The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(END S2) Chapter 130 [ Akhir Dari Perkenalan ]



"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu disini sama Kak Vira dan Vina."


Suara itu mengejutkan Mika, Elvira dan Elvina. Terlihat Aqua sedang berdiri bersandar di pintu balkon. Padahal Mika yakin pintunya terkunci. Tapi bahkan suara pintu terbuka saja tidak terdengar.


"Se-sejak kapan kamu disana?" tanya Mika gugup.


"Hmm... kalau di tanya sejak kapan... sejak kamu mengucapkan terimakasih dengan senyum semanis itu?" jawab Aqua sedikit menggodanya.


Wajah Mika memerah. Di satu sisi dia malu karena pujian Aqua, disisi lain dia lega Aqua tidak mendengarnya terlalu jauh.


"Jangan menggodaku... kenapa kamu mencariku?"


Belum beberapa detik berlalu sejak Mika menanyakan itu, alunan musik yang berbeda telah terdengar dari aula istana.


"!"


Aqua memanfaatkan situasi yang ada. Anak itu mengulurkan tangannya dan membungkuk sedikit.


"Musik kedua telah di lantunkan. Maukah Lady memberi saya kesempatan untuk berdansa dengan anda?"


Mika sedikit geli melihat Aqua bertingkah formal seperti itu. Tapi gadis itu tetap menerima uluran tangannya.


"Siapa yang bisa menolak undangan anda, Yang Mulia?"


Bersamaan dengan alunan musik yang lembut dan bertempo pelan. Keduanya menjadi pusat perhatian dengan tarian mereka yang begitu senada. Tapi yang paling menarik untuk diperhatikan adalah ekspresi keduanya yang menatap satu sama lain dengan penuh cinta dan kehangatan.


"Ara-ara... aku tidak bisa terbiasa melihat mereka berdua. Baik dulu maupun sekarang," senyum Elvira.


"Padahal suasana hati Mika cukup buruk beberapa saat yang lalu. Bagaimana kamu bisa mengubahnya secepat itu, Aqua?"


Tanpa Elvira sadari, pakaian serba hitam bertopeng yang Elvina pakai sudah berubah menjadi jas pesta.


"Bagaimana kalau kita juga ikut menikmati dansa, Nona?" tawarnya seperti seorang tuan muda.


"!"


Elvira sedikit terkejut, namun tak lama dia juga bereaksi positif. Hanya dengan sekali putaran tubuh, pakaiannya ikut berubah menjadi gaun.


"Fufufu... dengan senang hati."


Mengikuti kedua tuannya, Elvira dan Elvina juga ikut berdansa di aula. Mereka tidak perlu khawatir dengan undangan. Karena semua anggota Raven kecuali Neelima dan Pietro sudah dikenal sebagai teman Aqua.


Malam itu menjadi malam yang panjang. Sehabis pesta selesai, Aqua dan Mika bersantai di kamar mereka hingga mereka tertidur tanpa sadar. Ashlan dan Amethyst pergi ke taman istana dan meminum alkohol bersama sambil saling adu nasib.


Elvira dan Elvina kembali ke markas Raven, disambut oleh Neelima dan Pietro. Ribuan pertanyaan yang dilontarkan pada mereka membuat mereka kewalahan menjawabnya.


Namun satu hal yang menghubungkan mereka yang dipisah oleh jarak.


Langit berbintang yang sama yang dapat mereka lihat darimana saja.


Bagai hati yang terhubung satu sama lain.


.


.


.


.


.


.


Dua Hari Kemudian


"Apa kalian benar-benar harus pergi secepat ini?" tanya Amethyst tidak rela.


"Aku juga ingin menetap lebih lama, tapi tumpukan pekerjaan menungguku di Akademi dan menara sihir," jawab Ashlan malas.


"Hari kedewasaan tunangan saya juga tinggal 1 Minggu kurang, bibi. Tidak perlu khawatir, saya akan pulang sesekali," senyum Aqua.


"Begitu ya... ingat untuk pulang setiap liburanmu, oke!! Ingatlah sampai kapanpun kalau tempat ini adalah rumahmu!"


Amethyst melambai ke arah Ashlan, Aqua dan Mika yang hampir merobek kertas teleportasi mereka.


Tepat 2 hari setelah pesta selesai dan istana selesai beres-beres, mereka bertiga akan kembali ke Benua Manusia. Ketiganya akan langsung berteleportasi ke Menara Sihir dan membuat persiapan selama 6 hari sebelum masuk ke pertempuran mereka.


Aqua tidak mengucapkan selamat tinggal pada rakyatnya. Mirip seperti ibunya, rakyat menganggap Pangeran mereka ini memiliki jiwa petualang yang tinggi sehingga sering datang dan pergi kapan saja.


"Tolong jaga baik-baik Nona Michael juga, Aqua!" seru Amethyst.


"Tidak perlu mengatakannya bibi. Aku pasti akan menjaganya baik-baik!" jawab Aqua yakin.


