The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 185 [ Evelyn dan Levana ]



"..... Aku bisa saja membuka gerbangnya sekarang juga. Tapi jika kau menemui Dewi dan memintanya sekarang, kemungkinan kau berhasil hanya 2% saja. Di tambah kemungkinan kita mendapatkan hukuman besar adalah 100%. Masih mau?"


"Lalu kau ingin aku bagaimana!?" rintih Levana.


Levana sebenarnya bukanlah orang yang emosional seperti ini. Dia hanya bersikap begitu jika itu menyangkut kekasihnya dan Kekaisaran Levana. Selain itu, rasa bersalah besar akan akibat dari dirinya yang meninggalkan tanggung jawab juga menyiksa batinnya. Itulah kenapa Levana menginginkan kekuatannya kembali agar ia bisa kembali menjaga dunia meski sebagai gantinya, Dewi akan memberinya hukuman yang lebih berat.


"......"


Eve, "5 Tahun."


Levana, "?"


"Nostra takkan menyerang makhluk didalam batasan secara terang-terangan setidaknya selama 5 tahun lagi. Itupun kalau kau mau membantuku. Kalau tidak, mungkin sekitar 3 tahun saja," ucap Eve.


"Apa yang mau kau katakan sebenarnya?"


"Bersabarlah. Aku pasti bisa membantumu meyakinkan Dewi Athena 5 tahun lagi. Selama itu, kau harus membantu kami mengulur waktu agar Nostra tak menyerang makhluk didalam batasan secara tak langsung," jawab Eve.


"Jangan khawatir, bantuan yang kuinginkan bukanlah sesuatu yang akan merugikanmu. Aku hanya ingin kau melindungi wilayah tertentu dan mewaspadai orang tertentu yang akan kukatakan padamu nanti."


Levana agak goyah, namun masih mencurigai Eve, "Dan apa yang akan kau lakukan selama itu?"


Eve tersenyum penuh percaya diri, "Tentu saja bertambah kuat. Tidak, mungkin lebih tepat kalau dibilang mengembalikan kekuatanku juga."


"...... Bagaimana caramu bisa meyakinkan Dewi 5 tahun lagi ketika sekarang saja tak bisa sama sekali?" tanya Levana lagi.


Kali ini Eve tak tersenyum, dia menyeringai. Sebuah seringai yang mengandung berbagai perasaan yang campur aduk. "Karena akan kupastikan dalam 5 tahun, statusku bukan lagi Arc-Angel Michael. Namun kembali ke diriku yang sebenarnya."


"Dalam 5 tahun ini, aku akan memastikan bahwa kakakku dan aku akan kembali menjadi Aidan dan Airella. Tidak mungkin bukan kalau Dewi Athena menolak permintaan kedua anaknya setelah semua yang ia lakukan?"


"!?"


Mata Levana terbelalak hebat selama beberapa saat sebelum akhirnya ia tenang kembali. Walaupun ini sangat mengejutkan, namun sejujurnya Levana sudah sedikit menduga-duga. Sejak pertama kali ia mencari keberadaan Eve, ia langsung terkejut melihat aura keemasan yang memancar dari tubuhnya. Sama seperti Leviathan, Levana langsung mengetahui maksud aura emas itu. Ia hanya mencoba untuk tidak terlalu berprasangka.


Cukup dengan kata-kata itu saja membuat Levana akhirnya mengeluarkan senyumnya. "Benar... Kalau yang memintanya adalah putra putrinya sendiri, beliau akan sulit menolaknya."


"Baiklah. Aku akan bekerja sama denganmu. Tak hanya untuk 5 tahun, seterusnya juga begitu."


"Mohon bantuannya untuk kedepannya, Michael!" kata Levana sembari mengulurkan tangan untuk jabatan.


Eve tersenyum puas, dia menjabat balik tangan Levana, "Ya. Mohon bantuannya juga. Lalu, sekarang aku bukan lagi Michael. Jadi panggil aku Eve saja."


"Eve? Baiklah kalau begitu."


