The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 116 [ Keluarga Kecil Turquoise]



Hari itu benar-benar ramai di Kerajaan Vittacelar. Meski diberi waktu istirahat, Aqua tetap lelah menghadapi semua simpati dari Elf dan akting kakaknya.


Sekarang akhirnya dia ditinggal sendirian di kamarnya karena langit sudah sangat gelap.


"Ha~ahh... aku capek...", keluh Aqua.


Dilihatnya langit-langit yang sama dengan yang dia lihat setelah diselamatkan Amethyst beberapa tahun lalu.


"Dia benar-benar mencurigaiku. Tapi sekarang kecurigaan itu sudah hilang, ini mulai merepotkan..."


"Tapi tidak masalah, biarkan dulu dia naik setinggi yang dia bisa, lalu saat dia sudah dipuncak... aku yang akan mendorongnya jatuh."


TUK TUK TUK


Sebuah burung merpati hinggap di jendela kamarnya. Terlihat sebuah surat menggantung pada kaki merpati. Tanpa membuang waktu, Aqua segera membuka jendelanya dan membiarkan merpati itu hinggap di tangannya.


Surat diambil, merpati di terbangkan lagi. Dalam sekejap, merpati itu menghilang seperti asap.


Sembari menyibak poninya, Aqua mulai membaca surat di tangannya. Begitu selesai, Aqua langsung membakar surat pendek itu.


"Hah! Jadi begitu!" dengusnya kesal.


"Baguslah, aku pasti akan merasa bersalah seumur hidup kalau harus membunuh orang tidak bersalah demi dendamku. Tapi kalau begini, dengan senang hati kulakukan."


Samar-samar terlihat, isi surat yang Aqua terima adalah bukti kejahatan seorang wanita iblis dan anaknya.


Aqua POV


Turquoise sialan... apapun alasannya, membunuh Kak Rin adalah hal yang tidak termaafkan.


Beberapa waktu yang lalu, selama hari libur Raven, aku juga meminta Kak Vira dan Vina mencarikan beberapa informasi untukku. Informasi yang kuinginkan adalah alasan sebenarnya Turquoise menginginkan tahta meski normalnya Elf tidak terlalu tertarik dengan kekuasaan.


Hasilnya sungguh mengejutkan. Turquoise yang baru berusia 70-an itu memiliki kekasih iblis dan mereka memiliki seorang putri berumur 14 tahun dan putra berusia 8 tahun. Bajingan itu tau kalau kekasih dan anaknya akan dibunuh para Elf jika ketahuan. Makanya dia rela membunuh pewaris tahta lain, yaitu Kak Rin dan aku.


Karena jika bajingan ini naik tahta, tidak... bahkan meski baru calon satu-satunya, tidak akan ada yang berani menyentuh anaknya. Karena satu-satunya pemilik darah Keluarga Kerajaan Vittacelar hanya dia dan anaknya.


Dari segi seorang ayah, mungkin dia bukan ayah yang buruk.


Tapi dari segi Keluarga dan elf, dia bajingan terburuk yang mau mengacaukan darah murni keluarga kerajaan dan membunuh saudaranya demi iblis.


Sekarang bajingan itu mungkin membiarkanku. Tapi selama aku masih hidup, selalu ada kemungkinan keluarga kecilnya terancam. Cepat atau lambat, dia pasti akan membunuhku.


Tapi itu tidak akan terjadi.


Aku sudah repot-repot datang kesini dengan menyamar, jadi jangan selesai dengan mudah.


Sayang sekali aku juga tidak bisa berlama-lama menghancurkannya. Sebentar lagi tunanganku mengadakan upacara kedewasaannya. Aku harus menyelesaikan semua ini sebelum itu.


Yah... mari kita lihat saja, apa yang akan terjadi nanti.


...***...


Hari demi hari berlalu, karena aku selalu bertingkah bodoh dan pengecut, semua Elf merasakan kekecewaan terhadapku. Meski beberapa masih berbaik hati. Namun hanya sebatas sopan santun pada Pangeran.


Aku tidak bisa menyalahkan mereka.


Toh, yang kukenal saat masih di Kerajaan Vittacelar sangat sedikit.


Semakin hari berganti, kelakuan Turquoise semakin berani. Dia yang dulunya menyembunyikan anak dan kekasihnya, sekarang terang-terangan membawa mereka ke istana. Tentu saja aura dan penampilan iblis mereka di samarkan. Kalau tidak, para Elf tidak akan menerima mereka dengan hati terbuka seperti itu.


Normal POV


Tanpa siapapun sadari, sedari tadi Aqua berdiri mengamati Turquoise dan keluarga kecilnya di ruang makan. Suasana disana sangat harmonis dan hangat, bahkan pelayan yang melihat mereka ikut tersenyum-senyum melihat mereka.


Dalam mode tak terlihat dan aura yang dihilangkan sama sekali hingga hawa keberadaannya tidak diketahui, Aqua memutar garpu di tangannya sambil menonton keluarga kecil ini.


Di meja makan panjang untuk beberapa orang, empat orang duduk berhadapan disana. Aqua kesal, karena kursi yang seharusnya diduduki Tuan Putri Citrine dan dirinya sekarang diduduki dua anak bajingan yang membunuh kakaknya.


Suara garpu dan sendok mengetuk piring terdengar sepanjang makan malam ini.


"Dengar anak-anak, besok ayah akan pergi Ke Kekaisaran sebagai pemimpin diplomasi," ucap Turquoise pada kedua anaknya.


