
"Eh?? Tapi Yue ingin ikut!!" rengek Yue manja.
"Tidak boleh! Guild tentara bayaran itu banyak orang berbahaya. Kamu tetap disini saja."
"Tapi Aqua pergi… kenapa Yue ditinggal?"
Aqua hampir luluh dengan tatapan Yue yang hampir menangis. Tapi dia tau, tempat itu terlalu berbahaya untuk anak kecil. Apalagi anak seimut Yue. Bisa-bisa ada tentara bayaran yang mau menculiknya.
"Meski aku pasti bisa mengalahkannya, tidak ada salahnya berjaga-jaga."
"Aku janji, nanti kalau aku sudah pulang. Kita akan jalan-jalan bersama dan belanja, boleh?"
"Uhh… baiklah."
Aqua meninggalkan Yue beberapa buku agar dia tidak bosan. Lalu dia keluar penginapan dan terus berjalan ke guild. Sebelum pergi ke guild, Aqua masuk ke gang kecil dan mengubah pakaiannya. Pakaian cantik yang sebelumnya berganti dengan set serba hitam dengan 2 dagger ungu di belakang. Tak lupa Aqua juga memakai topeng putih bercorak tetesan air berwarna biru yang cukup besar.
Begitu persiapan selesai, Aqua kembali pergi ke guild. Saat memasuki guild, pandangan semua orang tertuju padanya. Semua orang berbisik-bisik menyindir dan mengejek Aqua yang terlihat pedek. Tanpa mempedulikan itu semua, Aqua hanya fokus ke resepsionis guild. Seorang pria berotot kekar menjaga resepsionis itu.
"Apa yang kau cari?" tanya pria itu galak.
"Disini bukan tempat anak kecil," lanjutnya sambil mengamati Aqua dari atas ke bawah.
Topeng Aqua memiliki fungsi mengubah suara dan warna mata, jadi suara Aqua terdengar lebih maskulin dan dewasa. Ada sebuah peraturan di guild, hanya orang berumur diatas 15 tahun yang boleh menjadi tentara bayaran.
"Jangan khawatir, aku seorang Half-elf. Usiaku lebih tua dari yang kau kira," jawab Aqua tenang. Dia tak sepenuhnya berbohong. Jika usianya ditambah dengan sebelum reinkarnasi, Aqua sudah berumur 32 tahun secara mental.
"Jadi? Apa yang Half-elf butuhkan dari guild ini? Mengajukan misi atau mendaftar?"
"Tidak keduanya. Hanya menjual beberapa bangkai monster. Bahkan tanpa menjadi tentara bayaran, kita masih bisa menjualnya, kan?"
"Huuffhhh."
Pria itu menyemburkan asap rokok yang dihisapnya ke wajah Aqua. Namun Aqua sama sekali tak bergeming.
"Aku tak melihatmu membawa apapun. Jangan bilang yang kau bawa hanya sebatas inti slime atau semacamnya."
"Jangan meremehkanku! Aku punya skill item box."
Skill item box adalah versi rendah dari inventory milik Aqua. Jika inventory Aqua tak punya batasan ruang dan waktu didalamnya berhenti, item box terbatas dan waktu masih berjalan.
"Hoho… kau punya skill yang menarik. Baiklah, isi ini sebelum kau keluarkan."
Pria itu menyerahkan selembar kertas yang harus diisi saat menjual barang. Tak banyak yang diminta, hanya nama dan barang yang akan dijual.
Aqua mengisi kertas itu dengan nama "Valler" nama samarannya sekaligus nama tengah yang diberikan ibunya. Setelah mengisi kertas itu, Aqua merentangkan tangannya dan mengeluarkan beberapa bangkai monster.
Saking banyaknya yang dikeluarkan Aqua, orang-orang sampai harus menepi memberi ruang. Banyak tentara bayaran terkejut dengan kuantitas dan kualitas monster yang dibawa Aqua. Banyak dari monster itu merupakan monster tingkat tinggi. Pria di resepsionis itu bahkan sampai menjatuhkan rokoknya.
"Oy oy! Bukankah itu terlalu banyak?"
"Apa dia sendiri yang memburunya?"
"Tidak mungkinlah! Banyak monster rank tinggi loh. Pasti ada yang membantunya."
