The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 138 [ Maaf!? Kau Pikir Itu Cukup!? ]



Pesta telah diselesaikan secara paksa. Setelah dansa terakhir berlalu, Kaisar segera menutup pesta dengan baik. Para bangsawan yang ketakutan tidak menyanggah dan justru melarikan diri setelah itu terjadi.


Tidak heran jika mereka seperti itu. Kebanyakan bangsawan adalah orang tidak tau malu yang menindas yang lemah dan menjilat yang kuat. Beberapa tidak demikian, namun tetap pergi dengan tenang demi menghargai privasi kekaisaran.


Hanya 2 keluarga yang tetap disana. Keluarga itu adalah Keluarga Ksatria Kekaisaran, Algera dan Keluarga Penyihir Kekaisaran, Demifa.


Duke Algera dan 3 anaknya ( 2 putra 1 putri ) segera menjaga keamanan dengan baik meski mereka tidak sedang bertugas. Sepertinya keluarga itu memang membawa pedang kemana-mana.


Begitu pula Count Demifa dan 4 anaknya ( 2 putra 2 putri ) yang bersiap dengan sihir mereka untuk kemungkinan terburuk. Kedua keluarga ini sebenarnya tidak begitu akur karena situasi politik. Hubungan mereka juga tambah buruk karena kedua putri dari keluarga itu. Putri Keluarga Demifa menjadi Ratu Sebelumnya dan Putri Keluarga Algera adalah Ratu saat ini.


Namun mereka tetap bangsawan kekaisaran yang harus bekerja sama demi melindungi kekaisaran.


Meski mereka juga tau. Kalau Ashlan turun tangan, kedua keluarga itu bisa hancur dalam sekejap.


"Ayahanda, apakah... kita bisa saja menimbulkan perang dengan Kerajaan Vittacelar?" tanya Hyveno Demifa pada ayahnya.


( Kalau bahasa Jepang, Hyveno memanggil ayahnya "Sichiue" berbeda dengan anak Turquoise yang memanggil dirinya "Otou-sama" )


Count Demifa melirik putra bungsunya sejenak.


"Aku tidak tau. Semoga saja yang didalam bisa mengakhirinya baik-baik."


Seperti yang bisa diketahui dari jawaban Count Demifa, saat ini kedua keluarga ini tengah melindungi ruang diskusi yang diisi orang-orang penting dari luar. Didalam ruangan itu ada Kaisar, Permaisuri, Putra Mahkota, Machioness, Nedura, Ruby, Ashlan dan Aqua yang duduk melingkar di meja bundar.


Saat Ini Didalam Ruangan Itu


Aqua POV


Aku terlalu berlebihan. Kalau Master tidak menghentikanku... aku tidak tau apa yang akan terjadi.


Sebenarnya ada apa dengan diriku? Ini bukan seperti aku sampai tidak bisa mengendalikan diri seperti itu.


Tadi saat melihat bekas lukanya... kenapa... rasanya seperti Tiara yang dilukai seperti itu?


Aku tau mereka bertiga memang reinkarnasi Tiara. Tapi... ini sedikit berbeda... gadis ini yang sekarang... bukan mengingatkanku pada Tiara. Rasanya seperti dia memang Tiara itu sendiri.


"Saya minta maaf karena tindakan saya yang terbawa emosi tadi. Saya harap kebesaran hati Kaisar dapat memaafkan saya," ucapku tidak tulus.


"Tidak, aku paham alasanmu bertindak begitu. Kalau tunanganku mengalami hal yang sama tanpa sepengetahuanku, aku juga akan melakukannya," jawab Kaisar sama tidak tulusnya.


Aku tidak bodoh. Mana mungkin Kaisar yang berhati dingin ini akan marah karena alasan itu. Pasti ada alasan lain seperti tidak ingin nama baiknya tercoret atau semacamnya. Kecuali kalau yang terlibat adalah ibuku.


Sekarang aku memikirkannya, apa si Kaisar ini benar-benar lambat? Meski mata kiriku tertutup poni dan rambutku perak, tapi wajahku adalah jiplakan ibuku. Dia benar-benar tidak ada kecurigaan? Yah, itu justru menguntungkanku.


Situasi menegang. Tidak ada lagi yang menyeruakan pendapat. Semua yang mereka pikirkan cukup bisa kubaca. Tidak, mungkin tidak semua. Aku masih tidak tau apa yang Permaisuri pikirkan.


Saat aku melirik master, dia hanya senyum-senyum menikmati situasi ini. Sedangkan Ruby disebelahku tetap tenang seperti sudah menduga ini akan terjadi.


