The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 29 [ Hutan Serangga ]



Tubuh kecil Aqua terhuyung, wajahnya memucat. Perutnya terasa tidak enak, dia ingin muntah sekarang. Aqua meninju pohon rindang di sebelahnya hingga pohon itu hampir berlubang.


"Sialaaann!!!!!!!!!!!!"


Jeritan anak itu menggema ke seluruh penjuru hutan. Sepanjang perjalanan tubuh kecil itu, terlihat hutan yang hangus akibat api, rusak karena petir dan berantakan karena tanah.


"Dari semua tempat… kenapa harus disini?!!!!!" marah Aqua.


Beberapa saat yang lalu


Aqua tertegun di depan hutan besar yang menantinya. Dia sangat tidak ingin memasuki hutan tersebut.


"Kenapa… kenapa dari semua jalur…"


Aqua sejak tadi sudah menggumamkan keluhan-keluhannya.


Alasannya adalah karena hutan yang ada di depannya. Hutan itu tampak normal dari luar, tapi sebenarnya itu adalah hutan spesial. Hutan itu disebut sebagai Insect Nest Forest. Karena monster yang menghuninya adalah serangga raksasa.


Banyak yang mengira kalau Aqua adalah anak jenius yang tidak punya rasa takut dan sifat yang sempurna. Tapi nyatanya, hal yang paling di takutkan Aqua sejak di kehidupan sebelumnya adalah serangga. Aqua membenci hampir semua serangga. Dari semua itu yang paling dia benci adalah ordo Blattodea, atau yang lebih dikenal dengan jenis kecoa.


"Haha… untuk pergi ke pelelangan, hanya bisa melalui 2 jalur dari Kerajaan Vittacelar. Jalur normal yang butuh 10 hari dan jalur ini yang hanya 5 hari."


"Aku harus cepat karena batas waktu cuma 3 hari. Mau secepat apapun aku, akan butuh lebih dari 3 hari kalau lewat jalur normal. Mau tidak mau aku harus lewat sini…"


Jika bukan demi menjadi murid Alesta, Aqua tak akan pernah mau menapakkan kaki di INF. Kalaupun harus, dia akan menghancurkan hutan jika dia sudah cukup kuat.


"Pokoknya aku harus menghapus hutan ini dari peta nanti."


Aqua mulai memasuki hutan itu dengan terpaksa. Setiap kali dia bertemu serangga, dia akan secara spontan mengeluarkan sihir tingkat tinggi. Tak peduli selemah apapun itu, Aqua akan mengeluarkan kekuatan penuhnya. Dia benar-benar ingin segera keluar dari sana.


Beruntung tak ada monster yang lebih kuat dari Aqua sejauh ini. Tapi itu juga karena Aqua belum masuk terlalu jauh.


Penggunaan sihir tingkat tinggi secara beruntun sangat tidak efisien. Meskipun mana Aqua tergolong banyak, dia dengan cepat menghabiskannya. Sekarang Aqua benar-benar sudah kehabisan mana.


"Hah… hahh… ha… sial! Manaku habis… kepalaku pusing," ucap Aqua mual.


Aqua terhuyung kesana kemari. Wajahnya sudah pucat pasi. Perutnya mual dan kepalanya pusing. Dia bisa pingsan kapan saja sekarang.


Beruntung Aqua menemukan celah di tebing yang tak jauh darinya. Walau tak sebesar goa, celah itu cukup luas untuk di tempati Aqua.


Aqua langsung ambruk setelah masuk ke sana. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Aqua sudah memasang sihir pelindung dan kamuflase terlebih dulu.


...***...


"!"


Aqua tiba-tiba terbangun dalam keadaan waspada. Sihir pasif deteksi yang baru saja dipelajarinya dari Alesta sesaat sebelum pergi, mendadak aktif. Dia merasakan keberadaan dengan mana luar biasa mendekatinya perlahan.


Aqua mengambil daggernya dan bersiap menyerang. Makhluk yang muncul di sihir deteksi dasar tak memiliki kejelasan jenisnya. Hanya sebatas seberapa kuat dia. Aqua perlahan keluar untuk mengintip apapun itu.


"?!"


