The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 111 [ Status Raven Saat Ini ]



Hati Aqua dipenuhi kehangatan. Dulu dirinya berpikir kalau hatinya sudah mati bersama dengan kematian Citrine dan dendamnya pada Turquoise, tapi sekarang dia dibuat menyadarinya lagi.


Perasaan hangat saat bersama sahabat dan kekasih.


Sungguh beruntung dia memiliki orang yang membuatnya merasa begitu berharga.


« Kenapa kamu senyum-senyum sendiri » goda Mika.


« Tidak, hanya saja... aku kembali sadar betapa berharganya senyuman kalian bagiku » jawab Aqua seadanya.


Mata Mika terbelalak sesaat. Meski ingin menggodanya lagi, dia tau ini saat yang tidak tepat. Karena melakukannya sama saja dengan mengejek perasaan Aqua sekarang.


« Kalau begitu lindungi senyum itu baik-baik » senyum Mika hangat.


« Kau tau perlu mengatakannya »


"Ya... pasti! Akan kulindungi baik-baik. Terutama senyum hangatmu itu," batin Aqua tulus.


"Oi Aqua!! Mumpung disini, sekalian aja cek status masing-masing, gimana?! Kalau ada kamu, gak perlu yang namanya bola status!" cengir Lix tiba-tiba sambil mengalungkan lengannya ke kepala Aqua.


"Boleh juga, Lix. Sudah lama aku tidak mengecek statusku!" timpal Vina.


"Mata Aqua juga bisa memperlihatkan ke orang lain, kan?" tanya Vira memastikan.


"Tidak buruk. Karena kita akan bekerja sebagai tim, tidak ada salahnya melihat status masing-masing agar tau pola kerjasama yang bagus!" seru Eli setuju.


Pietro mengangguk setuju, dia juga penasaran dengan statusnya, mengingat dwarf sangat jarang melihat status. Disini Pietro masih belum tau betapa berharganya mata Aqua itu di kalangan manusia. Dia hanya tau kalau mata Aqua punya kekuatan menakjubkan.


"Tuh... semuanya meminta begitu. Lakukan saja," ucap Mika sambil kembali duduk di sofa.


"Apa boleh buat, ya."


Aqua menyibak poninya, memperlihatkan mata kirinya itu.


Sebelum Aqua memperlihatkan status masing-masing anggota Raven, Eli mengedipkan matanya. Dia mengkode Aqua agar membuat status dunia lain mereka disembunyikan. Tentu saja Aqua sudah tau itu, tanpa perlu diberitahu Eli.


"Mau mulai dari siapa?" tanya Aqua agak datar.


"Aku! Aku!!!" jerit Lix bersemangat.


"Baiklah, pakai urutan bergabung saja. Lix, Kak Vira, Kak Vina, Eli, Pietro dan terakhir aku dan Mika. Aku katakan di awal, status Mika hampir tidak bisa terlihat oleh mataku yang sekarang. Jadi jangan terlalu berharap."


"Oke!!"


Lingkaran sihir di mata Aqua berputar sedikit cepat. Sebuah layar biru gelap dengan tulisan putih langsung terpampang jelas di hadapan mereka. Karena ukuran layar itu cukup besar, mereka semua bisa melihatnya dengan jelas.



"Oh, kamu sudah naik level cukup banyak sejak terakhir kita bertemu," kata Aqua setengah mengejek.


"Kau kira aku hanya bermalas-malasan?! Tentu aku juga berlatih di dunia peri dulu!! Setelah masuk Akademi, aku juga berlatih keras, kau tau!!" kesal Lix.


Elvira, "Ada sedikit perubahan di tittle ya. Sebelumnya 'Anggota ke-3 Raven' jadi Anggota Raven 'Wrath'."


Elvina, "Benar juga..."


Aqua, "Oke, selanjutnya!"


Lix, "Oy!!Ben-"



Aqua, "Kak Vira juga naik level banyak. Ditambah ada tittle baru."


