The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 149 [ Pertemuan Pertama]



Tepat sejumlah 500 siswa baru berbondong-bondong keluar dari Aula Akademi Mackenzie. Masing-masing divisi dibatasi hanya dapat memiliki 100 siswa untuk setiap angkatannya. Memang sekilas terlihat banyak. Namun mengingat tempat ini adalah Akademi Sihir terbaik di seluruh dunia, bahkan diantara Penyihir yang sangat langka, kesempatan masuk ke akademi ini terbilang kecil. Jika kamu ingin bersekolah di akademi ini tanpa jalur rekomendasi, maka kesempatanmu masuk hanyalah 2% saja. Dengan kata lain, dari sejumlah ±25.000 pendaftar, hanya 500 saja yang berhasil di terima masuk.


Divisi attack magic adalah divisi dengan tingkat kesulitan tertinggi, karena hampir ⅓ pendaftar itu, memilih attack magic sebagai pilihan pertama. Divisi healing magic juga memiliki tingkat kesulitan masuk yang tinggi. Berbeda dari attack magic yang banyak pendaftarnya, healing magic cukup sedikit karena jarang ada orang mempunyai berkah elemen cahaya. Dan bahkan meski punya sekalipun, ujian masuknya yang sulit juga membuat jumlah itu semakin berkurang. Meski tetap melebihi 100 dari ribuan pendaftar.


.


.


.


.


.


.


.


TAP TAP TAP TAP


"Cepat!! Kita sudah terlambat upacara masuk!!!"


"Ah, mou!! Ini semua karena Aoi-senpai ketiduran sih!!!"


"Ayolah, aku sudah minta maaf tadi."


"Ma, ma... ini juga salah kita yang tidak menyiapkan ini semua sebelum masuk akademi. Jadi jangan bertengkar, oke?"


"Sora-senpai! Kau harusnya lebih memarahi Aoi-senpai!!"


"Eh? Ah... emm... nanti ya."


"Kazu-kun juga harus bilang sesuatu!!"


"Baiklah... tapi kita sekarang kita harus bergegas sebelum semakin ter- AWAS HIMAWARI!!!!!!!"


Deru kaki yang terdengar terburu-buru semakin mendekat. Beberapa remaja yang terlihat tergesa-gesa berlari sekencang yang mereka bisa, hingga tanpa sengaja...


BRUUKKKK


"I... ittah... tah... tah..." keluh sakit seorang gadis dari keempat anak yang berlari kencang tadi setelah dirinya terjatuh karena menabrak seseorang.


"Himawari!!!"


"Hima-chan!!!!"


"Himawari-san."


Ketiga anak lainnya segera menghampiri gadis yang dipanggil Himawari itu dan seseorang yang ditabraknya. Seorang anak laki-laki dan perempuan yang ada di grub itu membantu Himawari dan menanyakan keadaannya. Sedangkan perempuan yang satu lagi, yang terlihat paling dewasa memilih menolong orang yang ditabrak Himawari hingga terjatuh.


"Apa kau baik-baik saja? Kami minta maaf, seharusnya meski kami sangat tergesa-gesa, kami tidak boleh berlari seperti itu. Haruskah kami membawamu ke UKS?" tanya siswi itu pada orang yang di tabrak Himawari.


Siswi itu menyadari beberapa hal setelah dia mengulurkan tangan, mencoba membantu orang yang terjatuh itu.


"Blazer biru... divisi healing magic? Seperti Hima-chan... Lalu... rambut... perak?"


Orang yang ditabraknya tadi masih diam sembari memegangi kepalanya yang mencium jalan. Meski sejujurnya tidak terlalu sakit, tapi dia tetap melakukan itu.


"..... Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting, apa gadis disana baik-baik saja?" jawab gadis muda dengan blazer biru dongker itu.


"Syukurlah... sekali lagi aku minta maaf menggantikan juniorku, ya. Tolong maafkan kami, kami akan lebih hati-hati kedepannya."


"Tidak apa-apa."


