Tangan kanannya menempel di barrier seolah sedang menyentuh kaca pembatas.
"Aku tidak boleh buang-buang waktu lebih lama lagi!" tegas Aqua.
Anak itu melirik ke arah parit yang airnya mulai meluap penuh.
"Semakin lama... lukanya akan semakin parah."
"Aku juga tidak bisa menggunakan sihir penyembuh. Sihirnya hanya akan memantul kembali ke arahku."
"Master... apa yang harus kulakukan?"
Anak itu menggenggam tangannya dengan kuat sambil menggertakkan giginya dan menunduk ke bawah. Sebenarnya bahkan tanpa membuka matanya, perempuan didepannya tau segala yang terjadi di lantai 100. Bisa dibilang itu salah satu kemampuan spesialnya.
"........ Kenapa... kamu tidak berhenti saja?" tanya perempuan itu pada akhirnya.
"!!!"
Aqua terkejut, dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap asal suara itu.
"........."
"Kapan dia bangun?"
Aqua benar-benar ingin bertanya itu. Namun saat melihat raut wajah bermasalah perempuan itu, dia mengurungkan niatnya.
"Apa... kamu mengingatku?" balas Aqua.
"?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Mereka saling melempar jawaban dengan pertanyaan lain. Hanya dari pertanyaan itu saja, Aqua sudah tau jawabannya.
"Jadi dia tidak mengingatnya..."
"Kakak... mirip dengan adik perempuanku. Jadi aku tidak bisa meninggalkan kakak begitu saja," jawab Aqua seadanya.
Benar, perempuan didepannya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Tiara, adik Aqua dikehidupan sebelumnya. Perbedaannya hanyalah warna rambut dan mata serta usia saja. Selain itu, semua hal bahkan suara saja sangat mirip dengan Tiara. Jadi wajar kalau Aqua mengira Tiara juga bereinkarnasi sepertinya. Tentu jika sekedar mirip saja dia tidak akan salah mengira. Yang jadi alasan terbesar dia mengira perempuan didepannya adalah reinkarnasi Tiara adalah...
Karena Aqua sama sekali tidak bisa melihat status perempuan didepannya. Jadi dia tidak bisa punya informasi identitasnya.
"Status Yue bahkan masih lebih bisa dibaca daripada dia."
"Aku mirip adikmu? Apa adikmu sudah mati?" tanya perempuan itu iba.
"Mungkin sudah... aku sudah lama tidak bertemu dengannya karena kecelakaan. Tapi seseorang mengatakan padaku bahwa dia sudah mati," jawab Aqua sedih.
"Jadi begitu... tolong maafkan aku."
"Tidak apa-apa, kak. Yang sudah berlalu, biarkan saja berlalu. Karena aku sudah disini, aku akan berusaha mengeluarkan kakak dari sana!" tekad Aqua.
Perempuan itu sedikit tersentuh dengan pernyataan Aqua.
"Nee... apa kamu tidak mau bertanya apapun? Seperti kenapa aku ada disini?"
"Itu pasti pertanyaan yang berat. Aku tidak akan bertanya. Kalau kakak memang mau menceritakannya padaku, akan kudengarkan. Tapi jika boleh, aku ingin bertanya satu hal saja."
"Apa kakak... merasa sakit? Tolong bertahanlah sebentar, aku akan segera melepaskan kakak dari sana," kata Aqua cemas.
"......"
Perempuan itu sudah mempersiapkan diri menjawab pertanyaan yang lebih berat, namun itu tidak diperlukan. Pertanyaan Aqua hanyalah sebuah kekhawatiran tulus.
"Tidak perlu khawatir... ini tidak sakit," jawabnya dengan senyum lembut.
"Aku sudah lupa dengan rasa sakitnya bertahun-tahun lalu."
"Meski begitu, aku akan tetap mengeluarkan kakak dari sana secepat mungkin!"
"Fufufu... tentu. Tolong bantuannya... emm..."