Mika yang memerah menyenggol lengan Aqua.


"Jangan keras-keras begitu..."


"Baik, baik..."


Kertas teleportasi telah di robek. Sesaat sebelum mereka benar-benar menghilang, Aqua mengucapkan salam.


"Bibi!! Jaga diri baik-baik!!!!"


SWIIIIIINGGGG


Amethyst tetap melambai dengan senyumnya meski ketiga orang itu telah menghilang dari hadapannya.


"Kalian juga... jaga diri baik-baik..."


"....."


"....."


"....."


"....."


"Tunggu! Tunangan?!! Aku belum dengar apapun tentang itu!!!!!!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sementara Itu di Berbagai Tempat


Markas Raven


"Sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai. Neelima! Pietro! Sekarang belum terlambat!! Belajarlah!!!!" seru Lix mode serius


Neelima dan Pietro langsung berekspresi sangat tidak mau begitu mendengar kata belajar. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung berjalan keluar Markas dengan santainya.


Lix tidak membiarkannya. Anak itu menahan mereka dengan cara memegangi keras mereka dari belakang dan menggeret mereka ke ruang belajar.


"Ayo! Senior yang baik hati ini akan mengajari kalian sampai setidaknya bisa lolos ujian masuk."


"TIDAK!!!! KAMI TIDAK MAU BELAJAR!!!!!!!!!!"


Tak peduli seberapa keras mereka menjerit. Begitu pintu ruang belajar tertutup, tak ada lagi suara yang terdengar. Tidak ada sedikitpun.


"......."


"..... Apa kita sebaiknya ikut membantu mereka?" tanya Elvina yang sedari tadi hanya menonton sambil membaca majalah.


"Membantu mengajari atau membantu mereka keluar?" tanya Elvira memastikan.


Elvina tersenyum menyeramkan.


"Kitakan seorang guru. Tentu saja harus membantu mengajari, kan?"


"Fufufufu... boleh juga."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Istana Kekaisaran Anessa


Ketujuh pahlawan yang dipanggil dari dunia lain telah dibekali dengan peralatan tingkat Epic dan pengetahuan tinggi. Ketujuhnya tengah berdiri bersebelahan, menghadap sang Paus.


"Kalian sudah banyak belajar selama ini. Tapi itu tidak cukup, pelajaran kalian yang sesungguhnya baru akan dimulai di akademi. Para pahlawan dari dunia lain, tolong jangan kecewakan aku," ucap Paus.


"Baik, Yang Mulia!!"


"Kami pasti akan bertambah kuat sampai mampu mengalahkan raja iblis!!!" tekad Kazuki.


"Benar!! Kami pasti akan bertambah kuat, Yang Mulia!!!" ceria Himawari.


"Anda bisa mengharapkan kami!" seru Sora.


"Hahahaha, baiklah. Karena kalian sudah sangat percaya diri seperti itu. Aku hanya bisa mendoakan kalian," tawa Paus.


Paus merentangkan tangannya ke depan.


"Baik, Yang Mulia!!!!"


"Akhirnya!! Akademi sihir!!! Latar utama game Dragon Wing!!!!" batin Aoi senang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Desa Tersembunyi Yang Dibuat Pride dan Lust


Seorang gadis kecil meraih dan menarik pelan pakaian kakak perempuannya.


"Nee... apa kakak benar-benar akan pergi ke akademi?"


Karena raut wajah gadis kecil itu terlihat ingin menangis. Sang kakak terenyut hatinya. Dia berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang adik.


"Kakak tau kamu akan kesepian. Maaf ya, tapi kakak harus pergi. Kamu tau sendirikan kalau kita berdua diselamatkan oleh Tuan Raven. Sekarang Tuan Raven ingin kakak memasuki akademi karena mengetahui bakat kakak."


"Kakak tidak bisa mengecewakan mereka," senyum gadis berambut merah maron itu.


Sang adik merengut. Dia sangat tau itu. Kalau dia dan kakaknya diselamatkan nyawanya oleh Tuan Raven. Tapi dia tidak mau ditinggal sendirian.


Sang kakak menghela napas kecil.


"Begini saja. Kakak akan pulang setiap liburan. Dan setiap kali kakak pulang, kakak akan membawakanmu camilan enak. Gimana?"


Ekspresi sang adik langsung berubah cerah.


"Janji?"


"Kakak janji!"


Kedua kakak beradik itu saling mengaitkan kelingkingnya. Setelah mengucapkan selamat tinggal, sang kakak melambaikan tangannya dan mulai berlari meninggalkan desa.


"Hati-hati di jalan, Kak Clelia!!!!!" jerit sang adik.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mansion Keluarga Arsilla


Pintu yang sudah lama tidak terbuka akhirnya terbuka. Dua perempuan yang merupakan ibu dan anak masuk tanpa pengawal ke penjara itu. Keduanya berjalan pelan menuju salah satu sel. Dalam sel yang mereka tuju, gadis berambut pirang panjang dan mata Ruby yang kotor dan berantakan terlihat.


