The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 114 [ Tiba di Kerajaan Vittacelar ]



Malam berganti siang dan siang berganti malam. Menghabiskan waktu untuk bermain, berlatih dan saling mengenal lebih jauh, membuat para Raven tidak merasakan berlalunya waktu. Tak begitu terasa, 1 bulan telah mereka habiskan bersama.


Kini masa bersenang-senang telah usai. Saatnya kembali serius menghadapi dunia dan masalah yang menanti mereka.


Ketujuh orang dengan pakaian seragam dominan hitam dan warna khusus masing-masing sebagai hiasan telah berdiri di depan markas dengan wajah penuh kepercayaan diri. Mereka mengenakan topeng hitam bercorak warna khas dan anting lambang Raven yang sudah diberi sihir.


"Sejujurnya aku tidak ingin menggunakan Raven untuk balas dendam pribadiku. Tapi Raven kita juga butuh debut spektakuler agar nama 'Raven' bisa mengakar kuat di dunia," kata Gluttony dengan seringai liciknya.


"Untuk itu, apapun akan kumanfaatkan. Bahkan jika itu Kerajaan kuat seperti Kerajaan Vittacelar."


Gluttony, pemimpin Raven berbalik menghadap anggota lainnya dengan senyum sedikit mengejek.


"Kalian masih bisa kembali kalau kalian takut."


Wrath menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oi, oi, oi... jangan bercanda! Mana mungkin kami kembali setelah sejauh ini. Apa kau meremehkan kami?" ucapnya seolah kesal.


"Berhenti mengatakan hal aneh seperti itu. Bukannya kamu sendiri yang ingin kembali? Ini belum terlambat, loh!" ejek Sloth sedikit mengantuk.


"Fufufufu... mana mungkin kami lari dari hal menyenangkan seperti ini?" tawa kecil Envy.


"Begitu. Yah, aku tau kalian akan mengatakan itu," senyum Gluttony.


"Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada dunia! Bahwa Raven sudah tiba di Demetria!"


"Ya!!!" jawab Raven serentak dengan senyuman berbahaya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


5 Leo 498 Pravit


Istana, Kerajaan Vittacelar


Tampak seorang Elf pria berwajah rupawan tengah duduk di singgasananya dengan ekspresi angkuh bagai menjadi penguasa segalanya. Dirinya seolah merasa tidak punya dosa dan tanpa beban.


Meski bagi beberapa orang dirinya adalah seorang bajingan keji yang rela membunuh saudara sendiri demi tahta kekuasaan. Namun nyatanya, meski dia gila kuasa, dia tetap memimpin Kerajaan Vittacelar dengan baik menggantikan ibunya yang belum kembali dari Menara Sihir.


Karena dari awal dia sudah memasang wajah pangeran baik hati dan pintar, tidak sulit memenangkan hati rakyat Kerajaan Vittacelar. Dalam waktu singkat, Pangeran Turquoise Caller El Vittacelar telah mendapatkan dukungan dan kepercayaan penuh rakyat Elf.


Meski sebenarnya para tetua juga lebih merasakan bahwa Tuan Putri Citrine Caller El Vittacelar lebih pantas menduduki posisi putri mahkota, namun karena sekarang hanya ada Pangeran Turquoise sebagai pewaris tahta, maka mereka tidak memiliki pilihan lain selain mendukungnya.


Sebagai catatan, angka kelahiran ras Elf sangat rendah. Rata-rata hanya bisa memiliki 3-4 anak selama 1000 tahun hidup mereka. Dan untuk keluarga kerajaan lebih parah lagi. Mereka hanya bisa melahirkan 2 anak saja untuk setiap generasi. Dengan kata lain, Ratu Amethyst hanya bisa memiliki Turquoise dan Citrine sebagai calon pewaris tahta.


Itulah sebabnya Turquoise sangat tenang setelah berhasil menyingkirkan saingannya. Karena kini dirinya adalah satu-satunya matahari kecil Kerajaan Vittacelar.


Namun sayang sekali.


Ketenangan yang dia rasakan, tidak bertahan terlalu lama.


Sembari memakan anggurnya tanpa tau apa yang akan terjadi, Turquoise menatap Kerajaan kecil itu dari jendela istana.


"Aku sudah memperkirakan mereka akan jatuh jauh ke dalam dungeon. Setidaknya... lantai 70-an mungkin. Dengan level mereka, meski mereka selamat dari jatuh, mereka tidak akan selamat dari monster dungeon," batin Turquoise tenang.


Dilihatnya langit cerah tanpa awan. Perasaan Elf itu secerah langit yang dilihatnya. Tidak ada awan bagai tidak ada masalah.