"Aqua! Namaku Aquamarine. Kakak bisa memanggilku Aqua saja," timpal Aqua.
"Baik, mohon bantuannya Aqua. Kamu juga bisa memanggilku Mika saja," ucapnya hangat.
"Serahkan saja padaku, Mika!"
Begitulah awal perkenalan mereka. Sembari terus berusaha memasuki barrier dan menyelamatkan Mika, dua orang itu mengobrol dan bersenda gurau bersama. Tidak mudah menghadapi tekanan barrier itu. Ada 4 ikatan yang membelenggu Mika, hanya melepas 1 saja sudah menghabiskan waktu cukup banyak.
1 Bulan Kemudian
"Hah... hahh... haah..."
Aqua tepar di pasir setelah melepas ikatan ke-3 yang membelenggu tangan kanan Mika. Tubuhnya penuh dengan keringat dan lebam. Meski begitu anak itu masih saja terlihat tampan.
"...... Maafkan aku Mika... hanya melepas 1 saja butuh waktu seminggu lebih," ucap Aqua kelelahan.
Mika tersenyum lembut sambil memandang Aqua yang tertidur di pasir pantai.
"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu terburu-buru. Lagipula barrier ini dibuat oleh mantan Arc-Angel, wajar jika ini sulit untuk ditembus."
"Mantan?"
"Ya... berdasarkan ceritamu, Arc-Angel yang berkhianat pasti akan menerima hukuman ilahi. Sayapnya akan dicabut dan cincin halo-nya akan di sita. Dia akan diusir dari Benua Melayang dan diganti dengan Arc-Angel baru," terang Mika.
"Mika... kamu tau banyak tentang Arc-Angel ya..." puji Aqua.
"........"
Mika terdiam. Dia tidak tau harus berkata apa mendengar pujian Aqua. Habisnya, bagaimana dia tidak tau banyak? Sudah pasti dia mempunyai informasi tentang Arc-Angel lebih banyak dari orang lain, itu karena Mika adalah Arc-Angel itu sendiri.
...***...
Dunia Peri
{ Apa anak itu masih berlatih? }
Tanya Tiana, Sang Ratu Peri.
{ Masih, Baginda. Dia sangat giat berlatih dengan Leila }
Jawab Zephyr sopan.
{ Hmm... seperti yang diharapkan dari anak beliau. Ini sungguh ironis... bisa-bisanya anak beliau terlahir sebagai iblis. Semoga saja dia tidak menjadi Raja Iblis, akan terjadi sesuatu yang buruk jika anak ini menjadi Raja Iblis }
{ Anda benar, Baginda. Jika menjadi Raja Iblis, artinya bukan hanya elemennya saja yang kegelapan. Jiwanya juga akan berubah seperti Dewa Kejahatan } balas Zephyr.
{ Kalau hanya berubah sifat itu masih baik-baik saja. Tapi berubahnya jiwa... itu bisa menyebabkan kegilaan. Terutama kalau elemen jiwanya bertolak belakang } kata Ratu Tiana cemas.
{ Ini benar-benar anehkan, Baginda? Kita bertemu secara pribadi dengan kakak beradik ini satu per satu... }
{ Iya. Walau aku tidak bisa menyebut kita beruntung, karena kita menemukan adiknya saat dia hampir dibunuh } balas Ratu agak kesal.
{ Ah... setelah anda mengatakannya, saya jadi ikutan kesal. Bisa-bisanya para Elf itu mencoba membunuh putri beliau. Meskipun sekarang dia menjadi iblis, itu tidak merubah fakta bahwa Yue adalah putri beliau } marah Zephyr.
Ratu tersenyum, rasanya menyenangkan kalau ada yang mewakilinya marah. Dia berjalan ke balkon untuk melihat Yue dari sana. Gadis kecil itu sedang giat berlatih sihir kegelapan langsung dari peri kegelapan tingkat tinggi, Leila.
{ Kedua anak anda... saya pasti akan menjaga mereka. Saya berjanji, atas nama Ratu Peri! }