Elvina, "Fufufufu! Tentu saja! Aku dan kakak ke sana kemari menyelesaikan misi darimu. Tau-tau sudah naik level banyak, aja!"


Lix, "Kok malah Kak Elvina yang sombong."


Pietro, "Hebat! Skillnya banyak."


Eli, "Apa kalau sudah hidup lama bisa begitu?"


"Tolong jangan terlalu memujiku," malu Vira.



"Karena Vina bertugas eksternal, dia lebih sering keluar. Hasilnya levelnya naik lebih tinggi dariku!" puji Elvira.


"Terimakasih sudah berjuang mengembangkan guild informasi sebagus ini, Kak Vira... Kak Vina..." kata Aqua terharu.


"Ti-Tidak sebagus itu, oke! Lupakan itu, lanjut-lanjut!!!" malu Elvina.


"Hehh... jadi Kak Elvina bisa malu juga," ejek Lix.


"Mau kusembelih?" tanya Elvina dengan senyum ramah.


"Tidak! Maafkan aku!!"



(Yang bisa melihat tittle ke 4, 5 dan 6 hanya Aqua, Mika dan Eli)


"Haven't Awakened???" bingung Lix dan Pietro.


"Biar kujelaskan. Para Kynlaus itu sangat lemah jika kekuatan mereka belum terbangkitkan. Namun level mereka akan langsung tinggi setelah terbangkit. Sangat jarang bisa menemui Kynlaus yang sudah bangkit, karena bertemu yang belum saja sudah sulit," terang Elvira.


"Lemah? Dilihat dari skillnya... dia tidak lemah," seringai Lix.


"Bisa dibilang Neelima ini... kamu gak akan meleset kalau menembak target, kan? Itu support yang luar biasa," puji Elvina.


Pietro, Elvira, Lix, Aqua dan Mika mengangguk setuju. Tidak peduli berapapun level Neelima, dia pasti akan sangat berguna bagi Raven.


"Tentu saja! Kaupikir siapa aku!" jawab Eli percaya diri.


"Oke lanjut!" seru Aqua agak kesal.



"A-anu... apa ada yang salah?" tanya Pietro khawatir.


Pietro merasa statusnya tidak begitu hebat dibandingkan anggota lainnya. Jadi dia kurang percaya diri dan merasa tidak berguna. Dia khawatir, diamnya anggota lain artinya mereka marah dan kecewa pada dirinya.


Tapi...


"JELAS YA!!! Bagaimana bisa level 200-an punya skill sebanyak itu?! Ditambah hampir semuanya skill bawaan?!!" jerit Lix kaget.


"Haha... jenius yang diberkati Dewi? Gila... Dia tinggal di tempat damai, terpencil dan tidak ada monster saja levelnya bisa setinggi itu," kaget Elvina.


"Aku belum pernah melihat status sehebat ini di level itu. Dia benar-benar 'Jenius yang diberkati Dewi' seperti tittle-nya," ucap Elvira agak shock.


"Ya. Bahkan akupun tidak sehebat itu. Skill ku memang banyak saat awal, tapi itu karena aku menguasai ketujuh berkat elemen. Skill bawaanku yang lain tidak sebanyak Pietro," jujur Aqua.


"Aku tidak terlalu tau tentang status. Tapi aku tau ini luar biasa," puji Eli tulus.


"Ah! Ti-Tidak sehebat itu... tapi kalau kalian senang dengan ini... syukurlah..." gugup Pietro.


Lix mengacak-acak rambut Pietro.


"Tuh, kan! Kamu itu memang hebat. Berhenti merendah. Percaya dirilah!!"


"Baik!"


Giliran Pietro berakhir. Akhirnya yang paling ditunggu anggota Raven tiba.


"Bagaimana status Aqua setelah keluar dari dungeon rank EX?!!"


