
Mata kedua perempuan dari ras yang sepenuhnya berbeda itu saling memandang satu sama lain. Senyum lembut namun jahil terlukis jelas di wajah sang malaikat sedangkan wajah kesal sang vampire masih belum memudar.
Mereka tidak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya sekarang, hanya saja... insting mereka menggiring mereka untuk berdiri berhadapan sembari menempelkan kedua satu tangan mereka ke tangan yang lainnya. Ketika mereka berdua telah saling bergenggaman tangan, sang malaikat memastikan untuk yang terakhir kalinya.
"Tidak ada jalan kembali setelah ini. Meski begitu, apa kamu yakin ingin menyusuri jalan ini?" tanyanya lembut.
Sang vampir mendesah kecil, "Mau berapa kali lagi kamu menanyakan itu? Jawabanku tetap sama."
"Aku tidak peduli mau mengalami penggabungan berapa kali, toh pada akhirnya semuanya adalah aku sendiri. Yang paling penting bagiku adalah segera menjadi Tiara sepenuhnya dan bertemu dengan kakak lagi."
Mendengar jawaban sang vampire, sang malaikat tersenyum kecil. "Tapi... Mungkin kamu tidak akan bisa berpendapat begitu lagi nanti."
"Aku tidak tau akan jadi bagaimana perasaan seorang 'Tiara' yang telah lama hidup sebagai adik Aqua ketika ingatannya telah menyatu dengan ingatan asliku ditambah punya Yue. Ingatan sebagai kekasih dan ingatan sebagai adik. Akan jadi apa nantinya ya?" batin sang malaikat penasaran namun juga khawatir.
"Baiklah, aku menghargai dan berterimakasih atas keputusanmu itu."
"Memang harus begitu!" senyum sang vampire.
Sang Malaikat dan Sang Vampire tersenyum pada satu sama lain. Mereka menempelkan kening mereka berdua seperti saat gadis aneh yang disebut Airella itu memberikan ingatan 'Tiara' pada sang vampire beberapa waktu lalu. Akibat perbedaan tinggi di antara mereka, sang malaikat perlu menunduk diimbangi dengan jinjitan sang vampire.
Kedua mata mereka yang warnanya bersilangan itu mulai memejam. Bersamaan dengan itu, kabut putih keemasan mulai mengelilingi mereka. Alam bawah sadar sang malaikat mendadak menjadi lukisan yang memudar karena terkena air. Semakin lama detik berjalan, warna dan pemandangan indah di alam itu semakin memudar hingga warnanya menjadi putih sepenuhnya.
Ketika seluruh pemandangan telah sepenuhnya menjadi putih. Pemandangan serba putih itu pecah jadi hitam gelap. Kedua perempuan itu terjatuh dari permukaan yang tak berdasar itu dalam posisi tetap seperti tadi. Rambut mereka berkibar melawan arah jatuh.
Setelah beberapa detik, ujung dari dunia hitam tadi adalah langit yang jauh berada di atas awan. Pemandangan langit biru penuh awan yang dibawahnya terdapat padang bunga yang sama tempat sang vampire, Rubylia Arsilla datang tadi menjadi titik terakhir mereka. Keduanya jatuh dari langit biru yang cerah nan indah itu.
Ruby dan Mika jatuh dengan kencang menghantam padang bunga, bunga-bunga yang berhamburan menutupi lokasi itu seakan mencoba menyembunyikan mereka. Dari titik jatuh mereka, keluar bunga-bunga dandelion raksasa yang terbang mengikuti arus angin. Dan disaat hamburan bunga telah mereda, keduanya tak lagi terlihat dimanapun.
Sepasang mata kristal biru layaknya langit cerah tak berawan diatasnya terlihat bahagia melihat pemandangan itu dari kejauhan. Bibir ranum merah mudanya terangkat tipis. Rona merah di pipinya semakin terlihat sekarang.