Sekarang tinggal menunggu kepulangan sang ibu. Dia sudah menyampaikan kabar kematian adik dan sepupunya segera setelah kembali dari dungeon. Membaca itu, meski sang ratu sangat ingin pulang dan menyelamatkan anak dan keponakannya itu, dia tidak bisa. Dirinya masih tertahan oleh Ratu Sihir untuk menyelesaikan beberapa urusan pasca perang yang mempengaruhi Benua Manusia dan Sihir.


"Hmm... hari yang bagus untuk jalan-jalan," ucap Turquoise tanpa beban.


TAP TAP TAP TAP


BRAKKKKK


"TUAN PANGERAN!!!!!"


Pintu ruang singgasana dibanting dengan keras hingga membuat Turquoise terkejut. Terlihat beberapa tetua Elf dengan raut wajah yang buruk. Ekspresi mereka antara panik, takut, marah dan waspada sekaligus.


Tanpa mengubah wajah tenangnya, Turquoise menjawab.


"Ada apa? Tidak seperti kalian yang biasanya selalu tenang?"


Salah satu tetua Elf menjawabnya sedikit gemetaran.


"Yang Mulia... ada... ada sekumpulan orang aneh di gerbang depan!"


"Orang aneh? Kalau cuma orang aneh, panggil ksatria saja! Kenapa justru melaporkan hal remeh seperti ini padaku?" kesal Turquoise.


"I-Itu... masalahnya kelompok aneh ini..."


"?"


"Kalau memberi laporan jangan setengah-setengah!"


Turquoise mengerutkan keningnya, dia paling benci diremehkan dan dibuat menunggu.


"Yang mulia... mereka... mengatakan kalau..."


BRAKKKKK


Turquoise membanting meja tempat buah-buahan diletakkan. Dia tidak bisa menahan emosinya. Bukan hanya sekali, berani sekali tetua itu menggantungkan laporannya begitu.


"Cepat katakan atau kupenggal kepalamu!!" geramnya dengan aura berbahaya.


"Padahal Mantan Ratu dan Ratu tidak pernah mengecam tetua dengan aura. Tapi dia melakukannya meski statusnya masih Pangeran. Inilah kenapa meski keduanya sama baiknya dalam memerintah, Pangeran Turquoise yang tidak bisa mengontrol emosinya kalah dengan Putri Citrine yang riang dan baik hati. Ditambah ambisi yang dimiliki pangeran terlalu besar," batin salah satu Tetua Elf.


"Tolong tenangkan diri anda, Yang Mulia. Biarkan saya yang menggantikan dia berbicara," kata tetua Elf tadi.


"Hmm... Treather ya. Lakukan!"


Setelah mengangguk dan memberi hormat, Tetua Elf bernama Treather yang sebelumnya membatin Turquoise angkat bicara.


"Yang Mulia, pemimpin dari kelompok orang aneh ini mengatakan bahwa Pangeran Kedua masih hidup dan berada di perlindungan mereka."


"?!"


Mendengarnya langsung membuat raut wajah Turquoise memburuk. Seluruh aura miliknya tidak bisa ditahan lagi. Kebocoran itu membuat para Elf dengan level dibawah dirinya sesak napas dan sulit bergerak. Namun tentu saja para Tetua Elf tidak terlalu terkena dampaknya karena level mereka lebih tinggi.


Beberapa mungkin penasaran, kenapa para tetua tidak terlalu senang mendengar kabar ini. Namun tentu ada alasannya. Sudah beberapa kali kejadian serupa datang. Dan tentu saja semuanya adalah penipuan.


"Apa yang mereka katakan hanya kebohongan demi mendapatkan imbalan dari kita?!" tanya Turquoise penuh penekanan.


"Sayang sekali kami tidak terlalu mengetahui itu, Yang Mulia. Mereka menolak bicara lebih banyak jika belum melihat anda secara langsung," jawab Treather.


"Ck, membuang waktu saja," kesal Turquoise.


Tapi meski dirinya sangat kesal, dia tetap menggerakkan tubuhnya keluar istana demi melihat secara langsung bajingan mana yang berani mencari masalah dengannya.


Dengan diikuti para tetua dan wajah kesal yang tertutup senyuman, Turquoise berjalan menuju gerbang masuk untuk bertemu kelompok aneh yang dimaksud tetua.


Terlihat kerumunan Elf yang penasaran dengan kelompok serba hitam itu. Setelah berhasil melewati kerumunan yang terbuka dengan sendirinya begitu dia datang, Turquoise melihat lima orang serba hitam yang memancarkan aura berbahaya.


"Saya adalah Pangeran Pertama Kerajaan Vittacelar. Ada apa gerangan tuan dan nona ini datang ke Kerajaan saya?" tanya Turquoise ramah.


Melihat tekanan yang mereka berikan, Turquoise berusaha bersikap sopan dan tidak mencari masalah duluan. Namun apa daya, dari awal dia memang sudah membuat masalah yang tidak bisa di selesaikan secara damai.