
"Ini memang bukan sihir serangan. Tapi ini sudah lebih dari cukup untuk menahanmu!!"
Seringai Aqua terlukis di wajahnya.
Dengan satu ayunan tongkat, sihirnya telah siap digunakan.
"Coba kau tahan ini kalau bisa!!!"
[ Frozen Royal Palace ]
Ruangan panas penuh magma mulai membeku. Magma yang meletup-letup menjadi keras dan dingin. Permukaan es mulai menyebar ke penjuru ruangan. Semua yang ada di sana tak bisa menghindar dari sihir area itu. Di tengah-tengah kolam magma yang membeku, sebuah kastil istana terbentuk dari bawah ke atas. Bersamaan dengan terbentuknya istana, salju turun dari atas langit-langit.
⟨ I-ini tidak mungkin!!! Bagaimana bocah sepertimu bisa memakai sihir es area tingkat Epic?!! Kamu bahkan belum dewasa!!! ⟩
Tentu tidak mudah. Memakai sihir tingkat Epic biasa saja Aqua kesulitan, sekarang ditambah sihir area tingkat Epic. Tubuhnya terasa dingin dan mulai membeku, pandangannya mengabur, kulitnya mulai pucat. Anak itu kehabisan mana untuk menggunakan sihir lain. Termasuk sihir yang membuatnya bisa berjalan di langit-langit.
Es yang menahan kakinya pecah. Tubuh kecil itu terjatuh dari ketinggian 10 m lebih. Lich yang marah melemparkan tombak api ke arah Aqua yang tak bisa bergerak dan jatuh.
Tombak melaju dengan cepat ke kepala Aqua.
5 meter
4 meter
3 meter
2 meter
1 meter
½ meter
JLL**EEEBBBBB
Darah mengalir dan menetes. Namun itu bukan darah Aqua.
"Menyerang orang yang tidak bisa melawan. Sungguh sifat seorang sampah!" marah seorang anak.
Pandangan Aqua masih bisa menangkap samar-samar siapa orang yang memapahnya.
"..... Lix?"
Ya, Lix di lempar Yue untuk menangkap Aqua dan menolongnya. Lix menapis tombak itu dengan satu tangan sehingga tombaknya sedikit melukai tangannya.
"Yo! Tadi itu gawat, ya!"
Aqua tersenyum tipis.
"Makasih..."
Yue membentuk sebuah bola dari sihir kegelapan dengan ukuran sebesar kasur. Lix dan Aqua terjatuh ke bola itu. Tubuh mereka memantul, bola itu elastis dan lembut tak seperti kelihatannya.
Begitu Lix dan Aqua turun, Yue langsung membantu memapah Aqua di sisi lainnya.
"Aqua sudah bekerja keras! Sisanya serahkan pada kami!" ucapnya senang.
Turquoise berjalan mendekati mereka dengan senyum lebar.
"Benar! Istirahatlah! Semuanya akan berakhir sekarang."
"Bagaimana skeletonnya?" tanya Aqua.
Lix menghela napas lega.
"Jangan khawatir! Kau pikir kami akan kalah melawan tulang-belulang seperti itu?"
"Benar juga..."
Melihat anak-anak itu tertawa lega membuat Lich sangat marah.
⟨ Apa kau benar-benar berpikir semuanya sudah berakhir hanya karena kamu membekukan ruangan ini?!!! ⟩
Aqua tersenyum menertawakan kebodohan makhluk yang disebut penyihir hebat zaman dahulu.
"Iya. Semua sudah berakhir!"
Tepat setelah Aqua mengatakan itu, sebuah energi cahaya yang sangat besar mendadak memenuhi penjuru ruangan. Lich tersentak kaget, dia mencari sumber cahaya itu. Namun meski langsung bertindak sekarang, itu sudah terlambat.
"Maaf membuat kalian menunggu!" seru seorang gadis Elf.
"Kamu terlalu lama kak!"
Citrine menatap Lich dingin. Saat ini seluruh bagian tubuh Citrine mengeluarkan cahaya emas yang menyilaukan. Bahkan warna matanya berubah emas sementara.
Lich terlihat ketakutan melihat energi cahaya sebesar itu.
⟨ A-apa yang dilakukan seorang Saintess disini?!! ⟩
Lich dengan cepat langsung membuat banyak lingkaran sihir dan mengeluarkan ribuan pasukan Undead dan skeleton dari sana.
"Terlambat!" ejek Citrine.
Ratusan lingkaran sihir berwarna emas dengan berbagai memenuhi ruangan. Hanya dengan satu kalimat dari Citrine, maka riwayat Lich akan berakhir saat itu juga.
[ Rain of Goddess Tears ]
Hujan serbuk emas keluar dari lingkaran. Serbuk itu seakan terbang mengikuti arah angin dan menyebar ke seluruh lantai 25. Semua monster beratribut kegelapan langsung lenyap begitu serbuk itu mengenai diri mereka. Aqua dan Yue memang punya sihir kegelapan, namun tubuh mereka tak terbentuk dari sihir itu sendiri.
