The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 77 [ Aqua dan Michael (2) ]



Mika mengepakkan sayapnya perlahan. Sayap itu sempat mati rasa dan sulit digerakkan. Berkat usaha Mika dan penyembuhan Aqua, saat ini Mika berhasil melayang dengan sayapnya.


"Terimakasih... tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa aku berterimakasih padamu sekarang..." ucap Mika terharu.


Aqua tersenyum senang melihatnya. Perasaan yang sama dengan seorang ayah yang melihat putrinya bisa menaiki sepeda di waktu kecil.


"Aku ikut senang denganmu."


"..........."


Senyuman Aqua tidak terlukis terlalu lama.


"Mika... aku sudah mengeluarkanmu. Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Aqua blak-blakkan.


Mika terlihat kesulitan menjawab. Dia ingin segera keluar dan menyelamatkan Arc-Angel lainnya, namun tanpa cincin halo-nya, dia hanya akan menjadi beban. Kekuatan asli Mika ada tingkat Tría atau sekitar level 3900-an. Tapi tanpa cincin halo-nya, levelnya saat ini hanya 741 saja.


"....... Bagaimana denganmu? Kamu bisa keluar sekarang juga, kan?"


Mika melemparkan pertanyaan Aqua.


"Aku sudah memutuskan akan tetap disini setidaknya sampai 10 tahun," jawab Aqua tanpa keraguan.


"10 tahun?!!! Apa itu gak terlalu lama?!!" kaget Mika.


"Hanya saja... kupikir tidak ada gunanya aku keluar terlalu cepat. Masih ada waktu 8 bulan sampai hari kedewasaanku. Daripada melakukan hal tidak berguna diluar, lebih baik aku memanfaatkan dungeon ini sebaik mungkin untuk berlatih. 10 tahun didalam dungeon sama saja 5 bulan lebih sedikit di luar."


"Kau tau? Aku harus kembali karena perintah Masterku 2 bulan setelah hari kedewasaanku," terang anak itu.


"Karena saat itu adalah hari kedewasaan Ruby."


"Jadi begitu," balas Mika agak santai.


Mika berpikir sejenak. Setelah menghitung untung rugi, dia membuat keputusan.


"Baiklah, aku akan menemanimu disini."


Lagi-lagi nada keyakinan itu terdengar di telinga Aqua.


Anak itu mengedip beberapa kali karena terkejut.


"Deja vu macam apa ini? Ini sudah kali ketiga."


"Kamu mau tetap disini?!! Bukankah kamu punya tujuanmu sendiri?!!!"


"Memang benar. Tapi bukan berarti aku tergesa-gesa karenanya. Dan lagi..."


"Dan lagi?"


"Entah kenapa bagian dari diriku seolah berkata aku wajib tetap disini atau aku akan menyesal," gumam Mika pelan.


"?"


"Tidak. Tidak apa-apa. Apa kamu keberatan kalau aku tetap disini?" goda Mika.


"Sama sekali tidak. Justru aku senang kalau kamu tetap disini," jawab Aqua dengan senyuman mematikan.


DEG


"///"


"Apa ini? Dadaku berdebar kencang," blusing Mika.


"Ka-kalau gitu artinya gak masalah, kan?"


Mika membalikkan tubuhnya memunggungi Aqua. Wajahnya sedikit memerah, dia tidak mau Aqua melihatnya.


Aqua mengangkat satu alisnya. Lalu anak itu menggeleng pelan. Dia berjalan mendekati Mika dan meletakkan tangannya di rambut Mika.


"Karena kamu sudah membuat keputusan, aku akan menghormatinya. Untukmu yang begitu, aku punya berita baik."


"Berita baik?"


Mika menatap Aqua penasaran.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Arc-Angel lainnya. Karena hilangnya dirimu, moral pasukan naik drastis. Mereka berhasil menahan pasukan Dewa Kejahatan sampai mundur ke Benua Iblis. Harusnya dalam 5 bulan ini, Dewa Kejahatan akan berhasil tersegel."


Informasi yang diberikan Aqua adalah informasi dalam game. Dia tidak melakukan apapun yang berpengaruh pada perang suci, jadi harusnya tidak ada perubahan dengan informasi itu.


"Darimana kamu bisa tau itu?!" tanya Mika curiga.


"Ada yang aneh... hanya dengan 4 Arc-Angel saja tidak mungkin bisa menekan Luciel, 8 jendral dan Dewa Kejahatan. Apa ada kekuatan baru yang membantu mereka? Atau justru pasukan musuh menahan dirinya?"


Aqua tidak tau harus menjawab bagaimana. Dia tidak mungkin bilang kalau dia mengetahuinya berkat memainkan game Dragon Wing.


"Ini... karena mataku. Mata ini adalah Dragon's Eye. Terkadang aku mendapatkan pengelihatan masa depan berkatnya," bohong Aqua.


"......."


Mika menatap Aqua dengan mata sangat curiga. Dia tentu tau apa itu Dragon's Eye. Tapi dia tidak pernah mendengar kemampuan seperti itu pada pemilik mata Dragon's Eye.


"Itu memang Dragon's Eye... tapi simbolnya berubah. Apa kemampuan itu adalah hasil dari evolusinya?" pikirnya berusaha positif thinking.


"Terserahlah. Yang penting aku tidak merasa dia berbohong tentang Arc-Angel dan perang. Karena dia tidak berbohong, mungkin entah bagaimana mereka memang berhasil. Saat keluar nanti aku harus mencari tau detailnya."


"Begitu. Syukurlah... kalau ginikan aku tidak perlu khawatir lagi pada mereka."


