
Aqua, Mika, Eli dan Heolstor melewati siang dan malam bersama. Terkadang mereka akan menginap di desa atau kota yang mereka lewati. Namun mereka lebih sering berkemah (?) di luar, atau tepatnya menginap di pondok Aqua dan Mika.
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya. Tak terasa, mereka sudah keluar dari area yang dihuni makhluk hidup. Saat ini mereka tengah berada di tengah-tengah pegunungan curam yang tak bisa dilalui orang biasa. Untung saja Aqua dan Mika punya sayap, jadi mereka bisa terbang melewatinya.
Hmm? Sihir Terbang?
Itu tidak bisa dipakai. Ada sebuah Barrier pelindung tak terlihat di area itu yang membuat semua jenis sihir tidak bisa digunakan oleh makhluk didalam batasan. Barrier itu berasal dari item tingkat Mythic yang dibuat dwarf demi melindungi desa mereka.
Angin yang bertiup di sela-sela pegunungan sangat kencang hingga membuat terbang Aqua dan Mika tidak stabil.
"Kalau seperti ini terus bisa gawat. Ayo turun dulu!!" jerit Aqua.
Mika mengangguk, dia juga tidak mau jatuh di tebing jurang gunung. Memang tidak akan mati, tapi rasanya pasti sangat sakit. Mereka turun ke goa yang berada didekat mereka. Aqua dan Mika berhasil turun dengan selamat dan segera masuk ke goa.
Dengan napas terengah-engah, Aqua membaringkan dirinya.
"Seperti yang diharapkan dengan desa dwarf. Sama sekali tak mudah masuk ke sana."
"Ya. Kerajaan Elf juga sama, kan? Harus melewati hutan berbahaya dan berbagai lapis pelindung untuk bisa masuk," balas Mika.
Aqua tersenyum, memang benar keamanan Kerajaan Vittacelar sebenarnya jauh lebih ketat dari ini. Tapi karena dia di bawa masuk Amethyst dulu, dia tak perlu melewati semua itu.
"Terbang sudah tidak memungkinkan lagi. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sihir juga tak bisa digunakan," tanya Aqua memulai pembicaraan.
"Hmm... untuk saat ini, keluarkan Eli dan Hell dulu. Setelah itu kita bisa pikirkan bersama," jawab Mika santai sambil menyelonjorkan kakinya.
"Baiklah."
Aqua merentangkan tangannya ke depan. Terlihat sebuah pusaran dimensi didepannya, dari sana keluar seorang gadis (?) cantik dan pria tampan.
"Ahhh... akhirnya keluar juga. Sudah sampai?" tanya Eli sambil menggerakkan tubuhnya.
"Belum. Anginnya terlalu kencang. Sihir tidak bisa dipakai," jawab Aqua.
Iya, sihir tidak bisa di pakai. Lalu bagaimana Eli dan Hell bisa masuk ke dimensi yang berbeda?
Jawabannya karena cincin Aqua. Cincin itu adalah item penyimpanan tingkat rendah "Item Box" namun berkat tangan terampil Mika, cincin itu diubahnya menjadi item penyimpanan tingkat tinggi "Dimensional Inventory" yang bisa menyimpan makhluk hidup juga. Tak seperti sihir dan skill mereka, ruangan di sana sangat terbatas. Ruangan dalam cincin itu hanya seluas sebuah kamar ukuran 5×5 m. Namun di situasi genting seperti ini, itu saja sudah cukup.
"Kita hanya bisa mengandalkan kemampuan fisik untuk bisa sampai ke desa Rocco. Ini tidak akan mudah," ucap Aqua.
"Aku, Aqua dan Hell punya kemampuan fisik yang bagus, kamu gimana Eli?" tanya Mika khawatir.
Eli tersenyum bangga.
"Ak-"
"Jangan khawatirkan anak itu. Dia mantan prajurit pasukan khusus, kalau fisiknya tidak bagus itu kesalahan fatalnya," potong Aqua.
"Oi! Setidaknya biarkan aku sombong dikit!!!" kesal Eli.
Mika tertawa kecil melihat mereka berdua. Namun di sudut hatinya, dia juga merasa sedikit cemburu dengan kedekatan itu. Bukankah selama Eli masih berjiwa perempuan, selalu ada kemungkinan kalau Eli jatuh cinta pada Aqua?
GYUUUUT
Aqua sedikit tersentak kaget. Tiba-tiba Mika merangkul tangannya ke pelukannya.
"Ada apa?" tanya Aqua.
"..... Tidak."
"?"
"Meski begitu, bukannya keamanan Desa Rocco terlalu berlebihan?" timpal Heolstor.
"Itu tidak berlebihan. Sama seperti Elf, harga dwarf sebagai budak juga tinggi. Jika Elf berharga tinggi karena kapasitas mananya yang sangat besar, dwarf karena kemampuan menempanya. Senjata tempaan dwarf selalu jauh lebih bagus dari ras lain," jawab Aqua.
"Contohnya saja senjata kenalanku. Senjata itu berupa tombak kembar dengan tingkat Mythic jika bagiannya sempurna."
