The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 72 [ Kisah Arc-Angel Terkuat (2) ]



"Kamu sudah kembali?" girang Michael.


Lebih dari yang lain, Luciel adalah sosok yang paling Michael kagumi. Pada dasarnya, Arc-Angel diciptakan dari cahaya. Jadi bagi mereka, memikirkan sesuatu yang licik dan penuh tipu daya adalah hal yang sulit. Mereka adalah makhluk yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Namun Luciel percaya, kalau hanya dengan itu saja tidak cukup. Mereka bisa dengan mudah dikalahkan oleh lawan yang licik.


Itulah kenapa Michael mengagumi Luciel yang penuh taktik di kepalanya.


"Syukurlah kamu kembali dengan selamat," ucap Michael senang.


Luciel mengelus rambut Michael lembut.


"Kaupikir aku siapa? Mungkin aku tidak sekuat dirimu, tapi aku masih Arc-Angel."


"Luciel! Kamu baru saja kembali, apa tidak apa menyerahkan masalah ini padamu?" tanya Uriel serius.


"Tidak masalah. Gabriel ada misinya sendiri, kamu dan Michael juga tidak boleh meninggalkan tempat ini. Pilihan terbaik adalah membiarkanku pergi, kau tau itukan Uriel?"


"Itu..."


Uriel sangat mengetahui itu. Kepergian Michael bisa menurunkan moral malaikat, dirinya juga tidak bisa pergi karena harus tetap disana mengatur strategi. Namun mengirim Luciel yang baru saja kembali dari melawan sayap kanan Pasukan Dewa kegelapan untuk misi penyusupan, dia sulit melakukannya.


"Sadarlah Uriel! Ingat prioritasmu!" seru Luciel mengingatkan.


"...... Kau benar. Masalah ini kusersahkan padamu, Luciel. Tolong... bawa kembali Raphael bersamamu!" pinta Uriel.


"Serahkan padaku, aku akan memastikan Raphael kembali dengan selamat!"


Mata Michael berbinar-binar melihat kakaknya yang terlihat keren.


"Padahal Luciel baru saja kembali," kagum Michael.


"Kita tidak boleh membuang waktu, aku akan langsung pergi!"


Luciel sudah membulatkan tekadnya, tak satupun dari mereka berdua yang berniat menghentikannya.


"Tolong ya, Uriel..."


"Tentu!"


Kedua Arc-Angel itu mempercayai Luciel. Wanita itu langsung meluncur bersama beberapa pasukannya yang sudah dilatih khusus untuk misi semacam ini.


Beberapa hari berlalu, perang terus mengecam kedua belah pihak. Pasukan dewa kejahatan sangat kuat, jenderalnya saja setara dengan para Arc-Angel. Sejauh yang terlihat, perang tidak memberatkan pihak manapun. Keduanya memiliki keuntungan sama rata.


Sampai...


.


.


.


.


.


.


.


.


TAP TAP TAP TAP


Langkah kaki berat yang terdengar sepanjang lorong istana semakin kencang.


BRAAAAKKKK


Pintu ruangan Arc-Angel dibuka dengan keras. Menampakkan seorang malaikat laki-laki berambut hijau yang terengah-engah dengan wajah panik.


"No-Nona Uriel!!!" jeritnya panik.


Uriel yang sedang mengatur strategi bersama Michael dikejutkan olehnya. Michael langsung membantu malaikat itu berdiri sambil menyerahkan air untuk diminum.


"Tenangkan dirimu, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" balas Michael tenang.


"Nona Michael... jadi... Nona Raphael sudah kembali, tapi-"


SWOOOSSSHHH


Belum lengkap penjelasan malaikat itu, Michael langsung menjemput Raphael di depan halaman.


"......."


Uriel memegangi kepalanya.


"Anak itu..." gumamnya.


"Lanjutkan saja!" seru Uriel.


"Ba-baik!"


Malaikat itu memberikan penjelasan lengkap pada Uriel. Arc-Angel Uriel membelalakkan mata saat mendengarnya. Dia menolehkan wajahnya dengan cepat ke arah Michael pergi. Ekspresinya terlihat tertekan, setelah menggigit bibirnya hingga berdarah, dia segera menyusul Michael yang tidak tau apa-apa.


Sementara itu, Michael melihat Raphael dan beberapa malaikat yang merupakan pasukannya di halaman dengan beberapa luka.


"Raphael!!!!" seru Michael senang.


Michael segera memeluk tubuh ramping Raphael dari belakang hingga tubuh Raphael oleng.


"Syukurlah kamu baik-baik saja!!! Kita harus berterima kasih ke Luciel!!!"


"........"


Tidak ada jawaban.


"?"


Karena tidak adanya jawaban dari Raphael, Michael sedikit kebingungan.


Tubuh Raphael bergetar. Michael melepas pelukannya dan memutar tubuh malaikat didepannya agar menghadap wajahnya.


"!"


Mata Sapphire Raphael yang mirip dengan dirinya basah dengan air mata. Area disekitar matanya memerah, menandakan dia tidak menangis baru saja.


Raphael melirik ke arah lain, dia tidak berani menatap Michael.


"Maafkan aku... Aku minta maaf..." ucapnya dengan penuh rasa bersalah.


"Se-sebenarnya kenapa kamu menangis? Bukankah semua baik-baik saja?" jawab Michael menolak kebenaran yang terlintas di pikirannya.


