The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 129 [ Hubungan Mereka Bertiga ]



MIKA POV


Hari-hari seru yang kami alami mulai dari pertemuanku dengan Aqua sampai sekarang begitu terasa di hati.


Kenapa saat-saat seperti ini selalu terasa begitu cepat?


Sejak balas dendam Aqua selesai, tanpa sadar kami sudah membuat rencana jauh kedepannya. Aqua akan memasuki Akademi Mackenzie sebagai Citrine Caller El Vittacelar seperempat bulan lagi. Sebelum itu, bersama dengan Masternya, dia akan datang ke pesta kedewasaan Ruby sebagai tunangannya.


Untuk itu, persiapan mereka benar-benar matang. Hari-hari terakhir ini Aqua hanya menghabiskan waktunya dengan Ashlan saja.


Teganya dia meninggalkanku, tunangannya sendirian.


Bodoh...


"........"


Tidak, lupakan itu! Memikirkan tentang itu malah membuat wajahku terasa panas.


Tradisi para Elf berbeda dengan manusia. Meski sama-sama mengadakan pesta kedewasaan, tapi para Elf lebih supel. Mereka merayakan hari kedewasaan Aqua dengan menggelar pesta bersama rakyat. Memang itu sedikit terlambat. Tapi karena semuanya menikmatinya, aku yakin itu tidak apa-apa.


"......"


Bunyi bising pesta sedikit menggangguku. Bisa dibilang, aku hanya tidak terbiasa.


Meski aku sedang berada di tengah-tengah pesta di istana, aku melarikan diri dari aula dan memilih memandangi bintang dari beranda.


Maafkan aku meninggalkanmu sendiri, menghadapi semua Elf itu, Aqua.


Fufufu... lucu juga melihat dia bersikap dingin sekaligus berwibawa seperti itu.


NORMAL POV


"Haa~ahhh"


Mika merenggangkan tangannya ke atas.


"Apa melihatku dari sana seseru itu?" tanya gadis itu santai.


"Kau pikir aku tidak menyadarinya? Bahkan jika kamu menghapus keberadaanmu, tidak semudah itu bisa hilang dari radarku," batin Mika.


"Sudah kuduga kamu pasti menyadari kami," ucap sepasang wanita kembar.


"Ya, aku tau itu. Saat mereka tiba di Kerajaan di tengah reuni dengan Vashlana Magiya dan Ratu Amethyst, mereka tidak benar-benar pergi. Mereka tetap mengawasi dan menjaga kami dari balik bayangan meski itu tidak perlu."


Elvira mendekati Mika dengan wajah khawatir.


"Sudah berapa kali kamu muntah darah hari ini?"


"......"


Gadis malaikat itu tertegun. Walaupun dia tau kalau si kembar mengawasi mereka, dia tetap terkejut saat di tanya seperti itu.


Ada alasan kenapa Elvira menanyakannya. Tepat setelah Mika dan Aqua selesai berdansa, gadis itu terburu-buru meninggalkan Aqua dengan alasan kepalanya sedikit pusing. Namun nyatanya tidak begitu.


Sesampainya Mika di beranda, gadis itu langsung menutup pintu beranda seolah tidak ingin siapapun melihatnya.


Tanpa diketahui siapapun, Mika terus batuk darah hingga akhirnya muntah darah yang cukup serius. Matanya berkunang-kunang dan kepalanya seperti di putar. Berkat sihirnya, darah itu langsung menghilang seperti tidak terjadi apapun. Namun Elvira dan Elvina yang sedari awal sudah mengikuti Mika, tentunya melihat itu.


Benar, alasan sebenarnya Elvira dan Elvina tidak pergi adalah karena mereka khawatir dengan keadaan Mika.


"Seharusnya kalian pura-pura tidak lihat saja," canda Mika.


Elvina merasa kesal. Di guncangnya kedua lengan atas Mika agak kencang.


"Mana mungkin aku seperti itu!!!! Sudah berapa kali ini terjadi?!!" jerit Elvina khawatir.


