The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 160 [ Rekan Dagang Raven ]



AQUA POV


Aku menolong mereka hanya karena kupikir mempunyai koneksi dengan Guild Perdagangan akan berguna untuk Raven. Tapi apa-apaan yang barusan kulihat itu!?


'Golden Light River' katamu!?


Itukan kalung yang selalu dipakai Saintess Citrine Caller El Vittacelar dalam gamenya!


Sekarang memang belum waktunya Kak Rin mendapatkan benda itu. Tapi tetap saja! Seharusnya kalung itu di anugerahkan ke Kak Rin begitu dia lulus dari Akademi, langsung oleh Sang Kaisar. Kenapa kalung itu bisa dijual!!?


Tunggu... jangan bilang ini terjadi karenaku!? Karena aku merubah alur cerita game ini terlalu jauh!? Tapi apa hubungannya dengan kalung itu!??


"Yang Mulia?" tanya sang guild master cemas.


"Kalung itu... siapa yang menjual dan membelinya?" tanyaku.


Aku harus memastikan hal ini. Rasanya ada yang tidak benar disini. Apa kalung itu bisa jadi sesuatu yang bermasalah nantinya?


"Maafkan saya Yang Mulia. Yang dapat saya lakukan hanyalah sebatas menunjukkannya pada Anda. Saya tidak dapat melanggar privasi pelanggan saya," jawabnya jujur.


Hmm... dari kata-katanya, pelanggan... atau orang yang menitipkan benda itu untuk dijual adalah orang yang cukup penting.


Untuk sekarang, mari lihat spesifikasi kalung ini.



Seperti yang diharapkan dari artefak sihir tingkat Legend. Ini benar-benar luar biasa. Tapi syarat penggunaannya cukup merepotkan. Tak heran kakak dapat menggunakannya.


Tapi ini justru membuat semakin banyak tanda tanya.


Siapa orang di dunia ini yang bisa memakai kalung ini selain Kak Rin dan Clelia? Tittle Anak Cahaya itu apa pula?


Sudah dijelaskan dalam game kalau tidak ada seorangpun anak Kaisar yang bisa memakainya. Meski mereka termasuk keturunan sang pahlawan karena pahlawan menikah dengan tuan putri setelah dia dan rekannya mengalahkan raja iblis 500 tahun lalu, tapi tetap saja. Hanya 10% kemungkinan mereka bisa memakainya.


Dan hasilnya tak seorangpun bisa.


Jadi kemungkinan orang yang membeli kalung itu... apa si tittle Anak Cahaya itu? Kemungkinan dia bisa memakainya lebih besar dari yang lain, walau tetap tak sebesar Kak Rin dan Clelia.


"Biarkan aku menebaknya sekali lagi. Orang yang membeli kalung itu adalah seseorang dari Kekaisaran Anessa, bukan? Dan sepertinya yang menjualnya adalah Ratu Kekaisaran Levana. Mengingat Kaisar dan anak-anaknya mustahil melakukan itu."


Pak tua guild master itu membelalakkan matanya sepersekian detik saja sebelum kembali tenang. Melihat reaksinya, apa aku benar?


"..... Mata anda dapat melihat segalanya, huh. Lalu apa yang akan anda lakukan?" senyumnya.


Jadi aku benar.


Pria ini licik juga. Dia tau kalau aku mungkin mengetahui sesuatu dari reaksinya. Atau malah dia sengaja bereaksi seperti itu sebagai kode untuk mengiyakan tebakanku.


Baiklah, harus bagaimana sekarang ya?


"......."


"......."


Oke, begitu saja.


"Kuberi kau 2 penawaran," ucapku membingungkannya.


"Pertama, katakan padaku alasan kalung itu diperjual belikan, lalu aku akan memberimu sebuah tawaran kerja sama untuk projek besar," tawarku dengan senyum licik.


"Bagaimana dengan tawaran kedua?" tanya pria itu tetap tenang.


Hoo... memang pantas jadi Guild master. Dia tidak langsung menolak atau langsung menerima. Para pedagang memang seharusnya melihat untung dan rugi dulu. Sekedar mendengarkanku tak akan merugikan dirinya.


