The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 104 [ Ruby dan Gadis Misterius ]



Kekaisaran Levana, Mansion Keluarga Arsilla


Di Waktu Yang Sama Saat Mika Bertemu Yue


Kesunyian malam hari yang dingin adalah satu-satunya yang menemani Ruby, sang gadis vampir. Gelapnya ruangan membuat kondisi gadis itu tidak terlalu terlihat.


Berkat cahaya bulan yang lewat sesaat, penampilan Ruby mulai terlihat. Dirinya tengah di gantung dengan rantai di kedua tangannya. Ujung dari rantai itu cukup tinggi, hingga kaki Ruby tidak menapak permukaan.


Kondisi gadis vampir itu sangat memprihatinkan. Bahkan untuk seorang vampir sekalipun, jika dia tidak diberi darah dalam jangka waktu lama, pemulihan tubuhnya akan melambat. Di kulit putih bersihnya itu, ratusan luka cambuk membekas hingga membuat noda darah menempel di kain lusuh yang menutupi tubuhnya.


Gadis itu sudah hampir berusia 15 tahun, namun tubuhnya terlalu kecil seperti anak berumur 9 tahun. Di kurung di ruangan kecil dibawah tanah, disiksa dengan cambuk setiap hari dan tidak diberi makanan apapun. Bisa-bisanya ada orang yang tega melakukan itu pada anak kecil.


Semenjak ayahnya ikut perang, penyiksaan dari ibu tiri dan adiknya semakin dan semakin parah. Namun semua itu setidaknya masih bisa dibilang manusiawi. Puncak dari penyiksaan itu adalah saat sang ayah tidak bisa pulang meski perang sudah selesai karena penelitian dan perancangan tentang raja iblis di menara sihir.


Sang ibu yang tidak tahan lagi mulai menyiksa Ruby sebagai bahan pelampiasan. Siksaan itu tidak berhenti dan semakin menjadi seiring berjalannya waktu. Tentu saja semua pelayan yang sudah lama bekerja disana mencoba menghentikan nyonya Arsilla, namun karena itu... sekarang tak ada lagi pelayan lama Keluarga Arsilla di kediaman itu.


Hanya karena fakta bahwa vampir adalah ras yang mendekati keabadian, dimana mereka tidak akan mati selama tidak dibunuh dengan cara khusus, sang ibu tidak mempedulikan luka dan penderitaan anak tirinya itu selama dia tidak mati.


Berkat itu, sekarang hati Ruby benar-benar mati. Tentu ada kalanya dia merasa sangat marah dan ingin balas dendam, terutama saat pelayan pribadinya dibunuh didepannya hanya karena memberinya sepotong roti. Namun karena kontrak sialan keluarga Arsilla dan keluarga Kekaisaran, dia tidak bisa berkutik.


Dia sudah di tahap dimana dia menyerah dengan semuanya. Satu-satunya alasan dia tidak bunuh diri dan mencoba tetap hidup adalah karena janji yang dia buat dengan tunangannya.


Namun...


"Ah... sepertinya aku... tidak bisa memenuhi janji itu..." batin Ruby.


"Maafkan aku... Aqua..."


Mata Ruby terlihat seperti ikan mati, dia memandang cahaya yang masuk lewat celah-celah ventilasi kecil di atasnya.


Gadis itu sangat mengetahui kondisinya. Bisa bertahan sampai sekarang saja sudah suatu keajaiban. Sekarang kondisinya sudah terlalu parah, lukanya terus mengalir keluar. Pemulihannya saat ini bahkan lebih lambat dari manusia biasa.


Sebenarnya sudah berapa lama dia tidak makan? Baik makanan manusia maupun vampir.


Dirinya sendiri tidak mengingat itu. Mungkin sudah beberapa bulan.


Mata Ruby semakin berat. Dia sudah tidak bisa mempertahankan kesadarannya saat ini. Gadis itu telah berada di ambang hidup dan mati.


[ ..... doh!!! ]


Begitu mata itu mulai menutup, gadis itu seolah mendengar sesuatu dari dalam dirinya.


"Siapa...?"


[ ...... rah bodoh!!! ]


Suara itu terdengar semakin kencang. Rasanya bagai asal suara itu mulai mendekat entah darimana.


Dalam pikiran Ruby, dunia hanya berwarna hitam gelap dan ditengah-tengah itu ada seorang gadis kecil berambut pirang sedang duduk murung sambil memeluk kakinya. Asal suara yang muncul tadi seperti cahaya yang mulai mendekat ke arahnya.


[ Jangan menyerah bodoh!!! ]


"!"


Ruby bisa mendengar suara itu dengan jelas sekarang. Gadis kecil dalam dunia hitam tadi mengadahkan wajahnya, mencoba melihat asal suara itu.


