The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 69 [ Barrier Menyebalkan!!! ]



AQUA POV


Dullahan sekarang ada di dimensi yang berbeda. Tanpa seizin ku, dia tidak akan bisa kembali ke dimensi ini. Sekarang... ayo melakukan hal yang harus kulakukan!


Sekarang sudah tak ada lagi. Sudah tak ada lagi yang menghalangiku untuk menemuinya. Langkah kaki yang semakin lama semakin melaju terhenti di saat kaki ini menaiki tangga altar. Sesuatu tak terlihat membuatku tidak bisa melangkah lebih jauh.


"Ada barrier..."


Rasanya seolah ada tekanan yang menolak apapun memasukinya. Sekedar untuk mencoba, aku mengeluarkan api kecil dari tangan dan menyerang barrier itu miring ke atas. Api yang kutembakkan memantul kembali ke padaku.


Sudah kuduga... kalau di logika, api seharusnya memantul ke atas karena aku menembakkan miring ke atas dari bawah. Tapi karena api memantul ke arahku, artinya barrier ini akan mengembalikan serangan ke asalnya.


Sihir tidak bisa digunakan.


Apa boleh buat, aku harus mengandalkan fisikku saja.


Tangan yang kurentangkan ke depan perlahan mulai memasuki barrier. Rasanya lebih berat daripada tekanan air saat aku bertemu Leviathan. Sihir yang bisa kupakai hanya sihir yang mempengaruhi tubuhku sendiri. Skill yang diberi Leviathan tidak bisa menahan tekanan yang bukan dari air.


Kalau begini...


Tidak ada pilihan lain selain menjadi naga. Perubahan yang terjadi tidak terlalu berbeda daripada saat menjadi "Baby Dragon" namun memang ada perubahan. Beberapa sisik naga mencuat dari tubuhku. Tapi yang paling menonjol adalah sekarang aku punya sayap.


Memang tidak terlalu besar, tapi gara-gara itu pakaianku akan selalu rusak saat berubah wujud.


"Ughhhkkkk..."


Meski sudah bertransformasi, tekanan ini masih sulit ditahan. Seluruh tubuhku rasanya seperti dipaksa keluar dari sana oleh gravitasi horizontal.


Dungeon ini sudah terbentuk kurang lebih sejak Kak Rin mengajakku masuk. Artinya sekitar 8 bulan 22 hari yang lalu atau 266 hari yang lalu. Satu jam didalam sini adalah 1 hari di dunia nyata. Berarti dia sudah ada disini selama 6360 hari, sekitar 17,4 tahun. Dalam waktu itu, dia menghadapi tekanan ini dalam keadaan terluka.


Aku harus... menyelamatkannya...


Kumohon... aku sudah gagal melindungi kakakku. Aku tidak boleh gagal melindungimu juga.


Perlahan-lahan... sedikit demi sedikit... dengan langkah kaki yang berat, sembari terus menggertakkan gigi, aku berusaha lebih dekat denganmu.


Napasku mulai sesak. Sepertinya tekanan bukan hanya mempengaruhi gravitasi, tapi juga udara didalamnya.


Sedikit lagi... tinggal sedikit lagi tanganku berhasil mencapainya.


Dapat!


Aku berhasil memegangi tiang yang mengikatnya. Sekarang aku harus melepasnya...


Aneh... semakin aku mendekati tiang, tekanannya semakin kuat...


"!"


BWWWOOOSSSHHHHH


Ah... sial... tubuhku mencapai batasnya. Aku terlempar tepat setelah tanganku menyentuh tali yang mengikatnya.


BRRRUUUUUUKKKK


"Goghhoookkkk!!!"


Darah keluar dari mulut, hidung dan telingaku.


Seperti hukum ke tiga Newton dimana gaya yang kau berikan akan sama dengan yang diberikan padamu, aku terlempar dengan kecepatan tinggi hingga aku menghantam tebing yang jauh dibelakangku. Saking cepatnya sampai aku tidak sempat beraksi.


Tubuhku gemetaran...


Aku bisa merasakannya... beberapa tulangku patah dan menusuk organ dalamku.


Ini sakit sial*n!!!


[ Full Recovery ]


"Hahh... haahhh... hahh..."


Bahkan dengan transformasi naga dan sihir penguatan, gaya balik yang diberikan barrier itu tetap berhasil melukaiku cukup parah.


Barrier ini... dirancang untuk memberikan tekanan balik sesuai dengan kekuatan orang yang mencoba memasukinya. Dengan kata lain, semakin kuat orangnya, semakin kuat barrier itu melawan.


Tubuhku sudah pulih. Kau kira aku akan menyerah karena alasan konyol seperti itu?! Tidak akan. Apapun rintangannya, aku harus melewatinya.