Setelah jawaban yang dingin itu keluar. Gadis yang di tabrak Himawari itu berdiri lalu segera pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apapun lagi, tentu saja tanpa menyambut uluran tangan siswi tadi. Dia tidak mempedulikan mereka semua dan hanya fokus pergi ke tujuannya, gedung Healing magic.


"......."


Siswi yang ditinggalkannya termenung beberapa saat karena kebingungan. Sementara teman-temannya telah selesai membantu Himawari.


"Himawari, kau harus minta maaf dengan benar!" seru anak lelaki disana.


"Iya... aku- eh? Loh? Orangnya mana?"


Begitu Himawari mau minta maaf, dia sudah tidak lagi melihat orang yang tadi di tabraknya. Tentu dua temannya juga kehilangan jejak gadis itu. Hanya siswi tertua disana saja yang tau kemana gadis itu pergi.


"Sora-senpai, kemana orang yang tadi pergi? Aku bahkan belum minta maaf..." tanya Himawari merasa bersalah.


Siswi tertua, Akabane Sora hanya tersenyum saja sembari mengelus kepala Himawari yang mana membuat gadis itu semakin kebingungan.


"Tenang saja. Kalian akan bertemu lagi. Tadi aku sempat melihat dia memakai blazer biru. Artinya dia teman sekelasmu, Hima-chan."


"Nanti carilah dia dan minta maaf, oke?"


"Oke, Sora-senpai!!!"


Melihat juniornya begitu bersemangat, Sora merasa senang. Namun sesuatu yang mengganjal hatinya dari tadi belum hilang.


".... Nee... Minna..."


"?"


"Ya?"


Sora agak ragu mengatakannya, rasanya kata-kata tersangkut di tenggorokannya.


"Gadis tadi... rambutnya perak. Rambut... perak itu... langka, kan?"


"!"


Ketiga junior Sora saling melihat satu sama lain, seakan mencoba memastikan sesuatu.


"Yah, di dunia kita juga albino memang langka, kan?" jawab satu-satunya siswa diantara mereka.


"Kazu-kun benar. Aku juga belum pernah melihat albino di Jepang. Di Kekaisaran Anessa juga gak ada yang rambutnya perak. Yang namanya albino memang langka. Tapi bukan berarti sama sekali gak ada," jawab Himawari santai.


"I... iya ya..."


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Sora-senpai?" tanya Kazu-kun atau tepatnya Kanzaki Kazuki pada seniornya.


"Tidak... hanya saja... rasanya kita barusan berurusan dengan orang penting..."


Himawari tertawa lepas mendengarnya, "Yahahahaha, kalau semua albino itu orang penting, gak akan ada orang yang ngebully albino kayak di dunia kita!"


"...... doh."


"?"


Ketiga anak yang daritadi berbicara sembari berjala itu seketika menoleh ke siswi yang belum bicara sama sekali di belakang mereka karena dia tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Apa kalian bodoh?"


"Huh!? Kenapa tiba-tiba bilang gitu sih, Aoi-senpai!!?" kesal Himawari karena disebut bodoh.


"Ha~ahhh...💢"


Aoi menghela napas berat.


"Kita memang belum lama tinggal disini. Tapi apa kalian sama sekali gak cari info atau belajar pengetahuan dasar di dunia ini!?" kata Aoi tak percaya.


"Me-memangnya ada apa, Aoi-senpai?" tanya Kazuki khawatir.


Dia dan yang lainnya memang tidak belajar pengetahuan dasar karena paus dan kardinal mengatakan mereka akan mempelajari itu di akademi. Jadi sebelum masuk akademi, mereka harus fokus belajar menggunakan sihir dasar dan menengah agar tidak mempermalukan Kekaisaran Anessa yang merekomendasikan mereka. Tapi perkataan seniornya tadi sangat tepat sasaran, karena pengetahuan dasar itu penting untuk bersosialisasi di akademi, seharusnya tanpa disuruh mereka harus mempelajarinya.


Sora dan Himawari ikut tegang karenanya. "Yah, sebenarnya aku gak pantas bilang gitu. Karena pengetahuan dasar yang aku tau bukan karena aku belajar," batin Aoi.


