
Gadis vampir berambut pirang itu perlahan membuka matanya dalam posisi berdiri. Begitu mata merah itu terbuka, hamparan ladang bunga langsung menyambutnya. Langit biru cerah tak berawan dan padang bunga berbagai warna yang memenuhi permukaan, terlihat begitu indah di matanya.
"Tempat... apa ini...?"
"Rasanya... tidak asing..."
Sepanjang mata memandang, ladang bunga berwarna warni itu membentang luas. Similir angin yang menerpa wajah dan rambutnya terasa sangat segar. Tubuhnya juga terasa jauh lebih ringan dari biasanya.
BRUUKKK
Ruby membaringkan tubuhnya di Padang bunga itu dan menatap langit dengan mata sayu. Dirinya merasa lelah. Ingin rasanya dia menetap di tempat ini saja selamanya. Karena dia menyadari bahwa ini pasti hanyalah mimpi. Mimpi indah yang sepertinya pernah terjadi padanya.
Matanya terasa sangat berat sekarang. Apalagi similir anginnya semakin membuat Ruby mengantuk.
Disaat matanya mulai berkedip-kedip. Mendadak wajah seseorang muncul tiba-tiba di atasnya.
"Wu-WUAAAHHH!!" kaget Ruby, terduduk seketika.
Gadis yang mendadak muncul itu langsung berhasil membuat Ruby jantungan. Napas Ruby jadi tidak karuan karena reaksi tiba-tiba.
"Apa-apaan kamu itu!!?" marah Ruby.
"!!"
Begitu kesadarannya kembali, barulah Ruby menyadari sesuatu yang aneh disini. Gadis yang muncul tiba-tiba di sebelahnya memiliki wujud yang sama dengan dirinya di masa lalu. Rambut dan mata hitam dengan senyum polos yang kekanakan itu terpampang didepannya.
"A-Aku!!!???" batin Ruby terkejut.
[ Kamu pasti tidak ingat percakapan kita sebelumnya, jadi biar aku katakan sekali lagi ] ucap gadis itu dengan senyum polosnya.
"????"
[ Rubylia Arsilla, nyawamu bukan milikmu sendiri. Ingatlah bahwa ada alasan kenapa kamu hidup di dunia ini pada saat ini ]
Ruby tersentak mendengarnya. "Apa maksudnya itu!? Gak, pertama... siapa kamu sebenarnya!?"
"Kenapa kamu... mirip denganku di kehidupan sebelumnya?"
Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum polos. Dia mengitari Ruby hingga gaun putihnya yang sederhana itu sedikit berkibar.
[ Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu ]
Ruby, "......."
Ruby menatap gadis itu tidak percaya. Walau memang sebagian dirinya menyadari bahwa mungkin saja gadis itu sisa-sisa kesadarannya atau semacamnya yang tidak ikut bereinkarnasi. Atau malah dia itu Tiara murni yang bukan hasil campuran dengan Ruby.
"Jadi, apa yang diriku inginkan dariku?" tanya Ruby penuh kecurigaan.
[ Hmm~ apa ya? ] senyumnya.
Gadis itu memetik sebuah bunga dandelion dan meniupnya hingga mereka terbang mengikuti aliran angin. Sisa dandelion itu di lemparkan ke tanah dengan lembut. Seketika, sisa dandelion yang dilempar gadis itu tadi langsung membesar hingga cukup besar untuk didudukinya.
[ Kau tau? Kalian ini benar-benar merepotkan. Kalau aku diam saja, mungkin kalian sudah lama mati... padahal kehidupan kali ini adalah kesempatan terakhir kita, loh... ]
"???"
Ruby sama sekali tidak dapat memahami apa yang gadis itu bicarakan.
Kini gadis itu menggoyang-goyangkan kakinya sembari bersenandung kecil.
[ Ya sudahlah, apa boleh buat. Toh kalian juga adalah aku ]
"Kalian?"
[ Nee, bagaimana kehidupanmu sekarang ini? ] tanya gadis itu tiba-tiba.
"?"
"Biasa... biasa saja...?" jawab Ruby bingung.
[ Pfft... kenapa malah nanya? ] kikiknya.
[ Hmm~ biasa-biasa saja, huh. Padahal aku sampai repot-repot memberimu ingatan kehidupan kelima. Yah... setidaknya itu cukup untuk membuatmu mampu bertahan hidup sampai kamu bertemu mereka ] senyumnya.
"!!!"
"Ingatan kehidupan kelima!? Apa maksudnya itu!!? Apa kamu... orang yang membuatku ingat saat aku hidup sebagai Tiara!?" jeritnya.
"Jelaskan semua yang kau tau!! Dan jelaskan juga siapa kau sebenarnya!!"
Dihujani dengan pertanyaan dari Ruby, tidak membuat gadis itu bereaksi apapun selain terus tersenyum. Ruby semakin di buat kesal entah kenapa. Rasanya semua hal membingungkan yang selama ini dia alami bisa dengan mudah dijawab gadis itu, tapi gadis itu terus merahasiakannya. Mungkin karena itulah Ruby jadi semakin tidak sabaran.
Dia tatap tersenyum dengan polosnya pada Ruby.
[ Sudah kukatakan sebelumnya. Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu ]
"Kau tau bukan jawaban seperti itu yang ingin kudengar, bukan?" kesal Ruby.
[ Ehh... tapi yang aku katakan itu 100% kebenaran loh. Aku itu Tiara, kamu juga Tiara. Kita adalah Tiara, Tiara Mahiswara. Adik dari Syamara Mahiswara dan Isyana Mahiswara serta putri dari Devina Mahiswara ] ucapnya dengan senyum hangat.
Ruby, "......."