Sang putri menutup hidungnya erat-erat.


"Ukhh... bau banget!!!!"


"Sudah berapa lama kamu tidak mandi?" ejeknya.


Itu lucu, mengingat alasan gadis itu terpenjara secara tidak layak di bawah tanah adalah karena mereka. Satu-satunya hal yang mereka lakukan hanyalah memberinya makan darah tikus setiap 2 bulan sekali. Untuk memastikan gadis itu tidak mati.


"Sudah berbulan-bulan hanya makan segelas kecil darah tikus saja tidak membuatnya kurus. Dasar monster!" sinis sang ibu.


Ruby membuka matanya perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Mata yang tadinya bersinar itu telah kehilangan cahayanya.


"Hmph! Lihat dia! Sepertinya mentalnya sudah hancur. Bagus, dengan begini kamu tidak akan membangkang lagi!" senyum sang ibu.


Sang ibu membuka gembok penjara dan rantai yang mengikat Ruby. Gadis vampir itu sama sekali tidak memberikan perlawanan. Bahkan matanya sama sekali tidak menunjukkan emosi. Entah apa yang sebenarnya dia pikirkan.


"Tapi bagus dia tidak kurus. Dengan begini dia tidak akan mencurigakan saat pesta."


"Ohh, ayolah ibu~ Disini bau banget! Cepetan keluar!!!"


"Iya, iya!"


Sang ibu menarik satu-satunya rantai yang masih terikat di leher sang gadis vampir. Di tariknya rantai itu tanpa memikirkan apakah anak tirinya terluka atau kesakitan.


Sementara sang ibu menarik Ruby kasar ke atas, sang anak hanya bersenandung senang. Tanpa menyadari sekilas tatapan Ruby penuh dengan keinginan membunuh.


"Pesta kedewasaanmu tinggal 1 Minggu lagi! Kamu harus senang karena bisa segera meninggalkan penjara itu! Jangan berbuat aneh-aneh saat pesta! Diam saja seperti patung!!" seru sang ibu dijawab anggukan kecil.


Sang ibu menarik rantai itu dengan keras hingga wajah Ruby berada di depan wajah ibu tirinya.


"Lalu setelah pesta adalah saatnya masuk akademi. Dengar baik-baik!! Saat di akademi, kamu harus mendengarkan apapun perintah putriku!! Mengerti!!!"


Ruby berpura-pura kesulitan menjawab karena sudah lama tidak minum air.


"........ Y..a... i... bu."


"Bagus!" seringai sang ibu kejam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Istana Dunia Bawah


Rambut pirang keemasan panjang yang berkibar tertiup angin itu terlihat indah. Sesosok wanita pirang dengan mata kesepian berdiri menatap dua bulan di atasnya. Sayapnya yang berbeda warna terlihat begitu indah dan serasi dengan pakaiannya.


Pria yang berpakaian khas pelayan mendekati wanita itu.


"Yang Mulia, semua persiapan yang anda rencanakan telah selesai. Kami menunggu perintah anda selanjutnya."


Wanita itu hanya diam termenung. Namun sesaat kemudian, tatapan kesepiannya langsung berkobar membara.


"Sudah saatnya, ya!"


Jubahnya berkibar bersamaan dengan berbaliknya wanita itu dari beranda istana.


"Waktu kita tidak banyak. Segera laksanakan rencana tahap awal!"


"Baik, Yang Mulia!!" jawab sang pelayan cepat.


Lucifer pergi ke arah panggung tempat dimana seluruh bawahannya berada. Jumlah mereka ada ribuan dan semuanya berasal dari ras yang berbeda. Begitu sampai di atas panggung, pandangan semua orang langsung menuju ke arahnya.


"Aku tidak akan basa basi. Rencana kita akan segera dimulai. Aku tidak menerima keberatan!!" jerit Lucifer dijawab oleh raungan semua makhluk didepannya.


"Michael... aku akan memulainya. Jangan harap aku akan berhenti hanya karena kamu memintanya. Aku tidak akan berhenti, karena aku sudah berjanji bahwa aku akan melindungi anak itu sesuai permintaan beliau!" batin Lucifer tegas.


Sekarang fase pengenalan telah berakhir. Apa yang akan terjadi setelah itu akan menjadi awal dari cerita utama mereka.


Setelah semua bidak catur tersusun rapi pada letaknya, maka barulah permainan akan bisa dimulai. King, Queen, Bishop, Knight, Rook hingga Pawn baik dari sisi hitam dan putih. Masing-masing dari mereka memiliki kisah mereka sendiri. Dan gabungan dari kisah itulah yang akan menyusun jalannya permainan catur yang mampu menarik minat seseorang.


|| Saa!!! Gamenya baru akan dimulai!!!! ||


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...The Dragon's Blue Gem Season 2 Completed...


...TDBG Will Return December 12, 2021...