The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 170 [ Penggabungan Pertama (3) ]



Ruby berdiri cukup lama sejak ditinggal gadis itu sendirian. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun hanya Padang bunga saja yang dapat dilihatnya.


"Dia mengatakan sesuatu seperti di Alam pertigaan. Aku gak ngerti maksudnya, tapi pasti itu berhubungan dengan datang ke alam bawah sadar si Mika."


".....Tapi.... gak ada apapun... gak ada apapun disini!!"


Seperti yang Ruby katakan, tidak ada apapun selain Padang bunga sejauh mata memandang. Ruby juga sudah berjalan kesana kemari, mencari sesuatu yang dapat menghubungkannya dengan Mika. Namun itu sia-sia. Rasanya tak peduli sejauh apapun Ruby melangkah, dia seakan tidak bergerak sama sekali dari posisi awalnya.


"Labirin ratusan kali lebih baik dari ini," gumam Ruby kesal.


Ruby yang kelelahan menjatuhkan diri ke bunga-bunga. Gadis itu tiduran selagi memandang jauh ke langit. Dia sempat teringat kalau sebelumnya dia juga seperti ini dan tiba-tiba gadis yang tadi muncul disebelahnya.


".... Setelah dipikir-pikir... ini sejenis dengan dunia mimpi, kan? Apa aku juga bisa menyebutnya Lucid Dream?"


"Kalau Lucid Dream... artinya aku bisa menciptakan apapun yang kumau... lalu... aku mau es teh... haus banget soalnya..."


"Bercanda..."


BWOOOSSHH


Mendadak muncul segelas es teh segar lengkap dengan sedotan dan potongan lemon di bibir gelasnya. Es teh itu melayang di atas Ruby dengan posisi tegak sehingga airnya tidak tumpah.


"!?"


Melihat apa yang diinginkannya benar-benar muncul, membuat mata Ruby terbelalak.


Ruby bangun seketika dan memegang gelas itu dengan hati-hati. Diminumnya es teh itu lewat sedotan.


"Segar... ini beneran Es Teh..." kagum Ruby.


"Bukankah ini lebih menakjubkan dari mimpi biasa? Aku bisa merasakan sesuatu. Dan bisa juga menciptakan apapun... luar biasa..."


Mata Ruby berbinar-binar. Bahkan meski ini hanyalah mimpi, dapat menciptakan apapun yang dia inginkan sudah pasti membuatnya berdebar-debar. Selama beberapa saat, Ruby melakukan uji coba. Dia menciptakan berbagai hal mulai dari makanan, mainan, sihir, hingga bangunan. Satu-satunya hal yang tak bisa Ruby ciptakan adalah makhluk hidup yang memiliki kecerdasan.


"Ah... aku lupa..."


"Kenapa aku malah bermain-main disini!?" kesal Ruby pada dirinya sendiri.


Ruby menepuk pipinya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya sendiri. Setelah fokusnya kembali, Ruby menghilangkan segala sesuatu yang dia ciptakan karena iseng sebelumnya.


"Kalau begini... mungkin aku bisa pergi ke tempat Mika..." senang Ruby.


Ruby memejamkan matanya. Dia mulai membayangkan sebuah gerbang yang menghubungkan tempat ini dengan alam bawah sadar Mika. Sedikit sulit memang, dia perlu konsentrasi dan memfokuskan pikirannya ke Mika. Berkat itu, setelah beberapa saat, padang bunga ini bergetar layaknya tengah mengalami gempa bumi skala kecil.


Sebuah gerbang mewah berbalutkan emas muncul dari tanah. Tingginya sekitar 5 meter dan lebarnya 3 meter. Corak dan pernak pernik yang menghiasinya sangat indah. Ruby sendiri sampai terkagum-kagum, karena yang dia bayangkan hanya gerbang sederhana saja. Siapa sangka yang keluar adalah gerbang surga semacam ini.


Ruby melangkah mendekati gerbang itu dan menyentuhnya dengan hati-hati.


"Menurut cewek itu, aku harus membangunkan dan negosiasi dengan Mika. Membangunkan... apa dia juga sedang tidur di alam bawah sadarnya sendiri...?"


"Kemungkinan alam bawah sadarnya tidak bagus sekarang."


"Kalau menurut film-film yang sering kutonton dulu, apa ini akan menjadi ruangan serba hitam yang hanya berisikan seorang wanita yang tertidur? Atau malaikat tidur yang dilindungi ratusan pasukan? Bisa juga nanti muncul semacam segel rumit yang harus dipecahkan."


