The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 86 [ Reuni Eins dan Zwein ]



Dunia Peri, Istana Ratu Peri


{ Jadi begitulah ceritanya, Baginda }


Aure mengakhiri penjelasannya pada Ratu Peri dan Zephyr.


{ Baginda... Aqua sudah menemukan potongan jiwa adiknya yang ketiga. Bukankah ini sudah waktunya? } senyum Zephyr.


Ratu ikut tersenyum sambil menatap langit.


{ Kau benar. Kurasa ini sudah saatnya memberitahukan kebenarannya pada mereka }


{ Lynn, tolong panggilkan Yue untukku } pinta Ratu Peri pada peri air tingkat tinggi, Lynn.


{ Baik, Baginda. Tolong tunggu sebentar! }


Lynn memunculkan sayap perinya dan pergi dari istana ke suatu tempat, meninggalkan Ratu Tiana bersama Zephyr dan Aure.


Suasana hening sesaat setelah Lynn pergi. Ratu tidak mengatakan apapun dan hanya duduk diam memandang langit dengan ekspresi lembut.


{ Umm... Nona Zephyr... } ucap Aure ragu.


{ Ya? }


{ Anu... Aqua... minta tolong pada Nona agar Nona menjemputnya karena dia tidak ingin pergi ke Kerajaan Vittacelar. Ah! Aku tau dia tidak sopan! Tolong maafkan kelancarannya!! } panik Aure.


Zephyr tertegun, dia sedikit terkejut. Tapi tak lama, dia tertawa kecil.


{ Jangan panik begitu. Aku tidak marah, kok }


{ Tidak masalah. Begitu Ratu mengizinkan nanti, aku akan langsung menjemput Aqua dan Arc-Angel Michael } jawab Zephyr tenang.


{ Arc-Angel Michael? Kenapa Arc-Angel disebut disini? } tanya Aure tidak peka.


{ Ara? Kamu tidak tau? }


{ ? }


{ Hmm... Aure, aku tau kamu memang tidak peka. Tapi tak kusangka sampai separah ini. Mika yang bersama dengan Aqua itu adalah Arc-Angel terkuat, Michael }


{ Eh? }


{ EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH!!!!!??? }


...***...


"Hatchiiiiii!!!" bersin Mika.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Aqua khawatir, dia memberikan sapu tangannya pada Mika.


"Tidak. Hanya saja... mungkin ada yang membicarakanku?" balas Mika sambil mengusap hidungnya dengan sapu tangan.


"?"


Saat ini Aqua dan Mika yang diikuti Neelima sedang berada di pusat kota perdagangan, Aranyu. Mereka sedang mencari sebuah penginapan yang tenang dan sesuai untuk berbicara.


Mereka berhenti di depan penginapan bertuliskan "Penginapan Stella."


KRIIINGGGG


Lonceng berbunyi setelah mereka melewati pintu.


"Selamat Datang di Penginapan Stella!!!" sapa seorang pria berpakaian pelayan.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.


"Kami ingin memesan 2 kamar. Satu untuk dua orang dan satu untuk satu orang. Hanya untuk 1 malam saja. Apakah bisa?" balas Mika ramah.


"Ah, bisa nona. Apakah anda sekalian juga mau memesan paket makanan?"


"Iya, Tolong."


"Baiklah, nona! Totalnya 4 koin silver."


Aqua memberikan uang pada Mika, dan Mika menyerahkannya pada pelayan itu. Sebagai gantinya, sang pelayan memberikan dua buah kunci dan mengantar mereka bertiga ke kamar mereka.


"Silahkan panggil saja saya kalau anda membutuhkan sesuatu," ucap pria itu sebelum meninggalkan Aqua, Mika dan Neelima.


Aqua, Mika dan Neelima masuk di kamar 2 orang dulu untuk berbicara. Aqua dan Mika duduk di kasur yang sama sambil menatap Neelima baik-baik. Sedangkan Neelima duduk di kasur depan mereka. Dia merasa agak canggung dengan kedua tuannya itu.


"Aqua, apa kamu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya padanya? Dia temanmu, kan?" bujuk Mika.


"......."


Aqua tidak menjawab. Dia ragu apa dia harus mengatakan pada Neelima bahwa dia adalah Zwein. Kalau dia mengatakannya, Neelima pasti akan berusaha membantunya. Dia tidak ingin melibatkan Neelima pada masalahnya.


"?"


"Maaf... sejak tadi saya mendengar bahwa nona membahas 'teman' dengan tuan. Apakah ada hubungannya dengan saya?" tanya Neelima sopan.


"Tidak perlu formal. Bicara saja seperti biasa," kata Aqua agak dingin.


"Ah... iya."


Kecanggungan ini terjadi sedikit lebih lama. Tak seorangpun dari mereka yang mulai bicara. Lama kelamaan Mika jadi kesal dengan suasana ini.


"Aku keluar! Kalian bicarakan saja masa lalu sepuas kalian! Aku mau belanja dulu!" serunya.


"Tung-"


Aqua menahan tangan Mika, namun Mika melepaskan tangan itu dengan lembut. Tatapan wajah Mika seolah berkata kalau Aqua benar-benar harus bicara berdua dengan Neelima.


