
Begitu perintah Kaisar dikumandangkan, beberapa Healer langsung datang tanpa perlu menunggu lama. Mereka terlihat cukup kelelahan menghadapi luka dalam yang dihasilkan Aqua. Melihat itu membuat para bangsawan takut dan tanpa sadar hampir semuanya menjauh dari Aqua. Hanya Ashlan dan Ruby saja yang tetap disana.
Sang pangeran Elf ini memandang dingin para saudara tirinya yang dibawa oleh healer Kekaisaran. Tak ada rasa bersalah sedikitpun. Yang ada hanya perasaan aneh yang membuatnya tidak betah disana terlalu lama.
"Mereka masih keluargamu bukan? Kenapa ekspresimu datar begitu?" goda Ashlan.
"Keluarga? Bagiku keluargaku hanya Kak Rin dan Bibi Amethyst saja," jawab Aqua.
Ashlan hanya tersenyum sendu mendengarnya.
"Baiklah, baiklah... Lupakan soal itu."
Kali ini, mata ungu bercorak khas rubah itu melirik ke area Keluarga Kekaisaran. Bisa dilihat bahwa Kaisar dan Permaisuri tetap tenang di kursinya tanpa membuat keributan yang tidak perlu. Itu wajar, mengingat seorang penguasa tidak boleh membiarkan emosi menguasai dirinya.
Namun yang menarik perhatian Ashlan dan Aqua bukanlah itu. Melainkan seorang gadis yang beberapa tahun lebih muda dari Aqua dibelakang mereka.
Berbeda dari Keluarga Kekaisaran lain yang sebagian besar memiliki rambut pirang, gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Keluarga Kekaisaran Levana pada umumnya. Rambut gadis itu berwarna Lavender yang terlihat berkilau di bawah sinar lampu pesta. Matanya juga berwana berlian yang indah. Berbeda dari Kaisar yang memiliki rambut pirang dan mata biru langit.
Hal ini jugalah salah satu alasan yang membuat gadis itu terkucilkan. Dia tidak mirip dengan Kaisar namun juga... tidak mirip dengan Ratu sebelumnya yang mana adalah ibunya. Ratu Sebelumnya, Iris Lilac de Levana adalah wanita anggun berambut hijau segar dan mata biru laut.
Banyak yang menganggap dia adalah anak Ratu sebelumnya dengan selingkuhannya. Namun karena kurangnya bukti, hal itu hanya sebatas gosip dan dugaan semata.
Tapi Aqua tau kebenarannya.
"Dia memang anak Kaisar. Justru... dia yang paling memiliki darah kekaisaran jika aku dikecualikan. Dragon's Eye bereaksi lebih kuat padanya dari pada anak kaisar lain."
Ashlan menyilangkan tangannya.
"Orang-orang sungguh bodoh. Hanya karena penampilan, gadis itu sampai diperlukan begitu. Sepertinya mereka lupa bagaimana wujud permaisuri pertama."
"Permaisuri pertama? Maksud Master wanita yang menikah dengan Naga Levana?" tanya Aqua.
Ashlan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya, itu memang kejadian yang sudah lama sekali. Wajar sih orang-orang tidak tau. Permaisuri pertama itu... sangat mirip dengan gadis itu. Permaisuri pertama punya rambut dan mata lavender. Sedangkan Kaisar pertamalah yang mempunyai mata berlian."
".... Aku baru tau tentang itu. Bukankah... daripada aku, gadis itu lebih punya banyak darah mereka?"
"Tidak juga. Bisa dilihat dari matanya yang normal-normal saja, kalau dia tidak mewarisi darah Levana lebih banyak dari kamu. Tapi... tidak diragukan lagi dia benar-benar seorang Levana. Justru keluarga kekaisaran lain yang pirang-pirang itu yang campuran. Karena rambut pirang keluarga kekaisaran didapat dari pernikahan dengan bangsawan."
"Jadi begitu."
"......"
"......"
Aqua maupun Ashlan tak mengatakan apapun. Keduanya fokus menatap Putri Pertama, Ileana.
"..... Bocah. Kau pasti juga sadar, kan?" kata Ashlan tiba-tiba.
"Aku tidak bodoh, Master. Tentu saja."
Ujung bibir Ashlan terangkat.
"Bukankah anak itu menarik?"
"Ya, aku juga berpikir begitu."
ASHLAN POV
Linat ini! Bahkan anak ini juga memikirkan hal yang sama denganku.
Ileana Thea de Levana, Putri Pertama Kekaisaran Levana.
Sejak masih baru lahir, sudah ditelantarkan keluarganya dan tinggal di istana terpencil hanya dengan 6 pelayan. Uang yang diberikan kaisar untuk merawat gadis itu di korupsi oleh 5 pelayannya. Hanya 1 pelayan yang setia padanya karena hidup pelayan itu diselamatkan Ratu sebelumnya dulu.
Bahkan pelayan itupun di bunuh didepan matanya saat dia masih 3 tahun karena pelayan itu mencoba mendapatkan uang yang dikorupsi untuk memberi sang putri makan. Diremehkan oleh pelayan, disiksa oleh ksatria yang seharusnya melindungi, diabaikan keluarganya dan satu-satunya orang yang ada di pihaknya dibunuh.
