
Aqua dan Mika berjalan bersama melewati jalan yang di apit Padang rumput luas. Mereka tidak tergesa-gesa dan menikmati perjalanan mereka. Sudah lama sejak mereka menghirup udara luar dungeon.
"Kamu belum mengatakan padaku tujuan kita!" ucap Mika tiba-tiba.
"...... Berbeda denganmu yang punya senjata khususmu sendiri, aku perlu senjata baru dan beberapa item. Jadi kita akan pergi ke Kota Perdagangan Aranyu dulu."
"Kota perdagangan, ya... Apa aku juga boleh membeli sesuatu?" tanya Mika.
"Tentu, belilah apapun yang kau mau. Kita punya banyak uang dari dungeon."
"Tapi memangnya ada yang kamu inginkan?" lanjut Aqua.
"Siapa tau... Kitakan akan pergi ke Kota Aranyu. Bisa saja ada sesuatu yang aku ingin beli."
"Kamu belum memutuskan, huh."
Perjalanan ini hanya ditemani beberapa percakapan sederhana yang mengisi kesunyian jalan.
Di tengah perjalanan mereka, hari sudah mulai gelap. Kebetulan Aqua dan Mika melihat sebuah desa tak jauh dari sana. Karena tak ada alasan untuk menghindarinya, Aqua dan Mika berjalan menuju desa itu.
Tempat itu bukanlah sebuah desa yang memiliki banyak penghuni. Desa itu cukup kecil dan hanya memiliki kurang dari 20 rumah. Bahkan desa itu tidak memiliki pagar pelindung yang mengelilingi desa. Karena kebanyakan desa tidak memiliki uang untuk menyewa tentara bayaran, jadi setidaknya ada pagar pelindung yang melindungi desa.
"Ini desa yang miskin," komentar Mika.
Aqua menatap Mika agak kebingungan.
"Kenapa?" tanya Mika risih.
"Tidak... kukira karena kamu Arc-Angel, jadi kamu akan prihatin dan langsung berusahalah menolong mereka."
"Kaupikir Arc-Angel itu apa? Tugas kami hanyalah menekan Dewa Kejahatan. Nasib manusia tidak ada hubungannya dengan kami," ucapnya tanpa belas kasihan.
"Benar juga."
Mereka berdua mulai memasuki desa. Seperti ucapan Mika, tempat ini adalah desa yang miskin. Lahan orang-orang desa tidak terurus, lumbung mereka kosong dan rumah tidak terawat. Sepanjang mereka berkeliling desa, ada banyak yang kelaparan.. Biasanya mereka akan langsung menyerbu pengunjung untuk meminta-minta atau merampok, tapi mereka merasakan sesuatu yang berbahaya dari Aqua dan Mika. Karena itu, tidak ada yang mendekati mereka.
"Tidak ada apa-apa disini, ayo pergi saja!" seru Aqua tenang.
"Tunggu! Apa kau mencium sesuatu? Ada aroma busuk samar-samar!"
Mika merentangkan tangannya menahan Aqua agar tidak pergi.
"Aroma busuk?"
Anak itu mengendus sedikit. Benar saja, ada aroma busuk samar-samar dari salah satu rumah tak jauh dari mereka.
"Mau periksa?"
"....... Yah, boleh saja."
Perlahan mereka mendekati rumah yang memancarkan aroma busuk itu. Bukan karena ingin menolong atau membantu, ini hanya murni penasaran saja. Begitu Aqua dan Mika sampai didepan rumah itu, aroma busuk tercium semakin kuat. Saking baunya, tidak ada orang yang mendekati rumah itu dalam radius 10m.
Mika membuka pintu untuk mengintip sedikit isi rumah itu. Wajah tenangnya langsung memucat. Ditutupnya pintu dengan keras sampai mengeluarkan suara.
Gadis itu berjalan mendekati Aqua sambil mengibas-ibaskan tangannya yang menyentuh pintu.
"Menjijikkan..." keluhnya.