Tak seperti dugaannya, yang Aqua temukan adalah seorang perempuan serigala berambut ungu muda panjang terbaring penuh luka di tanah. Lukanya terlihat sangat parah, daerah sekitar perutnya berlubang dan terus mengeluarkan darah. Beberapa jaring laba-laba menyayat tubuhnya seakan kawat. Lebam ada dimana-mana. Wajahnya pucat pasi karena kekurangan darah. Meski gemetar hebat, perempuan itu terus mencoba bangkit.


"Apa yang?!!"


Aqua menidurkan perempuan serigala itu di atas jubahnya. Dia duduk di sebelahnya dan mencoba memasukkan mana dalam tubuhnya. Ashlan pernah mengajarinya cara memasukkan mana ke dalam tubuh secara paksa. Tapi akibatnya mana akan mengoyak tubuh bagian dalam Aqua sehingga dia akan merasakan sakit yang tidak sedikit.


Saat ini rasa sakit itu sama sekali tidak seberapa daripada nyawa seseorang. Aqua terus memaksakan mana masuk sampai batas maksimal mana dalam dirinya. Napasnya jadi berat, dia terus terengah-engah. Keringat mengalir deras, dahinya mengernyit dan giginya menggertak bersamaan dengan rasa sakit yang Aqua alami.


"Huuffhhh!!!!"


Pengisian mana sudah selesai. Sekarang mana Aqua sudah pulih seperti semula.


[ Recovery ]


Pemulihan tak berjalan dengan baik. Luka perempuan itu sama sekali tidak membaik. Kecepatan pemulihan tak secepat kerusakan.


"Sebenarnya kenapa?!!"



"Lagi-lagi racun?! Kenapa aku selalu terlibat dengan racun!!?" marah Aqua.


Tangan putih pucat itu menyentuh pelan tangan Aqua. Perempuan di depannya mencoba berbicara dengan Aqua.


"Berhen…ti saja! Jangan… buang-buang… manamu…" ucapnya terputus-putus.


"Mana mungkin aku berhenti sekarang!!! Kalau aku berhenti kamu bisa mati!!" jerit Aqua.


".... Teri…ma kasih. Tapi… dari… pada aku, tolong… selamat…kan adikku saja," lirihnya kesakitan.


"Jangan khawatir! Aku nanti akan menyelamatkan adikmu juga. Sekarang bertahanlah dulu, lukamu lebih penting!"


Aqua tak mempedulikan perkataan perempuan itu dan terus menyembuhkannya.


Perempuan itu menatap Aqua tak habis pikir. Dia heran kenapa ada orang yang mau menyelamatkan orang tak dikenal begitu saja. Padahal belum tentu orang itu akan membalas budi.


"Terkadang kebaikan itu bisa melukaimu. Anak ini…"


Aqua menggigit bibirnya.


"Sihir tingkat tinggi saja tak bisa menyembuhkan dia. Apa boleh buat, meski aku gak nyangka hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan akan makai 2 sihir tingkat Epic. Tapi!!!!"


[ Full Recovery ]


Aliran mana bersinar hijau muda menyelimuti perempuan itu. Luka yang dia derita perlahan memulih. Full Recovery juga bisa menambah darah, jadi wajahnya yang memucat karena kekurangan darah mulai berona lagi. Sihirnya juga menetralisir racun yang hampir menyebar ke seluruh tubuh perempuan itu.


Mana Aqua berkurang dengan cepat. Kepalanya mulai pusing lagi karena efek kehabisan mana. Meski begitu Aqua sama sekali tidak menyerah. Terlepas dari kebaikan hatinya, ada alasan lain kenapa Aqua tidak boleh membiarkan perempuan ini sampai mati.


"Kamu belum boleh mati!! Karena kamu adalah calon anggota Ravenku yang berharga!!!!"


Luka perempuan serigala itu telah pulih sepenuhnya. Tubuh Aqua oleng ke samping. Dia hampir jatuh ke tanah kalau perempuan itu tidak menahannya tepat waktu.


"Terima kasih! Aku pasti akan membalasmu nanti. Maafkan aku, tapi sekarang aku harus segera pergi ke tempat adikku," ucapnya tepat sebelum berlari meninggalkan Aqua.


"Tungg-"


Aqua mencoba berdiri sekuat tenaganya. Setiap kali dia memakai sihir tingkat Epic di kemampuannya yang sekarang, dia pasti akan pingsan setelahnya. Tapi Aqua mencoba sekuat tenaga agar tidak pingsan.