"Ya, itu benar. Sekarang sudah tidak ada yang mengganggu lagi. Selama 10 tahun ini aku akan berlatih seluruh buku sihir dan skill yang kudapatkan sambil leveling. Apa yang akan kau lakukan?"


Mika tersenyum menakutkan.


"Aku tidak tau kau mengetahui ini atau tidak. Kami para Arc-Angel selain terlahir dewasa dan kuat, kami juga membawa pengetahuan yang jauh lebih banyak dari ras lain begitu lahir."


"Jadi... sejak aku memutuskan tetap disini, aku sudah tau apa yang harus kulakukan! Aqua, selama 10 tahun ini... aku akan melatih dirimu!"


"!!!"


"Apa?!" jerit Aqua kaget.


"Hei, hei, jangan meremehkanku! Begini-begini aku masih seorang Arc-Angel dengan kecerdasan tinggi. Setidaknya aku berani bilang, kalau aku disuruh debat melawan pemilik Menara sihir sekalipun, aku pasti menang. Karena hanya Uriel dan Luciel saja yang bisa mengalahkanku," sombong Mika.


"Melawan Master?! Apa itu tidak berlebihan? Master sudah hidup 700 tahun dan kamu cuma 10 tahun saja," goda Aqua meremehkan.


"💢"


Meskipun Mika tersenyum cantik, ada aura menakutkan yang memancar darinya.


Mika menarik napas panjang. Dalam satu hembusan napas, dia menjelaskan teori-teori sihir dan pengetahuan rumit tanpa jeda sedikitpun. Karena terlalu rumit, semua penjelasan Mika hanya masuk dan keluar dari telinganya. Rasanya kepalanya hampir meledak oleh semua itu.


"Cukup!!" jerit Aqua membungkam mulut Mika. Anak itu memaksakan senyumnya.


"Tolong hentikan! Aku mengerti!! Aku mengerti, oke!!!"


Mika yang masih kesal menyibak tangan Aqua agak kasar.


"Kalau gitu baguslah. Sudah diputuskan, kan?!"


"Baik, baik. Sekarang aku dalam bimbingan mu. Mohon bantuannya Mika," jawab Aqua cepat.


"Fufufu~ Aku juga, mohon bantuannya Aqua!"


Kelihatannya Mika puas dengan itu, jadi Aqua menurutinya saja. Toh tidak ada ruginya berlatih dari Arc-Angel langsung.


Demi mempersiapkan tinggal dalam jangka panjang. Hari itu, Aqua membangun sebuah pondok besar dari kayu di tepi pantai. Pondok dua lantai yang tersusun rapi. Baik ventilasi maupun pencahayaannya dibuat dengan baik.


Pondok itu memiliki teras yang cukup lebar dengan meja dan kursi santai. Di dalam juga diisi beberapa perabotan buatan sendiri. Lantai 1 adalah ruang keluarga, dapur, ruang makan dan toilet. Lantai 2 adalah kamar Aqua dan Mika serta perpustakaan buku skill dan sihir. Ada juga atap untuk melihat pemandangan.


Saking indahnya tempat itu, sampai membuat mereka lupa bahwa mereka sedang berada dalam di lantai 100 dungeon.


Hari-hari damai dan menyenangkan itu kembali menghangatkan hati Aqua. Lebih dari semua perempuan yang pernah ditemuinya, sosok Mika adalah sosok yang begitu melekat padanya. Gadis riang, hangat dan ceria itu sangat mirip dengan Tiara dan dirinya di masa lalu. Mika sangat mirip dengan Tiara sampai ke hal terkecil seperti kebiasaannya sampai ketidakmampuannya dalam hal bersih-bersih tapi sangat mahir memasak.


Aqua juga tinggal bersama Ashlan selama 3 tahun. Tapi perasaannya saat tinggal bersama Ashlan dan Mika sangat berbeda. Rasanya anak itu seolah kembali ke Bumi dan tinggal bersama keluarganya lagi... Tidak... mungkin jauh lebih hangat dari itu.


Dan entah sejak kapan... Aqua tidak lagi melihatnya sebagai perempuan yang mirip dengan Tiara.


Aqua melihatnya sebagai seorang Michael. Perempuan yang mengangkatnya setelah dia terjatuh ke jurang gelap. Apa kalian menyadarinya? Mika tak pernah sekalipun bertanya tentang masa lalu Aqua atau menggunakan sihir untuk mencari tahunya. Padahal harusnya keingintahuannya tentang itu sangat besar. Namun gadis itu sangat paham bagaimana menjaga privasi dan perasaan orang lain.


Sekarang sebuah pertanyaan terlontar pada kalian. Apa yang akan kalian rasakan kalau tinggal hanya berdua dengan perempuan seperti Mika selama bertahun-tahun?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Author mau buat voting untuk beberapa hal yang menjadi kebimbangan Author ]


1. Apakah Aqua masuk Akademi sebagai murid baru atau murid pindahan?


2. Aqua menyembunyikan kekuatan dan identitasnya atau tidak?


3. Ini sempat kepikiran karena lagi iseng, setuju gak kalau Aqua masuk sebagai perempuan (nyamar :v) tentu aja pas pesta kedewasaan Ruby, Aqua tetep laki-laki tulen.


4. Enaknya keluarga Ruby di bunuh atau disiksa? hehe :D


[ Nanti mau author buat di daftar komen, tinggal like pilihan yang kalian mau. Tapi karena author buat itu pagi2, yang baik boleh tolong bikinin duluan. Hehe :v ]


[ Voting berlangsung selama 1 Minggu, ya. Nanti hasil akhir akan digunakan author ]