"Eh?! Padahal ayahanda sudah janji akan main bersamaku!" rengek putranya.


"Ayahanda itu sibuk, kita harus maklum!" marah putrinya sedikit sedih.


"Tapi kak!"


"Ahahahaha, jangan sedih... nanti ayahanda akan pulang sambil membawa camilan untuk kalian berdua," tawa Turquoise dibalas mata berbinar-binar anaknya.


"Benar ya, Ayahanda!!!"


"Ayahanda jangan sampai lupa!!!"


Turquoise tersenyum hangat.


"Ara-ara... kalian benar-benar menyukai manisan, ya?" senyum sang ibu.


"Bu-bukannya aku suka atau semacamnya! Yang suka itukan Khorin!" elak sang putri sedikit merona.


"Ara? Imutnya..."


"Ibunda!!!"


"Ahahahaha... Kak Veni, ngaku aja! Padahal kakak yang paling suka manisan!" ejek Khorin, sang adik.


"Khorin! Katakan lagi dan aku tidak akan berbelas kasihan padamu saat latihan pedang nanti!" kesal Veni, sang kakak.


"Ehh... jahat!!!"


"Hmph! Apa kamu itu benar-benar laki-laki?! Kalau begini terus, jangankan mengalahkan ayahanda. Menang melawanku saja tidak akan mungkin!" ejek Veni gantian.


"Tidak! Aku akan melampaui kakak dan ayahanda!! Aku itukan laki-laki!!!" marah Khorin.


Turquoise tertawa kecil mendengar pertengkaran kecil anak-anaknya.


"Tenanglah kalian berdua. Kalian pasti bisa mengalahkan ayah nanti. Aku menantikan itu."


"Baik, ayahanda!!!" jawab Veni dan Khorin bersamaan.


Beberapa pelayan masuk dengan hidangan baru. Mereka menatanya di hadapan keluarga kecil itu. Begitu mereka membuka penutup hidangan, terlihat steak mewah yang menggoda selera makan.


Para pelayan langsung keluar setelah mereka menghidangkan makanan tersebut.


"Ah~ aroma ini... benar-benar daging kualitas tinggi~" puji sang ibu.


"Apa kau suka? Sulit menemukan daging dengan usia yang tepat sesuai selera kalian," tanya Turquoise lembut.


"Apa ayahanda bercanda?! Dari baunya saja sudah ketahuan kalau ini sangat lezat! Bagaimana mungkin kami tidak suka?!" girang Veni disambut tawa Turquoise.


"Kalau begitu makanlah yang banyak. Biar kalian cepat besar dan bisa mengalahkan ayah."


Setelah mengangguk, mereka makan steak itu dengan lahapnya. Melihat kekasih dan anaknya makan selahap itu seolah makanan itu adalah makanan terenak di dunia.


Aqua memandang dingin mereka dari bayangan. Kalau bukan karena matanya memperhatikan informasi yang dianggapnya menjijikkan, dia tidak akan merasa keluarga dihadapannya serendah itu.


"Yang Mulia, apa anda tidak akan mengajak Pangeran Aquamarine makan bersama anda?" tanya salah satu pelayan.


Mulut pelayan itu langsung dibungkam oleh kepala pelayan baru yang merupakan orang Turquoise.


"Maafkan dia Yang Mulia! Dia ini anak baru. Dia belum saya ajarkan dengan baik!!"


Kepala pelayan langsung membungkuk sambil membungkukkan pelayan tadi. Gara-gara satu pertanyaan itu, mood Turquoise langsung hancur.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir, diakan masih baru. Jelaskan saja pelan-pelan."


Turquoise memang mengatakan hal itu dengan senyum dan nada yang baik, namun kepala pelayan tau. Yang dimaksud tuannya adalah pelayan itu harus diberi pelajaran diam-diam.


"Baik... Yang Mulia..."


"Hmm, bagus. Aku memang bisa mengandalkanmu."


Veni meletakkan garpunya, steak di piringnya sudah habis tanpa sisa.


"Ayahanda! Ayahanda akan pergi besok, bisakah ayahanda tidur bersama Veni hari ini?"


"Ah!! Kakak curang!! Aku juga mau tidur sama ayahanda!!!" jerit Khorin tidak terima.


"Mana mungkin ayah bisa menolak. Kalau kedua anak ayah meminta dengan wajah seperti itu. Baiklah, hari ini ayah akan tidur bersama kalian," jawab Turquoise lembut.


"Ara~? Bagaimana denganku? Apa aku akan ditinggal sendiri?" goda sang ibu.


"Tentu saja ibunda juga akan tidur bersama kami!!" jawab mereka cepat.


"Fufufu..."


"Baiklah, baiklah... hari ini kita semua akan tidur bersama. Makannya sudah habis semua, kan? Ayo pergi!" seru Turquoise dibalas anggukan keluarganya.


Sembari berjalan ke arah kamarnya, keluarga kecil itu bersenda gurau sepanjang perjalanan. Tanpa menyadari bahwa dari tadi, sepasang mata memperhatikan mereka.


Tepat setelah Aqua tidak merasakan lagi keberadaan mereka di radarnya, dia menghilangkan sihir tak terlihatnya dan berjalan pelan ke arah meja makan.


Mata dingin anak itu menajam, naf*u membunuhnya bocor sedikit hingga memecahkan alat makan dan minum yang terbuat dari kaca.


"Dasar keluarga sinting!"