Elvina membenamkan kepalanya di dada Mika supaya ekspresinya sekarang tidak terlihat.


"Hari ini... hari ini saja sudah yang ke-6, kan? Kalau di totalkan sejak kamu keluar dari Dungeon... pasti sudah ratusan, bahkan ribuan kali..."


"Aku mohon padamu... tolong jangan terlalu memaksakan dirimu..." pinta Elvina gemetaran.


Mika tidak menjawab. Dan tidak menjawab itu sendiri adalah jawabannya.


"Sepertinya kamu tidak ada niatan berhenti, ya?" sindir Elvira.


Hanya anggukan lemah yang mereka dapatkan.


"Ini adalah... kesempatan terakhirku. Kalau aku gagal juga disini, maka itu akan berakhir."


"Tapi ini semua tidak akan ada gunanya kalau kamu mati. 5 tahun yang lalu, kamu datang menemui kami dan memberikan ingatan kami yang dulu karena kamu ingin kami membantumu, kan?" tanya Elvira.


"Kalau begitu kamu harus lebih mengandalkan kami."


Elvina sangat setuju dengan kakaknya.


"Jiwamu sudah pada batasnya. Untuk menetap di dunia ini saja, pasti sangat sulit untukmu."


"Tidak ada obat untuk penyakit jiwa. Sekuat apapun jiwamu, kamu yang sekarang hanya sepertiga dari jiwamu yang asli. Meski kamu mengatakan tidak masalah jika Ruby dan Yue memilih tidak bergabung denganmu, mana bisa begitu."


Elvira mengepalkan tangannya, ekspresi terlihat hampir menangis.


"Yue sudah menolak bergabung. Satu-satunya harapan yang tersisa sekarang hanyalah Ruby saja. Kamu harus bergabung dengannya bagaimanapun caranya!!!!" jerit Elvina.


Mika merasakan getaran di tubuh Elvina semakin kencang.


"Kalau tidak... jiwamu bisa hancur berkeping-keping..."


Kali ini Elvira yang menggenggam dan memeluk tangan kiri Mika di antara wajah dan dadanya sambil gemetaran.


"Sebagai sahabatmu, aku mohon padamu!! Tolong jangan menggunakan sihir lagi!!! Dan segeralah bergabung dengan jiwamu yang lain!!!! Jiwamu sekarang sangat kesulitan hanya untuk berada di dunia ini!!!!"


Mika tidak berkata apapun untuk menenangkan mereka berdua.


"......"


"HEI!!! KATAKAN SESUATU!!!!!!" jerit Elvina agak menangis.


"..... Aku... aku ti-"


Belum sempat Mika mengatakan sesuatu, Elvira menepuk kedua pipinya dan menatap gadis itu tajam.


"Sekarang Aqua sudah sampai di Kerajaan Vittacelar dan dendamnya sudah selesai! Sisanya hanya pergi ke Kekaisaran saja! Tidak ada hal yang mengancam nyawanya sampai dia masuk Akademi!! Kamukan bisa berhenti sejenak antara waktu itu!!!"


"........"


Melihat Mika tidak menjawabnya, membuat Elvira agak kesal.


"Aku tau sebesar apa cintamu pada anak itu. Kami juga punya kesetiaan yang tinggi padanya. Tapi tolong ingatlah, nyawamu juga sama berharganya."


"Saat awal aku bertemu denganmu, kupikir kamu gila seenaknya meminta bantuan ke orang yang tidak dikenal dan bicara sok akrab begitu saja."


"Tapi penilaianku padamu berubah setelah ingatan lama yang kau masukkan ke dalam kepalaku. Kesanku padamu meningkat dan aku tertarik membantumu. Karena biar bagaimanapun, kita telah bersama dalam waktu lama."


"Tapi baru-baru ini kami mengetahui kalau... ingatan yang kau berikan hanya dari perulangan terakhir."


Dengan ekspresi penuh kesakitan, Elvira menatap mata Mika lekat-lekat.