[ Jangan khawatir, kalian tidak akan kenapa-kenapa. Mungkin kalian akan sedikit linglung nantinya, namun itu tidak akan lama. Baik Findy, Qin Yuna, Nefertari maupun Tiara, semuanya tidak mengalami masalah besar terkait ingatan kehidupan sebelumnya, bahkan ketika mereka telah mengingat semua mulai dari Airella ]
[ Sebagai putri dari Dewi Athena, kapasitas otak kita jauh melebihi rata-rata. Jangankan ingatan ratusan tahun, kita bahkan bisa menampung ingatan hingga jutaan atau milliaran tahun ]
Wanita berambut emas panjang yang bersinar layaknya matahari itu menahan rambutnya yang berkibar karena angin kencang tadi. [ Kini aku tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian ]
Ekspresi hangat nan lembut wanita itu mulai memudar, tergantikan dengan ekspresi kelam, penuh kekhawatiran. Kepalanya menoleh sedikit ke arah yang berlawanan dadi terbangnya dandelion Ruby dan Mika. Jauh di matanya, dia melihat langit dari arah itu mulai menggelap dan begitu keruh seolah-olah kebakaran hebat terjadi disana.
[ Justru dialah... yang paling harus aku khawatirkan... ]
[ Dalam kasusnya, bahkan akupun tidak bisa berbuat banyak ]
Asrama Perempuan Akademi Mackenzie
Kamar 312
Tubuh Rubylia Arsilla yang pingsan di lantai dan tubuh Michael, Arc-Angel yang terbaring di kasur, keduanya mulai memudar dan menjadi sedikit transparan hingga akhirnya berubah sepenuhnya menjadi bunga-bunga dandelion yang terbang mengitari kamar. Pakaian mereka tergeletak begitu saja disana, hanya tubuh yang menjadi bunga-bunga dandelion lah yang menghilang.
Pusaran bunga dandelion dengan jumlah yang banyak itu semakin dan semakin kencang. Anehnya dengan pusaran angin dan dandelion sekencang itu, barang-barang didalam kamar sama sekali tidak menjadi berantakan seolah tidak terpengaruh pusaran itu.
Setelah memutar selama satu menit, pusaran dandelion tersebut mendobrak jendela dan terbang keluar, menghiasi langit malam layaknya salju yang berjatuhan. Nampak seorang gadis cantik berbalutkan selendang putih polos berdiri di ujung pusaran itu. Begitu bunga dandelion terakhir meninggalkan kamar keluar jendela, mata sang gadis yang berdiri diam di depan jendela mulai terbuka.
Penampilan gadis itu begitu mempesona. Kulit putih kemerahan di seluruh tubuhnya sangat lembut dan halus. Rambut biru langit panjang yang menutupi punggungnya terlihat menawan. Tinggi dan tubuhnyapun proposional untuk gadis seusianya. Tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Sayap putih bersih tanpa noda yang menempel di punggungnya menambah keindahan gadis itu.
Wajahnya tidak perlu dipertanyakan. Mata merahnya bersinar layaknya permata yang memantulkan cahaya bulan. Bibir merah mudanya begitu ranum nan lembut. Alisnya sangat simetri dan rapi. Lalu ada sebuah tanda sederhana berbentuk sayap kembar keemasan di keningnya. Jika orang-orang disuruh memberikan komentar terkait penampilannya, maka satu-satunya komentar yang cocok dengan dirinya adalah
[ Kecantikan Yang Tidak Manusiawi ]
Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya bagai dibentuk khusus dengan sangat hati-hati oleh sang Dewi. Kecantikannya setara dengan para Arc-Angel yang memang di ciptakan khusus oleh Sang Dewi. Bahkan tidak heran kalau orang-orang akan langsung mengira gadis itu sebagai Arc-Angel yang baru.
"......"
Gadis itu menatap pantulan dirinya di kaca jendela tanpa ekspresi.
Seakan mencoba menyesuaikan diri dengan tubuhnya sendiri, gadis itu menggerakkan jari-jari tangannya tepat didepan mata.
Perlahan, tanda di kening gadis itu memudar hingga menghilang sepenuhnya. Bersamaan dengan itu, sayapnya juga kembali kedalam ketiadaan.
"......."
Gadis itu diam saja setelah menggantung kembali tangannya. Dia diam, memadang bulan yang bersinar dengan warna yang sama dengan sayapnya.
"...Jadi... itulah alasan aku ragu mengatakan semuanya pada aku yang lainnya..." gumam gadis itu pelan.
TAP TAP TAP TAP
KRIEEETTTT
"MIKA!!!!!!!!"
Jeritan orang-orang yang datang mendadak langsung menggema ke penjuru ruangan. Gadis itu tidak bergeming dari posisinya. Semua karena dia tau pasti siapa pemilik suara itu dan alasan mereka mendatangi kamarnya begitu tiba-tiba dengan penuh kepanikan.
"Sudah datang, ya... kakak."