"Orang-orang berisik banget. Berhenti ngoceh gak jelas!" kesal Aqua.
"Tunggu sebentar, kalau ada sebanyak ini aku harus memanggil Guild Master," kata pria kekar itu.
"Ha~ah… apa harus? Kelihatannya merepotkan."
"Tentu saja! Monster yang kau bawa terlalu banyak, dan kebanyakan juga monster level tinggi."
Pria itu berjalan ke belakang untuk memanggil Guild Master. Aqua mencari kursi untuk dia duduki, karena sepertinya tak ada yang mau duduk di dekatnya Aqua duduk di tumpukan monster mati itu. Kakinya terangkat satu dan tangannya menyangga wajahnya.
Pose itu terlihat keren bagi siapapun yang melihatnya. Para tentara bayaran perempuan sampai terpesona bahkan walau belum tau wajahnya.
Tak lama, pria itu keluar bersama wanita cantik berambut hijau muda dari ras Elf.
"Jadi ada Elf lain disini, huh."
"Nak, apa kamu orang yang menjual semua monster itu?" tanya wanita itu sambil memutar rokok kuno di tangannya.
"Tak ada orang lain disini yang bisa," jawab Aqua percaya diri.
Banyak yang kesal mendengarnya, namun mereka sadar kalau ucapan Aqua itu nyata.
"Tentara bayaran disini hanya sampai rank B. Tak ada rank A atau bahkan S. Kekuatanmu sepertinya setara rank A. Aku juga melihat banyak bekas sihir di monster itu. Apa kamu penyihir?"
"Apa itu urusanmu?"
Aqua kesal karena begitu wanita itu menyebut Aqua penyihir, tentara bayaran disana tambah berisik tentang kedatangan penyihir ke guild tentara bayaran.
"Bukan… tapi jika kau seorang penyihir, harga yang kau dapatkan akan meninggi. Apalagi karena monster-monster itu kualitasnya bagus."
".... Aku penyihir atau bukan tak ada bedanya. Cukup bayar saja itu dan aku akan segera pergi."
Wanita itu menyeringai, dia mengayunkan rokoknya. Beberapa orang keluar dan sibuk menilai monster-monster itu. Sambil menunggu penilaian selesai, dia mengajak Aqua mengobrol.
"Kudengar kau Half-elf. Apa itu benar?"
"Benar. Kenapa?"
"Siapa orang tuamu?"
"Bukan urusanmu!"
"Apa kau yakin? Gen ras Elf itu kuat. Jika pasangannya tak kalah kuat, seharusnya warna mata dan rambut akan ikut Elf. Namun kamu memiliki rambut coklat dominan manusia, kenapa? Apa kau benar-benar punya darah Elf?"
"Ini bukan rambut asliku."
"!"
"Hoho~ lalu apa warna rambut aslimu?"
"Lebih baik jangan mencari tau sesuatu yang tidak penting."
Lama-kelamaan Aqua sangat kesal dengan introgasi wanita itu. Untung saja penilaian telah selesai. Para staff guild sudah selesai menghitung total uang yang Aqua dapatkan.
Satu staff membisikkan sesuatu ke guild master. Setelah mendengarnya, Guild Master berjalan masuk ke sebuah ruangan dan keluar dengan satu kantong besar berisi koin emas.
"Ini uangmu! Totalnya ada 4000 koin emas dan 750 koin emas kecil. Kamu bisa mengeceknya," kata wanita itu sambil memberikan kantung itu ke Aqua.
"Tidak perlu, aku percaya dengan kejujuran penanganan guild."
Aqua menerima kantong uang itu. Banyak yang terkejut dengan jumlah uang yang didapat Aqua, Aqua sendiri tak terlalu peduli. Dia segera meninggalkan guild tanpa sepatah kata apapun. Sejujurnya bangkai yang Aqua serahkan bukan yang terbaik yang dia punya, ditambah jumlahnya tak terlalu banyak dari jumlah aslinya.
Melihat Aqua yang sudah tak ada di guild, wanita itu tersenyum licik.
"Aku harus melaporkan dia ke Yang Mulia Ratu dan Tuan Putri. Mungkin saja anak itu adalah anak yang dicari Tuan Putri."