Keduanya mencapai kesepakatan. Levana akan membantu Eve sebagai makhluk di dalam batasan selama 5 tahun, setelah itu Eve akan membantu Levana kembali menjadi Sky Great Dragon lagi sehingga Levana dapat membantu melawan Nostra. Ini adalah keuntungan besar untuk Eve. Karena dia memiliki sekutu yang dapat digunakan untuk mengulur waktu sebagai makhluk di dalam batasan sekaligus sekutu yang dapat membantu melawan makhluk di luar batasan nantinya.


"Aku sudah mendapatkan Levana. Untuk dua orang lainnya, Aqua sendiri yang harus melakukannya," senyum Eve.


Pada waktu yang sama, Levana berpikir, "Aidan dan Airella, huh... Aku tak pernah menyangka akan bekerja sama dengan mereka setelah ribuan tahun berlalu sejak kejadian itu. Padahal dulu, dulu sekali... Mereka hanya anak kecil manis yang selalu mengintil malaikat itu."


"Hmm? Setelah dipikir-pikir... Malaikat yang mengasuh mereka saat itu... Adalah salah satu Arc-Angel pertama, kan ya?"


DEGGG


Levana, "!!


Melihat Levana mendadak menjadi tegang, membuat Eve khawatir dan bertanya-tanya. "Apa terjadi sesuatu? Wajahmu agak pucat."


"..... Sepertinya aku tak bisa terlalu lama disini lagi."


"?"


"Levi menyadari keberadaanku. Mungkin sebenarnya dia hanya mengecek auramu, tapi karena aku ada di dekatmu, dia jadi ikut menyadari ku," terang Levana.


"Memangnya kenapa jika Leviathan menyadari keberadaanmu?" tanya Eve lagi.


"Aku merasakan aura emas lainnya mulai kembali ke mari. Dia pasti saudaramu. Jadi aku harus segera pergi. Karena sepertinya kamu tak ingin kami bertemu dulu."


Eve agak terkejut mendengarnya, "Kamu peka juga ya."


Levana hanya tersenyum mendengarnya. Wanita itu merogoh sesuatu dari inventorinya. Apa yang ia keluarkan adalah sebuah kalung emas sederhana dengan hiasan batu permata biru yang kecil namun indah. Tanpa basa-basi, Levana mengalungkan kalung itu ke leher Eve. Eve pun membiarkan wanita itu melakukan apapun yang ia sedang lakukan tanpa banyak bertanya, karena kurang lebih ia tau apa yang terjadi.


"Ke-5000+ cincin Halo para malaikatmu ada di dalam kalung ini. Jangan sampai kau menghilangkannya," ucap Levana.


Ya, Eve sudah menduga kalau cincin itu adalah item penyimpanan. Lagipula alasan Levana datang menemuinya dari awal adalah demi mengantarkan cincin Halo malaikatnya, selain untuk menagih janji juga.


"Kau pikir aku anak kecil? Tidak mungkin aku menghilangkan benda sepenting ini," jawab Eve santai.


"Baguslah. Lalu urusanku denganmu untuk saat ini sudah berakhir. Aku akan menetap di tempat yang sama agar kau bisa mudah menghubungiku kapanpun kau mau. Karena aku sudah memutuskan untuk membantumu, aku akan membantumu sampai akhir," kata Levana setelah selesai memasangkan kalungnya.


Eve berbalik menatap Levana, "Oke. Kalau gitu langsung saja! Aku sudah tau tugasmu yang selanjutnya."


Melihat Eve yang berbinar-binar begitu, entah kenapa Levana mendadak menyesali keputusannya membantu Eve. Rasanya dia seperti dipermainkan sepenuhnya oleh Eve. ".... Apa itu?"


Eve menyeringai kejam, gadis itu berjalan beberapa langkah ke dalam ruangan. Dia berhenti di depan meja kerja Elvira dan Elvina, lalu mengambil beberapa dokumen yang ada di atasnya. Eve juga mengambil pena merah tak jauh dari sana.