"Jangan khawatirkan aku! Bicaralah dengannya, kalau kamu sudah selesai, aku akan kembali," bisik Mika.


"Emm... tuan?" tanya Neelima canggung.


"..... Jangan panggil aku tuan! Itu membuatku tidak nyaman."


"Ah... baik... Master...?"


"Tidak juga dengan Master! Aqua! Panggil saja Aqua!"


"Eh? Tapi itu tidak sopan memanggil tuanku hanya dengan nama," ucap Neelima sungkan.


"Aku bukan tuanmu! Aku sudah bilang, mulai hari ini kamu bebas. Kamu bukan budak lagi."


Aqua melepas topengnya.


Neelima terpesona melihat wajah cantik tampan Aqua. Dia belum pernah melihat laki-laki seindah itu sebelumnya. Tapi bukan berarti dia jatuh cinta, sejujurnya Aqua bukankah tipe Neelima. Mungkin bagi sebagian perempuan, tipe laki-laki cool yang bucin adalah tipe yang sangat mereka sukai.


Namun sejak dikehidupan sebelumnya maupun sekarang, tipe Neelima adalah shouta imut yang mudah di goda. Mungkin Aqua 5 tahun yang lalu masih masuk tipenya. Tapi saat ini sudah sangat diluar tipenya.


"......."


Suasana canggung ini kembali terjadi.


Aqua tidak tau harus memulai percakapan dari mana. Dia tidak mungkin bisa berkata sesuatu seperti, "Hei! Aku Zwein! Lama tak jumpa!!" itu.


Dan Neelima juga tidak mungkin akan menjawab seperti, "Oh! Zwein!! Aku Eins! Lama tak jumpa juga!" itu.


"........ Hei, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Aqua melepas keheningan.


"I-Iya... Aqua."


"....... Kirana Hadenova, apa kau mengenalnya?" tanya anak itu blak-blakkan.


"!!"


Neelima membelalakkan matanya. Dia sangat terkejut sekarang, mendengar nama itu keluar dari mulut Aqua sungguh tidak masuk akal.


"Bagaimana dia bisa tau namaku dikehidupan sebelumnya?!!"


"Si-siapa ya? Aku tidak pernah mendengar nama itu?" elak Neelima sambil menatap ke arah lain.


"......."


Aqua mengeluarkan tatapan curiga.


"Tidak mungkin kau tidak tau. Itu adalah namamu di kehidupan sebelumnya."


"Kebohonganmu tidak bisa berguna didepanku."


Aqua menyibak poni kirinya. Dibukanya mata emas itu setelah sekian lama.


"!"


Lagi-lagi Neelima dikejutkan oleh Aqua. Dia mungkin berasal dari ras terpencil. Tapi dia sudah mendengar banyak informasi saat menjadi budak. Jadi tidak mungkin dia tidak mengenali mata itu. Terutama karena matanya juga punya fungsi yang mirip.


Mata hijau Neelima sedikit berbeda dari Aqua. Mata itu bisa sedikit melihat pergerakan masa depan, menembus kegelapan, melihat jarak jauh dan memberitahu nama suatu benda. Nama itu tidak memberikan detail lain selain nama layaknya mata Aqua, hanya nama saja. Dan itupun tidak bekerja pada orang.


Namun saat ini, mata Neelima memberikan keterangan bahwa mata emas Aqua adalah Dragon's Eye.


"Dragon's Eye... milik keluarga kekaisaran Levana! Apa anda seorang pangeran?!!" kaget Neelima.


"Pantas saja uangnya banyak."


"Bukan. Aku hanya anak haram Kaisar, bukan pangeran."


Aqua menutup mata kirinya dengan poni lagi.


"Sekarang kamu sudah tau. Haruskah kita melanjutkan pembicaraan, Kirana Hadenova?"


"......."


Neelima jadi sedikit waspada dengan Aqua. Dia yakin Aqua sudah tau dari awal tentang identitas Neelima sebelum dia membelinya.


"Jangan-jangan dia membeliku karena aku orang dunia lain..."


"Tapi kenapa orang seperti itu melepasku?"


"Aku anggap kamu setuju. Pertama, tidak perlu khawatir aku membocorkan identitasmu. Kedua, aku bukan membelimu karena kamu adalah reinkarnator tapi karena kamu adalah Kirana Hadenova."


"?"


"Ketiga, aku juga seorang reinkarnator."


"?!!!!!"


Hal yang paling mengejutkan Neelima sejauh ini adalah pernyataan terakhir Aqua bahwa dia juga seorang reinkarnator.


"Apa?!!!"


"Kamu juga?!!!" kaget Neelima.


Senyuman yang terkesan jahat terlukis di wajah Aqua.


"Kenapa? Apa kau pikir hanya kau saja yang bereinkarnasi, Eins?"


"........"


Neelima sudah tidak tau lagi harus berkata apa. Dia sudah lelah terkejut. Namun pertanyaan Aqua kali ini sangat membuatnya shock sampai membeku di tempat. Butuh waktu hingga otak Neelima menerima seutuhnya pertanyaan Aqua tadi.


"Apa... apa tadi dia bilang... EINS?!!!!!!!"