Itulah yang Lix, Elvira dan Elvina pikirkan. Sedangkan Eli dan Pietro juga sangat penasaran dengan status pemimpin mereka itu.


Semua anggota Raven menelan ludah. Mereka berusaha tidak berekspektasi terlalu tinggi, tapi apa daya, itu mustahil mengingat yang mereka pikirkan ini adalah Aqua.


"Fufufufu... kayaknya ini akan menarik," pikir Mika.


Aqua menghela napas panjang. Mana mungkin dia bisa menolak jika dilihat dengan mata berbinar seperti itu.


"Ha~ahh... iya, iya. Aku lihatkan..."


"Pasti jadi merepotkan," batin Aqua.



(disini juga, tittle ke 1 dan 2 hanya bisa dilihat Aqua, Mika dan Eli)


Lix, "........"


Elvira, "........"


Elvina, "........"


Eli, "........"


Pietro, "........"


Tidak ada yang mengatakan apapun. Tepatnya mereka terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Meski mereka sudah mempersiapkan diri bahwa Aqua pasti akan mengejutkan mereka, tapi ini berlebihan.


"Ini agak tak terduga," batin Aqua.


"Jangan santai karena berpikir ini tidak terduga. Karena respon ini artinya mereka baru memproses," bisik Mika membuat Aqua agak cemas.


"Uhh... em... boleh kami tanya sesuatu?" tanya Lix yang sedang berusaha mencerna.


"Tentu."


"Kayaknya waktu kita pertama kali masuk dungeon, levelmu baru 300-an. Gimana bisa pas keluar levelmu hampir 900? Padahal kamu gak nyelesaiin dungeonnya," capek Lix.


"Ah... ya... gitu deh," jawab Aqua singkat.


"Oh... ya gitu deh? PALA BAPAK KAU BOTAK?!! ARGH!!!! AQUA! Aku tuntut penjelasanmu nanti!" geram Lix


"..... tentu."


"Aku juga ingin bertanya. 'See more' itu bahasa kuno yang artinya 'lihat lagi' kan? Sebenarnya berapa banyak skill yang kamu punya?" tanya Elvira memastikan.


"Aku tidak ingat jumlah pas-nya... kurang lebih... ada 200-an," jawab Aqua jujur.


"200... oh... 200... jadi 200 ya... jumlah skill ada 200... hahahaha... Dan apa pula itu ras Dragon... hahaha..."


Rasanya Elvira mulai gila. Dia sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Semua "kewajaran" yang dia tau selama ini dibalik begitu saja oleh Aqua.


"Kakak!" seru Elvina memapah kakaknya yang oleng.


"Hahaha, gila. Bahkan aku yang selama ini jadi budak saja tau angka itu gila untuk anak yang baru 15 tahun. Untuk seorang Ratu Sihir saja butuh waktu ratusan tahun untuk punya level 700-an. Dan kamu melampauinya hanya dengan 1,5 tahun."


Eli mulai mempertanyakan tentang "Realitas" setelah itu, meski dirinya sendiri juga menentang kerealistikkan.


"Kelihatannya teman-temanmu sudah capek terkejut. Kalau bersamamu, kaget sudah menjadi rutinitas, ya..." geli Mika.


"Yah... kuanggap itu pujian."


Di tengah-tengah itu, Pietro mengangkat tangannya pelan-pelan.


"Anu... apa itu luar biasa?" tanya Pietro polos.


"TENTU SAJA SANGAT LUAR BIASA TIDAK BIASA!!!!!" jawab Lix, Elvira, Elvina dan Eli bersamaan hingga mengagetkan Pietro, Mika dan Aqua.


"Ah, maafkan aku!" takut Pietro.


Tak lama setelah itu, semua anggota Raven kecuali Mika dan Aqua langsung menatap anak itu lekat-lekat.


"AQUA! JANGAN HARAP KAU BISA LOLOS TANPA PENJELASAN RINCI!!!"