Dokumen yang Eve ambil adalah dokumen yang berisi daftar nama dan lukisan wajah para petinggi Kekaisaran Suci Anessa. Selama beberapa detik, Eve melingkari orang-orang di dalam daftar itu dengan pena merahnya lalu menyerahkan dokumen itu pada Levana.


"Lindungi mereka! Tentu saja secara diam-diam. Jangan sampai mereka mati duluan sebelum rencana kami membersihkan Benua Suci di mulai," seru Eve serius.


Selama ini Levana selalu melihat Eve dalam mode bercanda atau santai, jadi dia agak tak biasa melihat sisi serius Eve. "Baiklah, tapi siapa mereka?"


Eve memutar pena merahnya di tangannya, "Mereka adalah orang yang pantas menempati posisi petinggi Kekaisaran Suci. Mereka yang selama ini menghambat kejatuhan Benua Suci di tangan Paus Kekaisaran Suci itu sendiri."


"Kalau kau tidak melindungi mereka, mereka akan mati dalam 1-2 tahun. Setelah itu Benua Suci akan jatuh ke tangan Nostra dan membuat kita semakin sulit melawan mereka."


"Lalu yang tidak di lingkari ini apa?" tanya Levana memastikan.


"Bedebah korup yang ada di bawah Paus. Bukan hanya korupsi, banyak kejahatan besar lainnya yang mereka lakukan juga secara diam-diam. Intinya mereka adalah sampah yang tak pantas hidup," kesal Eve.


Levana, "......."


"Bukankah akan lebih mudah kalau kau memintaku membunuh mereka saja?"


Eve menggeleng, "Itu hanya akan membuat Paus menjadi waspada dan jadi lebih merepotkan nantinya. Selain itu..."


"?"


"Aku tak ingin menyerahkan pekerjaan kotor ke tangan orang lain. Jangan khawatir, kami sendiri yang akan membersihkan sampah-sampah itu. Lagipula Raven memang di bentuk untuk itu juga," ujar Eve.


Levana sedikit tak menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut Eve. "Setelah di pikir-pikir... selama ini dia memang belum memintaku melakukan apapun yang melukai orang lain. Tugas yang dia berikan padaku hanya tugas melindungi wilayah atau orang tertentu."


"Tak ingin menyerahkan pekerjaan kotor pada orang lain, ya... Dasar... Dia memang putri beliau. Sifatnya terlalu baik sampai aku khawatir sendiri."


Sepertinya Levana agak salah paham. Baik Ruby, Mika maupun Yue, atau semua Reinkarnasi Airella, mereka tidak benar-benar bisa disebut sebagai orang baik. Tepatnya mereka adalah orang rasional dengan empati yang tinggi. Mereka akan sangat baik pada orang yang baik pada mereka. Sangat kejam pada orang yang jahat pada mereka. Dan sangat berbelas kasih pada orang yang pantas menerimanya.


"Sudah bukan? Kalau sudah, aku akan pergi sekarang sebelum saudaramu sampai. Tenang saja, kupastikan orang-orang ini takkan mati sampai rencana kalian di mulai," ucap Levana sembari mengibaskan dokumen di tangannya.


"Ya. Untuk saat ini, itu saja. Berhati-hatilah. Dan... Terimakasih atas bantuannya," jawab Eve penuh senyum hangat.


"Hmm."


Levana langsung melompat dari atas balkon dan berubah menjadi burung merpati yang terbang jauh di angkasa. Nantinya wujud itu akan berubah dan terus berubah, menyesuaikan tempatnya berada agar tak terlalu menarik perhatian.


Eve diam di balkon sampai Levana benar-benar tak lagi kelihatan. Setelah itu, barulah ia menutup jendela dengan rapat dan kembali berbaring di atas sofa. Sebelum Eve mulai memejamkan matanya, ia terlebih dulu menghilangkan sihir dimensi yang membungkus Elvira dan Elvina.


"Rencana ke-46 sukses. Lanjut ke rencana selanjutnya."