"Aku minta maaf... Michael, aku... minta maaf..."


Michael mundur beberapa langkah. Dia tidak bisa menerima sesuatu yang mencoba memasuki benaknya. Begitu dia berbalik, gadis itu melihat Uriel yang berlari ke arahnya. Uriel segera menarik Michael ke pelukannya dengan tubuh yang sama gemetarnya.


"Michael... jangan melarikan diri! Kamu harus mendengarkan kebenarannya!" kata Uriel dengan nada tersiksa.


"Kebenaran apa? Aku tidak merasa ada yang salah disini?" balasnya menolak kenyataan.


Sebenarnya Michael sadar tentang apa yang terjadi. Raphael dan pasukannya kembali dengan penuh luka dan rasa bersalah, tidak terlihatnya Luciel bersama mereka, di tambah suasana yang penuh duka itu.


"Katakan Raphael! Kalau tidak langsung darimu, gadis ini tidak akan menerima kenyataan."


Uriel menahan Michael yang mencoba menjauh dari sana.


"Lepaskan aku!! Lepaskan aku, Uriel!!!"


Raphael terdiam sambil memegang lengannya kuat-kuat. Dia mengerutkan kening dan mengigit bibirnya kasar.


"Michael... Luciel... dia..."


"Tidak ada yang perlu didengarkan!!! Luciel pasti sedang dalam perjalanan ke mari. Aku harus menjemputnya!!!"


"Katakan Raphael!!!"


"Luciel... mengorbankan dirinya agar... kami bisa kembali ke sini... dia menahan Jendral Dewa Kejahatan, Ifigenia sendirian... Hidup dan mati... tidak diketahui..."


Bagai tersambar petir di siang hari, tubuh Michael lemas seketika. Wajahnya sangat shock mendengar Raphael. Sesaat kemudian, gadis itu menggeleng kuat-kuat.


"Itu tidak mungkin..."


"Itu tidak mungkin terjadi... habis... Ifigenia itukan... sudah hampir tingkat Téssera..."


"Jadi itu... pasti bohong, kan? Apa ini sesuatu untuk mengejutkanku? Ah! Aku tau! Ini pasti kejahilan Luciel yang biasanya!! Ya kan?"


Raphael mengalihkan pandangannya, begitu juga dengan Uriel yang memegangi Michael. Bahkan tak ada satu malaikat pun di pasukan Raphael yang tidak menundukkan kepalanya.


Melihat tak semalaikatpun menjawabnya, Michael mulai mengeluarkan air mata. Dia melepas pelukan Uriel dengan kasar dan terbang ke kamarnya.


Uriel menatap tubuh Michael yang mulai menjauh.


"Mika..."


"Ha~ahh... aku akan menyusulnya! Raphael, kamu dan pasukanmu tetaplah disini. Obati yang terluka dari yang paling parah!!" komando Uriel.


"Baik!!!"


...***...


Uriel berdiri di depan kamar Michael. Tangannya terulur, ingin mengetuk pintu. Namun sesuatu seolah menahannya. Wanita itu menyentuh pintu kamar Michael perlahan.


"Mika... keluarlah... jangan mengurung dirimu. Tentang Luciel... kita akan membahasnya, oke?" ucap Uriel lembut.


"........"


Hening. Tidak ada suara dari sana.


"Mika?"


"........ Harusnya aku saja... yang pergi saat itu."


Suara serak Michael terdengar menusuk hati.


"Jangan bicara seperti itu... Luciel tidak akan kenapa-kenapa... percaya saja dengannya."


"Keluarlah... ingat Mika! Bukan cuma kamu yang ingin terbang ke sana sekarang juga untuk menyelamatkan Luciel. Semuanya merasa seperti itu... jadi ayo kita bahas jalan keluar terbaik agar semuanya selamat, oke?"


"........"


KRIEEEEEETTTT


Uriel terkejut dengan apa yang dilihatnya. Michael sudah membawa seluruh peralatan tempurnya. Cincin Halo-nya yang memiliki permata biru, berganti menjadi merah. Pakaian putih yang biasa dikenakannya diperkuat dengan beberapa efek. Dia juga memakai gelang item dimensi yang berisi banyak item penting.


"Mika, kamu..."


"Kamu sudah mengatakannya, Uriel. Ayo segera bahas cara menyelamatkan Luciel!" serunya bersemangat.


"......"


Uriel tak bisa berkata-kata. Ternyata suara serak dan kemurungannya tadi hanyalah akting agar Uriel cepat bertindak.


"Ha~ahh... kamu ini... Sepertinya percuma aku mengkhawatirkanmu," kesal Uriel.


"Hihihi... kekuatan Luciel, aku yang paling tau! Bahkan meski lawannya tingkat Téressa, dia pasti akan tetap hidup bagaimanapun caranya. Jadi kita harus cepat menyelamatkannya!" balas Michael.


"Baiklah, baiklah... sampai memakai semua item itu... kayaknya kami harus segera membuat keputusan sebelum kamu pergi sendirian nantinya..." keluh Uriel.


"Fufufu..."


Akhirnya Michael dan Uriel terbang ketempat rapat bersama untuk membahas rencana penyelamatan Luciel. Sebenarnya meski tak terlihat terlalu khawatir, pikiran Michael penuh hal-hal negatif. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dihadapi Luciel.


"Luciel... Tunggulah sebentar lagi!! Kami pasti akan menyelamatkanmu..."