⟨ *Arggghhhhhh!!!!!! Dasar Elf jala*gggggg*!!!!! ⟩
Bahkan Lich sekalipun tak bisa menahan sihir cahaya tingkat Legend. Tulangnya langsung menguap saat tersentuh serbuk emas itu, meninggalkan jubahnya saja. Turquoise menangkap tubuh Citrine yang jatuh dari tempat yang sama tingginya dengan Aqua. Baik Aqua maupun Citrine sekarang benar-benar kehabisan mana yang membuat tubuh mereka tak bisa bergerak.
Efek dari pertarungan mereka sangat parah. Bahkan membuat lubang besar di sekitar singgasana Lich.
Aqua dan Citrine tiduran kelelahan. Lix, Yue dan Turquoise juga duduk didekat mereka. Tak ada satupun dari mereka yang bisa menahan senyum di wajah.
"Kita berhasil!!!!!!!" jerit mereka senang.
Citrine, "Kita beneran mengalahkan Lich!!! Ini pencapaian luar biasa!!!!"
Lix, "Aku yakin level kita naik banyak!!"
Yue, "Yue merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya!"
Turquoise, "Hahaha!! Kalian semua sangat hebat! Sejujurnya aku sempat putus asa saat melihat Lich tadi."
Citrine, "Aku juga kok. Ini berkat Aqua! Kalau bukan karena kamu, kita pasti sudah mati hari ini!!!"
Citrine mengusap rambut Aqua bersemangat. Aqua tertawa canggung dan berusaha lepas dari Citrine. Mereka terus-menerus membicarakan kehebatan mereka tadi disertai tawa senang dan lega. Aqua bersyukur semua orang selamat dan tak ada luka serius.
Sembari teman-temannya mengobrol santai, anak itu memeriksa status mereka setelah pertarungan terjadi. Tentu sebelum itu, Aqua mengecek statusnya sendiri dulu.
"Astaga... bukankah tittle ku terlalu banyak?!"
"Aku naik 12 level saat sekarang. Kecepatan naik levelku menakutkan..."
"Hmm?! Skill ku nambah lagi... Gluttony?!"
Di dunia ini, menambah skill itu sangat sulit. Berbeda dengan sihir yang bisa dipelajari, skill hanya bisa didapat saat seseorang memenuhi kondisi tertentu. Rata-rata setiap orang hanya memiliki kurang dari 5 skill jika skill berkah sihir dikecualikan.
"Gluttony... skill macam apa itu?"
"Apa-apaan skill op ini?!!!"
"Tenang dulu Aqua! Bukankah ini bagus..."
Aqua berusaha menenangkan dirinya yang sangat terkejut dengan skill baru miliknya.
"Baiklah... aku bisa mencoba skill gluttony nanti. Sekarang ayo lihat dulu status yang lainnya..."
"Wah... Kak Rin juga naik level banyak. Tidak heran sih... lagipula dia mengambil last hit."
"Tapi... yang membuatku penasaran... tittle Ratu Selanjutnya Ras Elf! Kukira yang akan jadi raja selanjutnya itu Kak Turquoise. Ternyata bibi memilih Kak Rin sebagai penggantinya nanti."
"Yah... lagipula ini masih ratusan tahun lagi."
"Bagaimana yang lain?"
"Kalau dibandingkan dengan Kak Rin, Kak Turquoise memang lebih lemah sih."
"Status Yue misterius seperti biasa. Kalau Dragon's Eye berlevel lebih tinggi, apa aku akan bisa lihat? Yah... pikirkan nanti saja lah. Btw, kecepatan naik level Yue lebih gila daripada aku."
"Syukurlah meski berbeda-beda, semuanya tetap naik level cukup banyak dari penjelajahan ini. Kami semua bisa dibilang kuat untuk anak seumuran kami."
Setelah beristirahat cukup lama, Turquoise bangun dan merapikan pakaiannya.
"Ayo pulang! Ini sudah cukup lama."
"Oke!!!"
Lix dan Yue berdiri dengan semangat. Aqua terlalu lelah untuk berdiri, jadi Citrine memapahnya dan membantunya berjalan.
"!"
Turquoise mendekati lubang besar itu. Dia menengok ke bawah untuk memastikan seberapa dalamnya lubang itu. Citrine dan Aqua mendekat untuk ikut melihat.
"Aku tidak bisa melihat dasarnya!" ucap Turquoise sambil menengok.
"Ini pasti cukup dalam, mengingat betapa hebatnya pertarungan tadi," balas Citrine.
"Kau benar."
Citrine menoleh ke sana sini. Dia mencari ruangan yang sepertinya adalah ruang penyimpanan harta lantai 25. Setelah dia menemukannya, Citrine menunjuk tempat itu agar yang lain bisa menemukannya.