Aoi melirik arah yang kemungkinan besar akan dituju gadis yang ditabrak Himawari barusan, yaitu gedung divisi healing magic.


"Gak ada yang namanya albino di dunia ini."


"Lah? Tapi barusan itu ada tuh!" kata Himawari bingung.


Aoi mencubit pipi Himawari lebar-lebar.


"Dengerin sampai selesai!!💢"


"Ha-haikk..."


"Biar kulanjutkan. Gak ada yang namanya albino di dunia ini. Tapi bukan berarti gak ada rambut perak juga. Rambut perak bukan tanda kelainan genetik yang membuat seseorang tidak memiliki pigmen pemberi warna alami (melanin) pada kulit, rambut, dan mata mereka. Melainkan sebuah ciri khas dari suatu ras," terang Aoi.


"Ciri khas?"


"Ya. Kalau rambutnya perak, berarti dia punya telinga panjang, kan?" tanya Aoi memastikan.


"Eh iya... telinganya panjang," jawab Sora.


"Itu karena semua yang rambutnya perak itu Elf."


"Elf!!??? Benar juga!!! Inikan dunia lain!!!!!!" seru Himawari dengan mata berbinar-binar kesenangan.


"Jadi di dunia ini Elf itu punya rambut perak ya? Kukira mereka pirang kayak di manga atau anime gitu," ucap Kazuki bersemangat juga. Dia selalu ingin melihat Elf dengan mata kepalanya sendiri.


"Aku paham. Tapi kenapa kamu semarah itu Aoi? Apa kita akan terlibat masalah kalau menabrak Elf?" tanya Sora lagi.


Aoi lagi-lagi menghela napas.


"Kalau Elf biasa sih gak. Tapi Elf rambut perak itu bukan Elf biasa."


"Eh? Bukan toh? Kirain semua Elf rambutnya perak."


"Ya. Dan ini yang membuatku jadi khawatir. Di dunia ini, rambut perak itu hanya dimiliki oleh Elf. Tepatnya oleh Keluarga Kerajaannya saja."


"??????????"


"Jadi yang tadi di tabrak Himawari-san barusan pasti Keluarga Kerajaan Vittacelar, Kerajaannya para Elf. Melihat dia memakai seragam di tahun ini, berarti satu-satunya kemungkinan identitasnya adalah... Putri Pertama Kerajaan Vittacelar, Citrine Caller El Vittacelar."


"EH!!?? HIME-SAMA!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Yahoo!! Cha_Nyann desu!!! Gimana kabar kalian? Ohohoho, pasti banyak marah karena aku Hiatus terlalu lama. Kayaknya aku kebiasaan malas-malasan waktu istirahat pasca tes. Mau lanjut nulis males, lanjut translate males, kerjaannya ya nonton muluk. Hahahahahahaha....!!!


Yah, author dah keterima Univ sih. PTN atau PTS? Kepo~


Ehem, intinya author dah punya waktu luang lagi. Tapi aku dak bisa janji bakal rajin update ya~


Karena aku dah jadi sinner Sloth~


Wkwkwkwk....


Yah, setidaknya aku coba berusaha update mulai sekarang. Masih nyesuaiin mood juga. Nanti kalau mood nulis dah bener2 kembali, baru kita kembali ke update harian!!


Kan setidaknya kalian masih bisa baca lanjutannya, ehe!


Ya maaf atuh, kalau akunya begini amat. Jadi demi menaikkan mood author nulis, kalian harus perbanyak like, komen dan vote ya!! Coba bikin author mageran ini bersemangat gitu loh. Aku gak ambil uang dari nih novel, jadi satu-satunya motivasi nulis ya cuma melihat kebahagiaan pembaca aja. Kalau kalian jadi pembaca silent, gimana aku bisa dapet motivasi?


Oke gitu aja dari Author!!


Senang bisa berkumpul kembali bersama kalian!!!! ]


[ Ah, lupa. Biar kuucapin secara langsung disini. Terimakasih untuk 300+ vote, 100.000+ dukungan fans, 1500+ favorit dan 30.000+ like nya!!!! Minna daisuki!!!!!!! ]