
"Tidak ada yang tertinggal?" tanya Recho tua.
Pietro menggelengkan kepalanya sambil menangis agak deras. Matanya merah dan sedikit bengkak sekarang. Didepan mereka, para warga desa Rocco sedang mengantar kepergian mereka.
"Ini menyedihkan... para dwarf sedih karena kepergian Mika dan Aqua yang sangat membantu mereka sebulan ini. Tapi mereka tidak peduli kalau Pietro juga ikut pergi," kesal Eli.
"Padahal biar bagaimanapun dia juga anak desa ini."
Aqua menyadari kekesalan Eli. Nyatanya dirinya dan Mika juga merasakan hal yang sama. Di antara para dwarf itu, hanya Recho tua yang benar-benar mencemaskan dan mempedulikan kepergian Pietro.
"Terimakasih untuk semuanya selama sebulan ini. Kami tidak akan melupakan kebaikan warga desa," ucap Aqua ramah.
"Ahahahaha, jangan kaku begitu. Kamu dan kekasihmu juga sudah banyak membantu kami!!" puji Ghor tua yang mengantar party Aqua dulu.
"Tidak, dibandingkan bantuan warga desa dan Tuan Recho, kami tidak begitu membantu."
Mika memang menyangkalnya sekarang. Namun bukan berarti gadis itu sungguh-sungguh sedang merendah. Dia hanya merasa, mendapatkan hati para dwarf akan menguntungkan.
Faktanya bantuan yang diberikan Aqua dan Mika untuk desa itu memang cukup besar. Aqua membantu para dwarf mendapatkan bahan dan material dari luar desa dan membantu mereka menyelesaikan pekerjaan berat pula. Sedangkan Mika memberikan hal-hal yang diinginkan para wanita manapun yang tak bisa mereka dapatkan di desa (kecantikan). Karena kegigihan mereka, Aqua dan Mika sangat disukai warga desa Rocco.
Bahkan sebagai balas budi, para dwarf membuatkan peralatan dan item untuk mereka. Salah satunya adalah armor baru yang tipis dan terlihat seperti jubah biasa dengan desain keren. Sebagai catatan, dari dulu keluar dungeon sampai sekarang, Mika masih memakai maskernya, hanya saat-saat tertentu seperti makan dan saja dia melepasnya, itupun ditutup-tutupi. Itu semua karena kecantikan Arc-Angel terlalu berbahaya.
Para dwarf wanita mengerumuni Mika, meminta gadis itu untuk tinggal lebih lama.
"Maafkan aku, tapi kami masih memiliki hal yang harus segera kami selesaikan. Kami akan mampir lagi kapan-kapan," tolak Mika.
"Itu sayang sekali... apa boleh buat kalau begitu, setidaknya terima ini!"
Salah satu dwarf wanita menyerahkan sebuah kantung pada Mika.
"?"
"Terimakasih..."
Mika menerimanya tanpa membuka. Karena saat Mika hendak membukanya, tangannya terhalangi tangan dwarf wanita lain.
Dalam pandangan Aqua, sudah tak ada lagi yang perlu ia dan temannya bicarakan lagi. Matahari juga sudah mulai naik, tak ada alasan lagi bagi mereka menetap disana lebih lama.
"Sudah saatnya. Kami pergi dulu!"
Semua dwarf didepan mereka melambaikan tangan, mengantar kepergian mereka dengan sikap ramah.
"Hati-hati dijalan!!!"
"Terimakasih semuanya!!!!!!" jerit mereka bersamaan.
Setelah Aqua dan yang lainnya tidak terlihat lagi di desa Rocco, barulah Recho tua menitikkan air mata. Biar bagaimanapun Pietro itu, dia adalah putra tunggalnya, tidak mungkin dia tidak sedih saat putranya meninggalkan dirinya. Dia hanya bersikap tegar saja.
Memahami perasaan Recho tua, Ghor tua menepuk-nepuk punggungnya.
"Bocah itu akan kembali nanti. Dan begitu dia kembali, namanya pasti akan besar!" hiburnya dengan senyum lebar.
"Berisik, Ghor tua! Aku tidak peduli padanya!" sanggah Recho tua menepis tangan Ghor tua dan berbalik kembali kerumahnya.
Ghor tua menatap tingkah Recho tua itu dengan mata kesal.
"Dasar pak tua sialan ini..." tawa dwarf itu.
...***...
Beberapa hari berlalu sejak mereka meninggalkan Desa Rocco. Dalam perjalanan, Aqua mengajari Pietro menggunakan sihir. Karena penggunaan sihir terbilang tabu untuk dwarf, awalnya Pietro sangat menolak. Namun Aqua berhasil meyakinkan dirinya.
"Aku tidak akan memaksamu. Pilihlah! Terus menempa tubuhmu sampai cukup kuat untuk mengangkat palu entah butuh berapa lama, mungkin saja saat itu terjadi usiamu sudah terlalu tua. Atau berlatih sihir bersamaku dan gunakan sisa waktunya untuk mengembangkan skill menempamu. Pilihan ada di tanganmu sendiri."
Itulah yang Aqua katakan saat dirinya menyakinkan Pietro.
Petro memutuskan untuk menantang dirinya keluar dari zona aman para dwarf. Toh dari awal dia memang sudah berbeda, apa salahnya jadi tambah berbeda?
Sihir elemen yang diajarkan Aqua hanyalah elemen tanah, karena berkah elemen yang dimiliki Pietro hanya tanah. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Pietro gunakan. Aqua juga mengajari Pietro menggunakan sihir penguatan. Berkat itu, Pietro menjadi cukup kuat untuk mengangkat palu seberat 1 ton yang biasa digunakan ayah dan kakeknya.