"Feirlyx dan Yue! Kalian pergilah duluan dan amankan harta berharga. Ada yang mau kubicarakan dengan keluargaku sebentar!"
Meski tiba-tiba, Lix dan Yue setuju meninggalkan mereka dan pergi duluan. Pasti ada pembicaraan penting yang ingin dia bicarakan pada saudaranya saja. Lix paham betul itu.
"?"
"Memang apa yang mau kakak bicarakan?" tanya Aqua polos.
"Apa harus sekarang?! Aku kan juga mau lihat-lihat hartanya!!" rengek Citrine.
Turquoise menghela napas panjang.
"Sifat sembrono dan terburu-buru itu bisa membunuhmu, loh!"
Citrine tersenyum lebar.
"Tidak akan! Lagipula ada kakak dan Aqua disampingku!!"
"Ada aku, huh..." gumam Turquoise.
"Kakak?"
Tatapan hangat dan ramah Turquoise yang biasanya berubah. Sekarang ekspresinya jadi dingin dan sulit dimengerti. Elf itu mencengkram pipi Citrine agak kasar dan menatapnya tajam. Citrine belum pernah melihat Turquoise berekspresi seperti itu sebelumnya, dia jadi agak takut.
"Permainan kakak beradik selesai!" ucapnya dingin.
"?!"
"Ka-kakak? Apa maksudnya itu?" panik Citrine.
Sebuah seringai kejam terlukis di wajah tampan Turquoise. Dia memandang Citrine dan Aqua seakan memandang serangga.
"Awalnya aku berpikir untuk mendiamkan kalian saja. Tapi semakin dibiarkan, kalian semakin ngelunjak!"
"Kakak?" bingung Aqua.
"Sudah kubilang permainan ini berakhir!!!! Mulai hari ini, aku sudah bukan kakak kalian lagi!!"
Turquoise tertawa jahat.
"Tidak, bukan begitu. Tapi mulai hari ini... aku tidak akan punya adik lagi!"
"Apa maksudnya it-"
Belum sempat Aqua berpikir, kaki Turquoise sudah menendang ulu hati Citrine dengan keras. Kedua anak itu terlempar jatuh ke dalam jurang dungeon itu.
"?!!!"
Tangan kanan Aqua berhasil meraih permukaan dan tangan kirinya memegang erat Citrine. Tatapan Aqua menajam, dia sangat marah sekarang.
"APA MAKSUDNYA INI, KAK!?!!!!"
Dengan wajah dan nada malas, Turquoise berlutut mendekat ke wajah Aqua.
"Kukira kamu itu pintar, harusnya kamu tau tanpa diberi tau, kan?"
"Sebenarnya kenapa?!! Kenapa kakak melakukan ini?!!!"
Aqua mengernyitkan keningnya. Dia berusaha menahan amarahnya yang membuat pikirannya jadi tidak rasional.
"Karena kalian berdua mengganggu jalanku!"
".... Hanya karena itu?! Hanya karena alasan itu kakak sampai mencoba membunuh kami?!! Oke, lupakan aku. Tapi Kak Rin?!! BUKANKAH DIA ADIK KANDUNGMU?!!!!!"
Citrine menatap Aqua yang marah itu sedih. Saat Turquoise menendangnya ke jurang, gadis itu sudah kehilangan ketenangannya dan jatuh dalam keputusasaan yang dalam. Namun kata-kata Aqua seolah menggantikan dirinya marah.
"Aku tidak peduli dengan sandiwara bodoh ini. Mau kalian adikku atau siapaku. Kalau kalian menghalangi jalanku, aku tak akan segan-segan menghancurkan kalian."
"?!!!"
Aqua sama shocknya dengan Citrine sekarang. Kedua anak itu di khianati oleh sosok seorang kakak yang mereka kagumi. Jadi bagaimana mereka tidak putus asa?
"Jangan bilang... rencana ke dungeon ini... dari awal kakak sudah merencanakan semuanya?"
Turquoise terdiam, dia menyeringai seram. Sembari berdiri dan memandang rendah Citrine dan Aqua, baji*gan itu menjawabnya.
"Benar! Semua ini dari awal adalah rencanaku!"
"!!!!"
Turquoise mengangkat kaki kanannya dan menginjak-injak tangan Aqua yang mencoba bertahan agar tak jatuh. Sampai tangannya berdarah dan terlepas, Turquoise terus menginjaknya dengan wajah bahagia.
"Selamat tinggal~ Adik-adikku yang manis!!"
Aqua membelalakkan matanya. Bersamaan dengan jatuhnya dia ke dalam jurang, dia melihat wajah Turquoise terlihat sangat bahagia setelah menjatuhkan dirinya dan adik kandungnya sendiri. Aqua benar-benar tak menyangka akan dikhianati oleh keluarganya sendiri.
"TURQUOISEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!"