The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 82 [ Keputusan Michael ]



Aqua terbangun tengah malam karena ingin ke toilet. Ada sesuatu yang aneh. Tidak ada siapapun disebelahnya. Padahal biasanya Mika tidur bersamanya.


"Mika...?"


Aqua menoleh ke sekelilingnya, tirai balkon mereka terbuka. Seorang gadis berdiri di sana, menatap bulan dengan tatapan sulit dimengerti. Perlahan seolah tak terjadi apapun, air matanya mengalir sedikit tanpa mengubah ekspresinya.


"!"


Bagai kisah Kaguya yang merindukan bulan, gadis itu memandang bulan dengan perasaan yang mirip. Aqua mengurungkan niatnya pergi ke toilet dan mendekati gadis itu.


"Tidak bisa tidur?" tanya Aqua lembut.


Mika sedikit tersentak dengan suara Aqua. Tapi langsung tenang kembali.


".... Tidak."


"Ada apa? Ceritakan saja. Jangan memendam semuanya sendiri."


Anak ini melingkarkan sebuah selimut ke tubuh Mika.


"Makasih..."


Tak ada dari mereka yang berbicara. Hanya diam memandang bulan sambil menunggu satu sama lain.


Tiba-tiba air mata Mika mengalir lebih deras. Aqua tidak tau harus berbuat apa melihatnya, ditariknya Mika ke pelukan anak itu. Saat ini tubuh Aqua sudah lebih tinggi dari Mika meski secara fisik usianya lebih muda 3 tahun.


Tangan Aqua mengusap lembut rambut Mika. Anak ini membiarkan dirinya menjadi tempat bersandar Mika yang mentalnya sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa... aku disini..."


Jari-jari Mika menggenggam erat punggung Aqua. Seluruh tubuh gadis itu gemetaran.


"Aqua... aku... takut..." ucapnya gemetar.


"........"


Aqua memilih diam mendengarkan Mika baik-baik. Tidak ada gunanya mengomentari gadis itu di situasi saat ini.


"Aku... baru memikirkannya... baru-baru ini... Karena akhirnya... aku punya waktu untuk berpikir tentang itu..."


"Tentang semua ini... aku tidak mengerti!! Apa yang harus kulakukan??! Apa aku... harus bergabung kembali... dengan diriku yang lain...?"


"Tapi kalau begitu... gimana kalau aku kehilangan diriku yang sekarang...? Aku takut... aku takut kehilangan diriku sendiri kalau bergabung... aku takut kehilangan semua perasaanku sekarang... aku takut... kalau aku berhenti mencintaimu..."


"!!!"


Aqua benar-benar terkejut sekarang. Dia tidak menyangka Mika akan mengungkapkan perasaannya padanya saat ini, di situasi ini. Di satu sisi dia senang karena perasaan Mika sama seperti dirinya. Namun disisi lain dia juga bingung menjawab Mika.


Pelukan Aqua semakin erat sampai membenam seluruh wajah dan tubuh Mika di pelukannya.


"Aku mengenal Ruby cuma sebentar. Kupikir dia gadis yang kasihan karena masa depannya seperti itu, jadi aku menolongnya tanpa maksud lain. Tapi kurasa dia adalah anak baik yang suka memendam sendiri masalahnya," ucap Aqua di tengah kesunyian.


"Aku mengenal Yue cukup lama. Dia benar-benar gadis kecil yang penuh energi dan sangat ceria. Sifat manja dan kekanak-kanakan itu mengingatkanku tentang adik kecilku. Meskipun dia seperti itu, Yue adalah gadis yang sangat mempedulikan teman-temannya melebihi dirinya sendiri."


"Mika... meskipun kamu bergabung dengan mereka dan menjadi satu orang yang sama, kamu tidak akan kehilangan dirimu sendiri. Begitu juga dengan Yue dan Ruby, mereka juga tidak akan kehilangan diri mereka sendiri."


"Sifat manja dan kekanak-kanakan (Yue), tenang dan penyabar (Ruby), serta dewasa pintar dan sedikit jahil (Mika), semua itu bagian dari dirimu."


"Apapun pilihanmu, baik itu bergabung maupun tetap berpisah, aku akan menghormatinya."


"Satu hal yang pasti. Seperti apapun dirimu, seperti apapun wujud dan sifatmu, mau berapa kali pun kita mati dan terlahir kembali, aku akan tetap mencintaimu."


Wajah Mika merona sangat merah begitu mendengar Aqua berkata hal itu. Gadis itu melepas pelukan Aqua dan mengalihkan pandangannya agar wajahnya tidak dilihat Aqua.


"Bisa-bisanya kamu mengatakan hal yang memalukan begitu saja..."