"Tingkat Mythic!!!?" kaget Heolstor dan Eli.
Eli menutup sebagian mulutnya dengan tangan.
"Aku baru pertama kali dengar ada makhluk di dalam batasan punya senjata tingkat Mythic selain orang-orang penting Benua."
Heolstor diam, tampak berpikir dengan serius.
"Tuan Aqua."
"Ya?"
"Dwarf yang mampu menempa senjata tingkat Mythic... apa dia adalah Jasper Chalcedony?" tanya Heolstor yakin.
"Jasper Chalcedony? Siapa itu?" tanya Eli.
Aqua sedikit kaget dengan pernyataan Heolstor.
"...... Aku terkejut kamu tau itu, Hell."
"Kau benar, dwarf itu pasti adalah Jasper Chalcedony."
"Dibilangin! Jasper Chalcedony itu siapa?!!" kesal Eli.
"Aku lebih kaget kamu tidak tau siapa dia," timpal Mika membuat Eli tambah kesal.
"Para dwarf adalah ras yang tidak menggunakan nama keluarga. 700 tahun yang lalu Jasper bergabung dalam party pahlawan sebelumnya bersama sang pahlawan, sang assassin, Vashlana Magiya sang penyihir dan Agate Stella El Vittacelar sang Saintess. Mereka berlima menaklukkan raja iblis sebelumnya dan kembali dengan kemenangan. Sebagai ratu baru Kerajaan Vittacelar, Ratu Agate memberikan gelas kehormatan pada Jasper berupa nama keluarga yang memiliki arti permata. Itulah kenapa Jasper menjadi Jasper Chalcedony."
"Senjata dan item sihir buatan Jasper Chalcedony sangat luar biasa. Senjata para anggota party pahlawan sebelumnya juga adalah buatan Jasper sendiri. Saat ini Jasper adalah dwarf yang paling dicari di dunia."
Eli membaringkan tubuhnya tidak peduli.
"Hehh... jadi begitu. Yah, dwarf sehebat itu tidak ada hubungannya dengan kita, kan?"
Aqua mendorong tubuh Eli yang memenuhi ruangan dengan kakinya.
"Tidak juga. Anggota terakhir Raven adalah cucu dari Jasper Chalcedony, Pietro Chalcedony."
Eli membelalakkan matanya dan langsung bangun seketika.
"Apa katamu?!!!"
"Kamu mau merebut cucu dwarf terkenal begitu?!! Gila ya!!!" jeritnya.
Aqua menyumbat telinganya dengan jari.
"Tetap saja—"
Aqua menutup mulut Eli dengan cepat.
"Sssstttt!!!"
"......."
Semua orang di goa langsung diam tanpa suara. Meski samar-samar, mereka merasakan sesuatu.
Aqua mengeluarkan keringat dingin sambil tersenyum kecut.
"Kita terkepung."
Seperti kata anak itu, mereka tengah dikepung oleh puluhan dwarf yang mulai muncul sambil mengacungkan senjata mereka. Berkat item, dwarf mampu menyembunyikan hawa keberadaannya mutlak dari Aqua dan yang lain. Karena sihir tidak bisa di pakai, deteksi Mika juga tidak menyala.
Seorang dwarf bertubuh pendek dan janggut panjang maju ke depan.
"Siapa kalian makhluk durjana yang berani memasuki wilayah kami!?"
Aqua tetap tenang, begitu juga dengan yang lain.
"Kami adalah pelanggan."
Dwarf didepan Aqua langsung marah besar hanya dengan kalimat itu.
"Berani-beraninya makhluk durjana seperti kalian menginginkan barang buatan kami!!! Mari lihat seberapa layak kalian memegang barang kami!!"
"Bawa mereka!!!"
Para dwarf dengan senjata tingkat Legend tidak akan bisa dikalahkan semudah itu tanpa sihir. Aqua, Mika, Hell dan Eli pasrah dibawa begitu saja oleh mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kau pikir begitu?
Aqua mengangkat sudut bibirnya sambil melirik ke arah Mika. Mika membalasnya dengan senyuman licik juga.
"Semuanya berjalan sesuai rencana."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Kabar gembira untuk kita semua~ ]
[ Novel lain, kini mulai tersedia~ ]
[ Jumlah tabungan eps sudah cukup~ ]
[ Yahh... karena Novel The Unfettered Ice Princess sudah cukup banyak chapter tabungannya Author. Jadi biar kalian gak gabut nungguin The Dragon's Blue Gem yang update nya sekarang 2 hari sekali, author memutuskan untuk meng-upload novel The Unfettered Ice Princess lebih awal!!!! ]
[ Kalau The Dragon's Blue Gem itu fantasy, maka The Unfettered Ice Princess itu dark fantasy. Beda sama TDBG yang jelas alurnya. Sejujurnya karena author nulis TUIP buat selingan dan pas muncul ide yg gak mungkin ada di TDBG, jadi ceritanya mungkin agakk... ya... sedikit abstrut :v ]
[ Tapi aku harap kalian tetap menikmatinya. Cobalah mampir oke! Kalau suka langsung tekan tombol like, favorit dan komentar!!!! ]