Sekarang aku tau kalau aku akan terlempar di sudut ini. Maka...


[ Sky's Soft Hug ]


Awan-awan merah muda keunguan berkumpul menjadi satu membentuk sebuah persegi sebesar 10 m di sudut yang kuinginkan. Ini bukanlah sihir serangan yang luar biasa, ini adalah sihir support yang membantuku menahan efek benturan. Sebelum aku menabrak tebing, awan akan menahan tubuhku dengan lembut seperti jatuh ke dalam bantal.


Baiklah, persiapan sudah selesai. Aku harus mencobanya lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa... apa-apaan ini anji*g?!!!!!


Setiap aku berhasil menyentuh tali yang mengikatnya, tidak peduli apapun yang kulakukan, aku selalu terlempar begitu saja.


Sudah berapa kali ini?!!!


BRAKKK


Aku menjatuhkan tubuhku ke pasir pantai karena kelelahan. Kayaknya... ini sudah percobaan ke-74.


"Haa~ah... sial!"


Manaku habis... tubuhku sakit semua... aku juga sudah memakai mode naga terlalu banyak. Untuk saat ini... ayo istirahat dulu...


"Zzzzz zzzzzzzz zzzzzzz zzzzzz."


.


.


.


.


.


Normal POV


Aqua tertidur lelap karena kelelahan. Tanpa Aqua sadari, sepasang mata memperhatikannya.


Mata itu memancarkan aura bingung, rindu dan tenang menjadi satu. Mata cantik berwarna Sapphire yang memiliki titik-titik kecil layaknya bintang terlihat seperti alam semesta ada didalamnya. Sebuah simbol ☮️ berwarna emas terlihat bersinar dimata cantik itu.


Mata itu diam memperhatikan dan memandang saja. Tatapannya terlihat sulit dimengerti. Bahkan mata itu lebih sulit ditebak pikirannya daripada Elvira.


Terkadang mata itu menoleh sekelilingnya, seakan sedang mencari sesuatu.


Mulutnya terbuka, tapi tak lama tertutup lagi. Dia mengemut bibirnya pelan sambil memandang ke bawah.


"Siapa...?"


"Kenapa...?"


Dari tadi dia memikirkan sesuatu yang sulit dimengerti. Dalam keadaan tubuhnya tidak bisa bergerak, hanya mata dan mulutnya saja yang bisa bebas di gerakkannya. Tidak ada rasa sakit. Semua bagian dirinya mati rasa.


Ya... orang yang dari tadi memandangi Aqua dengan mata bermasalah adalah perempuan cantik yang tergantung di altar.


"Dadaku... sakit... Sesak... saat melihat anak itu terluka... rasanya sakit."


Perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Aqua.


"Aku mendengarnya..."


"Aku mendengar semuanya sejak aku merasakan ada makhluk hidup tak dikenal mendekati lantai 100."


"Sebenarnya kenapa... kenapa dia berjuang begitu keras untuk menyelamatkanku...?"


"Sebenarnya kenapa... dadaku terasa sakit melihatnya seperti itu...?"


"Sebenarnya kenapa... rasanya aku ingin berlari menghampirinya dan memeluknya...?"


"Sebenarnya siapa dirimu itu? Dan siapa aku bagimu?"


Ribuan pertanyaan yang timbul di kepalanya tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Rasanya dia sudah mengetahui jawabannya tapi juga tidak mengetahuinya disaat yang bersamaan.


BZZZTTT


"Ukhh..."


Sebuah sengatan listrik sedikit menyengat kepalanya.


"Airellaa!!!!!!!" jerit seorang pria berambut emas platinum.


"Kakakkk!!!!!!!"


Dua tangan yang sebelumnya saling bergandengan terputus dan berusaha saling menggapai. Namun tak peduli apapun yang mereka lakukan, masing-masing tangan itu hanya bisa menjauhi satu sama lain.


"Airella!!!! Tidak peduli dimanapun kau berada, aku akan selalu menemukanmu!!!! Aku janji!!!" jerit sang pria sambil mengeluarkan air mata.


"KAKAKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


"Akhhhhh!!!!!"


Kepala perempuan itu mendadak sangat pusing.


Entah apa alasannya, air matanya mengalir. Raut mukanya dipenuhi kesedihan dan kerinduan yang mendalam.


"Apa ini?! Ilusi!? Bukan... Ingatan?!"


"Kalau ini ingatan... ingatan siapa?!! Airella? Putri Dewi Athena?! Kenapa ingatannya terlintas di kepalaku?!"


"Ini sedikit berbeda... dengan mimpi yang biasa kualami. Apa-apaan ini sebenarnya?!! Ada apa ini sebenarnya?!!"


"Siapapun... tolong berikan aku penjelasan tentang semua misteri ini... aku mohon..."