Dalam pengelihatannya, cahaya putih terang menyebar dengan cepat hingga membuat dunia hitamnya berubah menjadi ladang bunga luas tepat dibawah langit biru. Gadis itu terpesona melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya itu.


TAP TAP TAP


Langkah ringan terdengar dibelakangnya, Ruby dengan cepat menoleh ke belakang. Mata yang terlihat lebih hidup itu membelalak kaget.



(Sauce: EB+ on Pixiv)


Seorang gadis yang terlihat sedikit lebih tua darinya berdiri di hadapannya dengan ekspresi kesal. Rambut dan mata gadis itu hitam pekat seperti malam, namun itu terlihat bersinar dan berseri-seri lebih dari apapun.


Ruby terdiam di tempat, dia merasa pernah melihat gadis itu sebelumnya. Tapi dengan penampilan semencolok itu, tak mungkin Ruby tidak mengingatnya.


"Kamu... siapa?" tanya Ruby penasaran.


Gadis itu mengeluarkan sebuah senyuman manis di wajahnya.


[ Bisa dibilang 10% dari dirimu yang asli! ] jawabnya riang.


Ruby tidak tau apa yang gadis itu bicarakan. 10% dari dirinya yang asli? Hal gila macam apa itu?


[ Sejujurnya aku menunggu jiwaku bersatu sampai 90% baru aku akan melengkapi potongan terakhir puzzle-nya... ] keluh gadis itu sambil berjalan mengitari Ruby.


[ Tapi kayaknya kalau aku diam aja... bisa-bisa 30% ini bakal ketemu sama ibu duluan. Itu bisa memperumit hidup kami nanti ]


"Dari tadi apa yang dia bicarakan?" curiga Ruby.


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil menyentuh dahinya.


[ Ha~ahh... apa yang harus kulakukan padamu? ]


Ruby mengernyitkan dahinya.


"Bisa jelaskan sesuatu padaku?"


[ Hmm? ]


Gadis didepannya ikut terdiam. Dia memandangi Ruby lekat-lekat sampai Ruby tidak nyaman.


"Ke-kenapa?" tanya Ruby mulai takut.


[ Hmm... aku tau! Begitu saja!! Benar juga... meski aku gak bisa mengirim semua informasi yang aku tau, tapi kalau cuma ingatan kehidupan ke-5 mungkin bisa! ] seru gadis itu tiba-tiba.


"????"


Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby. Ruby agak merinding, dia mundur sedikit. Namun gadis itu menahan kepalanya. Wajahnya mulai maju tanpa mempedulikan reaksi Ruby. Dia menempelkan kedua dahi mereka hingga menyatu sempurna.


"????????"


Dari dahi itu, keluar cahaya emas yang sangat menyilaukan. Mata Ruby tertutup dengan sendirinya, meski ini hanya alam bawah sadar, dia tidak bisa mengendalikan apapun disana sesukanya. Tubuhnya bahkan beraksi sendiri seperti di dunia nyata.


[ Ini hanya 1% dari 10% bagian jiwa yang membawa informasi masa lalu. Tapi itu harusnya cukup untuk sekarang ]


[ Rubylia Arsilla... jangan pernah berpikir bahwa kamu diizinkan untuk mati. Nyawamu bukan milikmu sendiri. Ingatlah bahwa ada alasan kenapa kamu hidup di dunia ini pada saat ini ]


"?????????"


[ Kalau begitu... sampai jumpa lagi saat kamu sudah lebih sempurna... meski yah... kamu tidak akan mengingat apa yang terjadi disini ]


Tubuh Ruby seolah tertarik dengan cepat, menjauh dari ladang bunga dan gadis berambut hitam itu. Gadis itu terus melambaikan tangannya pada Ruby.


"Tu-tunggu!!" jerit Ruby.


[ Aku akan selalu berada alam pertigaan... menanti untuk kembali menjadi diriku yang seutuhnya ]


[ Selama itu... Aku titipkan kakak pada kalian... ]


.


.


.


.


.


.


.


CRIIINGGGGGGGGGG


Mata Ruby yang terlihat mati sebelumnya mengeluarkan cahaya emas yang sangat menyilaukan.


Mata merah permata gadis itu terbuka. Penampakannya sangat berbeda sekarang. Mata merah permata yang sama itu sekarang memancarkan sinar kehidupan yang membara. Ada sedikit perubahan dimatanya. Sebuah simbol (➕) berwarna emas menempel dengan indah di mata merah permata itu.


Tidak tau apakah simbol itu muncul berkat gadis misterius tadi atau karena alasan lain.


Namun yang membuat Ruby menjadi sangat berbeda dari sebelumnya bukan karena perubahan pada matanya.


"Ini... dimana?" gumam gadis itu.