Ruby menelan ludah, "Apapun itu... pasti sesuatu yang berbahaya... aku harus mempersiapkan diri."


Dengan penuh kewaspadaan, Ruby membuka gerbangnya perlahan-lahan... Dia memejamkan mata, bersiap untuk apapun yang akan muncul didepannya. Namun begitu mata Ruby terbuka, bukan semua hal aneh yang dibayangkannya sebelumnya yang terlihat.



Kamar sederhana dengan desain navy monochrome yang terlihat elegan dan rapi menyambutnya. Penampilan kamar itu cukup modern, berbeda dari kamar biasa di peradaban Demetria. Anehnya meski Ruby membuka gerbang mewah disisi sana, disisi sini Ruby justru membuka pintu kamar biasa.


Baik peletakan barang hingga kasurnya sangat rapi. Namun tak ada siapapun yang terbaring di kasur itu, berbeda dari tebakan Ruby. Ruby sampai terheran-heran di tempat melihatnya.


"Tempat... apa ini...?" batin Ruby bingung.


"Desain kamarnya modern... kenapa bisa begitu? Ini bukan kamar normal di Demetria... malahan... ini kamar normal di Bumi."


Ruby memasuki kamar itu meski kepalanya penuh tanda tanya. Sebelum melihat-lihat lebih jauh, Ruby tidak lupa mengucapkan salam dan menutup kembali pintunya. Gadis itu berkeliling mengitari kamar untuk mengetahui dimana dia sebenarnya. Dia menemukan beberapa hal menarik, salah satunya... foto atau lukisan pemilik kamar itu, Mika dengan Aqua berdua saja. Disebelahnya juga ada foto mereka bersama dengan anggota Raven lainnya. Semua terlihat bahagia dalam foto itu.


"......." Perasaan Ruby menjadi aneh.


"Ternyata... mereka memang tidak lengkap kalau tidak ada Mika..." batin Ruby.


"Aku tidak bisa membuat mereka berekspresi seperti ini... keberadaanku disana... sama sekali tidak dapat menggantikan dirinya..." gumam Ruby dengan senyum sendu.


"Dari awal kamu tidak akan mungkin bisa menggantikanku."


"!!?"


Suara seorang wanita langsung mengejutkan Ruby. Gadis itu seketika berbalik dan mencari asal suaranya. Dia baru menyadari bahwa dibalik jendela besar di kamar itu, ada sebuah balkon yang cukup luas. Karena jaring-jaring putih tipis yang menitupi jendela, Ruby tidak dapat langsung menyadarinya kalau seseorang disana tidak mengatakan apapun.


Baru sekarang Ruby menyadari ada seseorang yang berdiri memunggunginya di Balkon. Perlahan, Ruby mulai mendekat tanpa mengurangi kewaspadaannya. Begitu Ruby membuka jendela, wanita berambut biru muda berbalut gaun putih yang memunggunginya itu kembali mengatakan sesuatu.


"Seperti aku tidak akan bisa menggantikan Yue. Kamu juga tidak akan bisa menggantikanku. Kita memiliki peran masing-masing. Sebelum peran kita menjadi satu, kita adalah orang yang sepenuhnya berbeda," senyum wanita itu.


Wanita itu berbalik menatap Ruby, "Itulah kenapa, kamu tidak seharusnya mencoba menggantikanku."


Ruby terpana melihatnya. Dia sudah melihat wanita itu beberapa kali sebelumnya, namun dalam keadaan terbaring tidur dan pucat. Sedangkan wanita yang berdiri dihadapannya sekarang, memiliki ekspresi cerah dan bersinar layaknya matahari dengan senyuman yang begitu hangat. Kecantikannya terasa lebih menakjubkan ketika dia seperti itu.


"Akhirnya kita bertemu juga. Senang bisa melihatmu secara langsung, Rubylia Arsilla," senyum Mika penuh kelembutan.


Bersamaan dengan senyuman lembut yang Mika keluarkan, suara aneh terdengar oleh mereka berdua.


ZWIIIINGGG



Layar status yang normalnya tidak bisa dilihat orang biasa tanpa skill mata khusus, mendadak muncul di sebelah Ruby.




"Hmm? Ara~ Ara~ kelihatannya sesuatu yang hebat terjadi sekarang," senyum Mika membuat Ruby semakin dipenuhi tanda tanya.