
Pertarungan terjadi sangat sengit. Semua mahkluk yang ada di sana mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka agar bisa bertahan hidup.
Mereka tengah berada di situasi dimana musuh akan dengan mudah membunuh mereka jika melihat kesempatan barang sekecil apapun. Tak ada kelengahan yang diizinkan.
Pertarungan terjadi selama 78 jam non-stop dengan kewaspadaan penuh. Seharusnya berhadapan dengan perbedaan tingkat akan mustahil bagi makhluk diluar batas. Michael dan Luciel hanya berada di tingkat Tría. Sedangkan Zalacca ada di tingkat Téssera. Satu-satunya alasan kenapa Michael mampu mengimbangi Zalacca selama 78 jam adalah karena Michael hanya membutuhkan sekitar 100 level lagi untuk naik tingkat menjadi Téssera.
Medan perang di sana benar-benar tidak bisa dibayangkan. Perbedaan tingkat dengan seluruh pertarungan yang pernah dilakukan Aqua dengan pertarungan mereka terasa sangat berbeda bagai langit dan bumi. Dampak dari kerusakan mereka sangat luar biasa besar, bahkan sebuah kekaisaran bisa dengan mudah hancur menjadi debu.
Kebanyakan orang mungkin salah paham dengan Demetria. Demetria adalah sebuah planet berdiameter 682.139 km. Dengan kata lain berukuran 50x besar Bumi atau setengah besarnya matahari. Dengan ukuran yang sebesar itu, benua manusia hanyalah benua kecil yang tidak mencakup seperduapuluh besar Demetria.
( Peta Demetria )
*save aja dulu, siapa tau butuh
Michael terlihat sangat kelelahan dalam pertarungan ini. Namun hal yang sama juga terjadi pada Zalacca. Mereka berdua kehabisan mana mereka. Sementara itu pasukan Zalacca dan Luciel tak terlihat di sekitar mereka. Entah baik atau buruk. Kalau mereka berada di sekitar Michael dan Zalacca, kemungkinan mereka juga akan terkena dampaknya.
"Kamu hebat juga... bisa bertahan melawanku sampai seperti ini..."
Pujian Zalacca sama sekali tak membuat Michael senang.
Pedang-pedang Michael menyatu menjadi sebuah pedang panjang yang lebih tinggi darinya. Dengan pedang itu, Michael meyangga tubuhnya yang kesulitan berdiri.
"Ini sudah 3 hari... Gabriel harusnya sudah sampai di Benua Melayang..."
"Kelihatannya kamu benar-benar mencoba mengulur waktu. Kaupikir si Gabriel itu akan kembali tepat waktu?!" sindir Zalacca.
"Itu pasti!" balas Michael yakin.
Zalacca menatap Michael dengan tatapan kosong.
"Sungguh... kepercayaan yang luar biasa," gumamnya dingin.
Di tengah pembicaraan mereka. Sebuah gate dari asap hitam tiba-tiba muncul di sebelah Zalacca. Dari gate itu, keluar sesosok wanita dengan pakaian sangat minim yang hanya menutupi dada dan vag*na. Sayapnya terlihat seperti sayap peri pada umumnya, namun corak tengkorak dan tanduk di kepalanya membuat wanita itu sangat berbeda dari peri.
Michael langsung bersiaga melihatnya, dilihat dari manapun wanita itu sudah pasti musuh. Saat ini, dia saja kesulitan menahan Zalacca. Jika bertambah satu lagi, dia tidak bisa yakin akan bertahan.
"Zala~ bukankah kamu terlalu lama bermain? Dewa akan marah kalau kita tidak segera kembali," ucap wanita itu dengan nada menggoda sambil memeluk Zalacca dari belakang.
"Bibiana, lepaskan aku!" kata Zalacca dingin.
Bibiana meletakkan jari di bibirnya.
"Dinginnya~"
"Michael!!!!!" jerit Luciel dari jauh.
Michael langsung menoleh ke asal suara itu. Terlihat Luciel menghampirinya secepat yang dia bisa meski tubuhnya penuh luka.
Michael segera terbang ke arah Luciel sambil tetap memperhatikan Zalacca dan temannya yang bertengkar.
"Luciel!! Pasukan?!" tanya Gabriel panik.
"Jangan khawatir! Entah bagaimana aku sudah mengurusnya. Aku kemari secepat yang kubisa, apa kau baik-baik saja?" tanya Luciel khawatir.
"Khawatirkan dirimu sendiri! Lukamu terlalu parah!" seru Michael.
Gadis itu merobek pakaiannya dan menggunakannya untuk membalut luka Luciel. Dia juga mengeluarkan potion daruratnya untuk Luciel. Berkat itu nyawa Luciel tidak dalam bahaya.
"Terimakasih. Maaf membuatmu menggunakan itu untukku."
"Jangan pedulikan itu. Yang lebih penting... apa yang harus kita lakukan sekarang? Teman Zalacca datang."