"Apa yang ada kau lihat?" tanya Aqua penasaran.
"Lihat saja sendiri!"
"?"
Karena Mika tidak mau memberitahunya dan terlihat jijik hanya karena menyentuh pintu itu, Aqua memejamkan matanya. Padahal mata anak itu tertutup, tapi dia justru bisa melihat jauh lebih banyak dan detail dari sebelumnya.
[ Perspektif ]
Adalah salah satu skill yang didapat Aqua dari dungeon. Dengan skill ini, Aqua seperti mendapatkan mata ketiga yang lebih berguna dari mata aslinya.
"......."
Aqua mengakhiri pengelihatannya. Sembari mengerutkan keningnya, dia menarik Mika menjauh dari sana.
"Seharusnya kamu jangan dekat-dekat kesitu!"
"Akukan gak tau kalau isinya kayak gitu!!"
Apa kalian benar-benar ingin tau apa yang dilihat mereka berdua?
Pemandangan itu benar-benar menjijikkan seperti kata Mika.
Tempat itu bukanlah rumah biasa. Bisa dibilang semacam kandang hewan. Namun isinya sama sekali bukan hewan. Isinya adalah kumpulan wanita dari berbagai usia dengan tubuh telanj*ng yang disusun layaknya hewan ternak. Wanita-wanita itu kotor oleh berbagai cairan tubuh manusia. Entah sudah berapa lama mereka dibiarkan seperti itu sampai cairan-cairan itu menjadi sangat lengket dan berbau tak sedap.
"Tidak manusiawi," bisik Mika.
"Itu biasa di dunia ini. Hanya saja aku belum pernah melihat yang sampai semenjijikan itu," balas Aqua.
Aqua melirik Mika yang tidak mengubah ekspresinya.
"Apa kamu marah? Sebagai sesama perempuan."
"........ Marah. Lebih tepatnya... mungkin moodku hancur melihat itu."
"Mau kumusnahkan?" tawar Aqua.
Mika terdiam. Gadis itu melirik sekelilingnya. Tidak ada sesuatu yang dianggapnya layak diselamatkan. Anak-anak hanya tinggal bongkahan mayat saja. Para wanita berkumpul di rumah itu. Yang tersisa hanya bajingan-bajingan pemalas dan tidak punya akhlak.
"Jangan lama-lama," jawab Mika datar.
"Tidak akan lama."
[ Blue Flame ]
Tepat setelah Aqua mengatakan itu, desa terbakar oleh lautan api berwarna biru. Saking panasnya api itu, hanya tersentuh sedikit saja sudah bisa melelahkan tubuh sampai ke tulang tanpa tersisa sedikitpun.
"Sekarang tidak ada lagi desa. Ayo keluarkan pondok di suatu tempat saja!" ajak Mika.
"Ya. Harusnya tadi begitu."
Aqua dan Mika keluar dari lautan api itu tanpa sedikitpun rasa bersalah. Bahkan mereka tidak merasa habis melakukan sesuatu. Hanya sebuah kunjungan singkat yang tidak lebih dari numpang lewat.
Pondok mereka yang disimpan Aqua di Inventory dikeluarkan tak jauh dari desa. Mereka menginap di sana semalam sebelum melanjutkan kembali perjalanan ke Kota Aranyu.
Yang dua orang ini lakukan tadi benar-benar hanya tindakan sederhana dan tidak pantas untuk diingat.
...***...
Suatu Tempat Di Alam Lain
|| Apa-apaan...? Cerita kali ini membosankan...|| keluh seorang gadis berambut putih platinum sambil tiduran di bantal bulat raksasa.
[[ Master... Anda menonton anak itu lagi, ya? Apa dia begitu menarik? ]] tanya anak laki-laki yang berdiri tak jauh dari sana.
|| Yahh... kisah anak satu ini cukup menghiburku yang kehabisan hiburan ||
[[ Master, kalau Master tiduran sambil menonton TV begitu... nanti kakak marah lagi, loh ]]
|| Apa itu benar-benar penting? Lagian, memangnya aku bisa sakit? ||
[[ Tidak, sih... ]]
|| Tuh! ||
[[ Tapi... ]]
TAP TAP TAP TAP
[[ MASTER!!!! SUDAH BERAPA KALI KUBILANG TOLONG JAGA MARTABAT ANDA!!!! ]] marah seorang wanita.
