The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 93 [ Melanjutkan Perjalanan ]



Tidak ada gerakan di pelukan Mika. Sembari menepuk-nepuk punggung Aqua, Mika menggunakan sayapnya untuk menyelimuti mereka.


"Sudah tenang?" tanya Mika lembut.


"......"


Aqua tidak menjawab. Dia diam memikirkan berbagai alasan kenapa Yue meninggalkan dirinya.


Mika memandang langit penuh bintang.


"Setiap orang memiliki rahasia yang tidak bisa mereka katakan bahkan pada orang yang dekat dengan mereka seperti keluarga, kekasih dan sahabat. Kamu dan aku pasti juga memilikinya."


"Memaksa orang itu mengumbarnya bukanlah sesuatu yang bijak. Terkadang kita harus memberikan mereka ruang agar mereka dapat melakukan apapun yang mereka mau demi diri mereka sendiri ataupun demi orang lain."


"Untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, kadang kita harus merelakan sebuah kenyamanan. Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan."


Mika memegangi pipi Aqua agar Aqua menatapnya baik-baik.


"Salah satu tahap kedewasaan terjadi saat seseorang belajar untuk merelakan. Dan Yue bisa melakukan itu. Dia keluar dari zona nyaman dan rela pergi jauh darimu demi mencapai tujuannya."


"Melepaskan bukan berarti kamu tidak peduli tentang orang itu lagi. Artinya adalah kamu menyadari kalau orang yang bisa kamu kendalikan hanyalah dirimu sendiri. Apa kamu mengerti?" tanya Mika.


Aqua mengangguk, dia memegang tangan Mika yang menyentuh pipinya.


"Kamu benar, Mika. Terima kasih."


Mika tersenyum hangat dan memasukkan kembali sayapnya.


"Sama-sama."


.


.


.


.


.


"Oi... apa kalian berdua lupa aku ada disini?" batin Eli kesal.


Eli bersandar di dinding tak jauh dari mereka. Setelah Mika mengeluarkan hujan bulu tadi, gadis itu memeluk Aqua dan menenangkannya. Dan yang bisa Eli lakukan hanya melihat kemesraan mereka. Jadi suasana hatinya buruk sekarang.


"Sial. Aku harus cepat dewasa biar bisa punya gender!!! Aku juga ingin pacar!!!!!"


Eli berjalan mendekati mereka.


"Terlalu banyak hal hang terjadi hari ini. Ayo kita beristirahat dulu dan memikirkan baik-baik semuanya!"


"Iya, kalian tidurlah duluan di kamar 2 orang. Aku mau disini sebentar," balas Aqua.


"Kau yakin? Bukankah kalian sepasang kekasih?" tanya Eli curiga.


"Tidak masalah. Pergilah duluan."


"Ya sudah. Ayo Mika! Ada banyak yang ingin aku tanyakan!"


Tanpa sopan santun, Eli menarik tangan Mika masuk ke penginapan.


"Ehh......"


"Kemana perginya kesopanan mu sebelumnya...?" keluh Mika.


"Dari awal keformalan tidak cocok denganku. Tapi kalau kamu mau kuperlakukan sopan, akan kulakukan," jawab Eli santai.


"Mmmm... tidak perlu, deh."


Suara Mika dan Eli tidak lagi terdengar di telinga Aqua. Kedua gadis (?) itu sudah masuk ke kamar.


Similir angin menerpa rambut panjang Aqua hingga berkibar ke belakang. Hanya ditemani suara jangkrik dan cahaya bulan. Aqua memanjat pohon tak jauh dari sana dan tiduran di dahannya.


"........"


Anak itu memejamkan matanya.


"Mika benar. Aku harus memberi Yue ruang dan waktu. Sekarang aku bisa saja langsung teleport ke tempat terdekat dari Benua Iblis yang pernah kukunjungi, tapi tidak boleh begitu."


"Untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, kadang kita harus merelakan sebuah kenyamanan, huh."


Aqua membuka matanya, mata emas dengan lingkaran sihir unik didalamnya bersinar terang.


"Aku tidak boleh kalah dari gadis kecil itu. Aku juga... harus lebih fokus ke tujuanku sekarang."


"Besok kami akan langsung pergi ke Desa Dwarf. Ne- Eli butuh sebuah senapan runduk. Karena di dunia ini tidak ada yang seperti itu, maka kami tinggal membuatnya sendiri. Hecate II, Barrett M82A1, SPR-3 atau SPR-2? Nanti juga harus dimodifikasi agar bisa menggunakan sihir."


"Aku juga... harus buat dagger baru."


Mata Aqua terasa berat. Semua yang terjadi hari ini mulai dari acara pelelangan, bertemu teman lama, dipanggil ke dunia peri, diungkap identitas aslinya, bertemu lagi dengan Yue sampai kepergian Yue sungguh menguras energinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mika menguap ngantuk. Gadis itu berjalan ke luar halaman penginapan.


"Pagi..."


Seorang remaja laki-laki dengan tinggi 172 cm berdiri tak jauh darinya. Dia berbalik menghadap Mika lalu tersenyum hangat.


"Pagi Mika."


"!"


Mika yang sebelumnya masih setengah sadar tak terlalu menyadarinya. Dilihatnya ada yang berbeda dari anak didepannya itu.