Michael melihat Zalacca dan wanita yang dipanggilnya Bibiana. Keadaan dirinya dan Luciel tidak memungkinkan untuk melawan maupun melarikan diri.
Ini benar-benar Checkmate.
"Hentikan itu! Kau bilang Dewa memanggilku kan?! Aku harus segera menyelesaikan ini dulu," ucap Zalacca sambil mendorong wajah Bibiana yang mendekat padanya.
"Eh~ Kitakan bisa cup cup dulu~"
Rengekan Bibiana membuat Zalacca semakin ilfeel padanya.
Zalacca mengerutkan keningnya karena kesal.
"Jika kau punya waktu luang, bawa saja Hecate kembali. Dia masih berguna."
"Jal*ng itu?! Menyebalkan... kenapa jala*g lemah tak berguna sepertinya harus diselamatkan?"
"Bawa dia atau enyah dari hadapanku! Kau membuatku muak!" kesal Zalacca.
"Dilihat dari apa yang terjadi, sepertinya hubungan Zalacca dan Bibiana tidak baik. Mungkin ini kesempatanku!" pikir Michael.
"Luciel! Psstt psst pssstt pstt"
Michael membisikkan rencananya ke Luciel. Luciel mendengarkan dengan baik dan membantu menyempurnakan rencana Michael.
"Baik, baik! Aku akan menyelamatkan Hecate, okay! Cepat selesaikan urusanmu dengan Arc-Angel itu dan kembali bersamaku~"
Bibiana masuk ke dalam gate yang mengantarnya tadi. Gate itu muncul di dekat Hecate, wanita itu keluar dan masuk lagi dengan Hecate di gendongannya.
Zalacca menggeleng lelah. Sementara itu Michael dan Luciel sedang berada di formasi mereka. Michael berdiri di depan Luciel. Di sekeliling mereka, pedang terbang Michael berdiri tegak. Sedangkan senjata Luciel ada di bawah kaki dua Arc-Angel itu.
Zalacca yang tadinya bersenang-senang melawan Michael sudah tidak ada. Wajahnya terlihat tertekan seperti anak yang dijemput ibunya pulang ke rumah saat sudah sore hari.
"Zalacca! Bersiaplah!!! Meskipun temanmu datang, kami berdua pasti akan menang!!" ucap Michael penuh percaya diri.
Zalacca terdiam, dia berbalik memunggungi Michael dan Luciel.
"Kau sudah dengar kan? Waktunya sudah habis. Ini saatnya kembali!"
"?"
Namun sesaat kemudian, jawaban atas pertanyaan itu menohok hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ZREEEEEBBBBBBB
Michael memuntahkan darah emas dari mulutnya. Dengan tubuh yang gemetaran, dia berusaha menoleh ke belakang.
"Ah, ah... padahal aku masih mau melihatnya sedikit lebih lama."
Suara dari seseorang yang sangat dikenalnya itu tidak mungkin tak dia kenali.
Mata Michael terbelalak hebat seolah bisa keluar begitu saja. Tangan kiri dan kanan mulus itu menggenggam tangan seseorang yang menembus jantungnya.
"Lu... ciel...?"
Michael tidak mau menerima fakta yang terpampang di hadapannya. Arc-Angel yang paling dikagumi dan dipercayainya menyeringai jahat sambil menggenggam erat jantungnya. Air mata jatuh begitu saja.
"Ke... napa...?!"
Ini adalah kali pertama dalam hidupnya, dia dikhianati oleh orang yang paling dia percayai.
Luciel tersenyum, dia menarik tangannya dari tubuh Michael dengan jantungnya sekalian. Tubuh Michael ambruk dan menghantam tanah cukup keras. Darah emas keluar dari tubuhnya yang berlubang itu. Pandangan Michael lama-kelamaan mengabur.
Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah wajah dingin Luciel yang mengarah padanya.
"Tolong jangan salahkan aku. Kalau saja kamu terlahir normal, mungkin ini semua tidak akan terjadi."
Itulah kata-kata terakhir Luciel sebagai seorang Arc-Angel.
Bersamaan dengan hilangnya kesadaran Michael. Warna sayap putih bersih Luciel berubah menjadi hitam pekat. Begitu juga dengan cincin halo-nya yang menggelap. Seluruh aura kesucian dalam dirinya lenyap seketika. Mata Sapphire khas para Arc-Angel berubah menjadi platinum dengan corak ✡️ berwarna hitam.
Pada detik itu, Arc-Angel Luciel telah tiada.
Dan...
Kelahiran Lucifer, Fallen Angel pertama telah terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Moshi Moshi!! Cha_nyann desu!!! ]
[ Jadi gini... kan ada event chat story terbaru tuh. Jadi author iseng ikut nih, hehe :D ]
[ Peka dong!!!! Bantuin author baca ini!! Like dan komen juga!! Favorit juga!! Cuma sampai eventnya berakhir deh! ]
[ Dah itu aja! Makasihhh!!!! ]