"Kau tau apa kesanku padamu yang terakhir? Bagiku kamu adalah satu-satunya gadis yang cukup gila dengan cinta sampai rela mengulang waktu sampai dari 999 kali demi menyelamatkan orang yang kau cintai."


"Kalau aku tidak salah, jiwamu dari masa depan mengirimkan ingatan kami (masa depan) ke kami sekitar 5 tahun lalu tapi justru mengirim ingatanmu sendiri ke dirimu 1,5 tahun lalu."


"Kamu sampai sejauh itu demi tidak merusak masa lalu terlalu banyak dan mendapatkan hasil yang maksimal, kan? Kalau begitu kamu harus bertahan sampai akhir!!!"


Mika menggaruk pipinya, dia bingung harus mengatakan apa.


"..... Aku sudah melakukan banyak persiapan sejak aku tidak bisa mengulang waktu lagi. Salah satunya adalah penelitian 10 tahunku di dungeon bersama Aqua."


"?"


Mika tersenyum lembut pada kedua sahabatnya yang sudah membantunya sejauh ini.


"Kalian tau sendiri seberapa cerdasnya aku, kan? Jangan khawatir... perhitunganku tidak akan meleset."


"Masih banyak masalah dan kejadian buruk yang akan menimpa kami kedepannya. Sebagai satu-satunya orang yang mengetahui masa depan dengan baik dan beberapa informasi penting, mana mungkin aku pergi meninggalkan Aqua duluan, kan?"


Elvira dan Elvina sedikit ragu dengan kata-kata Mika. Tapi mereka memilih untuk mempercayainya. Setelah kedua wanita fenrir itu melepaskan pelukan mereka, mereka mengambil keputusan.


"Tapi tetap saja. Berjanjilah untuk tidak menggunakan sihir sampai kamu bergabung dengan Ruby. Kami ada disini bukan hanya untuk Aqua, tapi juga untukmu. Gunakanlah kami jika kamu ingin menggunakan sihir," tatap Elvina tajam.


"Kami memang tidak sebaik dirimu. Tapi jangan sungkan menggunakan kami sesukamu. Karena sebelum menjadi tangan kanan dan kiri Aqua, kami adalah sahabat sekaligus kakak perempuanmu," timpal Elvira.


Melihat kedua sahabatnya mencemaskan dirinya sampai sebegitunya, membuat Mika tidak bisa menolaknya.


"Baiklah, aku mengerti."


"Bagus!!"


Rasanya Mika melihat ekor kedua wanita itu bergoyang karena senang.


"Fufufu"


Elvira merogoh kantongnya, mencari sesuatu. Dikeluarkannya sebuah kotak perak yang berisi obat-obatan.


"Ini adalah pil yang terbuat dari Embun Yggdrasil dan beberapa tambahan lainnya. Memang tidak bisa mengobati penyakitmu sepenuhnya. Karena itu adalah efek samping membalikkan waktu."


"Tapi setidaknya ini bisa meringankan gejalanya. Maaf kami baru bisa mendapatkannya sekarang."


Mika menggeleng. Di terimanya kotak itu dengan hati-hati.


"Tidak, itu saja sudah cukup. Terimakasih kalian sudah peduli padaku sampai sejauh ini."


"Itu tidak masalah. Dibandingkan apa yang sudah kamu lakukan pada kami baik dulu maupun sekarang. Ini sama sekali tidak apa-apa."


"Tolong jangan pernah lupa untuk meminumnya 3x sehari. Jangan mencoba mengiritnya. Jangan pernah berpikir ini mahal dan membuatmu mengeman-eman pil ini. Kalau ini habis, kami akan mencarinya lagi!" seru Elvina.


"Tapi ini memang mahal, kan? 1 pil saja harganya bisa mencapai puluhan ribu gold. Tapi mereka memberiku lebih dari 100 pil sekarang," batin Mika.


"Baiklah, terima kasih..." jawab Mika dengan wajah memerah.


Elvira dan Elvina tersenyum hangat sambil menatap Mika.


"Ya, sama-sama."