(Sauce: Twitter @Potechayuko)


"A-Aqua... kamu... potong rambut?!!" kaget Mika.


Aqua memegangi rambutnya yang dia potong pendek selehernya. Sebelumnya rambut Aqua cukup panjang sampai menyentuh pantatnya, makanya Mika sangat kaget melihat perubahan Aqua.


"Ya. Bukankah sekarang aku terlihat lebih keren?" canda Aqua.


Mika sedikit merasa sayang, dia suka rambut panjang Aqua. Tapi rambut pendek Aqua tidak buruk juga. Malahan jadi terlihat lebih maskulin.


"Keren dan juga tampan!"


"Ahaha, makasih."


Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan ekspresi jengkel.


"Mereka ini... pagi-pagi udah mesra-mesraan aja!!!"


"Hari ini kita langsung pergi, kan? Mau kemana?!" tanya Eli dengan mood buruk.


"Oh, sudah bangun? Tanpa basa basi, ayo pergi ke Desa Rocco!" seru Aqua.


"Desa Rocco? Desa Dwarf?"


Eli mendekati Mika dan memeluknya dari belakang seperti yang biasa dia lakukan ke Tiara dulu. Mika juga terlihat tidak masalah.


"Kenapa?"


"Anggota Raven terakhir ada disana. Dan lagi, kita bisa membuat senapan runduk kalau beruntung," jawab Aqua.


"Senapan Runduk?!!! Yang benar?!!" girang Eli bersemangat.


"Ya. Apa yang kau mau? Hecate II, Barrett M82A1, SPR-3 atau SPR-2? Maaf, aku cuma ingat rancangan 4 senapan itu."


"Hmm... aku tau lebih banyak sih. Tapi itu saja cukup, kalau bisa aku ingin Hecate II dan Barrett M82A1. Lalu... untuk serangan jarak menengah cukup dengan SIG Sauer P226."


Mata Eli terlihat berbinar saat membayangkan kalau didunia ini dia juga bisa memegang senapan.


"SIG Sauer P226 itu bukan 'cukup' woi!! Di Bumi saja tak mudah mendapat itu," pusing Aqua.


"Tapi ya... selama kamu tau rancangannya, itu bisa kita buat."


"Wahh!!! Makasih Aqua!!!!!" peluk Eli girang.


Aqua mendengus kesal dan menghela napasnya. Mika hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua itu. Meski dia tidak paham apa yang mereka bicarakan, tapi dia tau kalau itu adalah sesuatu yang sulit dibuat.


Aqua melepas pelukan Eli agak kasar.


"Sudah! Ayo sarapan dan segera pergi ke Desa Rocco. Letaknya cukup jauh dari sini, jadi ayo cepat!"


"Oke!!!!"


...***...


Menara Sihir


Seorang wanita rubah pirang dengan pakaian Miko duduk santai di atas pagar pembatas balkon lantai teratas. Tangannya memegang dokumen-dokumen. Sambil menikmati segelas teh, dia membaca dokumen itu dengan serius.



(Sauce: DeviantArt on Pinterest)


Diletakkannya kembali dokumen dan cangkir teh perlahan. Tatapannya teralih jauh ke Timur.


"Jadi anak itu sudah keluar dungeon, ya."


Begitu perang selesai 4 hari yang lalu, Ashlan langsung mempersiapkan pasukan dan perbekalan untuk misi penyelamatan Aqua, tapi begitu dia mau berangkat, surat dari guild informasi datang. Dalam surat itu tertulis bahwa Aqua sudah keluar dari dungeon waktu.


"Dungeon nya masih ada, berarti Aqua belum menyelesaikannya. Syukurlah Aqua tidak harus berhadapan dengan boss rank EX itu. Itu bagus, dengan begini orang-orang akan tetap menganggap bahwa Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar sudah mati."


"Yahh... yang tau siapa saja keluarga kerajaan Vittacelar juga cuma sedikit, sih."


"Apa yang akan anda lakukan pada tuan muda sekarang, Nyonya?" tanya pelayan Ashlan tak jauh darinya.


"Dia sudah keluar. Sebentar lagi hari kedewasaan Nona Arsilla. Saat itu sesuai janji, aku akan membawa Aqua. Dan setelah itu..."


Ashlan mengangkat sudut bibirnya.


"Mau tidak mau anak itu harus masuk ke Akademi."


"Kenapa, Nyonya? Bukankah tuan muda terlalu kuat untuk berada di akademi? Tidak ada lagi pelajaran yang bisa diajarkan akademi padanya," kata sang pelayan.


"Pertama untuk membangun koneksi. Kedua untuk menikmati hidup seperti anak muda pada umumnya. Ketiga..."


"Ketiga?"


"Aqua harus mendapatkan hak lulusan terbaik."


"Hak lulusan terbaik?!!"


"Anda benar, saya benar-benar melupakannya. Kalau itu tuan muda, pasti bisa mendapatkannya!" girang pelayan.


"Tentu saja, lagipula dia satu-satunya muridku," senyum Ashlan licik.


"Maaf saja, tapi aku tidak akan membiarkanmu istirahat, A-qu-a!"


Saat ini Aqua masih belum tau, hal apa yang menantinya begitu bertemu lagi dengan sang guru.