"Kedua, tetap diam saja dan langsung pergi dari hadapanku. Aku akan mencari info itu sendiri dengan bantuan Guild Informasi. Mereka pasti tau info tentang itu. Jika kau memilih tawaran ini, kau akan kehilangan kesempatan kerja sama dalam projek ini saat ini juga."


"Saya tidak mungkin bisa memilih kalau saya sendiri tidak tau projects macam apa itu, bukan?" jawabnya cukup santai.


Hahahahaha, bahkan di situasi seperti ini dia berani bernegosiasi denganku. Jiwa pedagangnya benar-benar hebat. Mungkin aku harus menyuruh Pietro untuk berguru padanya nanti.


Kujentikkan jariku hingga bersuara. Sesaat kemudian, sebuah barrier kecil mengelilingi kami berdua. Ini hanyalah barrier kedap suara, yang lain juga tau itu dari aliran mananya. Makanya meski mereka sempat terkejut, mereka tidak melakukan apapun yang menunjukkan perlawanan. Mereka justru pergi sedikit menjauh karena paham bahwa pembicaraan kami kedepannya akan bersifat rahasia penting.


"Aku hanya mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik!" ucapku.


"Tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Mata dan telinga adalah senjata pedagang. Mereka sudah siap sebelum memulai pertarungan," jawabnya penuh keyakinan.


Bagus, mari kita mulai perang kata-kata ini.


NORMAL POV


Setelah puluhan menit berlalu, barrier yang mengelilingi Adam sang Guild master dan Citrine sang putri Elf mulai memudar. Dapat dilihat bahwa percakapan mereka telah berakhir. Keduanya keluar dengan perasaan puas. Melihat itu, anak-anak Adam segera berlari menghampiri ayahnya.


"Senang dapat berbisnis dengan anda, Yang Mulia. Saya akan menangani ini sendiri setelah saya menyelesaikan bisnis saya yang ini," ucap Adam dengan sopannya.


Citrine mengangguk, "Aku akan menantikannya."


"Saya yakin keuntungan yang akan didapatkan dari project ini akan sangat besar. Apa tidak masalah memberikan saham pada saya?"


"Tidak masalah, justru besarnya keberhasilan projects ini akan bergantung padamu. 2% saham adalah biaya yang kecil untuk itu. Karena kita sudah terikat kontrak, jangan berani-berani kamu melarikan diri nanti."


"Hahahaha, jangan khawatir Yang Mulia. Saya tidak akan melarikan diri. Seorang pedagang tidak mungkin melarikan diri dari uang, bukan?"


"Bagus kalau begitu. Aku akan mengirim rekanku untuk membahas detailnya 1 Minggu lagi di Guild Perdagangan. Ingat, yang mengikatmu dalam kontrak bukan hanya perjanjian bisnis tapi-"


"Tapi juga kerahasiaan informasi apapun yang berhubungan dengan projects ini, kan? Jangan khawatir tentang itu. Bahkan tanpa kontrak, saya tidak akan membocorkan informasi super rahasia tentang formula produk dan identitas mitra saya," potong Adam percaya diri.


Citrine sedikit dibuat terkejut, tak lama dia kembali tersenyum, senyuman bisnis. "Baiklah, aku akan membiarkanmu dan dia (rekanku) menanganinya mulai dari sini."


"Kunantikan hasil yang memuaskan."


"Baik, Yang Mulia."


Karena tujuannya sudah tercapai, Citrine segera pergi meninggalkan tempat itu. Tentu orang-orang disana tak membiarkannya pergi semudah itu. Anak-anak terus merengek agar dirinya bisa bersama mereka sedikit lebih lama dan para tentara bayaran diam-diam mengeluarkan tatapan memohon yang sama. Berkat Adam yang meyakinkan merekalah, dirinya bisa kembali terbang tuk kembali ke Akademi Mackenzie.


Dan saat ini, di langit senja berwarna keemasan, seorang putri cantik dari ras Elf itu memasang kembali ekspresi dingin dan seriusnya. Dirinya mengingat kembali negosiasi kala itu.