Wanita itu berlari ke arah gadis yang dipanggilnya Master ini. Sang Master sama sekali tidak menggubrisnya. Dia tetap memandang layar TV tanpa mempedulikan teriakan wanita itu.
[[ Kalau Kakak disini, pasti Master tidak akan bisa bertingkah malas-malasan begini!!! ]] marahnya lagi.
|| Kamu berisik... Jangan menggangguku menonton! ||
[[ Master!!! ]]
Wanita itu tidak bisa menghentikan Masternya dari kemalasan. Dengan tatapan kesal, wanita itu menatap layar TV yang dilihat Masternya.
[[ ........ Lagi-lagi kisah anaknya (??????), huh. Master sudah menonton perjalanan hidup anak itu dari kehidupan pertamanya, kan? Apa tidak bosan? ]]
|| Setidaknya menonton ini lebih menarik dari pada membaca manga atau anime. Apa aku coba pergi ke dunia itu aja, ya? || canda Sang Master.
[[ Tidak boleh!!! Master pikir berapa banyak kerjaan yang harus dilakukan Master?! Apa jadinya dunia kalau Master pergi?!! ]] tolak keras wanita itu.
|| Setiap dunia punya dewanya masing-masing. Itulah kenapa para dewa diciptakan untuk masing-masing dunia, kan? Biar aku bisa santai-santai~ ||
[[ Nilai para dewa rendah sekali ya di mata Master... ]] sindir wanita itu.
[[ Omong-omong para dewa, apa Master ingat? Sebentar lagi ada konferensi Dewa Dewi! ]]
|| Lalu? ||
[[ Kok malah lalu?!!! Master harus datang!!! Konferensi tidak bisa dimulai kalau Master tidak datang!!! ]]
|| Ehh... merepotkan ah. Mereka ini tidak bisa mandiri apa ||
[[ Master!!! Master ini gimana!!!? Di logika sedikit dong!! Mana bisa konferensi Para Dewa dijalankan kalau Master, Sang Dewa Tertinggi gak datang?!!! ]]
Wanita itu memegangi kepalanya. Dia sungguh tidak ingin percaya kalau wanita pemalas berambut putih platinum ini adalah Sang Dewa Tertinggi yang mengatur jalannya keseluruhan dunia dan pencipta para Dewa yang menjalankan masing-masing dunia. Dia benar-benar tidak ingin percaya itu. Tapi dia sudah menemani Masternya sejak sang Master masih belum menjadi dewa. Jadi dia tidak akan bisa menolak fakta itu.
[[ Dan yang menyebalkan adalah... meskipun sangat pemalas, kerja Master luar biasa. Seluruh dunia bisa berjalan normal dan sama sekali tak ada kerusakan dimensi berkat Master... hahh... Meski aku sudah menemani Master selama ± 30.000.000.000.000 tahun dan menyaksikan sendiri kehebatannya... aku tidak ingin percaya gadis pemalas ini adalah Dewa Tertinggi ]]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Uhum... seperti yang kalian ketahui. Author itukan baik hati dan tidak sombong. Jadi demi para rakyat jelata pembaca gratisan ini, author mau kasih hadiah. Etdah, gayanya si Author ini... muehehe :v ]
[ Terimakasih untuk 10.000 like dan 100.000 popularitas!!!! Wahh!!! Tak terasa sudah 10.000 ribu aja likenya. Makasih para pembaca yang selalu like, gak kayak yang cuma baca... like enggak, hadiah enggak, dan vote enggak. Hehe :D ]
[ Untuk kalian semua, author akan update 3 chapter sekaligus hari ini. Berterimakasihlah! Hohohohoho!!!! ]