"šŸ’¢"


Ingin rasanya Aqua mencubit pipi Mika saat ini juga. Padahal dia sudah memberanikan diri berkata seperti itu untuk menenangkan Mika yang gemetaran. Tapi respon Mika justru mengejeknya.


"........."


"Tapi..."


"....... Te-terima kasih... Aku senang mendengarnya."


Seluruh rasa kesal Aqua hilang seketika saat melihat Mika memegangi pakaiannya dengan wajah merah padam. Gadis itu masih tidak berani menatap Aqua. Meski begitu, hanya dengan itu saja sudah cukup membuat Aqua terpana dan sedikit memerah.


Tangannya bergerak sendiri, mengusap lembut rambut Mika.


"Sama-sama," ucapnya dengan senyuman tulus.


"..... Ka-Kalau gitu!!! Ayo kembali!!!"


Mika berlari masuk dan langsung melompat ke kasur. Dia menarik selimut sampai menutup seluruh tubuh dan wajahnya yang masih merah padam.


Aqua berkedip beberapa kali.


"Dia melarikan diri."


Begitu Aqua berada di lantai 1, tangan kirinya memegangi dinding. Tubuhnya merosot ke bawah, tangan kanannya menutup wajahnya yang mulai memerah padam. Sambil melirik sedikit ke atas, Aqua mulai memikirkan kembali kata-kata dan tindakannya tadi.


"Apa-apaan tadi itu...?! Arghh!!! Apa yang kukatakan tadi?!!!" malu Aqua.


"Setelah memikirkannya lagi... tadi itu benar-benar memalukan!!!!!"


"Bagaimana caraku menghadap Mika besok!!?"


Aqua keluar dari pondoknya. Dadanya terus berdegup kencang. Dia tidak akan bisa kembali tidur disebelah Mika saat ini. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Aqua mengeluarkan sayapnya dan terbang cukup jauh dari pondok.


Sebuah hutan yang tidak jauh dari Aqua menjadi tempat pelampiasan.


"Kebetulan sekali, hutan serangga sialan ini ada disini. Maafkan aku, tolong berkorban lah agar ketenangan ku kembali!!" serunya menyeringai jahat.


Malam itu akan tercatat dalam sejarah Benua Sihir. Karena hutan serangga yang cukup luas, Insect Nest Forest menghilang dari peta hanya dalam satu malam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi Hari, Keesokan Harinya


Mika menguap saat menuruni tangga. Dilihatnya berbagai menu sarapan sudah tersedia di meja makan. Tak jauh dari sana, seorang anak laki-laki remaja sedang menyeduh teh dengan elegannya.


"Selamat pagi!" seru anak itu begitu melihat Mika di matanya.


Kapala Mika berputar dengan cepat. Wajahnya langsung memerah karena teringat kejadian semalam.


"Pa-pagi..."


Mika berusaha tidak menatap Aqua dan tidak membiarkan Aqua menatap wajahnya. Rasanya dia ingin menggali lubang dan membenamkan wajahnya di dalamnya. Sama seperti Aqua, Mika juga berpikir baik-baik tentang kejadian semalam saat dia sedang sendiri di kasur. Pada malam itu juga, Mika sudah membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan dirinya yang lain. Sisanya hanya bertemu dirinya yang lain dan mendiskusikannya dengan mereka.


Mika kesal melihat Aqua bertingkah seperti biasa. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Gadis itu menggembungkan pipinya.


"Aqua!"


"Ya?" jawab Aqua sambil menyeruput tehnya.


"Apa sekarang kita pacaran?" tanya Mika blak-blakan.


"Pufffftttt... Uhuk! Uhuk!"


Aqua menyemburkan tehnya karena terkejut mendengar pertanyaan Mika. Padahal dia sudah mencoba menenangkan hatinya, tapi Mika malah membahasnya sekarang.


Sembari mengelap mulutnya dengan sapu tangan, anak itu menjawab Mika.


"Tidak."


"Eh?!" shock Mika.


Gadis itu mengira hubungan mereka akhirnya menjadi jelas setelah sekian lama. Sudah sejak lama Mika menunggu Aqua menembaknya, berbagai kode telah diberikan, namun hasilnya nihil. Sekarang setelah saling mengungkapkan perasaan, mereka malah tidak jadian?


Aqua melirik Mika yang terlihat shock itu. Anak ini tertawa kecil melihatnya. Aqua berjalan mendekati Mika. Setelah dia berdiri tepat di depannya, Aqua menyentil kening Mika pelan.


"Aw...."


"Bodoh. Kita sudah bertunangan. Apa masih butuh hubungan tak jelas seperti pacaran?"


"!"


Wajah Mika lagi-lagi merona merah. Dia mengangguk-angguk dengan senyum manisnya. Hal itu membuat Aqua sedikit merona juga.


"Ayo sarapan! Kita harus pergi ke Kota Aranyu hari ini," ajak Aqua.


"Oke!!!"