"Kalung ini di hadiahkan Kaisar untuk Ratu pada saat hari jadi pernikahan mereka. Dari luar memang seperti hadiah yang romantis. Namun memiliki arti tersembunyi dalam politik. Kalung ini menjadi simbol peringatan Kaisar pada Ratu untuk tidak menyentuh Putra Mahkota dan Kerajaan Vittacelar."


"Tentu saja alasan demi Putra Mahkota sudah jelas. Namun untuk apa Kaisar juga melarang Ratu untuk menyentuh Kerajaan para Elf itu? Banyak rumor yang mengatakan, kalau cinta pertama Kaisar adalah seorang elf. Dan mereka memiliki seorang anak yang sampai saat ini keberadaannya tidak diketahui. Pada bagian ini, saya tidak yakin apakah rumornya benar atau tidak, namun kalau anak itu laki-laki, dikatakan bahwa kedudukannya akan dibuat lebih tinggi dari Putra Mahkota."


"Ratu yang tidak senang akan hal itu mencoba menghancurkan kalung ini dengan segala cara. Namun tak peduli cara apapun yang digunakannya, kalung ini bahkan tidak tergores. Pada saat itulah, seseorang menawar untuk membeli kalung ini dengan harga tinggi."


"Tidak peduli dengan Kaisar dan tanggung jawab menjaga kalung, sang ratu setuju menjualnya karena dia ingin segera menyingkirkan kalung ini. Apalagi karena yang membeli kalung ini dipikirnya dapat dipercaya sebagai penjaga baru kalung."


"Saya tidak tau detail siapa yang membelinya. Namun satu hal yang saya tau pasti. Tempat yang tuju, sekaligus lokasi pembeli itu adalah Ibukota Kekaisaran Anessa. Dengan kata lain, pembelinya kemungkinan adalah petinggi Kekaisaran Anessa, bahkan Para katedral atau Yang Mulia Paus tak luput dari itu."


"Kelihatannya mereka tidak membeli kalung ini untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk seseorang. Hanya itu yang saya ketahui, Yang Mulia."


Bayang-bayang perkataan dari Guild Master Guild Perdagangan itu terlintas di kepalanya. "Kekaisaran Anessa, huh... semakin didengar, semakin banyak saja hal-hal mencurigakan dari mereka. Aku harus meminta Kak Vira dan Vina untuk fokus menyelidiki mereka nanti."


"Aku juga harus tau untuk siapa kalung itu diberikan nanti."


"Untuk sekarang..."


Citrine tersenyum puas, dia menyibak poninya yang panjang sebelah demi menutupi matanya kirinya itu. Mata emas bersimbol (✡️) yang dari tadi memancarkan cahaya itu kini mulai padam. Pertanda bahwa tadi dirinya menggunakan sebuah skill.


[ Amazed Makes Off ]


Salah satu skill non-fighter tipe psikis yang menyerang mental target. Skill ini termasuk jenis skill charm yang memanfaatkan emosi dan perasaan target. Untuk yang satu ini, emosi itu adalah kekaguman. Semakin kagum target, semakin kuat pula efek skill ini.


"Seharusnya tak peduli sebesar apa keuntungan yang dia dapat, membocorkan informasi dagang seperti itu tidak akan dilakukan pedagang besar yang berbasis pada kepercayaan sepertinya. Pedagang seperti itu pasti menjaga rahasia pelanggan dengan baik meski di ambang kerugian dan berkat kejujurannya, dia jadi bisa sukses."


"Satu-satunya alasan pedagang yang seperti itu bisa jatuh pada godaan dalam negosiasi ini adalah berkat Skill ini. 'Amazed Makes Off' kekaguman membuatmu luluh. Sesuai dengan namanya, karena aku sudah mendapat kepercayaan dan rasa kagumnya, tidak sulit membuatnya goyah pada pendiriannya."


"Aku mendapatkan tangkapan yang bagus hari ini. Bukan hanya informasi penting tentang Kekaisaran Anessa dan Ratu, tapi juga mendapat rekan dagang seorang guild master untuk Raven."


"Sekali mendayung, dua pulau terlampaui."