Tanpa diduga, ternyata Pietro jauh lebih berbakat daripada ayah dan kakeknya. Dia bisa langsung menggunakan teknik-teknik tingkat tinggi yang sulit dilakukan dwarf lain hanya dari melihat ayahnya menempa sehari-hari.
Satu-satunya alasan kenapa Pietro dibilang tidak berbakat dan tidak bisa menempa hanya karena dirinya tidak cukup kuat untuk mengangkat palu. Masalah itu terselesaikan begitu saja hanya karena Pietro belajar sihir.
Para dwarf pasti akan pingsan mendengarnya.
Yah... meski dari awal Aqua memang tau tentang itu. Begitu pula dengan Mika dan Eli yang punya firasat tentang itu. Mereka bertiga bertingkah seolah tidak tau apapun dan terkejut dengan bakat Pietro, mereka juga memujinya dan menyebut anak itu jenius.
Karena semua itu... untuk Aqua yang memberinya kebebasan dan kesempatan, serta untuk Mika dan Eli yang mendukungnya sepenuh hati, Pietro menjanjikan kesetiaannya sebagai rekan, sahabat, keluarga dan bawahan sekaligus. Dirinya berjanji pada langit bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati ketiga penyelamat dirinya itu.
Begitulah, Aqua mendapatkan satu lagi rekan yang bisa dipercaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Tak Jauh dari Kota Aranyu )
"Hei... kapan anggota lainnya sampai? Ini sudah 6 hari sejak kita tinggal di dekat Kota Aranyu, loh..." keluh Eli sambil tiduran di sofa.
Seperti yang Eli katakan, Aqua dan yang lainnya sudah tinggal di dekat Kota Aranyu selama 6 hari. Jika ditambah waktu perjalanan, sudah 8 hari mereka pergi dari Desa Rocco.
"Apa kau benci hari yang damai seperti ini?" tanya Mika sambil memakan camilan dan minum teh.
"Bukannya benci sih... tapi aku bosan~"
"Ha~ahh... berhenti mengeluh. Bukankah secara mental kamu yang paling dewasa disini?" sindir Aqua.
"Secara mental, huh... aku ini masih 14 tahun! Dan karena aku abadi... aku tidak akan pernah menua~" elak Eli.
"Tidak menua bukan berarti tidak dewasa. Dasar makhluk satu ini..."
"Cih..."
Selama 4 hari ini, tidak banyak hal yang mereka lakukan. Aqua mengajari Pietro dari pagi sampai sore, Mika dan Eli juga terkadang membantu. Kalau sedang tidak mengajar, mereka akan jalan-jalan dan bermain di kota. Tapi karena tempat ini adalah kota perdagangan, hiburan yang diberikan kebanyakan hanya berhubungan dengan perdagangan atau pelelangan saja.
Jadi mau tidak mau, mereka hanya bisa bersantai di dalam pondok. Tapi yah... sebenarnya Eli tidak sebosan itu. Ada komik dari Jepang, Korea dan Cina yang Mika cetak ulang dari ingatan Aqua. Dia hanya benci menunggu saja.
Mika meletakkan cangkir tehnya perlahan.
"Tapi Eli ada benarnya... bukankah teman-temanmu sedikit terlambat? Ini sudah tanggal 3. Waktu janjinya, kan tanggal 2!"
"Tidakkah itu terlalu kejam? Waktu bepergian antar benua memakan waktu cukup lama, kan? Aku tau karena ayah pernah pergi," timpal Pietro yang sedang main catur dengan Aqua.
Aqua menggerakkan bidak caturnya ke kolom lain.
"Tidak. Yang kita bicarakan itu mereka. Seminggu sudah cukup."
"?"
Mika mengangguk, dia berjalan ke arah Aqua dan Pietro dengan anggunnya. Gadis itu duduk didepan papan catur agar bisa melihatnya dengan jelas.
"Benar... kalau sebatas itu saja tidak bisa, kelayakan mereka di Raven perlu dipertanyakan."
"Oi, oi, oi! Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi kamu sudah melukai hatiku dengan kata-kata kejammu. Sangat mirip dengan bocah iblis itu, ya..."
"!"
Sebuah suara yang sudah lama tidak Aqua dengar sekarang bergema di telinganya. Suara serak-serak basah yang semakin maskulin itu mendekat ke mereka.
"Tolong maafkan kami, ada sedikit kecelakaan di perjalanan..."
"Kakak benar! Siapa sangka kami akan bertemu bajak laut yang cukup merepotkan..."
Kali ini suara kakak perempuan yang khas terdengar bergiliran. Yang pertama terkesan lembut dan dewasa, yang kedua terkesan jail dan menggoda.
Eli dengan cepat bangun dari kasur dan merapikan dirinya. Pietro juga langsung duduk tegak karena gugup. Berbeda dengan Aqua dan Mika yang hanya tersenyum sambil tetap memandang papan catur.
"Lama tak jumpa," kata Aqua singkat namun terdengar hangat.
Seorang remaja laki-laki 16 tahun dan sepasang wanita kembar bertelinga serigala muncul dari balik pintu. Mereka terlihat sedikit berbeda dari yang Aqua tau. Tapi apapun itu, mereka tetap mereka, sebanyak apapun perubahannya.
"Benar, lama tak jumpa..." senyum mereka tulus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Untuk merayakan 200k popularitas, author mau update 2 langsung!! Sebenarnya pingen 3 langsung, tapi ya... gitu deh. Nanti tabungan chapter habis dan justru malah Hiatus :v ]
[ Terimakasih banyak untuk dukungan kalian semua!!!! I Love You All!!! (ʃƪ^3^)]