Nasibnya benar-benar malang.
Dia memilih diam dan tidak menjadi mencolok dalam hal apapun sampai tidak ada yang memperhatikannya. Padahal dia cuma anak 14 tahun, namun mentalnya tidak kalah dengan Aqua saat aku bertemu dengannya pertama kali.
Semua informasi itu kudapatkan dari mata-mata menara sihir yang menyusup ke Istana.
Tapi apa ini!?
Gadis ini... tidak sesederhana itu.
Aqua memang mengalahkannya dalam segala bidang. Tapi ada satu hal yang tak dimiliki Aqua namun ada di gadis itu.
"Ambisi," ucap Aqua tiba-tiba.
Diriku terkejut. Kukira dia baru saja membaca pikiranku.
"Benarkan master? Gadis ini... penuh dengan ambisi," lanjutnya.
Tidak kusangka kita memikirkan hal yang sama. Pfftt... sebenarnya sejauh mana kamu jadi semirip aku, bocah?
"Benar, Putri Ileana adalah gadis yang penuh dengan ambisi. Jauh berbeda denganmu yang benci hal merepotkan tapi justru terlibat hal merepotkan, bukan?"
"Ha~ahh... master benar. Aku memang tidak punya ambisi untuk hal semacam itu."
Hahahaha, coba lihat dia! Anak itu menatapku agak kesal.
"Sepertinya dia bisa menyembunyikannya dengan baik. Karena tidak ada yang sadar selama ini," ucap Aqua.
Sekali lagi bocah ini benar. Mata berlian gadis itu bukan mata gadis penakut yang memilih melarikan diri dan bersembunyi. Itu adalah mata yang dipenuhi tekad dan ambisi untuk merebut segalanya yang seharusnya menjadi milihnya.
Lingkungannya telah membuat gadis polos itu menjadi seperti ini di umurnya yang masih belia. Makanya ini menarik!
Aku membuka mulutku sebentar, rasanya kasian juga kalau aku tidak membalas.
"Putri Ileana, dia sadar kalau dirinya yang sekarang tidak bisa melakukan apapun. Dia diam dengan tenang tanpa menarik perhatian supaya taring yang diasahnya diam-diam bisa mengejutkan semua orang."
"Makanya aku merasa ada yang aneh. Aku bisa tau dia memiliki niat yang sama dengan pangeran dan putri lain. Tapi kenapa dia tidak ikut menantangku tadi," seringai Aqua.
"Jadi dia memperhatikan. Memperhatikan baik-baik setiap pergerakanku dan sejauh mana dia bisa bertahan jika dalam posisi itu."
Ho~ anak ini sudah tau sampai sejauh itu.
"Kamu benar, tapi belum sepenuhnya benar."
"?"
Gadis ini jauh lebih menarik dari itu, bocah.
"Si putri ini... dia menghitung semuanya."
"Menghitung semuanya?"
"Ya, dia memperhitungkan semuanya dengan seksama. Segala kemungkinan yang akan terjadi jika dia melakukan suatu tindakan. Dia memperkirakan setidaknya 1000 hasil yang berbeda dan memilih kemungkinan paling tinggi untuk berhasil."
"Dari mana master tau itu?"
Wajar kalau Aqua tak yakin dengan kata-kataku.
"Lihat matanya, Aqua. Mata itu... aku pernah melihatnya sebelumnya. Mata seorang jenius yang berpikir terlalu jauh sampai bisa menjadi gila sedang dimiliki gadis 14 tahun."
Cara dia menatap sekelilingnya... benar-benar mirip dengan orang itu. Kalau dibiarkan dia bisa mati muda karena terlalu banyak berpikir sampai pikirannya tidak bisa mengikuti respon tubuhnya. Memang benar berpikir sebelum bertindak itu bagus. Tapi dalam kasus ini, dia akan mati mudah karena tubuhnya tak sempat bertindak.
"Tak seharusnya anak 14 tahun mempunyai pikiran seberat itu. Apa yang dialaminya terlalu berat."
Sepertinya Aqua juga setuju denganku. Meski anak itu tak pantas memikirkan ini karena hidupnya juga sama beratnya. Apa keluarga kekaisaran memang melatih anak-anaknya untuk jadi dewasa sejak dini?
Dasar! Anak-anak itu harusnya bertingkah seperti anak-anak.
"Menurutmu harus kita apakan gadis itu?" tanyaku iseng saja.
"Hmm, coba kulihat dulu apa dia pantas mendapat bantuan kita. Apa dia akan memberi keuntungan dan tidak akan menusuk dari belakang," seringainya.
Aku tidak terlalu berharap jawaban yang serius. Karena urusan mereka bukan urusan kita. Makanya aku tak menyangka akan mendengar jawaban semacam itu dari bocah ini.
"Hehh... bocah, kau jadi semakin mirip aku kau tau?" balasku dengan seringai yang sama.
"Itu masuk akal karena aku muridmu, Master."
Baiklah, mari lakukan sesuatu tentang anak itu nanti. Sepertinya muridku dan aku memikirkan hal yang sama.
[ Gadis itu bisa kami manfaatkan ]