[ Tapi... ]
Gadis itu memutar tubuhnya. Bersamaan dengan itu, penampilannya berubah.
"!!?"
Kini wujudnya bukan lagi Tiara, adik Aqua di kehidupan sebelumnya. Rambutnya berubah menjadi coklat padi dengan mata hijau emerald. Panjang rambutnya hanya seleher saja, berbeda dengan Tiara yang panjangnya sepantat. Wajahnya pun berbeda. Yang tadinya ke tenggara-tenggaraan. Kini menjadi agak ke barat-baratan. Bajunya agak lusuh namun masih terlihat imut.
[ Aku juga adalah Findy, gadis desa biasa yang kawin lari dengan sahabatku di hari pernikahanku dengan pria yang tak kucintai ]
"???"
"Apa-apaan cewek ini!?" batin Ruby terheran-heran.
Gadis itu berputar lagi, penampilannya berubah lagi. Kini rambutnya menjadi perak panjang dan matanya menjadi biru keunguan. Kecantikannya jauh berbeda dengan dua wujud yang sebelumnya. Pakaiannya kini seperti seorang tuan putri dari Tiongkok.
[ Juga adalah Qin Yueyin, putri satu-satunya Kaisar Qin yang menikah dengan mantan budaknya. Ah, btw budaknya itu aslinya pangeran dari kekaisaran yang telah hancur dan dijadikan budak perang ] senyumnya.
Lagi-lagi gadis itu kembali berputar setelah memberikan penjelasan singkat terkait wujudnya. Sekarang rambutnya berubah warna menjadi hitam agak kebiruan yang panjangnya mencapai kakinya. Matanya emas terang dan ada beberapa tato indah di tangannya. Meski agak terbuka, pakaian yang terbalut selendang transparan yang menghiasi tubuhnya terlihat begitu menawan.
[ Jangan lupakan Nefertari, wanita yang hampir menjadi istri Fir'aun kalau seorang laki-laki dari negri yang jauh tidak menikungnya ] kikik gadis itu.
Ruby terpana dengan setiap perubahan yang dilakukan gadis itu. Semuanya terlihat cantik dan menawan. Namun ada hal yang mengganjal hatinya sedari tadi. Disaat yang sama, gadis itu berputar lagi untuk yang terakhir kalinya.
Penampilan terakhirnya adalah yang paling cantik dari semua wujudnya sebelumnya. Bahkan Ruby yang juga adalah seorang perempuan tidak bisa mengalihkan matanya dari gadis itu. Gadis berambut emas panjang yang terlihat sangat bersinar itu hanya mengenakan gaun putih polos yang sama dengan yang wujud Tiara kenakan tadi. Hiasan yang ada pada dirinya hanya mahkota bunga di kepala gadis itu. Sangat sederhana, tapi entah kenapa dia terlihat jauh lebih mewah dari yang lainnya.
[ Dan yang paling penting... aku, kalian dan semua perempuan yang kamu lihat tadi adalah reinkarnasi dari diriku yang ini ] bahkan suara yang gadis itu keluarkan sangat lembut dan memanjakan telinga.
"Rein...kar..nasi?" tanya Ruby.
Gadis itu mengangguk, [ Rubylia Arsilla. Kau ingin tau kebenarannya, bukan? Kalau begitu biar kukatakan padamu, satu-satunya yang tidak mengetahui apapun ]
[ Kamu yang sekarang adalah reinkarnasi dari perempuan-perempuan yang kamu lihat tadi. Kamu adalah kehidupan keenam dan terakhir dari gadis ini. Aku memberimu ingatan kehidupan kelima, sebagai Tiara Mahiswara agar dirimu dapat bertahan hidup hingga kamu bertemu dengan mereka ]
"Mereka...? Apa itu... Mika dan Aqua...?"
[ Benar. Seperti yang Aqua itu katakan padamu. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan Mika adalah dirimu, karena... hmm... yah, nanti juga kau tau alasannya ]
Ruby termenung mendengarnya, "Aku tidak begitu mengerti apa maksudmu. Tapi intinya kamu juga ingin aku menyelamatkan cewek itu, kan?"
"Lalu apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkannya? Dan... kenapa aku harus melakukannya?"
Gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Tak lama, senyum yang sama kembali terlukis di wajahnya.
[ Kalau begitu bagaimana kalau aku bilang begini. Semua jawaban yang kamu inginkan, bisa kamu dapatkan kalau kamu menyelamatkannya. Semuanya, termasuk... keberadaan kakak di dunia ini ]
"!!!"
"Kakak beneran ada di dunia ini!!??? Dimana!!??" jerit Ruby.
[ Kau tau apa yang harus kau lakukan untuk mengetahuinya, kan? ]
"Cih, kalau jelasin jangan setengah-setengah gitu kenapa? Yaudah, jadi gimana caraku nyelametin Mika? Aku sama sekali gak tau apapun!" seru Ruby.
[ Mudah kok... kamu hanya perlu masuk ke alam bawah sadarnya, bangunkan dia dan bicaralah dengannya. Setelah itu, kalian bisa memilih harus bagaimana selanjutnya ]
"?"
"Masuk alam bawah sadarnya? Bagaimana caranya?"
[ Apa kamu lupa? Tempat ini adalah alam pertigaan~ ]
Tepat setelah mengatakan itu, lagi-lagi Ruby merasakan hal yang aneh. Wanita itu terasa seperti ditarik menjauh darinya. Yang berbeda adalah, bukan dirinya yang mulai menghilang dari Padang bunga itu, melainkan wanita itu dan area sekitarnya yang semakin menjauh dari Ruby.
"Tunggu!! Kau belum menjelaskan padaku apa maksudnya itu!!???"
"Heii!!!!!"