"Langsung saja. Apa yang membuat tunanganku sampai seperti ini?" tanyaku dingin.


Tidak perlu memberi kehangatan dan kesopanan pada makhluk yang tega melakukan ini pada anak-anak.


"Apa? Bukan siapa?" batin Putra Mahkota.


Kaisar menatapku seolah ada yang ingin dia katakan. Sepertinya dia ragu mengatakan jawabannya karena pelakunya adalah orang yang dia kenal. Dan sepertinya aku tau siapa.


Melihat eskpresi Machioness dan Nedura begitu gugup dan ketakutan.


"Aku yakin kita semua disini sudah tau siapa pelakunya. Tapi semua orang menunggu sang pelaku menunjukkan diri? Lucunya."


Master tiba-tiba mengatakan itu untuk melihat reaksi Machioness dan Nedura.


Sebuah dokumen Master keluarkan entah darimana, mungkin dari semacam inventory milikku.


"Jangan terlalu lama menyita waktuku. Masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan di menara sihir."


"Baca ini! Sumbernya dari Guild Informasi langsung. Jadi bisa dipercaya," lanjutnya.


Kopian Dokumen itu telah disebar untuk setiap orang di meja. Guild informasi... harusnya kalian memberikan informasi ini lebih dulu padaku.


Aku membacanya dengan seksama. Isi dokumen itu benar-benar tidak masuk akal. Perasaanku yang mulai tenang langsung beriak lagi.


"Apa-apaan ini?! Apa ini benar!?" ucapku sangat marah.


Semua hal di dokumen ini adalah apa yang terjadi pada Ruby sejak ayahnya pergi perang. Semua siksaan yang dilakukan ditulis rapi tanpa melewatkan detail-detail kecil sedikitpun. Bagaimana bisa gadis yang bahkan belum dewasa sepertinya harus mengalami semua ini!?


Ini bahkan bukan kisah Cinderella!!!


Normal POV


Aqua berusaha menahannya sebisa mungkin agar aura membunuhnya tidak keluar. Tapi hanya dengan sedikit bocoran, Machioness dan Nedura sudah sangat merinding ketakutan. Kaisar dan Putra Mahkota memandang mereka berdua tidak percaya.


Kaisar memijat keningnya yang mengerut.


"Haahhhh!! Apakah semua ini benar Estifa!!?"


Sepertinya Kaisar juga sangat marah saat membacanya. Machioness tersentak dengan wajah ketakutan seolah meminta pertolongan.


"Kakak!! Ada yang memfitnahku!! Apa kakak pikir, aku bisa melakukan hal seperti ini!?" sanggah Machioness.


Sungguh bodoh bagaimana dia mengelak. Tindakannya sama saja dengan meragukan informasi dari Guild Informasi yang notabenenya adalah pusat dari semua informasi di dunia.


Wajah Kaisar selalu terlihat tenang, tapi kali ini dia benar-benar murka.


"SEKALI LAGI AKU TANYA! APA BENAR KAU MELAKUKAN INI!!?"


"!!!"


Machioness dan Kaisar cukup dekat. Karena dia adalah adik kandung Kaisar satu-satunya yang selamat saat Kaisar membantai semua saudaranya dulu. Jangankan menyakitinya, Kaisar saja tidak pernah membentaknya. Tapi sekarang?


Meski agak ragu, Machioness yang sudah terpojok mengangguk pelan. Dia berharap dengan dirinya mengaku dan minta maaf, Kaisar akan melindunginya seperti biasa. Nedura yang sama terpojok nya mengikuti sang ibu dan terus meminta maaf.


Putra Mahkota yang melihat kelakuan tunangannya yang melewati batas tidak menggubris gadis itu meski dia sudah putus asa.


Kaisar tidak goyah. Dia tau perbuatan adiknya bisa menimbulkan perang. Sekarang yang paling harus dia lakukan adalah menenangkan Pangeran Vittacelar.


"Tolong maafkan tindakan adik saya. Saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk menghukumnya."


Pangeran Aquamarine hanya melihatnya dingin.


"Maaf? Setelah semua siksaan yang mereka berikan pada tunangan saya, anda bilang maaf?"


"Apa anda pikir itu bisa mengembalikan semuanya seperti semula?" tanya Aqua penuh niat membunuh.


"Apa anda tau betapa saya menahan diri untuk tidak meledakkan tempat ini sekarang juga!?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus~


Sementara itu, Ashlan dan Permaisuri


"Tontonan kita mulai memasuki klim*ks! Punya cemilan?" tanya Ashlan bersemangat.


"Ahh, aku harusnya tadi bawa pop c*rn! Sial, kalau tau akan semenarik ini!" keluh Permaisuri.